Dia datang bukan untuk merebut kembali masa lalunya.
Dia datang untuk menghancurkan mereka yang mencurinya.
Tujuh tahun lalu, ia kehilangan segalanya dalam satu malam. Nama baiknya dihancurkan, keluarganya meninggalkannya, wanita yang dicintainya bersaksi melawannya, dan dunia percaya ia telah mati.
Namun, kematian itu hanyalah awal.
Kini ia kembali dengan identitas baru—lebih kaya, lebih dingin, dan jauh lebih berbahaya. Di balik senyum tenangnya, tersimpan rencana yang telah disusun selama tujuh tahun. Satu per satu orang yang pernah mengkhianatinya akan membayar harga yang tak pernah mereka bayangkan.
Tetapi semakin dekat pada balas dendam, semakin banyak rahasia yang terbongkar.
Bagaimana jika orang yang selama ini ia benci hanyalah pion?
Bagaimana jika dalang sebenarnya masih hidup... dan telah mengawasi setiap langkahnya sejak awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 : Belajar Berbohong
#
Kirana ternyata jadi orang yang ditugasin Om Timur buat ngelatih Rendra lebih jauh, setelah kejadian di gudang itu, dan Rendra, jujur aja, awalnya agak canggung banget tiap ketemu perempuan itu, soalnya dia inget banget gimana Kirana nolongin nyawanya waktu itu, tapi Kirana sendiri kayak nggak mau bahas soal itu sama sekali, seolah olah malem itu nggak pernah kejadian.
"Hal pertama yang harus kamu pahamin," Kirana bilang, pagi itu, di sebuah ruangan kosong yang biasa dipake buat latihan, cuma ada meja kayu reyot sama dua kursi, "dunia ini nggak jalan pake kejujuran. Orang yang jujur di dunia ini, biasanya orang yang paling cepet mati atau paling cepet ditipu."
"Tapi saya nggak bisa bohong," Rendra jawab, jujur, "saya... saya nggak pernah dilatih buat itu. Dari kecil saya selalu diajarin, jujur itu penting, jujur itu yang bikin orang percaya sama kamu."
Kirana ketawa, tapi ketawanya pahit banget, "itu ajaran orang orang yang idup nyaman, Rendra. Orang orang yang nggak pernah harus milih antara jujur atau selamet. Kamu sekarang bukan orang kayak gitu lagi."
Mereka mulai latihan latihan kecil. Kirana ngasih Rendra misi misi sederhana, kayak nyusup ke sebuah pasar buat ngambil info dari salah satu pedagang tanpa ketauan siapa dia sebenernya, atau negosiasi harga barang curian dengan cara yang meyakinin tanpa keliatan mencurigakan.
Dan Rendra, berkali kali, gagal.
Misi pertama, dia harus pura pura jadi pembeli biasa buat gali info soal jaringan penyelundupan kecil di pasar, tapi begitu si pedagang mulai curiga dan nanya "kamu ini siapa, kok tau tau nanya nanya kayak gini," Rendra langsung panik, mukanya keliatan gugup banget, dan akhirnya dia malah ngaku, "maaf, Pak, saya emang lagi coba cari info, saya nggak ada maksud jahat," yang tentu aja bikin si pedagang makin curiga dan langsung ngusir dia.
"Kamu ngaku?!" Kirana teriak, begitu Rendra balik dengan tangan kosong, "kamu BENERAN ngaku ke orang itu apa yang lagi kamu lakuin?!"
"Saya... saya nggak enak bohongnya, dia curiga banget, saya bingung mau ngomong apa lagi—"
"Itu masalahnya, Rendra! Kamu masih mikir kalo jujur itu jalan keluar dari masalah! Di dunia ini, jujur di saat yang salah itu bisa bikin kamu mati, atau lebih parah, bikin orang orang di sekitar kamu ikut kena masalah!"
Rendra diem, ngerasa malu banget, dan Kirana narik napas panjang, coba nenangin diri sendiri, "coba lagi. Kali ini, sebelum kamu ngomong apapun, kamu harus udah punya cerita yang siap. Nama palsu, alesan kenapa kamu ada di situ, semuanya harus udah kamu susun di kepala sebelum kamu buka mulut."
Misi kedua, misi ketiga, sampe misi kelima, Rendra tetep aja gagal, dengan cara yang beda beda tapi intinya sama, dia masih kebawa sama moral lamanya, moral anak baik baik yang dulu dididik buat selalu jujur, selalu sopan, selalu nurut sama aturan, dan moral itu, di dunia yang sekarang dia masukin, jadi kelemahan yang bisa bikin dia celaka.
Suatu sore, setelah misi kelima yang lagi lagi gagal total, Om Timur manggil Rendra ke gubuknya, dan kali ini, wajah pria tua itu keliatan lebih keras dari biasanya, lebih tegas, lebih... marah, mungkin marah itu kata yang tepat.
"Rendra," Om Timur bilang, suaranya berat, "saya denger dari Kirana, kamu udah gagal lima kali."
"Saya... saya minta maaf, Om, saya lagi coba, tapi—"
"Berhenti minta maaf," Om Timur motong, keras, "dan berhenti mikir kayak orang yang masih idup di dunia lama kamu."
Rendra kaget denger nada suara itu, soalnya Om Timur biasanya selalu tenang, selalu sabar, tapi kali ini dia beneran keliatan geram.
"Dengerin saya," Om Timur lanjut, berdiri, jalan mendekat ke Rendra, matanya nusuk banget, "Damar Aditya Wijaya, anak baik baik yang percaya kejujuran bakal nyelametin dia, anak itu udah mati. Dia mati di jembatan itu. Yang sekarang idup, yang berdiri di depan saya ini, namanya Rendra Alief, dan Rendra Alief itu harus punya cara mikir yang beda total."
"Tapi, Om, saya masih—"
"Dunia lama sudah membunuhmu," Om Timur motong lagi, suaranya keras banget sekarang, tiap kata diucapin pelan pelan tapi tegas, kayak lagi nanem paksa ke kepala Rendra, "berhenti berpikir seperti orang mati. Kalo kamu masih bawa bawa moral Damar yang lama, kamu bakal beneran mati, kali ini bener bener mati, dan nggak akan ada Om Timur kedua yang nemuin kamu di sungai."
Kata kata itu kena banget di dada Rendra, kena kayak tinju yang lebih sakit dari tinju tinju yang dia terima di gudang waktu itu. Dia berdiri diem, matanya berkaca kaca, dan buat pertama kalinya sejak dia mutusin ganti nama, dia bener bener ngerasa, oh, ini beneran, ini bukan main main, dia beneran harus jadi orang yang beda kalo mau bertahan, kalo mau balikin semua yang udah dirampas darinya.
Malem itu, Rendra jalan sendirian, mikirin kata kata Om Timur, dan dia mampir ke warung kopi kecil tempat biasanya Kirana suka nongkrong sendirian setelah latihan. Dia mau minta maaf, minta Kirana ngelatih dia lagi, kali ini dengan tekad yang beda.
Tapi begitu dia sampe di deket warung itu, dia liat Kirana lagi duduk di pojokan, ngobrol sama seseorang lewat telefon, dan raut wajahnya beda banget, beda dari Kirana yang biasa Rendra liat, yang biasanya tegas, dingin, penuh kontrol. Malem itu, Kirana keliatan takut. Beneran takut, tangannya megang hp itu gemeteran, dan Rendra denger, samar samar, potongan kalimat yang bikin dia berenti jalan.
"...saya udah lakuin yang bapak minta, tolong jangan ganggu keluarga saya lagi..."
Rendra berdiri di situ, di balik tembok warung, jantungnya berdebar kenceng, dan dia mikir, keluarga? Kirana punya keluarga yang dia nggak pernah cerita? Dan siapa yang dia panggil "bapak" itu, dengan nada penuh ketakutan kayak gitu?
Kirana nutup telfon nggak lama kemudian, dan begitu dia noleh, dia keliatan kaget banget liat Rendra berdiri di situ.
"Sejak kapan kamu di situ?" Kirana tanya, suaranya berubah drastis, dari takut jadi tegang, penuh kewaspadaan.
"Baru... baru aja," Rendra jawab, coba nutupin kalo dia sempet denger sesuatu, tapi dia tau, dari cara Kirana natap dia, perempuan itu udah curiga dia denger lebih banyak dari yang dia akuin.
Rendra berdiri di situ, ngeliatin wajah Kirana yang biasanya selalu terkontrol, sekarang keliatan retak dikit, dan dia mikir, orang yang ngelatih dia buat jadi jago berbohong dan nyembunyiin identitas, ternyata, diem diem, dia sendiri lagi nyembunyiin sesuatu yang jauh lebih besar dari yang pernah dia ceritain ke siapapun, termasuk ke Rendra.