NovelToon NovelToon
The Last Crown

The Last Crown

Status: tamat
Genre:Fantasi / Drama / Tamat
Popularitas:652
Nilai: 5
Nama Author: Inkbound

The Last Crown adalah buku pertama dari The Hollow Thorne Trilogy. Bercerita tentang perjalanan Pangeran Kal Valdyr, pewaris takhta Izengard yang kehilangan segalanya setelah istana jatuh dalam pengkhianatan berdarah. Dari seorang pangeran yang dibesarkan untuk memerintah, Kal berubah menjadi buronan yang hanya membawa satu hal, nama keluarganya yang hampir musnah.

Dengan petunjuk terakhir dari ayahnya, Kal mencari Marlow Renad, Nightingale terakhir yang pernah bergerak di balik bayangan mahkota. Bersamanya, Kal mulai menempuh jalan gelap untuk merebut kembali apa yang dirampas darinya.

📢 Visualisasi karakter atau hal penting lainnya dapat dilihat pada postingan di profil saya, Visualisasi itu saya buat dengan bantuan AI berdasarkan gambaran saya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inkbound, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perkelahian

Aku turun ke ruang makan penginapan dengan rambut masih lembap dan pakaian yang menempel dingin pada kulit. Anak tangga berderit di bawah kakiku. Dari bawah, cahaya lampu minyak bergerak di dinding kayu, disertai suara percakapan, tawa rendah, denting sendok pada mangkuk, dan bunyi kaki kursi diseret di lantai.

Bau makanan langsung menghantamku sebelum aku mencapai anak tangga terakhir.

Roti hangat. Sup bawang. Daging panggang. Lemak yang menetes ke besi panas. Asap kayu dari perapian. Bau itu membuat perutku mengencang begitu kuat hingga aku hampir berhenti di tengah tangga.

Aku baru menyadari betapa laparnya tubuhku. Sepanjang hari, rasa lapar tertutup oleh rasa sakit, takut, malu, dan perjalanan. Kini, setelah air hangat melunakkan otot-ototku dan bahaya seolah berada beberapa dinding jauhnya, perutku menuntut bagiannya dengan cara yang tidak bisa kuabaikan.

Ruang makan Lakeview Inn lebih ramai daripada ketika kami pertama datang. Meja-meja bundar memenuhi ruangan, masing-masing dikelilingi kursi pendek yang dibuat dari bekas tong kayu. Beberapa permukaannya masih memperlihatkan lingkaran besi lama, dipoles seadanya agar tidak melukai pakaian orang yang duduk. Para tamu penginapan memenuhi sebagian besar meja: pelaut dengan tangan kasar, pedagang berwajah lelah, sepasang lelaki tua yang bermain dadu, dan beberapa pekerja pelabuhan yang masih memakai mantel basah.

Bir berbusa memenuhi cangkir-cangkir kayu. Sup dituangkan dari panci besar dekat perapian. Roti dipotong di atas papan tebal, uapnya masih naik ketika pisau membelah bagian tengah.

Aku menundukkan kepala saat berjalan melewati mereka.

Seharusnya aku lebih berhati-hati. Seharusnya aku duduk di sudut, menghadap dinding, menunggu Marlow turun, dan membiarkannya mengatur semuanya. Seharusnya aku memikirkan kemungkinan ada seseorang di ruangan itu yang pernah melihat wajahku pada lukisan kerajaan, perayaan, atau pengumuman yang sudah menyebar lebih cepat daripada yang dapat kami ukur.

Namun perutku terlalu lapar. Pikiran kecil yang buruk muncul di belakang kepalaku, kalau sesuatu terjadi, Marlow akan membereskannya.

Aku malu pada pikiran itu bahkan saat memikirkannya. Marlow bukan pelayan istana, bukan pengawal yang tugasnya membersihkan akibat dari kebodohanku, dan bukan orang yang pantas terus kubebani hanya karena Dad memberinya perintah terakhir. Namun rasa lapar membuat pertimbangan terasa tumpul. Aku berjalan menuju meja dekat pemilik penginapan sebelum rasa takut memiliki kesempatan memperlambatku.

Pria tua berkumis itu melihatku datang, lalu mengangkat sebuah nampan kayu dari sisi perapian.

“Jatah makan malam,” katanya. “Sup bawang, daging, roti. Jangan minta tambah kecuali kau punya uang lebih.”

Aku menerima nampan itu dengan kedua tangan. Isinya sederhana, satu mangkuk sup bawang yang kental, sepotong daging panggang berwarna cokelat gelap pada bagian luar, dan dua potong roti yang masih mengeluarkan uap. Supnya ditaburi lada dan beberapa helai daun kering yang tidak kukenal. Bawang di dalamnya dimasak sampai hampir hancur, membuat kuah menjadi pekat dan sedikit manis.

“Terima kasih,” kataku.

Pria itu mendengus. “Makan sebelum dingin. Sup dingin membuat orang lebih banyak mengeluh daripada lapar.”

Aku mencari tempat duduk. Ada meja kosong di dekat dinding samping, tidak terlalu dekat pintu dan tidak terlalu dekat perapian. Aku memilihnya karena dari sana aku bisa melihat tangga, pintu depan, dan sebagian besar ruang makan. Pilihan itu mungkin datang dari kebiasaan baru yang kupelajari bersama Marlow, atau hanya karena aku tidak ingin duduk di tengah-tengah orang asing.

Begitu duduk, aku langsung merobek sedikit roti. Bagian luarnya renyah dan hangat, bagian dalamnya lembut, hampir terlalu lembut setelah berhari-hari memakan roti keras atau sisa makanan yang dipanaskan di atas api kecil. Aku mencelupkannya ke dalam sup bawang. Kuah pekat meresap ke sela-sela roti. Ketika masuk ke mulut, rasa hangatnya menyebar di lidah, asin, manis, sedikit pedas oleh lada, dengan tekstur kental dari tepung yang dipakai untuk mengikat kuah.

Aku bersumpah itu makanan terenak yang pernah kumakan. Bukan karena kualitasnya mengalahkan hidangan istana. Di Istana Izengard, sup bawang akan disaring lebih halus, daging dipotong sempurna, roti dihidangkan dengan mentega dan rempah mahal. Namun makanan di istana datang sebelum lapar benar-benar menjadi rasa sakit. Ia datang di meja panjang, dengan piring bersih, pelayan diam, dan pilihan lain jika aku tidak menyukai apa yang disajikan.

Makanan ini datang setelah darah, lumpur, perjalanan, dan perut kosong.

Aku makan terlalu cepat.

Suapan kedua hampir membakar lidahku, tetapi aku tetap menelannya. Daging panggangnya agak keras, namun lemak pada tepinya meleleh ketika kukunyah. Aku mencelupkan roti lagi, kali ini lebih besar, lalu menyuapkannya sebelum menelan sepenuhnya suapan sebelumnya.

Saat itulah aku melihat Ishar turun dari tangga bersama istri pemilik penginapan.

Tanganku berhenti di udara.

Wanita tua itu berjalan di samping Ishar sambil membawa lipatan kain kotor, mungkin pakaian lama Ishar yang akan dicuci atau dibakar. Rambutnya beruban dan disanggul rendah, tubuhnya pendek tetapi gerakannya mantap. Ia berbicara pelan kepada Ishar dengan nada yang hanya digunakan orang-orang tertentu ketika berhadapan dengan seseorang yang baru kehilangan lebih banyak daripada yang sanggup dijelaskan.

Ishar sudah berganti pakaian.

Gaun bernoda darah itu tidak lagi melekat pada tubuhnya. Sebagai gantinya, ia memakai gaun sederhana berwarna biru pucat yang bagian lengannya sedikit terlalu panjang dan pinggangnya diikat dengan pita kain. Bahannya bukan kain mahal, tetapi bersih, lembut, dan jatuh dengan rapi sampai mata kaki. Mantel Rosh tidak dipakainya di bahu, melainkan dilipat di atas lengan seperti benda yang tidak boleh jauh dari tubuhnya.

Rambut pirangnya telah disisir. Bukan sekadar disisir. Kepang tipis dibuat dari sisi-sisinya, lalu diputar ke belakang dan dirangkai menjadi sanggul rendah yang cantik. Beberapa helai lepas di dekat telinga, tetapi bukan lagi kekusutan liar yang kulihat di tepi Sungai Verrin. Wajahnya masih pucat. Matanya masih menyimpan sembap yang tidak bisa disembunyikan. Namun setelah darah hilang dari kulit dan rambutnya tertata, kecantikannya muncul begitu jelas sampai ruangan di sekitarnya terasa berhenti bergerak.

Aku tidak tahu berapa lama menatap.

Mungkin hanya beberapa detik. Mungkin cukup lama untuk membuatku terlihat seperti orang bodoh.

Roti masih berada di mulutku. Pipiku menggembung karena makanan yang belum kutelan.

Ishar tidak melihatku pada awalnya. Ia berhenti di dekat tangga dan memandang wanita tua itu dengan kegelisahan yang sangat berbeda dari amarahnya kepadaku.

“Apa Anda yakin tidak apa-apa?”

Wanita tua itu merapikan bagian lengan gaun Ishar yang sedikit kebesaran. “Tidak apa-apa, sayang. Kain itu lebih berguna dipakai daripada disimpan sampai dimakan ngengat.”

“Pakaian ini milik putri Anda.”

“Putri sulungku sudah tinggal bersama suaminya di Kirren. Dia tidak akan kembali mencari gaun lamanya hanya untuk memarahiku karena memberikannya kepada gadis yang lebih membutuhkan.”

Ishar menunduk pada kain biru di tubuhnya. Tangannya menyentuh ujung lengan dengan hati-hati, seolah takut meninggalkan noda meskipun darahnya telah dibersihkan.

“Aku akan mengembalikannya nanti.”

“Tidak perlu.” Wanita itu menyentuh pipi Ishar sebentar, gerakan yang begitu keibuan hingga sesuatu di dadaku ikut sakit melihatnya. “Simpanlah. Dan makan yang banyak.”

Untuk pertama kalinya sejak rumah Danmer, Ishar tersenyum.

Senyum itu kecil, letih, dan hampir langsung hilang. Namun ia tulus. Bukan untukku. Bukan untuk Marlow. Untuk wanita tua yang tidak mengenalnya, tetapi memberinya pakaian bersih dan sedikit kelembutan tanpa bertanya terlalu banyak.

“Terima kasih,” kata Ishar.

Aku akhirnya menelan makanan di mulutku. Roti yang sudah terlalu lama ditahan terasa turun dengan susah payah di tenggorokan.

Ishar menerima nampan makan malamnya dari pemilik penginapan. Mangkuk sup, daging, dan roti yang sama seperti punyaku. Saat berbalik untuk mencari tempat duduk, pandangannya bertemu denganku.

Aku pasti tampak menyedihkan.

Duduk sendirian, rambut masih basah, pakaian lembap, wajah memar, satu tangan menggenggam roti, dan pipi yang beberapa detik sebelumnya masih penuh makanan. Untuk satu momen bodoh, aku hampir berharap ia akan datang ke mejaku. Bukan untuk memaafkanku. Bukan untuk berbicara panjang. Hanya duduk di sana, di seberangku, agar jarak di antara kami tidak terasa seperti sesuatu yang sengaja ia bangun dengan kedua tangan.

Ishar menatapku tanpa ekspresi hangat.

Kemudian ia memalingkan wajah.

Ia berjalan melewati mejaku dan menuju meja lain yang ditempati sepasang orang asing. Seorang pria bertubuh kekar dengan kepala botak duduk bersama seorang wanita berambut cokelat yang mengenakan syal hijau. Mereka tampak seperti suami istri. Pakaian mereka sederhana, mungkin pedagang atau pemilik perahu kecil dari dermaga.

Ishar berhenti di dekat mereka dan menunduk sopan.

“Boleh aku duduk di sini?”

Suaranya terdengar lebih lembut daripada semua kata yang ia ucapkan kepadaku sejak pagi.

Wanita bersyal hijau langsung menggeser kursinya. Pria botak itu mengangguk dan menyingkirkan cangkir birnya agar Ishar memiliki ruang untuk meletakkan nampan.

“Tentu, duduklah.”

Ishar tersenyum kepada mereka.

Senyum kecil itu terasa lebih buruk daripada jika ia menamparku.

Aku kembali menatap mangkukku. Sup bawang yang beberapa saat lalu terasa seperti makanan terbaik di dunia kini tampak terlalu pekat, terlalu panas, dan terlalu sulit ditelan. Aku mengambil sepotong roti, mencelupkannya, lalu memasukkannya ke mulut. Kali ini rasanya seperti mengunyah kain basah.

Aku menelan dengan susah payah.

Seperti menelan kerikil tajam.

Aku marah. Kecewa. Malu. Sedih. Semua perasaan itu bergerak sekaligus di dalam dada dan tidak ada satu pun yang cukup jelas untuk kupegang. Aku ingin berkata bahwa aku menyelamatkannya. Aku ingin mengingatkan bahwa aku kembali ketika Marlow melarangku. Aku ingin bertanya apakah ia lebih memilih aku membiarkannya bersama tentara itu.

Lalu bagian lain dalam diriku langsung membenci pikiran tersebut.

Aku makan lagi karena tidak tahu harus melakukan apa dengan tangan. Sesekali, tanpa mampu menahan diri, aku melihat ke meja Ishar. Ia duduk bersama pasangan asing itu, menjawab pertanyaan pendek dari wanita bersyal hijau. Aku tidak mendengar semua percakapan mereka karena suara ruang makan terlalu ramai, tetapi beberapa kali Ishar tersenyum kecil. Sekali, ia bahkan tertawa pelan, tidak lebih dari hembusan napas yang berubah menjadi suara.

Setiap kali itu terjadi, matanya sempat melirik ke arahku.

Mungkin aku hanya membayangkannya. Mungkin ia tidak sedang memancing apa pun. Mungkin ia hanya memastikan aku masih berada di sana, masih duduk dengan seluruh rasa bersalahku, seperti ia ingin melihat apakah aku cukup terluka oleh jarak yang ia pilih.

Namun egoku tidak peduli pada kemungkinan yang lebih masuk akal.

Aku seorang pangeran.

Pikiran itu datang tiba-tiba, kotor dan memalukan, tetapi begitu kuat hingga seluruh tubuhku menegang.

Aku seorang pangeran, meskipun tidak ada mahkota di kepalaku dan tidak ada penjaga di belakang kursiku. Aku putra Raja Jerrod Valdyr. Di istana, orang-orang berdiri ketika aku memasuki ruangan. Pelayan menunduk saat aku berbicara. Para bangsawan tua yang membenci sikapku tetap menyebutku Yang Mulia. Guru pedang, imam, pejabat, bahkan kapten penjaga tidak pernah mengabaikanku begitu saja di depan orang asing.

Dan gadis dari Arlenville itu duduk di meja lain, tersenyum kepada pria asing, seolah aku bukan apa-apa.

Pikiran itu buruk.

Aku tahu itu buruk.

Namun rasa panasnya tetap naik dari perut ke dada, lalu ke wajah. Semua pelajaran Dad tentang pengendalian diri terasa jauh, terkubur di bawah lapar, rasa malu, dan luka. Aku tidak ingin memikirkan Rosh. Tidak ingin memikirkan pintu kamar Ishar, darah di tangannya, atau kebenciannya yang pantas kuterima. Aku hanya melihat ia memilih duduk jauh dariku.

Aku berdiri.

Kursi tongku bergeser kasar di lantai. Beberapa orang menoleh, tetapi aku sudah berjalan menuju meja Ishar sebelum bagian waras dalam pikiranku sempat menghentikan langkah.

Ishar melihatku datang. Senyum di wajahnya hilang.

Wanita bersyal hijau juga menoleh. Pria botak berhenti mengangkat cangkir birnya.

Aku berdiri di samping Ishar. Tanpa meminta izin, tanganku meraih lengannya dan memutar tubuhnya agar menghadapku.

“Apa maumu sebenarnya?”

Suaraku tidak keras, tetapi cukup tajam untuk membuat meja di sebelah kami berhenti berbicara.

Ishar menatap tanganku yang mencengkeram lengannya. Seluruh tubuhnya menegang. Warna pada wajahnya berubah bukan menjadi takut, melainkan jijik yang begitu jelas hingga aku seharusnya langsung melepaskannya.

“Lepaskan aku.”

Ia mencoba menarik lengan, tetapi aku menahannya. Tenagaku lebih kuat. Saat menyadari itu, matanya naik ke wajahku, dan sesuatu di sana membuatku hampir kembali ke rumah Danmer, ke tubuh tentara yang menindihnya, ke tangan yang harus ia lawan dengan belati.

Namun amarahku masih terlalu besar.

“Atau kau hanya ingin mempermalukanku di depan semua orang?”

Kata-kata itu keluar sebelum bisa kutahan.

Ishar tidak menjawab. Ia menarik lengannya lagi, kali ini lebih keras.

Pria botak di seberang meja berdiri. Tubuhnya memang kekar, dada lebar dan lengan besar seperti orang yang terbiasa mengangkat karung atau tali kapal. Ia tidak terlihat mabuk, meskipun bir di cangkirnya sudah setengah kosong.

“Gadis itu menyuruhmu melepaskannya.”

Aku menoleh kepadanya.

Sebelum aku menjawab, ia mendorong bahuku dengan telapak tangan terbuka. Dorongan itu tidak terlalu keras, tetapi cukup untuk membuat tubuhku mundur setengah langkah.

Di dalam diriku, sesuatu yang sejak Mitenn Highroad belum benar-benar tenang kembali pecah.

Aku memukul wajahnya.

Tinju itu tidak sebersih latihan di halaman istana. Bahuku terlalu tegang, kaki tidak berada pada posisi benar, dan rusukku langsung nyeri begitu lengan bergerak. Namun pukulan itu mengenai rahangnya cukup keras untuk membuat kepalanya tersentak ke samping.

Ruang makan meledak dalam suara kursi bergeser dan orang-orang berteriak.

Pria botak itu tidak jatuh.

Ia memandangku dengan mata yang langsung menjadi gelap, lalu menghantamkan kepalanya ke wajahku.

Dunia pecah menjadi kilatan putih.

Dahinya mengenai bagian atas hidung dan pelipisku. Aku terhuyung, kehilangan keseimbangan, lalu punggungku menghantam lantai kayu. Udara keluar dari paru-paru. Sebelum sempat bangkit, pria itu sudah berada di atasku.

Pukulan pertama mengenai pipiku.

Pukulan kedua menghantam dekat mata.

Yang ketiga membuat kepalaku terbentur lantai.

Aku mencoba mengangkat lengan untuk melindungi wajah, tetapi posisinya terlalu rapat. Berat tubuh pria itu menahan dadaku, membuat rusuk yang memar menjerit. Wanita bersyal hijau berteriak agar ia berhenti. Beberapa orang lain bergerak mendekat, tetapi tidak cukup cepat atau tidak cukup berani untuk ikut campur.

Aku merasakan rasa asin di mulut.

Logam.

Darah.

Pukulan berikutnya turun ke sisi kepalaku. Suara ruang makan menjadi tumpul, seolah aku mendengarnya dari bawah air. Aku melihat celah ketika pria itu mengangkat tubuh sedikit untuk memukul lebih keras.

Aku mengangkat lutut dan menghantam selangkangannya.

Suara yang keluar dari mulutnya kecil, tinggi, dan menyakitkan, seperti tikus terjepit pintu. Berat tubuhnya runtuh ke samping. Aku mendorongnya dengan kedua tangan, membalik posisi, lalu naik ke atasnya.

Aku memukul.

Sekali.

Dua kali.

Setelah itu aku tidak lagi menghitung.

Semua yang tidak mampu kulakukan terhadap Dann, terhadap tentara di jalan suci, terhadap rasa malu di depan Ishar, terhadap suara Rosh yang menyebutku pendosa, tumpah ke wajah pria malang itu. Ia bukan musuhku. Ia hanya orang asing yang berdiri ketika melihat seorang gadis dicengkeram oleh laki-laki bodoh. Namun pada saat itu pikiranku menyempit menjadi gerakan tinju, napas kasar, darah yang muncul dari bibirnya, dan suara tulang rawan yang berderak di bawah pukulan.

Seseorang menarik bahuku. Aku menyikut tanpa melihat siapa.

Wanita bersyal hijau menangis dan memohon. Pemilik penginapan berteriak dari balik meja. Kursi jatuh. Cangkir pecah.

Lalu aku melihat Ishar.

Ia berdiri beberapa langkah dari meja, satu tangan memegang lengan yang tadi kucengkeram. Wajahnya tidak marah seperti di tepi sungai. Tidak terluka seperti ketika menangis di tubuh Rosh. Ia menatapku dengan jijik murni, seolah akhirnya melihat sesuatu yang sejak awal ada di bawah kulitku.

Tatapan itu lebih kuat daripada pukulan mana pun.

Aku berhenti.

Ishar berbalik dan berlari menuju pintu depan.

“Ishar.”

Kesalahan.

Begitu perhatianku terlepas, pria botak itu mengumpulkan sisa tenaga dan membanting tubuhku ke samping. Punggungku menghantam lantai lagi. Kali ini kepalaku menyusul, dan cahaya lampu di langit-langit bergoyang liar.

Ia kembali berada di atasku.

Pukulannya tidak seteratur sebelumnya, tetapi lebih berat. Satu mengenai mulut, membuat darah memenuhi lidah. Satu lagi mendarat di tulang pipi. Aku mencoba mendorongnya, tetapi lengan terasa lemah dan pandangan mulai kabur.

Kemudian sesuatu yang dingin menyentuh lehernya dari belakang.

Seluruh ruangan membeku.

Pedang Marlow berada tepat di bawah rahang pria itu.

“Hentikan.”

Suara Marlow tidak keras. Ia tidak perlu mengeraskannya. Ketika ia berbicara seperti itu, setiap orang di ruangan mendengar cukup jelas bahwa satu gerakan lagi akan mengubah perkelahian menjadi pemakaman.

Pria botak itu berhenti dengan napas tersengal. Darah mengalir dari hidung dan bibirnya. Ia tidak langsung bangkit, mungkin karena kemarahan masih mendorongnya untuk menghantamku sekali lagi. Namun baja di leher membuat amarahnya menemukan batas.

Marlow menekan pedang sedikit, cukup untuk meninggalkan garis merah tipis.

“Berdiri.”

Pria itu perlahan mengangkat tubuh. Wanita bersyal hijau segera meraih lengannya begitu ia berdiri. Ia meludah ke lantai dekat wajahku, ludah merah bercampur darah, lalu membiarkan wanita itu menariknya menjauh dari meja.

Marlow memasukkan pedang ke sarung setelah yakin pria itu tidak akan kembali menyerang. Ia lalu membungkuk dan mencengkeram bagian depan kemejaku, menarikku duduk terlebih dahulu sebelum membantuku berdiri.

Kakiku goyah.

Mulutku terasa pecah. Salah satu mata mulai membengkak. Darah menetes dari hidung ke bibir, dan setiap napas membuat rusukku sakit.

Marlow menatap wajahku.

“Baru kutinggal sebentar, dan kau sudah terlibat perkelahian.”

Nada suaranya datar, tetapi bukan tanpa kemarahan. Ketenangan itu justru lebih buruk daripada bentakan.

Aku menepis tangannya begitu berhasil berdiri.

“Ishar.”

Marlow menangkap lenganku lagi, tetapi tidak cukup cepat. Aku sudah berbalik menuju pintu. Orang-orang menyingkir ketika aku lewat, sebagian dengan takut, sebagian dengan muak. Aku tidak melihat mereka.

Aku hanya melihat pintu yang baru saja dilewati Ishar.

Tanpa memedulikan darah di mulut, pusing di kepala, atau suara Marlow yang memanggil dari belakang, aku keluar dari penginapan dan mencoba mengejarnya.

1
Annabelle
Oke lah
Annabelle
Numpang mampir
Nomnom Yumyum
ceritanya seru, serasa baca novel translate an luar. ditunggu eps selanjutnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!