NovelToon NovelToon
Gadis Culun Milik Tuan Marco

Gadis Culun Milik Tuan Marco

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lily Quinza

NOVEL INI MENGANDUNG BACAAN DEWASA || PILIHLAH BACAAN YANG BIJAK. DILARANG PLAGIARISME!

JANGAN LUPA FOLLOW INSTAGRAM: LilyQuinza || info update visual disana yah 🥰❤

"Liora, mungkin ini semua salah mengingat aku Pamanmu, tapi, jika mengingat kita tak sedarah, aku tidak perduli!"

"MarcoI—itu apa?"

"Kau harus membiasakan diri baby, cobalah berkenalan dengannya."

"Gila benda itu tidak akan cukup jika—"

"Ssstttt, Cobalah... "

"Ini sakit!"

"Sial! Kau sangat cantik saat kau tidak memakai kacamata itu!"

"Berhenti menggodaku, aku bisa gila Marco!"

Liora adalah gadis culun yang selalu menyembunyikan kecantikannya di balik kacamata tebal, pakaian sederhana, dan sikap pemalu. Ia hanya ingin menjalani kehidupan kampus dengan tenang tanpa menarik perhatian siapa pun. Namun, semua berubah karena Marco.

Marco adalah adik angkat ibu kandung Liora yang usianya hanya terpaut lima tahun darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Quinza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

"Jadi akhirnya Mauren sudah menemukan putri kandungnya itu?"

"Sepertinya begitu."

Brengsek!

"Sebentar lagi tamat riwayat kita, kita akan hancur saat Marco tahu jika kakak angkat kesayangannya itu kita yang membuatnya hancur."

Wanita yang sedang menghadap kaca besar itu memutar wajahnya pelan.

"Akan ku pastikan itu tidak akan terjadi!"

Senyum tipis terbit di sudut bibirnya, senyum yang membuat semua orang takut pada wanita berbahaya itu.

Wanita itu melangkah menjauh dari kaca besar, sepatu hak tingginya mengetuk lantai marmer dengan ritme pelan tapi pasti. Ruangan itu sunyi, hanya suara kota Amsterdam yang samar terdengar dari balik jendela, sirene jauh, hujan tipis yang menempel di kaca, dan kehidupan yang berjalan tanpa peduli pada rencana gelap di dalam gedung itu.

Di sudut ruangan, seorang pria berdiri ragu. Tangannya gemetar memegang sebuah berkas cokelat.

“Ini tidak akan semudah yang kau pikir,” katanya hati-hati. “Marco bukan orang bodoh. Begitu dia tahu kebenarannya—”

“Dia tidak akan tahu,” potong wanita itu tajam.

Matanya berkilat, dingin seperti baja yang baru ditempa. Ia mengambil berkas itu, membukanya perlahan. Foto seorang gadis muncul di dalamnya, wajah polos, mata tenang dengan memakai kacamata, sama sekali tidak tahu bahwa hidupnya baru saja menjadi pusat badai yang akan menghancurkan banyak orang.

“Putri Mauren,” gumamnya pelan, hampir seperti mengejek. Ia menutup berkas itu kembali. “Jika dia adalah kunci kehancuran kita,” lanjutnya sambil tersenyum tipis, “maka kita hanya perlu menghilangkan kuncinya.”

Pria itu langsung menegang. “Kau tidak mungkin bermaksud—”

“Aku selalu bermaksud apa yang kukatakan. Sudah lama aku tidak berjumpa dengan gadis kecil itu, mungkin dia sudah segini."

Wanita itu memberi gestur dengan gerakan tangan, mengira-ngira jika mungkin putri Mauren sudah sama dengannya mungkin.

Suasana ruangan berubah semakin berat. Wanita itu berjalan kembali ke arah kaca, menatap pantulan dirinya sendiri, seolah sedang berbicara dengan sisi lain dari dirinya yang lebih gelap.

Di luar, petir menyambar langit gelap. Dan di dalam ruangan itu, dendam intrik jahat sudah di susun sejak lama, sejak ia tidak terima soal harta benda suaminya jatuh ke tangan putri tirinya semuanya. Bahkan wanita itu mengingat betul jika suaminya tidak memberikan sepeserpun kepadanya. Benar-benar sialan!

***

Di sisi lain.

University of Amsterdam (UvA).

"Apa?" triak Karens terkejut mendengar apa yang di ceritakan sahabatnya itu padanya.

"Iya Karens Audrey mengusirku."

Rak-rak tinggi berisi buku hukum dan sejarah berdiri rapi, cahaya matahari yang menembus jendela kaca besar jatuh di atas meja kayu panjang, tapi di sudut terdalam ruangan itu… udara terasa jauh lebih berat.

Liora duduk di hadapannya, jemarinya saling bertaut di atas meja. Wajahnya pucat, tapi matanya menyimpan sesuatu yang sudah lama ia tahan sendirian.

“Aku tidak bohong,” ucap Liora pelan. “Audrey… dia mengusir aku. Dari rumah itu. Dia mengatakan aku bukan putrinya.”

Karens menggeleng cepat, tidak percaya.

“Monster itu lagi? Audrey. itu benar-benar… gila.”

Liora tersenyum pahit, tapi senyum itu tidak bertahan lama. “Dan itu belum semuanya.”

Karens langsung diam. Liora menarik napas dalam, seolah kata-kata berikutnya bisa menghancurkan sesuatu di dalam dirinya sendiri. “Aku bertemu ibu kandungku.”

Hening.

Mata gadis itu melebar, seperti tidak yakin apakah ia salah dengar. "Benarkah?"

Liora menatapnya lurus. "Ibu kandungku, Karens. Aku tahu sekarang siapa dia."

Karens refleks berdiri sedikit dari kursinya. “Ini… ini gila."

Liora mengangguk pelan. "Dan kau tahu Marco."

Nama itu membuat Karens menelan ludah susah payah. "Marco yang di kampus ini, pria tampan yang selalu menggodamu itu?” bisiknya.

"Dia bukan hanya mahasiswa S2 tampan yang semua orang bicarakan itu." Tangannya sedikit bergetar dan terkepal. "Dia—pamanku."

Dunia seperti berhenti berputar. Karens benar-benar kehilangan kata-kata. Terkejut, Ini benar-benar kejutan pagi hari yang ia dapat.

“Pam— PAMAN?” ia langsung menutup mulutnya sendiri karena sadar ini perpustakaan.

"Ibu kandungku mengangkat Marco sebagai adik angkatnya. Jadi secara keluarga, dia sekarang bagian dari garis keluarga ibuku."

Karens menatap Liora seperti melihat seseorang yang baru saja menjatuhkan bom di tengah meja belajar. Karens menelan ludah susah payah, karena ia tahu betul bagaimana Marco membuat Liora marah, dan pria itu sangat jahil padanya. Hampir tiap hari Karens lah yang melindungi Liora.

"Jadi selama ini kau satu kampus dengan pamanmu sendiri yang bahkan tidak tahu kau siapa dia sebenarnya?"

Liora tertawa kecil, tapi itu lebih terdengar seperti napas yang retak dan getir. “Iya begitulah.”

Sunyi kembali jatuh di antara mereka. Sampai akhirnya Liora melanjutkan, suaranya lebih rendah, lebih berat. "Aku juga mengingat sesuatu."

Karens langsung fokus. “Apa?”

Liora memejamkan mata sebentar, seperti memutar ulang memori yang tidak ingin ia sentuh.

"Aku juga tidak tahu, karena Tuan Harold yang mengatakan jika aku adalah sebenarnya putri Nyonya Mauren yang selama ini ia cari."

"T—Tapi, bagaimana bisa kau terpisah dengan ibumu Liora?"

"Kau tahu, mendiang ayahku tidak pernah mengatakan apapun kepadaku Karens, dia hanya mengatakan jika ibuku sudah tiada dan ternyata itu semua palsu. Mereka sengaja menyembunyikanku."

"Ini benar-benar diluar dugaan, aku bahkan sampai terkejut mendengarnya."

"Bagaimana dengan aku, aku setiap hari akan bertemu Marco."

***

Di sisi lain, Taman kecil di belakang gedung utama University of Amsterdam, beberapa mahasiswa terlihat berkumpul di bangku-bangku panjang, menikmati jeda di antara jadwal kuliah.

Marco duduk sedikit terpisah dari yang lain. Tangannya memegang ponsel, tapi layarnya sudah lama tidak ia sentuh. Matanya justru tertuju ke arah perpustakaan kaca besar di kejauhan.

Ke arah Liora. Dari jarak itu, ia hanya bisa melihat siluetnya, cara gadis itu duduk tegak, cara ia menunduk saat berbicara, dan gerakan kecil tangannya yang selalu seperti menahan sesuatu yang berat.

"Marco."

Suara itu menariknya kembali. Martin, salah satu temannya, menjatuhkan diri di bangku sebelahnya dengan senyum menyebalkan.

"Hmm," jawab Marco datar, tanpa mengalihkan pandangan.

Martin mengikuti arah tatapannya lalu terkekeh kecil. "Aku melihat sepertinya kau mulai tertarik pada gadis culunmu itu, jangan mencoba mengelak, aku melihatnya kau menatapnya dari tadi."

Marco langsung menghela napas pelan.

"Omong kosong," balasnya cepat.

Martin mengangkat alis, tersenyum makin lebar. "Kau biasanya sangat jahil pada gadis itu."

Marco diam sejenak. Tatapannya masih tidak lepas dari Liora di kejauhan.

"Dia," Marco membuka mulut, lalu berhenti.

Kata yang hampir keluar itu cantik, langsung ditelan kembali sebelum sempat lahir.

Wajahnya mengeras sedikit.

"Dia bukan urusanmu," lanjutnya akhirnya, dingin.

Martin tertawa kecil. “Wah, Kau sangat sensitif. Jangan-jangan kau jatuh hati?”

Marco langsung menoleh tajam. "Jangan bicara sembarangan." Nada suaranya rendah, tegas. Cukup untuk membuat Martin sedikit mengangkat tangan, pura-pura menyerah.

"Baik, baik. Aku hanya bercanda." Tapi Martin tidak berhenti tersenyum.

Marco kembali menatap ke arah perpustakaan. Namun kali ini, sorot matanya berubah. Lebih dalam. Lebih rumit. Karena di balik semua sikap dinginnya, ia tahu satu hal yang tidak bisa ia ucapkan pada siapa pun di meja itu.

Liora bukan sekadar gadis yang ia perhatikan.

Dan bukan sekadar mahasiswa yang kebetulan selalu membuat pikirannya terganggu. Dia adalah bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar.

Martin menyandarkan punggungnya, masih mengamati Marco dengan penasaran. "Tapi serius, Marco. Kau akhir-akhir ini aneh. Kau bahkan jarang ikut nongkrong."

Marco tidak langsung menjawab. Angin sore bergerak pelan, menggoyangkan dedaunan di sekitar mereka.

"Aku hanya sibuk," jawab Marco singkat.

"Tentu saja," Martin menyeringai. "Sibuk memperhatikan dia."

Marco tidak membantah. Dan justru itu yang membuat Martin akhirnya benar-benar memperhatikan perubahan sikapnya.

Karena Marco yang biasanya selalu punya jawaban cepat, selalu santai, dan selalu terlihat tidak peduli, kali ini hanya diam. Menatap satu titik yang sama. Seolah dunia di sekelilingnya sudah tidak lagi penting baginya.

1
Lilyyy
HALLO GUYS, JANGAN LUPA BERIKAN ULASAN YA JIKA BERKENAN TRIMAKASIH UNTUK YANG SUDAH MAMPIR 🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!