"Satu Janji, Dua Dunia, dan Takdir yang Tertukar."
Di hari pernikahannya, Syarifah Khadijah Al-Eydrus kehilangan Habib Farhan, calon suaminya yang tewas dalam kecelakaan tragis. Melalui sebuah wasiat terakhir, Khadijah terpaksa dinikahi oleh Zaid, adik kandung Farhan yang tampan, dingin, sekaligus berandalan ketua geng motor.
Bagi Zaid, Khadijah hanyalah "titipan" yang menyesakkan. Di bawah satu atap, sang Hafizah berjuang dengan kesabaran, sementara Zaid terus memberontak dalam liarnya kehidupan malam. Namun perlahan, getaran asing mulai tumbuh di antara cadar dan jaket kulit.
Akankah Zaid berubah menjadi imam yang pantas, ataukah Khadijah selamanya hanya menjadi bayang-bayang masa lalu?
"Karena terkadang, Allah mematahkan hatimu hanya untuk mempertemukanmu dengan seseorang yang akan menjagamu selamanya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERGULATAN DI BALIK KEMUDI
Siang itu, matahari membakar aspal kampus dengan teriknya. Khadijah berdiri di gerbang belakang sesuai instruksi Zaid. Ia berdiri sedikit menjauh dari kerumunan mahasiswa, berusaha tetap tidak mencolok dengan gamis gelapnya. Hatinya masih terasa berat. Kejadian pagi tadi terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak bayangan tangan wanita itu di lengan suaminya adalah duri yang masih menancap dalam.
Tak lama kemudian, mobil mewah milik Habib Umar berhenti tepat di depannya. Kaca filmnya yang gelap membuat Khadijah tak bisa melihat ke dalam, namun ia tahu itu Zaid. Pintu terbuka secara otomatis.
Khadijah masuk dan duduk di kursi depan. Bau rokok yang tipis bercampur dengan parfum *woody* yang tajam menyambutnya. Zaid tidak menoleh. Tangannya mencengkeram kemudi dengan erat, matanya menatap lurus ke depan.
"Pasang sabuk pengamannya," perintah Zaid singkat. Suaranya masih sekaku tadi pagi.
Khadijah menarik sabuk pengaman dengan tangan yang sedikit gemetar. Perjalanan dimulai dalam keheningan yang mencekik. Zaid mengemudikan mobil dengan kecepatan yang cukup tinggi, menyalip beberapa kendaraan dengan gerakan yang sedikit agresif, mencerminkan gejolak di dalam dadanya.
Lalu lintas kota mulai padat. Mobil mereka terjebak di tengah kemacetan panjang. Zaid mendengus kesal, ia memukul setir dengan pelan. Suasana yang sunyi di dalam kabin mobil membuat setiap helaan napas terasa begitu nyaring.
"Kenapa diam saja?" tanya Zaid tiba-tiba. "Biasanya perempuan kalau marah itu cerewet, memaki-maki, atau setidaknya menangis kencang. Kenapa kamu cuma diam?"
Khadijah menoleh kecil, matanya menatap ke arah luar jendela. "Untuk apa saya memaki? Itu tidak akan mengubah apa yang sudah terjadi. Dan menangis di depan orang yang tidak peduli hanya akan membuang energi saya."
Zaid merasa tertampar. "Siapa bilang aku tidak peduli?"
"Tindakan Mas tadi pagi menunjukkan segalanya," suara Khadijah tetap tenang, namun nadanya sangat dingin. "Mas membiarkan diri Mas menjadi tontonan. Mas tidak menghargai saya sebagai istri, itu saya bisa maklumi karena kita menikah tanpa cinta. Tapi Mas tidak menghargai almarhum Mas Farhan. Itu yang paling menyakitkan."
"Berhenti membawa-bawa nama Bang Farhan!" bentak Zaid. Ia menepi ke bahu jalan dengan mendadak, membuat ban mobil berdecit.
Zaid mematikan mesin mobil dan berbalik menghadap Khadijah. Matanya memerah, penuh dengan amarah dan rasa frustrasi yang memuncak. "Semua orang selalu membandingkanku dengan dia! Farhan yang alim, Farhan yang lembut, Farhan yang sempurna! Kamu pikir aku senang hidup di bawah bayang-bayang orang mati?!"
Khadijah tidak gentar. Ia justru menatap mata Zaid dengan berani. "Saya tidak pernah membandingkan Mas dengan Kak Farhan. Saya tahu Mas adalah Zaid, bukan Farhan. Tapi Mas adalah laki-laki. Laki-laki yang sudah mengambil sumpah di depan saksi, di depan ayah saya, dan di depan Tuhan. Apa Mas pikir pernikahan ini cuma mainan?"
Zaid terdiam. Napasnya memburu.
"Jika Mas ingin terus hidup seperti bujangan, kenapa Mas terima wasiat itu?" lanjut Khadijah, suaranya mulai bergetar. "Mas bisa saja menolak. Mas bisa biarkan saya pergi. Tapi Mas memilih untuk mengikat saya, lalu Mas injak-injak harga diri saya di depan orang banyak. Itu kejam, Zaid."
Zaid memalingkan wajahnya. Untuk pertama kalinya, ia merasa kalah telak dalam sebuah argumen. Ia sering menang berdebat dengan dosen atau adu mulut dengan geng motor lawan, tapi di depan wanita bercadar ini, semua logikanya runtuh.
Keheningan kembali menyelimuti mereka selama beberapa menit. Zaid menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, memejamkan mata rapat-rapat.
"Aku... aku tidak bermaksud seperti itu," bisik Zaid akhirnya. Suaranya terdengar sangat rendah, hampir seperti sebuah pengakuan dosa. "Sherly itu... dia cuma masa lalu yang nggak mau lepas. Aku nggak pernah menyentuhnya lebih dari itu. Tadi pagi aku cuma... aku cuma nggak tahu harus gimana."
Khadijah tertegun. Ia tidak menyangka Zaid akan mencoba menjelaskan, apalagi dengan nada yang melunak seperti itu.
"Saya bukan wanita yang pencemburu tanpa alasan, Zaid," ujar Khadijah lebih lembut. "Tapi saya wanita yang punya harga diri. Jika Mas ingin saya tetap di rumah ini, tolong... hargai keberadaan saya. Jangan rendahkan saya dengan membiarkan wanita lain menyentuh Mas."
Zaid menoleh kembali pada istrinya. Ada sesuatu dalam suara Khadijah yang membuatnya merasa sangat bersalah. Sesuatu yang membuatnya ingin melindungi wanita ini, bukan lagi karena wasiat kakaknya, tapi karena ia mulai merasa bahwa Khadijah layak untuk dihormati.
"Aku akan mencoba," gumam Zaid. "Tapi jangan harap aku berubah jadi ustadz dalam semalam. Aku masih Zaid yang suka motor, yang masih punya banyak urusan di jalanan."
"Saya tidak minta Mas jadi ustadz," Khadijah tersenyum tipis di balik cadarnya, meski Zaid tak bisa melihatnya, ia bisa merasakannya dari binar mata Khadijah. "Saya hanya minta Mas jadi laki-laki yang jujur pada dirinya sendiri."
Zaid kembali menyalakan mesin mobil. Namun, sebelum ia sempat menjalankan mobilnya, ponselnya berdering kencang. Nama 'Guntur' salah satu wakilnya di geng motor muncul di layar.
Zaid mengangkatnya. "Ya, Guntur?"
"Bos! Geng Macan Hitam berulah lagi! Mereka mengadang anak-anak di dekat pangkalan belakang kampus. Haikal dan Rian ada di sana, mereka dikepung!" suara Guntur terdengar panik dengan latar belakang suara benturan logam dan teriakan.
Wajah Zaid seketika berubah tegang. Rahangnya mengeras. "Tunggu di sana! Aku ke sana sekarang!"
Zaid mematikan telepon dan menatap Khadijah dengan pandangan meminta maaf. "Aku harus pergi. Ada masalah dengan teman-temanku."
"Tapi kita harus pulang, Umi menunggu untuk makan siang," Khadijah tampak cemas.
"Nggak bisa! Mereka dalam bahaya," Zaid memutar balik mobilnya dengan kecepatan tinggi. "Aku akan menurunkanku di depan swalayan dekat sini. Kamu naik taksi online ke rumah, bilang pada Umi aku ada urusan mendadak di kampus. Tolong, Khadijah!"
Khadijah melihat ada gurat kecemasan yang tulus di wajah Zaid untuk sahabat-sahabatnya. Meski ia tidak menyukai dunia geng motor suaminya, ia tahu Zaid adalah orang yang sangat setia kawan.
"Hati-hati, Zaid," ujar Khadijah saat mobil berhenti di depan swalayan. "Jangan terluka. Saya akan berdoa untuk keselamatan kalian."
Zaid sempat tertegun mendengar kata 'doa'. Ia menatap Khadijah sejenak, lalu mengangguk singkat. "Masuklah ke rumah dengan aman."
Mobil melesat pergi, meninggalkan debu yang beterbangan. Khadijah berdiri di pinggir jalan, menggenggam tasnya erat-erat. Di dalam hatinya, ia menyelipkan satu doa khusus untuk suaminya yang keras kepala itu: agar Allah menjaganya dari keburukan yang ia datangi sendiri.
Zaid memacu mobilnya menuju area konflik. Di kepalanya, ia hanya memikirkan dua hal: keselamatan sahabatnya, dan tatapan mata Khadijah yang baru saja memberinya sebuah ketenangan aneh di tengah badai yang akan ia hadapi.