NovelToon NovelToon
Pewaris yang Kembali Membalas Luka

Pewaris yang Kembali Membalas Luka

Status: tamat
Genre:Wanita perkasa / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas / Putri asli/palsu / Chicklit / Agen Wanita / Tamat
Popularitas:86k
Nilai: 5
Nama Author: Lover

Siapa sangka Bayang, sosok misterius yang kerap membantu polisi membongkar jaringan narkoba pelabuhan, hanyalah gadis berusia delapan belas tahun bernama Alya Maheswari. Setelah dibangkitkan kembali ke masa lalu sebelum kematian tragis di tangan keluarga kandungnya, Alya menerima jemputan keluarga Wiratama yang membuangnya sejak bayi.
Dengan dendam tersembunyi dan kecerdasan di atas rata-rata, ia menghadapi ibu tiri licik penuh intrik, adik tiri bermuka dua, serta tunangan bisnis yang kejam dan tidak setia. Bersama Rafi sang pengawal setia, Alya menyusun langkah demi langkah balas dendam. Tidak ada lagi gadis desa yang lemah tertindas — kali ini, semua orang yang pernah mengkhianatinya akan membayar mahal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 4

Pagi di rumah Wiratama dimulai dengan kepanikan yang ditahan agar tidak terlihat seperti kepanikan.

Maya tertidur terlalu dalam.

Dokter keluarga datang sebelum pukul enam. Mbak Sari mondar-mandir dari dapur ke lantai dua. Dinda berdiri di depan kamar ibunya dengan wajah pucat, rambutnya belum tertata, tetapi piyamanya tetap rapi. Baskara beberapa kali melihat jam, lalu melihat ponsel, lalu menghela napas.

Rapat video dengan keluarga Santoso dijadwalkan pukul tujuh.

Alya keluar dari kamar tepat saat dokter menutup tasnya.

"Tante Maya sakit?" tanyanya.

Baskara menoleh. Wajahnya lelah, tetapi ia tetap berusaha bicara sebagai ayah baik.

"Bukan sakit. Mungkin terlalu lelah."

Dinda menatap Alya dengan curiga. "Mama semalam baik-baik saja."

"Syukurlah kalau begitu," jawab Alya. "Berarti sebentar lagi bangun."

Dokter berdeham pelan. "Efek kantuknya agak kuat. Saya sarankan Ibu Maya tidak dipaksa bangun dulu."

Dinda langsung bertanya, "Efek kantuk?"

Dokter tampak menyesal sudah bicara. Baskara menatapnya tajam.

"Maksud saya, tubuhnya seperti merespons sesuatu. Bisa jadi obat tidur. Tapi tentu perlu pemeriksaan lebih lanjut."

Dinda perlahan menoleh ke Alya.

Alya balas menatap. "Kenapa lihat aku?"

"Tidak," kata Dinda cepat. "Aku hanya..."

"Susu semalam dari kamu, kan?"

Wajah Dinda memucat.

Baskara menatap putri kesayangannya. "Susu apa?"

Dinda membuka mulut, tetapi tidak ada kata yang keluar.

Alya berkata dengan tenang, "Dinda membawakan susu untukku. Aku tidak terbiasa minum susu malam, jadi kuberikan ke Tante Maya. Apa itu masalah?"

Sunyi.

Mbak Sari yang berdiri di ujung koridor menunduk semakin dalam.

Dinda hampir menangis. "Aku tidak memasukkan apa-apa. Aku cuma ambil dari dapur."

Baskara memijat pelipis. "Sudah. Jangan ribut pagi-pagi."

Raka muncul dari tangga dengan kemeja kerja, wajahnya belum sepenuhnya segar. "Ada apa?"

Dinda langsung bergerak mendekat. "Mas, Mama belum bangun. Dokter bilang mungkin karena obat tidur. Padahal aku cuma bawakan susu untuk Kak Alya."

Kalimat itu rapi.

Ia menaruh dirinya sebagai pihak yang tidak tahu apa-apa, sekaligus mengingatkan semua orang bahwa susu itu seharusnya diminum Alya.

Raka menatap Alya.

Alya mengangkat bahu. "Aku tidak minum."

"Kenapa?"

"Tidak suka."

Jawaban itu terlalu sederhana sampai sulit diserang.

Baskara akhirnya berkata, "Kita selesaikan nanti. Rapat dengan keluarga Santoso tidak bisa dibatalkan."

"Tapi Mama..." Dinda menggigit bibir.

"Kamu ikut denganku. Raka juga." Baskara lalu menatap Alya. "Kamu bersiap. Mereka ingin mengenalmu."

Alya mengangguk. "Baik, Pa."

Dinda menoleh cepat. "Kak Alya ikut rapat?"

"Tentu," kata Baskara. "Pembicaraan ini menyangkut dia."

Untuk pertama kali pagi itu, Dinda kehilangan cara tersenyum.

Setengah jam kemudian, mereka duduk di ruang kerja besar Baskara. Layar televisi di dinding menyala. Di sana tampak pasangan paruh baya dari keluarga Santoso dan seorang pria muda yang duduk dengan malas, seolah seluruh rapat keluarga hanyalah gangguan pagi.

Kevin Santoso.

Di kehidupan lalu, Alya belajar mengenali suara langkah Kevin dari jauh. Kalau ia pulang mabuk, langkahnya lebih berat. Kalau ia kalah berjudi, ia akan melempar apa pun yang dekat. Kalau ia tersenyum saat masuk rumah, itu biasanya berarti ia sudah memikirkan cara baru untuk menyakiti orang.

Sekarang Kevin masih tampak muda. Rambutnya disisir rapi, jasnya mahal, senyumnya sombong.

"Jadi ini Alya?" tanya Bu Santoso dari layar.

Baskara tersenyum. "Iya. Baru semalam tiba dari Yogyakarta."

Kevin mencondongkan badan. Matanya menyapu Alya dari wajah sampai tangan. Terlalu terang-terangan.

"Lebih cantik dari foto," katanya.

Dinda yang duduk di samping Alya menggenggam tangannya sendiri.

Alya tidak menjawab.

Pak Santoso tertawa. "Anak muda memang langsung terang-terangan. Alya, kamu tahu soal pembicaraan keluarga kita?"

"Belum banyak, Pak."

"Tidak apa-apa. Dulu ayahmu dan saya pernah bicara. Keluarga Wiratama dan Santoso akan lebih kuat kalau terikat pernikahan."

Dinda menunduk, tetapi sudut matanya mengawasi Alya.

Baskara menyambung, "Tentu ini masih pembicaraan awal. Alya juga baru pulang."

Kevin tersenyum miring. "Aku tidak keberatan menunggu. Tapi jangan terlalu lama. Aku tidak suka hal yang menggantung."

Alya akhirnya tersenyum. "Kebetulan saya juga tidak suka."

Kevin tampak tertarik. "Oh ya?"

"Iya. Kalau ada pembicaraan pernikahan, saya ingin tahu syaratnya jelas."

Raka menoleh tajam. "Alya."

Baskara juga tampak terkejut, tetapi Pak Santoso justru tertawa puas.

"Praktis. Bagus. Gadis seperti ini cocok jadi menantu keluarga bisnis."

Alya melanjutkan, "Jika keluarga ingin mengikat dua perusahaan, tentu yang dibicarakan bukan hanya nama baik. Ada hak, kewajiban, perlindungan, dan kompensasi."

Bu Santoso mengangkat alis. "Kompensasi?"

"Saya tidak dibesarkan keluarga Wiratama selama delapan belas tahun. Kalau tiba-tiba diminta membawa nama keluarga dalam pernikahan bisnis, saya perlu tahu apa yang dijamin untuk saya."

Ruang kerja menjadi hening.

Dinda tampak tidak percaya. Di matanya, Alya mungkin terlihat seperti gadis kampung yang tiba-tiba meminta harga.

Kevin tertawa. "Kamu minta berapa?"

Alya menatapnya. "Mas Kevin menganggap pernikahan bisa dibeli?"

Tawa Kevin berhenti.

Raka hampir tersenyum, tetapi menahannya.

Baskara mengambil alih. "Alya hanya ingin memahami situasi. Dia belum terbiasa dengan cara keluarga besar berbicara."

"Aku justru suka," kata Kevin. "Setidaknya dia tidak pura-pura suci."

Alya menatap layar. "Saya juga suka orang jujur. Lebih mudah dihitung bahayanya."

Kevin menyipitkan mata.

Pak Santoso berdeham. "Baik. Kita bisa lanjutkan pembicaraan ini saat makan malam keluarga beberapa hari lagi. Kami akan datang langsung."

Baskara setuju cepat. "Tentu."

Rapat selesai.

Begitu layar mati, Baskara menatap Alya dengan wajah gelap. "Apa maksudmu bicara seperti itu?"

Alya menoleh. "Papa ingin aku diam saja saat orang asing membicarakan pernikahanku?"

"Mereka bukan orang asing. Mereka keluarga Santoso."

"Untukku tetap orang asing."

Baskara membuka mulut, tetapi Raka lebih dulu berkata, "Menurutku Alya tidak salah. Kalau memang menyangkut dia, dia berhak tahu."

Baskara menatap Raka. "Kamu jangan ikut memperkeruh."

Dinda bersuara lembut, "Kak Alya mungkin hanya belum mengerti. Dalam keluarga seperti kita, pernikahan tidak selalu soal perasaan."

Alya menatapnya. "Kamu mengerti?"

Dinda tersentak. "Apa maksud Kakak?"

"Kalau kamu begitu mengerti, kenapa bukan kamu yang menikah dengan Kevin?"

Wajah Dinda langsung pucat.

Raka menunduk, menutup mulutnya dengan tangan.

Baskara membentak, "Alya!"

Alya berdiri. "Aku hanya bertanya. Bukankah Dinda juga anak keluarga ini?"

Tidak ada jawaban.

Karena semua orang tahu jawabannya.

Dinda boleh menikmati status anak keluarga Wiratama, tetapi ketika harus dikorbankan untuk pernikahan bisnis, mereka mencari Alya.

Saat Alya keluar dari ruang kerja, Rafi sudah menunggu di koridor. Ia menyerahkan ponsel.

"Ada pesan dari Eyang."

Alya membaca layar.

Jangan biarkan mereka menjualmu dengan harga murah.

Alya tertawa pelan.

Rafi bertanya, "Apa jawabanmu?"

Alya mengetik singkat.

Tenang, Eyang. Kalau mereka mau menjualku, aku akan membuat mereka membeli kembali hidup mereka sendiri.

Ia mengirim pesan itu, lalu menatap pintu ruang kerja yang tertutup.

Di balik pintu, suara Baskara mulai meninggi. Dinda menangis. Raka membela dengan nada tertahan.

Rumah ini bahkan belum dua puluh empat jam menampungnya.

Namun retakan kedua sudah muncul.

1
Tri Septi
licin ya musuhnya
Tri Septi
duh, tegang terus aku 👏👏🤣🤣🤓
Tri Septi
KK author terima kasih ceritanya bagus....tegang terus, semangat dan sehat selalu👍👍
Tri Septi
lanjut thor👍
Tri Septi
seru👏👏👏 makasih Thor🙏
Tri Septi
tegas, lugas ... suka 👍👍👍
Tri Septi
hmmm senjata makan tuan
Tri Septi
harus Badas jangan mau ditindas 🤣 👏👏👏
Tri Septi
menunggu selama 11 tahun persiapan balas dendam, menjadi gadis yg kuat dan punya skill....semangat berjuang Alya 🔥😍😍😍
・゚・ Mitchi ・゚・
cerita'y bagus thor, cuman kebanyakan nama tokoh'y, jadi mumet ndase thor
Irma Indriani
baru kali ini baca novelnya nagajak berfikir , novel ilmiah 👍
vera tri
pusing baca nya ,terlalu banyak misteri serta konflik..😍
Bella Usop
boring. Cerita bertele-tele
Ce’Scorpio 🦂
Dinda umur 22 tapi ko manggil alya kakak,trus masi sekolah juga..jadi bingung thor 😮‍💨
Jaya Fandi
toko utama yg kuat dan tegas,,aku suka
Ce’Scorpio 🦂
“Bayang” nya ada 2 kah ?
Jaya Fandi
menarik,,i like it,,💪💪
Shinta Teja
ini gimana ceritanya bisa berbalik arah gini?! bukankah di awal cerita si Alya ini yang jadi "bayang"?! bahkan saat Raka bertanya & dia sebutkan kalau dirinya itu "bayang".
sekarang malah jadi Rafi yang berubah jadi "bayang"🤔
Ce’Scorpio 🦂
Raka ini kk kandung alya apa kk kandung dinda ya thor 🤭
Mei Mei
baru baca dah seru aja, bagus ni cerita nya gak bikin bosen
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!