NovelToon NovelToon
Terjebak Dalam Obsesi Putra Mahkota

Terjebak Dalam Obsesi Putra Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Fantasi
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Saasaa

Elisa tidak pernah menyangka novel yang baru semalam ia baca akan menjadi awal petaka hidupnya. Saat membuka mata, ia sudah berada di tubuh Lady Nandikara, putri bangsawan dari Wilayah Timur yang terkenal cantik, tapi angkuh, bermulut tajam, dan paling dibenci semua orang.

Tapi bagusnya, Lady Nandikara itu hanya karakter pendukung saja, yang Elisa ingat, dia muncul hanya sesekali, tokoh yang tidak penting.

Ketika mengetahui posisinya dalam novel, Elisa mengambil satu keputusan. Dia tidak akan ikut campur dalam alur cerita. Cukup hidup tenang, menjadi gadis pendiam, lalu bertahan sampai akhir.

Namun, rencananya mulai berantakan. Ketika sepasang mata tajam dan sedingin es milik Putra Mahkota mulai terpaku padanya. Sejak saat itu, kedamaian yang selama ini ia rencanakan dengan matang perlahan hancur, Elisa terseret ke dalam obsesi seorang pria yang tak pernah menerima penolakan.

Semakin Elisa berusaha menjauh dari alur cerita, semakin takdir menyeretnya ke pusat konflik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rasa Penasaran Leon

Elisa memilih melanjutkan langkahnya begitu pintu ruangan itu tertutup di belakangnya. Saat melihat Leon berdiri di lorong, ia sama sekali tidak berniat menyapanya. Baginya, tidak ada gunanya bersikap ramah pada pria itu. Tanpa sepatah kata pun, ia berjalan melewati Leon seolah pria itu tidak ada. Namun, baru beberapa langkah ia menjauh, suara berat Leon menghentikannya.

"Kenapa dengan rambutmu?"

Elisa menghentikan langkahnya sesaat, lalu menoleh setengah hati. Tatapan Leon tertuju pada rambut panjangnya yang kini tergerai. Padahal sebelumnya rambut itu disanggul rapi. Jelas ada sesuatu yang terjadi di dalam ruangan Pangeran Erlan.

"Bukan urusanmu," jawab Elisa ketus.

Persetan dengan misinya untuk menjadi Nandikara yang lebih baik dan manis. Entah kenapa, setiap kali berhadapan dengan Leonardo Snow, semua niat baiknya seolah lenyap begitu saja. Dadanya selalu dipenuhi rasa kesal yang sulit dijelaskan. Mungkin memang sisa-sisa emosi Nandikara yang asli masih melekat kuat di dalam dirinya. Bertemu Leon saja sudah cukup membuat darahnya mendidih.

Leon menatapnya beberapa saat sebelum kembali berkata,"Ini bisa menjadi rumor yang tidak baik, Nandikara, karena kau seorang Lady."

Elisa mendengus pelan."Aku sudah terbiasa hidup bergelimang rumor buruk, Leonardo Snow. Jadi kau tidak perlu repot-repot mengkhawatirkan hal seperti itu." Ia menatap Leon tanpa gentar."Dan tidak terjadi apa-apa di dalam sana. Rambutku tergerai karena pitanya diambil sebagai ganti rugi. Jadi buang pikiran kotormu itu."

Setelah mengucapkan itu, Elisa langsung berbalik. Ia sama sekali tidak memberi kesempatan pada Leon untuk membalas. Semakin lama berbicara dengan pria itu, semakin besar keinginannya untuk membantah setiap kata yang keluar dari mulutnya.

"Nona!" Suara Cani terdengar dari ujung lorong.

Pelayan muda itu berlari tergesa-gesa dengan mata yang sudah sembab. Air mata terus mengalir di pipinya. Begitu sampai di hadapan Elisa, napasnya terengah-engah karena terlalu panik."Maafkan aku, Nona..." ucapnya dengan suara bergetar."Apa Anda tidak apa-apa? Apa Yang Mulia menghukum Anda?"

Melihat Cani yang begitu cemas, hati Elisa langsung melunak. Ia mengangkat kedua tangannya, menggenggam tangan gadis itu dengan lembut."Tenanglah, Cani. Aku baik-baik saja."

"Benarkah, Nona?"

Elisa mengangguk sambil tersenyum tipis."Nanti akan kuceritakan semuanya setelah kita sampai di rumah. Sekarang ayo pulang. Dan sudah, jangan menangis lagi. Lihat, aku benar-benar tidak apa-apa."

Cani mengusap air matanya berkali-kali. Meski rasa khawatirnya belum sepenuhnya hilang, setidaknya ia merasa sedikit lega melihat majikannya masih bisa tersenyum.

Dari kejauhan, Leon memperhatikan semua itu dalam diam. Tatapannya mengikuti sosok Elisa dan Cani yang perlahan menjauh meninggalkan lorong Castel. Pemandangan yang baru saja ia saksikan membuat keyakinannya semakin kuat.

Rumor tentang perubahan Nandikara ternyata benar adanya. Dulu, jangankan menggenggam tangan seorang pelayan dengan lembut, tersentuh ujung pakaian mereka saja sudah cukup membuat Nandikara murka. Ia tidak pernah berbicara dengan nada selembut itu, apalagi menenangkan seorang pelayan yang menangis demi dirinya.

Leon memejamkan mata sejenak, seolah sedang memastikan bahwa semua yang dilihatnya bukan sekadar ilusi.

Setelah sosok Elisa benar-benar menghilang dari pandangan, Leon akhirnya berbalik. Dengan langkah tenang, ia meninggalkan Castel, sementara berbagai pertanyaan masih memenuhi benaknya tentang perubahan gadis yang dulu selalu saja berhasil membuatnya kesal.

***

"Pertama-tama, kita harus mengunci rapat-rapat mulut kita, Cani. Setelah itu, anggap saja kita telah kehilangan ingatan tentang kejadian semalam. Mulai detik ini, jangan pernah membahasnya lagi. Jika ayahku sampai tahu, kita akan menghadapi masalah yang sangat besar."

Pagi itu, Elisa memberikan arahan dengan wajah serius. Setelah semalaman memikirkan segala kemungkinan yang bisa terjadi, akhirnya ia mengambil keputusan untuk mengubur rapat-rapat insiden semalam. Tidak ada seorang pun yang boleh mengetahuinya.

"Baik, Nona," jawab Cani mantap. Melihat majikannya kembali tenang dan sehat membuat beban di dada Cani sedikit berkurang. Setidaknya pagi ini tidak terjadi sesuatu yang buruk. Semua tampak berjalan seperti biasa.

Namun kegelisahan masih tersisa di benaknya."Tetapi Nona, bagaimana jika Tuan Leon menyebarkan rumor yang tidak-tidak tentang Nona?" tanyanya pelan."Semalam Nona keluar dari ruangan dengan rambut tergerai dan sedikit berantakan. Di sana juga ada Tuan Leonardo. Aku takut orang-orang akan salah paham."

Elisa mengembuskan napas pelan."Dia bukan pria yang bermulut besar, Cani. Setidaknya aku tidak melihatnya seperti itu. Tapi untuk berjaga-jaga, nanti aku akan menemuinya dan memastikan mulutnya tetap tertutup."

Wajah Cani langsung memucat."Jangan, Nona! Tolong jangan mencari masalah dengan Tuan Leonardo. Aku takut sesuatu yang buruk terjadi pada Nona."

"Sesuatu yang buruk? Apa yang sedang kalian bicarakan?"

Suara itu membuat Elisa dan Cani sama-sama terlonjak. Entah sejak kapan, Nyonya Winter sudah berdiri di ambang pintu kamar. Seperti biasanya, wanita itu masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu.

Elisa dan Cani saling berpandangan sesaat. Jantung keduanya berdegup lebih cepat.

"Tidak ada apa-apa, Bu," jawab Elisa cepat sambil memaksakan senyum."Cani hanya sedang menceritakan nasib buruk temannya."

Nyonya Winter tampak tidak terlalu memedulikan penjelasan itu. Ia justru mengalihkan pembicaraan ke hal lain."Kara, kau jangan terlalu dekat dengan pelayanmu. Kau ini gadis bangsawan. Bertemanlah dengan para Lady yang sederajat denganmu, bukan terus-menerus bersama pelayan. Sadarlah Nandikara, sudah cukup, hentikan tingkah anehmu ini."

"Iya, Bu," jawab Elisa berusaha terlihat patuh agar ibunya tidak mengoceh terus menerus. Namun, Nyonya Winter masih terus mengomel panjang lebar mengenai etika seorang putri bangsawan. Elisa hanya mengangguk sesekali sambil menahan bosan. Misinya adalah menjadi gadis manis.

"Apa kau mendengar semua ucapanku?"

"Iya, Bu. Kara mendengarnya."

"Bagus." Nyonya Winter mengangguk puas."Sekarang bangun. Rias wajahmu secantik mungkin dan kenakan gaun terbaikmu. Hari ini kita akan menghadiri pameran seni di kediaman Baron Mates."

Elisa spontan ingin menolak."Bu, hari ini aku..."

"Ibu tidak ingin lagi mendengar alasan apa pun darimu." Suara Nyonya Winter langsung memotong."Cepat bersiap!"

Setelah mengatakan itu, Nyonya Winter berbalik dan keluar dari kamar, meninggalkan Elisa yang hanya bisa menghela napas panjang. Sepertinya, hari ini pun tidak akan berjalan dengan tenang.

1
Iin Istiana
kak....... lgiii yaaaaaa😄😄😄
Saasaa: siap, ditunggu ya
total 1 replies
Iin Istiana
kak klo bisa panjangin dikit yaaa🤭
Saasaa: sedang diusahakan, terimakasih udah baca 😄
total 1 replies
Riska Yulia
tambah lg ka
Saasaa: siap, udah di up ya.. selamat baca
total 1 replies
Iin Istiana
go go go ..... semangat.....
Saasaa: terimakasih sudah baca
total 1 replies
Iin Istiana
pokoknya harus selesai sampai hapy ending awasss aja klo mandek tengah jln
Riska Yulia
asupan nya kurang ka😭😭😭😭
Saasaa: besok lagi ya 🤭
total 1 replies
Iin Istiana
jangan lama² yaaa cuayannnnkuuu😄
Saasaa: udah di up bab baru, selamat baca
total 1 replies
Riska Yulia
ok cuma satu ka😭😭😭
Saasaa: udah diup ya bab yang baru, selamat baca
total 1 replies
Irmha febyollah
ko lama update nya kk
Saasaa: udah di up ya, bab barunya, selamat baca😍
total 1 replies
Iin Istiana
lagi yukkkkkk
Saasaa: besok 🤣
total 1 replies
Riska Yulia
lanjut ka tanggung🤭🤭
Saasaa: lanjut besok 🤣
total 1 replies
Iin Istiana
bagus ceritanya pokoknya harus hapy ending jangan mandek di jln
Saasaa: terimakasih sudah baca ya 😍
total 1 replies
Iin Istiana
up
Iin Istiana
lanjuuuuujttt pokoknya harus up lagiiii🤭
Riska Yulia: MLM ini juga lanjut nya ka,
total 2 replies
Riska Yulia
update lg ka, seru baca nya
Saasaa: done ya, selamat baca...
total 1 replies
Riska Yulia
semangat 💪,
Saasaa: terimakasih sudah baca 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!