NovelToon NovelToon
Istri Pengganti Yang Terluka

Istri Pengganti Yang Terluka

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Balas Dendam
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

Dua jam sebelum akad, Devon tiba-tiba dijebak masuk penjara. Demi harga diri keluarga, Liam terpaksa turun tangan menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Mira Hazelya.

​Namun, malam pertama yang seharusnya indah justru berubah menjadi neraka. Liam murka saat mendapati fakta bahwa istri barunya ternyata sudah tidak lagi perawan!

​"Kau memanfaatkanku?! Kau menjebakku untuk menjadi penanggung jawab dosa orang lain?!" bentak Liam penuh amarah, siap melayangkan talak.

​Tepat sebelum Liam melangkah pergi, sebuah rahasia besar terbongkar. Noda di tubuh Mira bukan karena ia wanita murahan, melainkan bukti pengorbanan berdarah demi menyelamatkan keluarga Liam dari kehancuran.

​Saat rasa benci dalam semalam berubah menjadi rasa bersalah yang mencekik dada, sanggupkah Liam menyembuhkan luka di hati Mira? Sementara di kampus, mereka harus bersandiwara seolah tidak saling kenal!

Kita Simak Yuk Kisah Selanjutnya Di Novel => Istri Pengganti Yang Terluka.
By - Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Aroma kertas tua, kayu pinus, dan AC yang dingin menyambut siapa saja yang melangkah masuk ke dalam Perpustakaan Pusat Universitas. Di lantai dua, tepatnya di area belajar mandiri bagian belakang, suasananya biasanya sangat sunyi.

Ruangan ini dikelilingi oleh rak-rak buku raksasa yang menjulang tinggi hingga ke langit-langit, menciptakan sekat-sekat labirin kayu yang tenang, tempat favorit bagi mahasiswa yang ingin menyendiri atau sekadar menghindari kebisingan kampus.

Hilmira Hazelya duduk di salah satu bilik meja kayu di barisan paling sudut dekat jendela besar. Di luar, langit tampak agak mendung, membiarkan cahaya abu-abu yang redup masuk dan menyinari meja belajarnya.

Hilmira mengenakan gamis berwarna cokelat mocca yang dipadukan dengan khimar lebar cokelat tua. Cadar hitamnya terpasang rapi, menyisakan sepasang mata bulat yang kini terfokus penuh pada lembaran buku teks tebal mengenai metode penelitian sosial.

Di tangannya, sebuah pulpen hitam bergerak lambat, menyalin poin-poin penting ke dalam buku catatan kecilnya. Di tempat terasing seperti ini, Hilmira merasa aman. Keheningan adalah pelindung terbaik bagi batinnya yang belum sepenuhnya pulih dari trauma masa lalu.

Namun, kedamaian itu tidak bertahan lama.

Drap, drap, drap.

Suara langkah kaki yang riuh terdengar mendekat dari arah tangga utama. Hilmira tersentak kecil, jemari yang memegang pulpen seketika menegang.

Dari balik rak buku besar di dekat mejanya, serombongan mahasiswa pria, sekitar tujuh atau delapan orang yang tampaknya berasal dari fakultas teknik, berjalan masuk sambil berbisik-bisik dan tertawa tertahan.

"Eh, di belakang kosong tuh. Kita kerja kelompok di sana aja," ujar salah satu dari mereka, suaranya terdengar sangat nyaring di ruangan sesunyi ini.

"Nah, iya. Sepi. Lebih santai."

Mereka langsung menduduki meja-meja kosong di sekitar bilik Hilmira. Hanya dalam hitungan detik, area belakang yang semula sunyi berubah menjadi ruang tertutup yang dipadati oleh kehadiran pria-pria asing. Suara tawa mereka yang berat, gesekan kursi kayu yang kasar, hingga aroma parfum maskulin yang menyengat langsung menguasai udara di sekitar Hilmira.

DEG.

Dada Hilmira mendadak terasa seperti dihantam oleh palu godam tak kasat mata.

Pena di tangannya terjatuh, menggelinding di atas meja kayu sebelum akhirnya jatuh ke lantai dengan bunyi klik kecil yang teredam. Napas Hilmira seketika memburu, tersengal-sengal di balik kain cadar hitamnya yang terasa mendadak sangat tebal dan mencekik tenggorokannya.

Setiap kali ia mendengar suara tawa pria asing yang terlalu dekat, memori bawah sadarnya langsung memutar balik kejadian malam mengerikan tanggal 14 Oktober itu. Bayangan gudang yang gelap, suara gertakan kasar, dan sentuhan-sentuhan paksa yang merenggut kesuciannya kembali datang menghantam jiwanya bagai badai bandang.

"Jangan... jangan dekat-dekat..." batin Hilmira menjerit histeris, sementara tubuh mungilnya mulai bergetar hebat.

Keringat dingin membasahi telapak tangannya. Hilmira mencoba memeluk lututnya di bawah meja, menyembunyikan wajahnya yang pucat pasi di balik tumpukan buku tebal. Ia ingin berdiri dan berlari keluar dari tempat itu, namun kedua kakinya terasa lemas seperti mati rasa.

Serangan panik itu melumpuhkan seluruh fungsi motoriknya, menguncinya di dalam neraka ketakutannya sendiri di sudut perpustakaan.

Sementara itu, di balik rak buku bernomor 400 yang terletak sekitar sepuluh meter dari meja Hilmira, sesosok pria tegap sedang berdiri memegang sebuah buku tebal tentang manajemen korporat.

Arkan Oliver.

Sejak awal, Arkan tidak pernah benar-benar belajar. Matanya memang menatap halaman buku, namun fokus elangnya terus terarah pada satu titik di sudut belakang, meja tempat Hilmira berada.

Sejak melihat Hilmira masuk ke perpustakaan sejam yang lalu, Arkan sengaja mengambil posisi di rak buku terdekat untuk memantau istrinya dari jauh, memastikan tidak ada hal buruk yang terjadi pada wanita itu.

Ketika rombongan mahasiswa teknik itu datang dan menduduki area sekitar Hilmira, rahang Arkan langsung mengeras. Ia melihat dengan jelas bagaimana tubuh Hilmira mendadak menegang, bagaimana buku catatan yang ia pegang terlepas, dan bagaimana wanita itu mulai meringkuk gemetar dengan napas yang tidak teratur.

Arkan tahu persis apa yang sedang terjadi. Trauma Hilmira sedang kambuh hebat.

"Sialan," maki Arkan di dalam hatinya, rahangnya mengetat hingga urat-urat di lehernya tercetak jelas.

Insting protektifnya bergejolak hebat, menuntutnya untuk segera menerobos jarak, merengkuh tubuh gemetar Hilmira ke dalam pelukan dadanya yang kokoh, dan menyeret pria-pria itu keluar dari sana. Namun, aturan kontrak "Satu Semester" yang ia buat sendiri kembali menahan langkahnya.

Jika ia melangkah maju dan menunjukkan perhatian yang begitu intim pada Hilmira di depan umum, rumor tentang hubungan mereka akan langsung meledak di kampus, dan itu bisa membahayakan posisi Hilmira dari incaran musuh keluarga Oliver.

Arkan harus menolong istrinya tanpa ketahuan bahwa ia sedang menolongnya.

Mata elang Arkan berputar cepat, menganalisis situasi sekeliling. Di dekat meja rombongan mahasiswa tersebut, terdapat sebuah papan pengumuman kayu berukuran besar yang berdiri di atas penyangga roda yang agak longgar. Di atasnya tertumpuk beberapa kardus brosur perpustakaan yang cukup berat.

Dengan langkah kaki yang tenang namun penuh perhitungan, Arkan berjalan memutar, mendekati area tersebut dari balik bayangan rak buku.

Gerakannya yang dinamis dan berkelas membuatnya tampak seperti mahasiswa biasa yang sedang mencari buku. Begitu posisinya sejajar dengan papan pengumuman tersebut, Arkan sengaja menyenggol ujung penyangga kayu itu dengan bahu kokohnya menggunakan kekuatan yang terukur.

PRRAAAANNGG! BRUAAAK!

Papan pengumuman itu roboh dengan suara dentuman yang sangat keras, menghantam tumpukan kardus brosur hingga isinya berserakan ke seluruh lantai marmer, menciptakan gema luar biasa di dalam ruang perpustakaan yang sunyi.

"Heii!! Siapa itu yang bikin ribut?!" suara teriakan melengking dari sang penjaga perpustakaan paruh baya langsung terdengar dari ujung ruangan.

Langkah kaki sang penjaga perpustakaan yang terdengar gusar dan berisik langsung berjalan cepat menuju area belakang. Rombongan mahasiswa teknik yang sedang asyik mengobrol seketika terkejut dan panik, takut dituduh sebagai penyebab keributan tersebut.

"Waduh, kabur-kabur! Entar kita kena sanksi gak boleh masuk perpus sebulan!" bisik salah satu mahasiswa dengan panik.

"Iya, buruan cabut!"

Dalam hitungan detik, rombongan pria asing itu langsung mengemasi barang-barang mereka dengan tergesa-gesa dan berlari meninggalkan area belakang melewati tangga darurat, membubarkan kerumunan yang sejak tadi mencekik paru-paru Hilmira.

Melihat area tersebut telah kosong, Arkan tidak memedulikan kekacauan yang baru saja ia buat. Sambil memanfaatkan kepanikan kecil di sekitar tempat itu, ia melangkah cepat menuju bilik meja Hilmira.

Arkan berlutut dengan satu kaki di samping kursi Hilmira,.sebuah posisi yang begitu rendah, menghilangkan seluruh kesan angkuh dari sosok CEO yang biasanya ia tampilkan. Ia tidak berani menyentuh kulit atau tubuh Hilmira secara langsung, takut jika itu akan memperparah serangan paniknya.

Sebagai gantinya, Arkan meletakkan kedua tangan kekarnya di atas permukaan meja, mengurung tubuh mungil Hilmira di dalam ruang aman di antara kedua lengannya yang kokoh.

"Mira... ini aku. Arkan," bisik Arkan dengan suara bariton yang sangat rendah, berat, dan dipenuhi kehangatan yang menenangkan. "Mereka sudah pergi. Tarik napasmu perlahan. Kau aman di sini."

Mendengar suara bariton yang sangat familier dan menenangkan itu, Hilmira perlahan mengangkat kepalanya dari balik lipatan lengan.

Sepasang mata bulatnya yang jernih namun basah oleh air mata menatap lurus ke dalam manik mata hitam Arkan yang tajam, yang kini sedang menatapnya dengan tatapan penuh kecemasan dan rasa ingin melindungi yang begitu dalam.

Melihat ketulusan dan perlindungan yang ditawarkan Arkan dari jarak sedekat ini, detak jantung Hilmira yang semula berpacu liar karena ketakutan perlahan-lahan mulai melambat, beralih menjadi debaran aneh yang asing namun terasa begitu hangat menyelimuti dadanya.

Di balik cadar hitamnya, Hilmira menghembuskan napas panjang, membiarkan rasa aman dari kehadiran Arkan mengusir sisa-sisa badai traumanya pagi itu.

...----------------...

To Be Continue ....

1
Eva Karmita
cemburu tanda cinta ...❤️
marah tandanya sayang 🤗
Arkan kamu sudah lupa dengan perjanjian itu 🤸🏼‍♀️😅
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
makanya jangan so nolak kamu Arkan jadi pusing sendiri kan 😤🤣🤣🤣
Eva Karmita
seriyus mau nanya apa nama pu nya di ganti ...??
padahal bagus Liam
Eva Karmita
kenapa namanya di ganti otor yg tadinya Liam kenapa berubah jadi Arkana. 🤔🤔🤔
Riana Utami
puasssss
makanya jangan sok berkuasa 🫤🫤
Lovita BM
kq jd Arkan Oliver namanya, bukanya Liam Oliver ????
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Lovita BM
luar biasa
Lovita BM
👍👍👍👍👍💪
Eva Karmita
kita lihat apakah liam mampu merebut hati Mira
Eva Karmita
ya Allah kasihan Mira jadi korban penculikan dan pemerkosaan 🥺
Eva Karmita
percuma menjelaskan Mira lebih baik kamu diam ... biarkan waktu yang berbicara
Eva Karmita
Liam edan main talak" aja ...awas aja nanti kamu menyesal 🥺
Dibalik Senja
Lebih baik diem mira biarkan liam dngn asumsinya krn wlupun kau membela diri dia tdk akan percaya ...talak sdh diucapkan dan mira pasti akan pergi liam tnpa dimintapun
Dibalik Senja
Tdak apa2 dicerai sdh bkn jdohnya jngn dtangisi lebih baik begitu dr pd setiap hari disiksa dan direndahkan....CEO gemblung mainya kekerasan tnpa tau permasalahan merasa pnya dinasti diluar angkasa sungguh awak gemess
N Wage
apa maksud dr paragraf "Di sana,di atas seprai putih bersih yang tertutup beberapa kelopak mawar,tidak ada tanda2 kesucian yang biasanya dst..."

emangnya seperti apa?
N Wage
bukan altar KK...meja akad😊
Lovita BM
👍👍👍💪💪
Enny Suhartini
hadir kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!