Rania selalu dihina dan direndahkan oleh mertuanya, dia mendapatkan caci makian itu dan suaminya hanya berdiam diri tanpa membelanya.
Ardi sang suami selalu beralasan jika ibunya sudah tua sehingga ingin melihatnya menjadi orang sukses sehingga dia menggunakan identitas Rania untuk membuat ibunya bahagia.
Cinta yang besar dimiliki Rania tidak mampu membuatnya berharga dan terlihat dimata keluarga suaminya, dia memutuskan untuk berhenti dan mengambil kembali semua miliknya.
Suaminya yang Menumpang tapi dirinya yang selalu dihina, dia membalas semua rasa sakit hatinya membuat suami dan keluarganya panik dan kalang kabut
Akankah, perjuangannya mendapatkan kebahagiaannya kembali
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
Mereka tidak tahu saja apa yang mereka incar dari Rania sudah dia bawah pergi tanpa sisa dan kotak besi yang merupakan tempat brangkas barang berharga Rania sudah kosong melompong.
"Kalau begitu kami pulang dulu, mbak, mas, nanti beritahu kami bagaimana kelanjutannya, ajari anak mbak itu supaya pintar dikitlah". jawab sang adik dengan kesal
"Benar tuh mbak yang dikatakan suami aku, anakmu itu harus cepat mengambil alih semuanya, jangan sampai kalian diusir tanpa membawa apapun, sayang banget jika memang seandainya semua ini milik Rania dan kalian hanya diam saja".
Keduanya akhirnya bangkit kemudian pulang kerumahnya meninggalkan kedua parubayah dan anaknya itu termenung memikirkan semua perkataan mereka tadi.
"Benar itu Bu kata paman dan bibi, kita harus bertindak dan mengambil alih semua ini sebelum kak Rania bertindak dan mengusir kita, kalian tidak mau tidur dijalan kan??". Adel menatap kedua orang tuanya dengan seringai licik.
Mereka langsung mengangguk dan berdiri menuju kamar putranya dengan langkah mantap, jika putranya memang tidak memiliki apapun setidaknya mereka harus mendapatkan harta Rania.
"Buka pintunya Ardi, jangan ngumpet dikamar kamu".
Sang ayah menggedor pintu itu dengan keras karena sang anak seakan tidak mau membuka pintunya.
"Buka pintunya Ardi, kamu harus menjelaskan pada kami semua ini, jangan diam saja kamu, jangan jadi anak durhaka". Kini sang ibu yang ikut menggedor pintu kamar itu.
Ardi yang berada didalam kamar mengepalkan tangannya, karena istrinya dia harus menghadapi keluarganya sekarang.
Dia menghembuskan nafas kasar kemudian bangkit menuju pintu untuk membuka pintunya.
Begitu pintu terbuka kedua parubayah itu masuk dengan langkah tergesa-gesa, sang ibu dan adiknya langsung menggeledah lemarinya entah apa yang mereka cari.
"Bu, apa yang ibu lakukan?". Tanyanya dengan kening mengkerut.
Dia merasa heran karena adik dan ibunya masuk sambil mengacak-acak lemarinya, dan dia yakin jika Rania melihatnya akan tambah marah.
"Diamlah anak bodoh, jika kamu tidak membohongi kami selama ini kami tidak akan melakukan ini". Bentak sang ibu dengan keras.
Ardi mengepalkan tangannya karena ibunya mengatai dirinya bodoh seperti itu walau begitu dia tidak bisa berbuat apapun karena menyayangi ibunya.
"Apa yang kalian lakukan pada kamarku?, kalau Rania sampai melihatnya dia akan semakin marah, keluarlah dari kamarku!!, kita bicara diluar saja!". Ucapnya akan bangkit dan menghalangi ibu dan adiknya yang semakin tidak terkendali mengacak-acak kamarnya.
"Duduk, tidak usah banyak protes dan berisik, kami juga melakukan ini untuk kebaikan kita semua".
Ardi semakin menatap ayah dan keluarganya dengan kebingungan tapi diam saja karena suruhan ayahnya.
"Dimana yah, kok tidak ada?". Ucap sang ibu dengan frustasi
Wajahnya semakin kesal karena tidak mendapatkan apa yang sejak tadi dia cari
"Iya nih dimana sih kak Rania menyimpan semuanya?, nyebelin banget". Sungutnya kembali mengacak-acak lemari itu hingga berantakan dan berhamburan.
"Kalian itu sejak tadi mencari apa sih?, kamarku jadi berantakan begini". Kesal Ardi karena sejak tadi mereka tidak ada yang menjawab pertanyaannya.
Ardi mendekati keduanya dengan langkah lebar karena kesal
"Kami mencari barang berharga Rania anak bodoh, terutama surat rumah dan kendaraan, jika memang semua ini bukan milikmu setidaknya kita harus membalikkan namanya menjadi namamu, jangan sampai Rania mengusir kita dari sini, ibu tidak mau jadi gembel dijalan". Geram sang ibu mendorong jidat sang anak dengan kasar.
Ardi tertegun sejenak, keluarganya mencari barang berharga Rania dan ingin membalik semua surat berharga itu, berarti keluarganya tidak marah padanya karena telah berbohong selama ini kepada mereka.
"Kalian tidak marah?". Tanyanya pelan.
Ningsih menghentikan aktivitasnya dan menatap sang anak dengan jengkel sekaligus marah serta kecewa.
Melihat tatapan ibunya Ardi langsung menelan ludahnya, dia menunduk menghindari tatapan ibunya itu, rasa bersalah kini memenuhi relung hatinya karena telah membuat ibunya kecewa padanya
"Nanti saja kamu jelaskan pada kami, sekarang bantu kami mencari barang-barang itu terutama sertifikat rumah ini, kamu pasti tahu dimana perempuan sialan itu menyimpannya".
Ardi mengangkat wajahnya dan menatap ibunya dengan sendu. Dia berjalan kemeja rias dan membuka kotak yang berada didalamnya dengan tangan cekatan
Mereka semua menyaksikan hal itu dan tersenyum puas seakan bisa melihat kemenangan mereka tapi senyum sirna melihat wajah panik dan muram Ardi.
Ardi tertegun sejenak melihat lemari brangkas yang biasanya berisi perhiasan dan berkas-berkas penting itu bersih tanpa ada barang sama sekali.
"Dimana?". Cicitnya pelan.
"Ada apa Ardi?". Tanya sang ibu begitu tiba disamping sang anak.
"Semuanya hilang Bu, tidak ada sisa, Rania membawanya". Ucapnya panik menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca.
Dia menunduk pelan, sekelebat bayangan ketika tadi Rania masuk kedalam kamar dan membawa tas dan dia yakin Rania membawa dan mengamankannya karena dia mengambil kunci mobilnya dan sang adik.
"Apa maksud mu hilang Ardi?, katakan yang jelas!". Bentak sang ibu dengan tak kalah paniknya.
Walau dia sudah menduga apa yang akan dikatakan sang anak tapi ketakutannya jauh lebih besar.
"Rania membawa semua barang-barang penting miliknya Bu, dia sepertinya tahu kita akan mengambil barang-barang miliknya, itu sebabnya dia membawa semuanya tanpa sisa". Dia mengusap wajahnya dengan kasar karena kecolongan.
Sejak tadi dia tidak memeriksa hal itu, dan semuanya tidak ada gunanya karena dia sibuk merutuki dirinya sendiri agar tahu cara menyampaikan kepada keluarganya jika semua ini bukanlah miliknya, dia sibuk dengan harga dirinya sendiri
"Dasar anak bodoh, kita akan benar-benar diusir Rania tanpa sisa seperti ini". Bentak nya dengan kesal dan memukul putranya dengan jengkel.
Ardi menghindari pukulan sang ibu yang terasa cukup menyakitkan .
"Sudahlah Bu, lebih baik kita pikirkan agar kita semua tidak diusir Rania setelah dia pulang, kalian dengar sendiri apa yang dia katakan tadi".
"Betul Bu, daripada kita sibuk saling menyalahkan lebih baik kita fokus agar kak Rania tidak mengusir kita bagaimana pun caranya".
"Itu juga salah kalian, siapa suruh selalu menindasnya". Cicit Ardi pelan.
Ibu dan keluarganya langsung melotot mendengar gumaman Ardi yang terkesan kurang ajar dan menyalahkan mereka.
"Apa kamu bilang?". Sang ibu Berkacak pinggang memandang anaknya dengan garang.
Dia tidak terima dikatakan seperti itu oleh anaknya sendiri walau sebenarnya apa yang dikatakan Ardi benar adanya
"Ini semua salahmu, ngapain kamu bohong pada kami jika semua ini milikmu, jika kami tahu ini milik Rania kami bisa berprilaku manis padanya, jadi jangan bicara sembarangan ".
"Ibu itu kenapa sih, sejak tadi jadi orang menyebalkan sekali, kan ibu sendiri yang membuat Rania marah hingga menamparnya". Jawabnya tidak terima
"Ibu tidak mau tahu kamu harus mencarikan ibu rumah jika Rania mengusir kita semua".