"Sakit, Mas! Apa yang kamu lakukan ke aku itu sangat menyakiti hatiku! Gimana bisa kamu ngelakuin ini ke aku, dan itu adalah adikku sendiri. Lalu kamu, kenapa kamu tega sama kakak mu ini haah!!"
Suara Swastamita bergetar hebat ketika berkata demikia kepada suaminya, Erdio Rasmaluyo.
Betapa tidak bergetar, rasa sakit di hatinya sangat nyata. Suami yang memintanya untuk melepaskan karinya demi menjadi ibu rumah tangga seutuhnya ternyata malah berselingkuh dengan adik tirinya.
Yang lebih mengejutkan adalah, perselingkuhan yang dilakukan Erdio dan Medini itu diketahui oleh sang ibu.
Sakit hati Swastamita ketika mengetahui bahwa di rumah itu hanya dirinya yang tak tahu apa-apa.
Adik tiri yang sangat ia sayangi melebihi dirinya sendiri tega menjadi duri dalam daging pada rumah tangganya. Dan suami yang ia jadikan imam, malah menorehkan luka yang begitu dalam.
Bagaimana Swastamita menghadapi rasa sakit yang dirasakannya tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Pikir Kamu Bahagia 04
"Aduh."
Tidak ada angin, tidak ada hujan, dan juga jalanan yang ditapaki oleh Mita adalah jalan yang rata, tapi wanita itu tiba-tiba tersandung ketika berjalan sehingga dirinya jatuh bersama dengan barang belanjaannya.
"Kenapa perasaanku tiba-tiba nggak enak gini ya, ada apa sih? Semua yang ada di rumah sehat kok,"gumamnya lirih.
Mita yakin bahwa tidak ada sesuatu yang buruk di rumahnya. Ibu, adik dan juga suaminya semuanya dalam keadaan sehat. Akan tetapi perasaannya tiba-tiba tidak enak. Tiba-tiba hatinya merasa resah tanpa alasan yang jelas.
"Astagfirullah,"ucap Mita lagi. Dia mencoba menenangkan dadanya yang sesak dan berdesir tidak nyaman. Berkali-kali wanita itu beristigfar agar rasa resah yang sekarang ini memenuhi dadanya segera pergi.
Namun sebanyak apapun istigfar yang diucapkan oleh bibirnya, entah mengapa tak kunjung membuat hati Mita merasa lega. Alhasil Mita memilih menepi terlebih dulu di sebuah warung makan setelah selesai memunguti barang belanjaannya yang jatuh. Di warung tersebut, Mita memesan teh manis hangat untuk sekedar membuat dadanya lega.
"Bismillah,"ucapnya sebelum menenggak teh manis yang dipesannya.
Satu teguk, dua teguk, dan tiga teguk. Air teh itu mendarat di lambung setelah melewati mulut dan juga tenggorokan. Wanita dengan kulit kuning langsat, rambut berwarna hitam legam sepunggung yang dikepang rapi serta bola mata dengan warna senada dengan rambutnya itu merasa sedikit lega setelah menenggak teh manis yang dipesannya.
"Alhamdulillah, meski nggak banyak, rasanya sedikit lebih lega. Astagfirullah sebenarnya aku kenapa sih ini tiba-tiba kok jadi ngerasa kayak nggak enak gini. Feeling bad. Ada apa ya? Ah semoga nggak ada apa-apa,"ucap Mita. Dia berusaha untuk tidak berpikiran buruk dan aneh-aneh. Dia berusaha untuk tetap berpikir positif bahwa semuanya baik-baik saja.
Mita kemudian menghabiskan sisa tehnya. Ia lalu membayar dan keluar dari warung makan tersebut. Hari sudah mulai siang, Mita ingat bahwa suaminya belum sarapan. Meski jika libur begini Erdio jarang sekali sarapan, tapi setidaknya Mita harus cepat-cepat pulang untuk membuat makan siang.
Dugh!
"Aduh, Ya Allah," ucap Mita ketika ia kembali terkena musibah. Jika tadi dia kesandung, kini dirinya menabrak seseorang.
"Maaf ya,"ucapnya kepada orang yang tidak sengaja di tabrak nya itu.
"Nggak apa-apa. Dari dulu kamu nggak berubah ya Mit. Seneng banget nabrak aku begini."
Eh?
Mita langsung menegakkan tubuhnya. Kepalanya yang tadi sedikit tertunduk kini mendongak untuk melihat siapa yang berbicara. Orang tersebut menyebutkan namanya, itu berarti orang tersebut mengenal dirinya pun sebaliknya.
Dan ketika Mita melihat lurus ke arah orang yang ditabrak tersebut, ia sedikit terkejut. Pasalnya orang tersebut adalah orang yang sangat dikenalnya.
"Pak Lingga?" ucap Mita. "Kok Pak Lingga ada di sini? Ah sebelumnya saya minta maaf Pak karena udah nabrak Bapak,"ucapnya sambil kembali menundukkan kepalanya. Mita sama sekali tak menduga bisa bertemu mantan atasannya di tempat ini.
Pasar Magelang mungkin hanya memerlukan sekitar 2-3 jam dari Kota Semarang. Namun keberadaan Lingga Putra Darsuki yang merupakan pimpinan PT Argo Darsuki, dirasa tidak mungkin berada di kota ini jika tidak dalam sebuah perjalanan bisnis atau urusan pekerjaan lainnya. Mita tahu akan hal tersebut karena dia dulu adalan mantan karyawan PT Argo Darsuki meski bukan sekertaris pribadi sang atasan.
"Lah suka-suka aku mau dimana juga. Emangnya ada larang aku dateng ke sini. Dan kenapa itu muka mu kucel kayak begitu. Ku pikir setelah resign dari pekerjaan, kamu bakalan hidup dengan tenang. Ya seperti ungkapan orang-orang di media sosial itu kalau Kota Magelang ini adalah tempat slow living paling best, tapi nyatanya ku lihat wajahmu kusut bener,"jawab Lingga panjang lebar.
Mita sendiri sudah paham tentang atasannya tersebut. Lingga Putra Darsuki, cucu pertama dari keluarga Darsuki itu adalah pribadi yang ceplas ceplos tanpa tedeng aling-aling yang bermakna berbicara atau bertindak terus terang, jujur, tanpa penutup, tanpa sekat, dan tidak menyembunyikan sesuatu.
Akan tetapi sikap Lingga yang ceplas ceplos itu terkadang suka menyakiti hati orang yang mendengarnya. Dan katanya tak seperti kebanyakan orang jawa tengah pada umumnya yang banyak merasa tidak enakan.
Meskipun demikian, tentu saja sifat Lingga tersebut sangat diperlukan sebagai seorang pimpinan. Dia menjadi tegas dan langsung menegur anak buahnya jika melakukan kesalahan.
"Haaah Pak, yang namanya orang itu pasti ada masalah. Jadi slow living kan nggak berarti orang nggak punya masalah to. Ya sudah Pak saya pamit dulu. Saya harus buru-buru pulang, soalnya sudah siang. Bapak tidak kenapa-napa kan? Tidak terluka gara-gara senggolan sama saya kan? jadi saya permisi ya, Pak,"ucap Mita. Dia enggan berurusan dengan mantan atasannya itu. Entahlah, Mita merasa jika berurusan dengan pria seperti Lingga ini pasti ujungnya juga tidak menyenangkan.
Terlebih dirinya adalah wanita bersuami. Mita takut jika ada yang melihat nanti bisa salah paham, apalagi di daerah ini bisa saja dia bertemu dengan tetangga atau orang yang mengenalnya. Menghindari hal-hal seperti itu adalah tindakan yang tepat.
"Mit, kalau kamu bosen jadi IRT kamu boleh lho balik ke perusahaan. Masih ada posisi yang cocok untuk mu,"ucap Lingga dengan sedikit keras karena Mita sudah berjalan menjauh.
Mita tentu mendengar ucapan Lingga itu, namun dia pura-pura tidak mendengar. Mita berjalan lurus, tanpa menoleh barang sedikitpun agar dianggap tidak mendengar ucapan itu.
Akan tetapi Lingga tidak bodoh, ia yakin bahwa Mita mendengarnya. Dan Lingga juga berharap bahwa Mita bisa kembali ke perusahaan miliknya.
Waktu Mita mengundurkan diri, Lingga sebenarnya tidak setuju. Dia tahu betul potensi Mita. Namun Lingga tidak punya hak menahan seorang istri yang ingin mengabdikan hidupnya untuk sang suami. Maka dari itu dengan berat hati Lingga menyetujui pengunduran diri Mita. Meski pada akhirnya dia tetap berharap bahwa Mita bisa kembali lagi ke perusahaan.
"Aku pikir kamu bahagia, Mit. Tapi melihat wajahmu sekarang ini, kayaknya kamu nggak bahagia. Ada apa? Halah, malah jadi penasaran sama hidup orang lain sih. Dah lah, mau ambil pesenan Ibu dulu. Ntar keburu sore malahan," gumam Lingga pelan. Dia kemudian melanjutkan perjalanannya.
Sebenarnya Lingga pergi ke Magelang karena Asha--ibunya-- menginginkan getuk trio atau getuk tiga warna yang merupakan makanan khas Magelang. Dan Asha hanya ingin yang dibuat di sini, dimana yang membuatnya itu adalah teman Asha dulu. Jadi Lingga lah yang diutus oleh Asha untuk mengambil pesanan.
Tapi saat dijalan, Lingga melihat Mita yang tadi tiba-tiba jatuh. Awalnya Lingga ingin langsung menolong, akan tetapi dia urung melakukannya dan memilih untuk mengamati dulu.
Jadi sebenarnya Lingga sudah mengamati Mita dari tadi, tapi dia baru muncul setelah Mita keluar dari sebuah warung makan dan Lingga juga sengaja menabrakkan tubuhnya kepada Mita.
"Aku harap kamu bisa balik lagi ke perusahan, Mit. Kamu sangat kompeten, rasanya sayang banget kamu resign begitu. Tapi ya itu, aku juga nggak bisa maksa. Namun kalau kamu pengen balik lagi, pintu perusahaan ku akan selalu terbuka buat kamu."
TBC
typo kak
stidak nya kasih epilog lh,spya tau lingga nnggu Mita menerima perasaannya brapa lama,,