Berawal dari petaka sebuah konser band terkenal, seorang gadis harus membuatnya menerima reward besar karena baru putus cinta. Gadis itu tidak tau bahwa dirinya sedang di kerjai teman kuliahnya hingga membuat seorang Letnan terkena imbasnya.
Disisi lain, akibat petaka tak sengaja, sang Letnan terpaksa harus menanggung akibatnya. Bukan hal mudah menaklukan hati pria yang ternyata adalah Abang dari gadis tersebut, namun pada kenyataannya, lebih sulit menaklukan gadis yang tiba-tiba masuk dalam hidupnya tanpa permisi, apalagi jejak kehidupannya kini di mulai pada wilayah dengan resiko yang cukup tinggi, wilayah yang bisa di katakan rawan, KARANG HITAM.
KONFLIK.. Harap SKIP bagi yang tidak bisa ber KONFLIK.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Tak peduli badai.
Perkelahian tak terhindarkan. Atas perintah darurat dari Ibu Jilly, akhirnya Letnan Maliq membawa lettingnya dengan paksa.
Sepanjang jalan amarah Bang Riegan begitu sulit untuk di tenangkan.
"Kenapa kamu ikut-ikutan menghalangiku??? Kamu takut sama si Reigar itu???" Pekik Bang Riegan.
"Aku nggak takut. Ini demi kebaikanmu, Rieg. Minimal demi calon anakmu. Kau dengar sendiri, ancamannya. Kandungan Phia mau di gugurkan." Kata Bang Maliq. "Tenang sedikit, Rieg..!!!!!"
//
Bang Reigar merosot terduduk lemas di sisi tempat tidurnya. Matanya terpejam kuat bersamaan dengan air matanya yang mengalir deras menganak sungai.
"Kurang bagaimana Abang menyayangi Phia?? Dia benar-benar menampar wajahku, dek. Abang benar-benar menjaga kelakuan agar keluarga kita selamat, tapi ini apa??? Demi Allah Abang nggak ikhlas, dia adik perempuan kesayanganku, deeeekkk..!!!"
Jilly langsung mendekap suaminya dan berusaha menenangkannya.
"Tapi tadi Abang sudah dengar sendiri dari pihak Intel. Masalah ini juga tidak sepenuhnya kesalahan Om Riegan. Om Riegan juga korban dari situasi ini. Abang juga lihat sendiri bagaimana usaha keras Om Riegan untuk bertanggung jawab pada Phia." Kata Jilly.
"Kamu tidak paham, dek. Kelakuan Si Riegan itu benar-benar minus. Perempuan gila mana yang sanggup hidup dengan laki-laki dingin, kaku, susah senyum, sulit di ajak kompromi, sumbu pendek, nggragas kalau lihat perempuan.............."
"Jill, Jill orangnya. Jill juga nggak pernah paham kenapa bisa bertemu laki-laki kaku, dingin, susah senyum, pemarah dan nggak bisa di rem kalau 'sudah ada maunya'." Balas Jilly.
"Phia masih terlalu kecil, masih balasan tahun."
"Abang nggak ingat umur Jill saat itu????" Jill pun ikut memperjelas situasi dirinya dan Bang Reigar saat itu.
"Tapi Abang sudah menikahimu, hamilmu juga karena Bang Putra yang menjebak, bukan sepenuhnya keinginan Abang." Jawab Bang Reigar.
"Om Riegan juga di jebak. Dari keterangan yang ada, Phia di kerjai teman perempuannya, kakak tingkat yang nggak suka sama dia."
"Pokoknya Abang nggak mau Phia kenal sama Riegan. Dia itu kasar, bagaimana kalau adik ku di tempeleng, di hajar, di sia-sia. Nggak, dek..!! Abang nggak mau..!!!!!!" Bang Reigar langsung beranjak dan berbaring sambil menarik selimutnya. "Kau jangan bicara apapun lagi. Abang sudah menurunkan perintah, Letnan Riegan berangkat ke bumi karang hitam. Skep menyusul."
"Baaang..!!!"
***
Keesokan harinya, tubuh Phia demam tinggi hingga menggigil. Gadis cantik itu memeluk perutnya seakan takut kehilangan.
"Ayo ke rumah sakit..!!" Ajak Bang Reigar tapi Phia menolak.
Phia terlihat begitu ketakutan dan tidak bersedia di sentuh oleh siapapun. Bahkan jika biasanya Jilly bisa membujuknya, kali ini kakak iparnya itu tidak bisa berbuat apapun.
"Biar saja, kalau dia sudah mengerti pasti akan reda sendiri demamnya." Kata Bang Reigar kemudian menuju meja makan untuk sarapan.
Semua nampak baik-baik saja. Setelah selesai sarapan, beliau segera menuju ke Markas.
...
Siang hari. Matahari semakin meninggi, keadaan Phia juga semakin mengkhawatirkan. Phia mual dan muntah hebat, tidak ada sebutir nasi pun masuk ke dalam perutnya bahkan sampai pingsan. Sebagai kakak ipar, Jill tidak tinggal diam begitu saja.
"Om.. Tolong cari kontak Om Riegan, hubungi dan katakan kondisi Phia..!!"
"Siap Ibu, laksanakan sekarang juga..!!"
...
Bang Riegan masuk terburu-buru masuk ke dalam kediaman, ia mengesampingkan etika bahkan sepatu pun tidak sempat di lepasnya.
"Dimana Phia??" Tanyanya pada Jilly.
"Di kamar, Om." Jawab Jilly.
Bang Riegan lari ke lantai atas dan langsung masuk. Di lihatnya Phia sedang muntah di wastafel kamar mandi, tubuhnya gemetar karena tak ada tenaga, wajahnya sudah pucat bagai mayat hidup. Beberapa detik kemudian, Phia benar-benar pingsan.
"Saya bawa ke rumah sakit."
"Aduuhh.. Jangan Mas. Si Mbok takut Bapak marah, apalagi kalau sampai bernada tinggi ke Ibu. Si Mbok nggak tega." Kata Si Mbok.
Jilly hanya bisa menangis tanpa kata, sejak Phia kecil, gadis itu sudah berada dalam asuhannya.
"Kalau Komandan, marah.. Cepat hubungi saya..!! Saya tanggung segala resikonya." Bang Riegan mengangkat dan membawa Phia ke dalam mobilnya.
Tepat saat itu seorang anggota piket jaga melihat Kolonel Reigar, saat hendak menyapa, atasannya itu membungkam mulutnya. Setelah semua aman, Bang Reigar baru membuka bungkamannya. "Diam..!!!! Jangan pernah bilang kalau saya hanya nongkrong di pos mu..!!"
:
"Phiaa.. Buka mata, kamu bisa dengar suara saya???" Tanya Bang Riegan sambil sesekali menepuk pipi gadis yang sudah terbaring di atas brankar.
Namun sampai di UGD pun Phia masih belum membuka matanya.
"Bapak anggota keluarganya??" Tanya seorang perawat di rumah sakit tersebut.
"Saya suaminya." Jawab Bang Riegan.
"Kalau begitu tolong di urus dulu administrasi nya ya, Pak." Kata perawat tersebut.
"Kalian ini penting nyawa atau dana????" Teriak Bang Riegan sekuatnya hingga petugas keamanan ikut panik. "Komersil boleh, tapi tolong memanusiakan manusia." Bentaknya menggelegar mengisi gedung.
Tau akan kemarahan Bang Riegan, para petugas mundur perlahan dan menangani Phia dengan lembut.
"Berikan obat yang terbaik, tusuk jarum infusnya lebih hati-hati..!!" Pinta Bang Riegan kini lebih merendahkan suaranya.
"Sakiiitt.." Rintih Phia nyaris tak terdengar.
Bang Riegan mendekat, kemudian ia mengusap puncak kepala Phia. "Cepat sembuh, ya. Setuju atau tidak, saya akan membawamu pergi." Bisiknya.
.
.
.
.
Bang Jan...udah beri bang Hernad pencerahan tp knp jadinya kyk gini😄😄🤭
kocak ini ...lanjut mba Nara👍
lanjut mba nara🤭
semangat jg buat mba Nara👍