NovelToon NovelToon
Rumah Untuk Mikayla

Rumah Untuk Mikayla

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Ibu Tiri
Popularitas:310
Nilai: 5
Nama Author: Danisa Danish

Mikayla benci rumah barunya. Ia benci Hesti, ibu tiri tegas yang dianggapnya menghancurkan keluarga lamanya. Demi membalas dendam, Kayla nekat masuk ke pergaulan bebas bersama Gavin, mengabaikan peringatan Arka.
Namun, saat bahaya mengintai, bukan ibu kandungnya yang datang menyelamatkan, melainkan Hesti—ibu tiri yang selama ini ia lawan habis-habisan. Di sela perang dingin dan tingkah bucin kocak ayahnya pada Hesti, sebuah rahasia besar masa lalu siap terbongkar. Siapa korban dan siapa pelaku sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelarian dan Kerinduan

Suara dengung kipas angin di langit-langit kelas terasa seperti lagu pengantar tidur yang menjemukan. Di depan papan tulis, guru sejarah sedang menjelaskan panjang lebar tentang garis waktu peperangan masa lalu dengan semangat yang berapi-api. Namun, bagi Kayla, semua rentetan angka tahun dan nama pahlawan itu hanya lewat begitu saja di telinganya. Fokusnya telah menguap sejak jam pertama dimulai.

Pandangan mata Kayla tertuju lurus ke luar jendela kaca, menatap hamparan lapangan basket sekolah yang sepi di bawah terik matahari siang. Pikirannya terbang jauh, melompati dinding-dinding kelas, menyusuri waktu, hingga mendarat pada satu sosok yang teramat ia rindukan: Mommy-nya.

Sudah sekitar satu tahun lamanya Kayla tidak mendengar kabar, apalagi bertatap muka dengan wanita yang telah melahirkannya itu. Semenjak hak asuh jatuh ke tangan Pak Hendra, komunikasi mereka perlahan-lahan diputus secara sepihak oleh sang ayah dengan alasan yang tidak pernah masuk akal bagi Kayla. Pertemuan terakhir mereka satu tahun lalu di sebuah kafe pinggir kota pun berlangsung singkat dan penuh air mata. Kayla masih ingat betul kehangatan pelukan Mommy-nya, wangi parfumnya yang menenangkan, dan janji manis bahwa suatu hari nanti mereka akan tinggal bersama lagi.

Mommy sekarang lagi apa ya? Apa Mommy juga kangen sama Kayla? batin Kayla perih. Rasa rindu itu mendadak menjelma menjadi lubang hitam di dadanya yang siap menyedot habis seluruh energinya.

Setetes air mata hampir saja jatuh membasahi pipinya jika saja Kayla tidak segera mengerjapkan mata dan menghapusnya dengan kasar menggunakan ujung lengan seragam. Ia tidak boleh terlihat lemah di kelas ini. Ia harus tetap menjadi Mikayla yang tangguh dan tidak tersentuh.

Di barisan meja sebelah, Arka sesekali mencuri pandang ke arah Kayla. Sebagai sahabat yang sudah sangat mengenal Kayla, Arka tahu betul arti dari tatapan kosong gadis itu ke luar jendela. Arka hanya bisa menghela napas prihatin, tahu bahwa tidak ada kata-kata penghibur yang bisa menyembuhkan luka rindu seorang anak pada ibunya.

KRIIINGGGG!

Suara bel panjang yang menandakan jam pulang sekolah berbunyi nyaring, memecah lamunan Kayla sekaligus membuyarkan fokus seluruh siswa. Dalam sekejap, suasana kelas yang semula sunyi berubah riuh rendah oleh suara gesekan meja, kursi, dan tawa girang anak-anak yang bergegas merapikan buku ke dalam tas.

Kayla bergerak lambat. Ia memasukkan novel dan alat tulisnya ke dalam ransel dengan gerakan ogah-ogahan. Saat ia baru saja menyampirkan tas di bahu dan hendak berdiri, sebuah bayangan tinggi kembali menghadang langkahnya.

Gavin sudah berdiri di sana, menghadang jalan keluar Kayla di sela-sela meja. Cowok itu menyugar rambutnya ke belakang, menatap Kayla dengan senyuman miring yang penuh percaya diri.

"Gimana, Kay? Lo bakalan datang kan nanti malam?" ucap Gavin, mengulang ajakannya tadi pagi dengan nada meremehkan yang seolah tahu bahwa Kayla tidak punya pilihan tempat pelarian lain.

"Gak akan."

Bukan suara Kayla yang terdengar, melainkan suara berat Arka yang tiba-tiba menyela dari arah samping. Arka melangkah maju, langsung berdiri di sebelah Kayla dengan tatapan mata yang menatap Gavin dengan tajam, lurus, dan penuh permusuhan.

Gavin tidak langsung naik darah. Ia justru terkekeh sinis, menatap Arka dari atas ke bawah sebelum kembali melempar pandangannya pada Kayla. "Gue nanya ke Kayla, bukan sama juru bicara. Lo nggak capek apa, Ka, ikut campur urusan orang terus?"

"Gue nggak ikut campur kalau urusannya bukan sama Kayla. Gue udah bilang, lingkungan lo gak sehat buat dia, Gav," balas Arka tegas, nadanya rendah namun sarat akan ancaman.

Ketegangan di antara kedua cowok itu kembali memuncak di tengah sisa-sisa murid yang masih berada di dalam kelas. Kayla yang berdiri di antara mereka merasa dadanya semakin sesak. Kepalanya yang dipenuhi rasa rindu pada sang ibu, ditambah tekanan dari sikap protektif Arka yang terlalu mengekangnya, mendadak memicu percikan pemberontakan di dalam dirinya. Kayla benci diatur. Ia benci merasa tidak punya kuasa atas pilihannya sendiri.

Kayla menepis pelan lengan Arka yang menghalangi jarak pandangnya ke Gavin. Ia melangkah satu tapak ke depan, menatap Gavin lurus-lurus.

"Jam berapa, Gav?" tanya Kayla dengan suara lantang dan jelas.

Gavin melebarkan senyum kemenangan yang sangat kentara, sementara Arka di sebelahnya langsung menoleh dengan ekspresi terkejut yang tidak mempercayai pendengarannya sendiri. "Kay! Lo apa-apaan sih?!" tegur Arka, menahan pergelangan tangan Kayla, namun gadis itu segera menyentaknya kasar.

"Jam sembilan malam, di jalan lingkar baru dekat sirkuit lama. Jangan telat, Princess. Nanti gue yang bakal mastiin lo aman di sana," jawab Gavin penuh kemenangan, matanya melirik Arka dengan tatapan mengejek yang sangat puas sebelum akhirnya membalikkan badan dan melangkah pergi keluar kelas bersama komplotannya.

Arka mencengkeram tali tasnya dengan frustrasi begitu Gavin menghilang di balik pintu koridor. Ia berbalik, menatap Kayla dengan tatapan kecewa sekaligus cemas. "Kay, lo gila ya? Kenapa lo sengaja ngiyain ajakan dia? Lo tahu kan dia sengaja gunain lo buat mancing emosi gue, dan lo sengaja masuk ke jebakan dia!"

"Ini hidup gue, Arka!" seru Kayla, suaranya bergetar menahan luapan emosi yang sejak pagi ia bendung. "Gue butuh keluar dari rumah itu! Gue butuh tempat buat teriak! Kenapa lo gak pernah paham sih? Stop sok jadi pahlawan di hidup gue!"

Tanpa menunggu jawaban atau penumpukan argumen dari Arka, Kayla berlari kecil keluar dari kelas, meninggalkan sahabatnya yang terpaku sendirian di dalam ruangan yang mendadak terasa begitu sunyi. Kayla berjalan cepat menyusuri koridor, tidak peduli lagi dengan tatapan orang-orang, membiarkan kemarahannya menuntun langkah kakinya menuju kepulangan yang paling ia benci.

Arka mengacak rambutnya frustasi,saat ia ingin menyusul Kayla,sebuah panggilan dari arah belakang menghentikan langkah Arka.

"Arka, Lo udah di tungguin tuh sama anak-anak OSIS"teriak Stephanie dari ujung koridor.

"Aahh... gue lupa ada rapat lagi"batin Arka.

dengan kebingungan antara menyusul Kayla dan Rapat OSIS.Arka akhirnya menyusul Stephanie ke ruang OSIS. Toh Kayla kalo disusul pun pasti gamau di anterin sama Arka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!