NovelToon NovelToon
Dendam Berdarah

Dendam Berdarah

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Kutukan
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: Maple_Latte

Liburan keluarga Pak Gunawan dan Bu Sri yang sedang hamil tua berakhir tragis ketika mereka, bersama dua pelayan dan seorang tukang kebun, ditemukan tewas mengenaskan di vila mereka.

Penyelidikan mengungkap bahwa pembantaian tersebut dipicu oleh aksi perampokan yang berubah menjadi pembunuhan brutal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ada apa?

Tanpa terasa, waktu berlalu begitu cepat. Hari demi hari berganti. Minggu demi minggu terlewati.

Kini sudah hampir satu bulan keluarga Pak Gunawan tinggal di vila yang berada di ujung desa itu.

Selama waktu tersebut, semuanya berjalan dengan baik.

Bu Sri dalam keadaan sehat. Kandungannya terus berkembang tanpa masalah. Udara desa yang sejuk dan suasana yang tenang membuatnya jauh lebih nyaman dibanding ketika masih berada di kota.

Warga desa juga menerima mereka dengan hangat.

Sumi dan Lela bahkan sudah mengenal beberapa pedagang di pasar. Mbok Warsih sesekali berbincang dengan ibu-ibu desa yang datang membawa hasil kebun. Sementara Aji mulai akrab dengan para petani yang sering ditemuinya ketika membeli bibit tanaman.

Malam itu suasana vila terasa damai. Angin berembus lembut dari luar jendela, membawa aroma sawah yang basah setelah hujan ringan sore tadi.

Di lantai dua, Pak Gunawan dan Bu Sri sedang berada di kamar utama.

Bu Sri duduk bersandar di tempat tidur sambil mengusap perutnya yang kini semakin besar. Waktu persalinan sudah semakin dekat.

"Kita mungkin harus mulai bersiap." Ucap Pak Gunawan yang duduk di sampingnya.

"Bersiap untuk apa?" Tanya

Bu Sri menoleh.

"Persalinan." Sahut Pak Gunawan.

Bu Sri tersenyum kecil.

"Mas masih saja terlihat lebih gugup daripada aku."

Pak Gunawan terkekeh pelan.

"Mungkin."

"Aku baik-baik saja." Kata Bu Sri meyakinkan suaminya.

"Aku tahu." Jawab Pak Gunawan.

"Tapi aku tetap khawatir." Ucap Pak Gunawan mengusap tangan istrinya.

Bu Sri sudah terbiasa mendengar kalimat itu. Sejak awal kehamilan, suaminya memang selalu seperti itu.

"Lalu apa yang ingin Mas persiapkan?"

Pak Gunawan tampak berpikir sejenak.

"Dokter Diana."

Dokter Diana adalah dokter kandungan keluarga yang selama ini menangani kehamilannya.

Dokter itu sudah menjadi orang yang sangat mereka percaya.

"Aku juga memikirkannya."

"Kalau perkiraan tanggal lahirmu semakin dekat, aku ingin meminta Dokter Diana datang ke desa."

"Aku tidak mau mengambil risiko."

Bu Sri tersenyum lembut.

"Mas memang tidak pernah berubah."

"Karena aku ingin semuanya berjalan lancar." Ujar Pak Gunawan.

"Aku juga." Ucap Bu Sri.

Pak Gunawan menatap perut istrinya.

"Sebentar lagi kita akan bertemu anak kita."

"Iya." Sahut Bu Sri dengan wajah melembut.

"Menurutmu dia akan lebih mirip siapa?" Tanya Pak Gunawan.

"Mudah-mudahan jangan terlalu mirip Mas." Sahut Bu Sri tertawa kecil.

"Lho kenapa?" Tanya Pak Gunawan.

"Keras kepala." Kata Bu Sri.

"Itu fitnah." Bantah Pak Gunawan pura-pura tersinggung.

Bu Sri tertawa semakin lepas, suasana hangat memenuhi kamar mereka.

Sementara itu di lantai bawah, suasana yang tidak kalah santai juga sedang berlangsung.

Di kamar yang ditempati para asisten rumah tangga, Sumi dan Lela sedang duduk santai di atas kasur sambil melipat pakaian mereka.

Entah bagaimana awalnya, pembicaraan mereka tiba-tiba mengarah pada salah satu pemuda desa.

"Kamu lihat Mas Rudi tadi siang?" Tanya Lela sambil tersenyum jahil.

Sumi langsung meliriknya.

"Yang anak Pak Lurah itu?" Tebak Sumi.

"Iya." Sahut Lela.

"Kenapa?" Tanya Sumi.

"Ganteng ya." Kata Lela.

Sumi tertawa.

"Ternyata kamu memperhatikan."

"Ya jelas memperhatikan." Ucap Lela.

"Dia ramah, sopan, dan lumayan enak dilihat." Katanya.

Sumi menahan tawa mendengar Lela memuji pemuda desa itu.

"Kamu sendiri jangan bohong. Kemarin juga lihat terus." Ucap Lela.

"Itu karena dia sedang bicara dengan Aji." Sahut Sumi.

"Iya... iya..." Lela menyenggol lengan sahabatnya.

"Kalau kita tinggal lebih lama di sini mungkin kamu dapat jodoh." Kata Sumi.

"Dasar."

Keduanya tertawa bersama.

Di dapur, Mbok Warsih yang sedang menyiapkan susu hangat untuk Bu Sri hanya menggeleng-geleng kepala ketika mendengar suara tawa mereka dari kejauhan.

Dia menuangkan susu hangat ke dalam cangkir lalu menambahkan sedikit madu.

Uap tipis naik dari permukaan minuman tersebut.

Mbok Warsih tersenyum sendiri. Sudah hampir sebulan mereka tinggal di desa itu, semuanya berjalan dengan tenang.

Di luar rumah, tepatnya di teras depan vila, Aji sedang menikmati waktunya sendiri.

Seperti biasanya setiap malam, dia duduk di salah satu kursi kayu sambil memegang secangkir kopi panas.

Sebatang rokok terselip di antara jarinya.

Asap tipis melayang ke udara malam, Aji mengembuskan napas panjang.

Di kejauhan terdengar suara jangkrik bersahut-sahutan dari area persawahan.

Sesekali terdengar suara katak dari arah sungai kecil di belakang bukit.

Aji menyeruput kopinya perlahan, matanya memandang halaman depan yang diterangi lampu-lampu taman.

Suasana begitu damai, dan begitu tenang. Tidak ada sedikit pun tanda bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi.

Di dalam vila, para penghuninya menjalani malam seperti biasa.

Masing-masing tenggelam dalam aktivitas dan kebahagiaan sederhana mereka.

Mereka menantikan kelahiran seorang bayi yang akan segera hadir ke dunia.

Malam semakin larut, hanya tinggal beberapa lampu dinding yang masih menyala redup di koridor dan ruang utama.

Di lantai dua, Bu Sri tertidur pulas di atas ranjang. Wajahnya tampak tenang.

Di sampingnya, Pak Gunawan masih duduk. Beberapa dokumen perusahaan terbuka di hadapannya.

Sesekali dia memijat pelipis karena lelah. Tak lama kemudian, rasa kantuk mulai datang.

Dia merapikan berkas-berkasnya lalu mematikan lampu meja.

Kamar utama kembali gelap. Sementara itu, Sumi dan Lela telah lama tertidur di kamar mereka.

Mbok Warsih juga sudah terlelap sejak satu jam yang lalu.

Di bagian belakang vila, Aji baru saja tertidur setelah menikmati kopi dan rokok malamnya.

Namun...

Prang!

Suara benda pecah tiba-tiba memecah keheningan malam. Mata Aji langsung terbuka. Dia terbangun.

Suara itu terdengar jelas, seperti benda berat yang jatuh lalu pecah berkeping-keping.

Aji duduk perlahan, dia mencoba mendengarkan.

"Apa itu?" Gumamnya. Dia mengenakan sandal lalu membuka pintu kamar.

Koridor belakang tampak kosong, lampu malam yang redup membuat bayangan-bayangan panjang terbentuk di sepanjang lantai.

Aji berjalan menuju ruang utama, langkahnya pelan. Semakin mendekat, perasaannya semakin tidak nyaman.

Lalu dia melihatnya, sebuah vas bunga besar yang sebelumnya berada di dekat kaki tangga teras kini tergeletak hancur di lantai.

Pecahan tanah liat berserakan ke mana-mana.

Tanah dan bunga kering yang ada di dalamnya berhamburan di atas marmer.

Aji menghentikan langkah.

"Lho..."

Dia menatap vas itu dengan bingung, benda itu cukup berat, tidak mungkin bergeser sendiri.

Atau jangan-jangan tadi ada kucing liar yang tidak sengaja menabrak vas itu. Tapi apa iya, vas bunga sebesar itu bisa rebah hanya karena di senggol kucing.

Seluruh penghuni vila tampaknya masih tertidur.

Aji menggaruk tengkuknya, dia berpikir sejenak. Atau mungkin vas itu sudah lama retak, jadi baru pecah saja.

Meski mengucapkan itu, entah kenapa dia sendiri tidak terlalu percaya.

Dia berdiri beberapa saat sambil memandangi pecahan vas tersebut, masih dengan dahi yang mengerut.

1
Maure Nia
bagus KK ceritanya....lanjut....
Maure Nia
pembalasan menuju yg kedua...JD penasaran Thor siapa LG dalangnya MLM itu🤔
Nurr Tika
satu persatu orang yg membunuh akan di teror
Nurr Tika
sri masih binggung
Nurr Tika
lanjut
Nurr Tika
sri di panggil ibunya
Maure Nia
balas dendamnya memang nunggu Sri Dateng...lanjut thor
Maure Nia
kan ketemu ibumu Sri🥺🥹hah jadi ikut mewek
Siti Yatmi
aduh..sri kalo kamu tau tentang riwayat kelahiran mu...auto sedih and pilu...ga kebayang penderitaan ibu mu...
Siti Yatmi
baru ngeh kalo udh 20 tahun setan baru nongol🤣
Maure Nia
Sri itu pasti ibumu
Maure Nia
Sri itu pasti ibumu
Yulia Lia
yang manggil Sri itu ibu kandungmu sri
Yulia Lia
hutan tempat Sri di lahirkan dengan cara yg sangat tragis
Nurr Tika
ada yg menyesatkan jalan mereka
Nurr Tika
rasman ktemu ga yah
Maure Nia
Sri kamu bisa ketemu ibu kamu
Nurr Tika
lanjut
Nurr Tika
siapa yg bwa rasman ya
Yulia Lia
ayo siapakah sosok misterius itu,,,apakah ada yg tau kejadian 20 THN silam
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!