NovelToon NovelToon
DUNIA GILA,AKU IKUTAN GILA

DUNIA GILA,AKU IKUTAN GILA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Komedi
Popularitas:547
Nilai: 5
Nama Author: WA_19019

Dunia ini gila? Mungkin benar. Tapi kalau sudah begini, aku mending ikutan gila saja daripada pusing sendiri. Ikuti kisah konyol Bima dan kawan-kawan yang hidupnya selalu diisi kejadian tak terduga dan kelakuan yang bikin ketawa terus!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3 ALAMAT,SATU KEJADIAN TAK TERDUGA

Dunia ini emang gak ada habis kelakuannya. Baru selesai satu urusan, langsung disambung lagi sama tugas baru. Begitu keluar dari ruangan Pak Harun, kami langsung berkumpul di halaman depan sambil ngeliat kertas alamat yang baru dikasih.

Nina pegang kertas itu erat-erat, terus baca dengan nada tegas biar kami gak salah dengar: “Dengerin baik-baik ya, jangan sampai salah atau kebalik lagi!"

"Pertama: Jalan Mawar Nomor 12. Kedua: Jalan Melati Nomor 27. Terakhir: Jalan Kamboja Nomor 39. Katanya jalannya deketan semua, jadi gak usah muter jauh. Yang penting sebelum masuk, dicek dulu nomornya, jangan kayak tadi pagi lagi.” ucap Nina

“Siap Bos! Kali ini aku janji gak bakal pegang kertas, biar kalian aja yang baca. Biar aman dan gak ada salah lagi,” kataku sambil ketawa kecil.

“Nah, itu baru pinter,” sahut Ojak sambil nyalain mesin motor, siap jalan lagi.

Matahari udah lumayan terik, jalanan juga mulai rame sama kendaraan dan orang yang beraktivitas. Kami jalan pelan aja, sambil ngeliat papan nama jalan di pinggir. Gak lama kemudian, ketemu deh tulisan Jalan Mawar.

Masuk ke dalam, kami hitung satu-satu nomor rumahnya. Gak sampai lima menit, langsung sampai di depan pagar yang tertulis Nomor 12. Rumahnya biasa aja tapi bersih banget, di depan terasnya banyak bunga mawar yang lagi mekar.

Aku turun dan ketuk pintu pelan-pelan. Gak lama keluar seorang bapak-bapak pake kacamata.

“Selamat siang, Pak. Kami dari kantor Pak Harun, mau antar berkasnya,” kataku santai.

Bapak itu terima amplopnya, cek sebentar isinya, terus manggut-manggut. “Oke, lengkap semua. Bilang ke Pak Harun, nanti sore saya hubungi lagi.”

Kami pamit dan langsung jalan ke tempat kedua. Cuma belok sekali, langsung sampai di Jalan Melati. Nomor 27 gak susah dicari, posisinya pas di tengah barisan rumah. Yang buka pintu kali ini seorang ibu-ibu yang ramah banget, bahkan nawarin teh manis, tapi kami tolak halus soalnya masih ada satu tempat lagi.

“Tinggal satu lagi nih,” kata Kak Dedi sambil nunjuk ke ujung jalan yang agak sepi dan rindang.

“Katanya Jalan Kamboja, tinggal cari nomor 39 aja.”

Masuk ke jalan itu, kami mulai hitung lagi: 30… 32… 34… 36… 38… Eh, pas habis 38, nomor selanjutnya langsung lompat jadi 40.

“Lho? Mana 39-nya? Hilang kemana?” tanyaku sambil ngelirik kanan kiri bingung.

Nina turun dari motor, maju dikit ngeliat pagar-pagar rumah itu. “Aneh juga, harusnya ada di tengah ini. Masa nomornya ilang gitu aja?”

Ojak juga turun, terus jalan mendekati pagar nomor 38 yang penuh tanaman rambat tumbuh lebat. Dia nyingkirin ranting dan daunnya, terus tiba-tiba teriak:

“Eh! Ada ini! Ketutup rumput dan daun!”

Kami langsung mendekat dan ikut nyingkirin. Ternyata di balik rimbunnya tanaman itu, ada papan kecil yang tertulis jelas: Jalan Kamboja Nomor 39. Wah, pantesan gak kelihatan!

“Hampir aja gak ketemu gara-gara ketutup tanaman,” kata Ojak sambil ketawa.

Aku maju lagi dan ketuk pintunya. Suara langkah kaki kedengeran dari dalam, terus pintu terbuka. Begitu lihat siapa yang keluar, mulut kami langsung terbuka lebar kaget.

Yang berdiri di depan kami bukan orang asing, tapi Bang Rian pemilik bengkel yang tadi pagi sempat kami temui gara-gara salah alamat. Dia juga kaget sebentar, terus langsung senyum lebar sambil ngelap tangannya yang masih agak berminyak.

“Wah, kalian lagi? Dunia ini emang kecil banget ya, muter-muter ketemunya lagi kita,” katanya santai banget.

“Bang Rian yang punya rumah ini? Kirain cuma punya bengkel aja,” tanyaku masih gak percaya.

“Bengkel tempat cari makan, ini tempat pulang istirahat dong. Kenapa? Salah alamat lagi nih?” godanya sambil ketawa.

“Enggak kali ini! Benar kok nomornya 39, cuma papan namanya ketutup daun jadi gak kelihatan,” jawab Nina sambil ngasih amplop berkas itu.

Bang Rian terima, cek sebentar isinya, terus manggut paham. “Owalah, ini surat perpanjangan izin bengkel ya. Tadi pagi ditelpon katanya bakal diantar siang ini, tapi gak nyangka yang datang kalian bertiga. Emang begini nih jalan hidup, kadang berputar-putar tapi akhirnya nyampe juga.”

Dia nawarin kami minum, tapi kami tolak halus soalnya harus cepat balik ke kantor. Setelah pamit, kami jalan pulang dengan perasaan yang jauh lebih santai.

“Nah, selesai juga semuanya. Gak ada salah baca lagi, cuma sempat bingung cari nomor rumah yang sembunyi,” kata Nina sambil menarik napas lega.

“Lihat kan? Dunia ini emang suka ngasih kejadian yang gak diduga. Salah belok pagi-pagi, siangnya malah ketemu lagi orang yang sama,” tambah Kak Dedi santai.

Sesampainya di kantor, kami langsung masuk lapor ke Pak Harun. Denger ceritanya sampai selesai, dia cuma manggut-manggut terus senyum tipis.

“Bagus, kali ini beres semua dan tepat waktu. Gak ada alasan lagi buat saya potong libur kalian. Ingat aja, selagi sabar dan teliti, jalan sesusah apa pun pasti bisa ditempuh,” katanya.

Keluar dari ruangan, ketemu lagi sama Pak Joko yang lagi nyapu halaman. Denger cerita kami soal nomor rumah yang ketutup daun dan ketemu Bang Rian lagi, dia cuma senyum bijak.

“Sudah saya bilang kan? Dunia ini emang gila, tapi gak selamanya bikin bingung. Kadang dia cuma mau lihat, kalian mau cari terus atau nyerah di tengah jalan,” katanya.

Belum sempat kami jawab, lewatlah Sari dan Rara dari depan. Begitu lihat kami, Rara langsung melambaikan tangan sambil teriak ceria:

“Wah Bima! Hari ini udah beres semua? Masih ada kesalahan yang bisa dicatat gak? Kalau gak ada, berarti hari ini lumayan sukses lho!”

Aku cuma bisa angkat kedua tangan sambil ketawa lebar. Dalam hati cuma berpikir: Ya sudahlah, namanya juga hidup. Gak pernah lurus terus jalannya, kadang berbelok, kadang sembunyi, kadang malah muter balik.

Tapi yang penting tetap jalan terus dan gak mudah nyerah. Kalau dunianya udah begini, ya ikuti aja arusnya sambil tetap ketawa, biar gak pusing sendiri.

1
Ananda Anggit
bagus ceritanya 👍
Wulandari Ayuningtyas: makasih😁
total 1 replies
tazayaa
semangat kakk💪💪
Wulandari Ayuningtyas: kakak juga semangat y
total 1 replies
tazayaa
bima udah pesimis aja ni doanya ga dikabulkan🤣🤣
Wulandari Ayuningtyas: wkwk karna pasti ada aja kejadian konyol kak🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!