NovelToon NovelToon
Putri Asli Yang Tak Pernah Dipilih

Putri Asli Yang Tak Pernah Dipilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Putri asli/palsu / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:10.3k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

"Saat ayahku memilih menyelamatkan putri kesayangannya, dia mengorbankanku tanpa ragu."

Savira Dharma menghabiskan seluruh hidupnya mengejar sesuatu yang tidak pernah ia miliki: pengakuan dari ayahnya.

Sebagai putri kandung keluarga Dharma, ia belajar lebih keras, bekerja lebih lama, dan mengorbankan masa mudanya demi membuktikan bahwa dirinya layak dicintai. Namun ketika skandal penggelapan dana mengguncang Dharma Group, Savira dijadikan kambing hitam untuk melindungi keluarga yang selama ini ia bela.

Ditinggalkan sendirian di tengah hujan fitnah, ayahnya memilih diam.

Malam itu, Savira melompat dari puncak gedung perusahaan yang telah merenggut seluruh hidupnya.

Namun kematian bukanlah akhir.

Saat membuka mata, ia kembali menjadi gadis tujuh belas tahun—tujuh tahun sebelum semua pengkhianatan itu terjadi.

Kali ini, Savira tidak akan mengemis cinta.

Ia tidak akan mengorbankan dirinya demi keluarga yang tak pernah memilihnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4. Merancang Skenario

Angin Jakarta malam ini tidak membawa kesejukan. Angin itu berembus kencang, menampar sisi wajah Savira dan membawa aroma aspal basah bercampur sisa polusi timbal. Ia merapatkan kerah jaket hitamnya, menempelkan punggung pada pilar beton penyangga jalan tol yang permukaannya sekasar ampelas.

Dua jam yang lalu, ia duduk di ruangan kedap suara sebuah bank swasta internasional. Ia menarik seluruh sisa tabungan ibunya, memasukkannya ke rekening anonim yang tidak akan pernah bisa disentuh oleh pelacakan sistem audit Wijaya.

Kini, sebagian kecil dari uang itu telah berubah wujud menjadi sebuah kamera digital laras panjang bermerek mahal yang berada dalam genggamannya. Logam kamera itu terasa sedingin balok es, menyerap panas dari telapak tangannya yang basah oleh keringat.

Savira memejamkan mata sesaat. Keringat dingin merembes dari pori-pori pelipisnya, mengalir turun melewati lekuk lehernya. Ia membiarkan hawa dingin jalan layang ini menusuk tulang-tulangnya, memastikan instingnya tetap sadar dan awas.

Ia merogoh saku kardigan yang tertutup jaket tebalnya. Ujung jarinya menyentuh permukaan plastik jepit rambut melati yang patah. Bau melati samar menguar menembus kain, menekan rasa mual yang sedari tadi mengocok lambungnya.

Setiap kali ia merasa ingin menyerah, aroma melati itu selalu menariknya kembali dari jurang. Ibunya tidak mewariskan harta triliunan rupiah seperti citra yang Wijaya obral kepada media. Ibunya hanya mewariskan kemandirian dan luka.

Suara decit ban yang bergesekan kasar dengan aspal memecah kesunyian malam.

Savira menahan napasnya secara refleks. Ia memundurkan tubuhnya lebih dalam ke balik bayangan pilar beton, tempat cahaya lampu jalan berwarna kuning temaram gagal menjangkaunya.

Sebuah mobil van hitam tanpa pelat nomor belakang berhenti paksa sejauh dua puluh meter dari posisinya. Asap knalpotnya mengepul tebal.

Dua pria bertubuh gempal keluar dari pintu samping van. Mereka bergerak cepat, menyeret sebuah karung goni berukuran tubuh manusia yang tampak berat. Suara gesekan serat goni dengan aspal terdengar ngilu di telinga Savira.

"Cepat seret ke tengah jalan." Pria berjaket kulit hitam berdesis dengan suara serak yang tergesa-gesa.

Pria bertopi bisbol merah menarik ujung karung, napasnya terengah-engah hingga bahunya naik turun. "Lu yakin ini aman? Kalau targetnya ngerem mendadak gimana?"

Sepatu boot pria berjaket kulit menendang sisi karung. "Bos Wijaya berani bayar mahal buat skenario ini. Jangan banyak tanya, kerjain aja dong."

Nama itu menghantam gendang telinga Savira layaknya palu godam. Otot lehernya menegang kaku seketika. Darahnya mendidih, memompa gelombang panas ke ubun-ubun.

Ia sudah menduga hal ini sejak awal. Namun mendengarnya secara langsung dari mulut algojo bayaran tetap membuat perutnya bergejolak hebat. Wijaya Dharma adalah monster sosiopat yang menyamar dalam setelan jas mahal.

Savira mengangkat kameranya perlahan, menyandarkan laras panjang lensa pada sisi pilar beton untuk mengurangi getaran tangannya. Layar kecil kamera itu memancarkan indikator siaga. Ia segera menutupinya dengan telapak tangan kiri agar cahayanya tidak membocorkan posisinya.

Ia memutar cincin fokus lensa perlahan. Wajah kedua pria itu, siluet van hitam, dan karung goni di aspal tertangkap tajam di balik kaca lensa.

Pria bertopi bisbol menendang pelan bungkusan itu. "Orang di dalam karung ini masih hidup kan?"

Terdengar erangan tertahan dari dalam karung. Suara lirih yang menyayat hati, tenggelam oleh deru angin malam.

Pria berjaket kulit meludah ke aspal. "Masih napas. Cukup buat bikin si Baskara masuk penjara gara-gara tabrak lari. Begitu mobil sedan target nabrak, kita foto pelat nomornya, lalu cabut."

Pria bertopi bisbol mendengus kasar sambil mengusap keringat di lehernya. "Sinting skenario si bos. Habis nabrak, truk kargo dari belakang bakal ngehajar mobil target juga kan?"

"Biar kelihatan natural. Target panik nabrak orang tua ini, dia keluar mobil buat ngecek, lalu truk kargo yang disetir si Jali langsung menghabisi nyawanya dari belakang. Kecelakaan beruntun berdarah." Pria pertama terkekeh pelan. "Baskara mati, dan namanya hancur sebagai penabrak lari. Beres deh kerjaan kita."

Savira menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga mengecap rasa besi berkarat di lidahnya. Sosiopat gila. Wijaya menyusun rencana pembunuhan dua lapis secara rapi. Ayahnya tidak hanya ingin mematikan saingan bisnisnya, tetapi juga merancang skenario untuk menghancurkan reputasi keluarga Jayanegara di mata publik.

Di kehidupan sebelumnya, kematian Baskara menjadi racun mematikan yang menghancurkan kewarasan Aaron Jayanegara. Savira masih mengingat dengan jelas ekspresi Aaron di hari pemakaman kakaknya.

Langit menangis menumpahkan hujan deras hari itu. Aaron berdiri mematung di depan nisan tanah basah. Matanya menatap kekosongan, postur tegapnya merosot layaknya pohon tumbang. Pria arogan yang selalu menjaga batasan dengannya itu berubah menjadi cangkang hampa tak bernyawa. Luka batin itu merobek habis jiwa pelindung Aaron.

Lebih parahnya lagi, Savira dipaksa melihat Wijaya Dharma datang melayat. Ayahnya mengenakan setelan jas hitam elegan, membawa karangan bunga lili putih termahal. Wijaya memeluk Aaron dengan tatapan simpatik palsu, membisikkan kata-kata penghiburan beracun di depan bidikan puluhan kamera jurnalis.

Rasa mual kembali menyerang perut Savira. Tangan kirinya mencengkeram kain jaketnya tepat di atas dada. Denyut jantungnya berpacu liar memompa amarah. Cengkeraman tangan kanannya pada kamera mengerat hingga buku-buku jarinya memutih pasi.

Kehancuran finansial dan mental membuat Aaron tidak bisa berada di sana saat Savira didorong dari atas gedung. Jika saja Aaron tidak dihancurkan malam ini, pria itu pasti akan menemukan celah untuk menyelamatkannya. Aaron tidak pernah menyelesaikan masalah Savira secara langsung, tetapi pria itu selalu memastikan tubuh Savira tetap utuh.

Malam ini, Savira akan membalas utang budi itu. Ia tidak akan membiarkan bidak pelindungnya hancur. Ia akan merekam semuanya. Bukti digital ini adalah mata pisau yang akan ia gunakan untuk menggorok leher dominasi Wijaya.

Ponsel pria berjaket kulit bergetar terang memecah fokus Savira. Pria itu melihat layarnya sejenak, lalu mengangkat tangan memberikan isyarat agresif.

"Target sudah masuk jalan layang. Sedan hitam. Siapkan posisinya sekarang!"

Kedua preman itu menarik ujung karung goni. Mereka menumpahkan isinya ke tengah aspal jalur cepat tanpa keraguan.

Seorang pria tua berpakaian compang-camping tergelincir keluar. Tangan dan kakinya terikat tambang kasar. Mulutnya disumpal kain kotor. Pria malang itu meronta lemah, matanya melotot ketakutan menatap aspal yang dingin.

Pria berjaket kulit menarik pisau lipat dari sakunya. Bunyi klik logam pelindung pisau itu terdengar nyaring. Ia memotong ikatan tambang di kaki dan tangan pria tua itu dengan paksa.

"Bangun lu," desisnya seraya menarik kerah baju si gelandangan. "Jalan ke tengah pas lampu mobilnya deket."

"Lepas penutup matanya sekalian. Biar dia kaget lihat lampu dan lari sembarangan," perintah pria bertopi bisbol.

Mereka melepaskan penutup mata pria tua itu. Tanpa belas kasihan, kedua algojo bayaran tersebut mendorong tubuh renta itu hingga tersungkur di tengah garis marka jalan.

Savira memutar lensa kameranya lebih tajam. Ia mengunci fokus pada pelat nomor van hitam yang mulai bergerak mundur, lalu beralih membidik wajah penuh teror sang pria tua. Jemarinya stabil. Ia telah menekan nuraninya ke sudut paling gelap demi mendapatkan bukti yang absolut.

Kedua preman itu berlari cepat, melompati pagar pembatas jalan, menyembunyikan tubuh mereka di balik semak dan bayangan beton. Mereka meninggalkan korban malang itu sendirian menanti ajalnya di tengah jalan raya raya.

Cahaya terang dari sepasang lampu depan mobil menembus kabut malam dari arah selatan. Cahaya itu membelah pekatnya jalan layang layaknya pedang bercahaya.

Mesin V8 sedan mewah itu terdengar menderu halus namun penuh tenaga. Jaraknya kurang dari dua ratus meter dan melaju dalam kecepatan tinggi. Sedan itu meluncur mulus membawa nyawa Baskara Jayanegara di dalamnya.

Jantung Savira berpacu semakin liar, menabrak-nabrak dinding rusuknya. Udara dingin seakan membeku dan mencekik kerongkongannya. Waktu di sekitarnya terasa melambat.

Di tengah aspal, gelandangan tua itu merangkak dengan tubuh bergetar hebat. Matanya tersilaukan oleh sorot lampu sedan yang mendekat cepat. Ia berusaha berdiri, namun kakinya terlalu lemah, membuatnya terhuyung menutupi lajur mobil Baskara.

Savira menstabilkan ritme napasnya, menumpukan seluruh berat tubuhnya pada pilar beton. Layar kameranya menyorot tajam setiap detik krusial ini tanpa berkedip. Matanya menatap lurus, menolak membiarkan satu pun detail terlewatkan.

Sorot lampu mobil Baskara mulai mendekati titik jebakan, dan jari jemari Savira bersiap menekan tombol rekam pada kameranya.

1
sukensri hardiati
itu kalau permen strawberry terus dikonsumsi....mk begitu wijaya tumbang...maka kamu juga bisa tumbang kena diabet
Sulati Cus
adu kekuatan sm bokap yg kental kelicikan ternyata g ada seujung kuku nya, terlalu dini pgn balas dendam mlh hancur sendiri
gina altira
makin rumit pertarungannya
tutiana
luar biasa
gina altira
Sosiopat itu sangat mengerikan
sukensri hardiati
hadeeeh savira....ganti permen straberimu dengan camilan sehat....otak geniusmu jadi lengket nanti...
gina altira
jgn" Savira yg akan jadi tumbal
gina altira
kuat Savira,, jgn menyerah
nur
ngeselin bpkmu vir
Pawon Ana
terus terang sampai sini perkembangan karakter Savira agak lambat, yng aku pahami Savira ini masih terbelenggu dengan trauma dimasa kehidupan sebelumnya, dia belum bisa benar2 lepas, egonya yang merasa mampu sendiri masih tinggi...🤦
Pawon Ana
ih itu otak Savira kok tidak ngebul ya....aktif terus tidak berhenti...🤦
Wega Luna
sebenarnya ceritanya bagus entah kenapa musuh lebih kuat dari para MC,panik panik panik sedang musuh hanya dengan diam tapi bisa melihat segala nya, ,dan sekarang Savira ditanya siapa pelakunya, Savira hanya menambah luka, jika tidak dicintai buat hatimu menjadi tembok besar, jangan sampai menambah luka, dengar berita ini langsung sakit hati,aku dulu juga gitu dengan orang tua ku,aku memilih cuek dan tidak memasukkan ke hati,, sampai bab ini aku belum bisa bangga dengan savira
Pawon Ana
berhadapan dengan sumber trauma terkadang memang menguras kewarasan mental 💪✌️
Cty Badria
ya hancurkan
Pawon Ana
ayo aku menunggu aksi duo genius selanjutnya 💪
kymlove...
mari🫡
watno antonio
lanjut thor
sukensri hardiati
tolong masukkan cerita ini ke perpus on going dong....biar gampang nyarinya ...
sukensri hardiati
aduuuhh...klo boleh menyayangkan awal yg tragis...bunuh diri...nggak cocok untuk gadis kuat yg merupakan tokoh utama cerita...
nur
msok cpet banget ketahuan km vir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!