NovelToon NovelToon
Cinta Dalam Dilema

Cinta Dalam Dilema

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Beda Usia / Romantis
Popularitas:24.6k
Nilai: 5
Nama Author: Septira Wihartanti

Rangga melamarnya setelah suaminya meninggal. Mirisnya, Suaminya meninggal karena Rangga. Apakah Arumi dapat bertahan dalam takdir yang seakan sedang berkelakar ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malaikat

Langkah kaki yang terburu-buru di atas lantai koridor rumah sakit itu terdengar seperti detak jam dinding yang menghitung mundur kehancuran hidup Arumi. Wanita itu berlari tanpa alas kaki yang utuh, salah satu sandalnya terlepas entah di mana saat ia turun dari mobil. Tubuh kurusnya gemetar hebat dan panik. Rambutnya digulung seadanya dan matanya sembab karena sepanjang perjalanan dia menangis.

Di belakangnya ada Rian dan Aryo yang masih dengan seragam sekolah mereka. Mereka membantu ibu mereka berjalan terburu-buru karena langkah Arumi mulai tidak beraturan. Antara ingin pingsan tapi berusaha tetap kuat.

Rian berusaha menyingkirkan pikiran terburuknya. Ia belum percaya kalau Ary, ayahnya, sudah meninggal. Sementara Aryo si bungsu tidak menyingkirkan kenyataan yang terjadi. Ia lebih merasa marah dibandingkan bersedih. Kenapa hidup ini begitu tak adil padanya. Ibu kandungnya sudah meninggal, kini ayahnya menyusul? Terlebih, ia khawatir akan keadaan ibu sambungnya yang limbung karena terpukul.

Masih dapat Aryo ingat saat ayahnya mencubit ujung hidung mamanya tadi pagi.

Mereka saling mencintai, kenapa harus dipisahkan? Begitu pikiran Aryo. Kenapa hidup kami yang sudah nyaman ini  harus diubah-ubah seenaknya?

Lift itu terbuka, bau formalin dan hawa dingin yang menusuk langsung menyambut mereka.

Di ujung lorong, Rangga berdiri mematung. Pakaiannya yang kusut dan noda darah kering yang menempel di lutut jasnya langsung menjadi pusat perhatian.

Banyak orang di sana, berlalu lalang, banyak pria dengan baju yang tak kalah eksklusif, dandanan yang sangat profesional. Tapi pandangan Rian dan Aryo langsung tertuju ke orang ini. Tubuhnya lebih tinggi dari yang lain, auranya lebih terasa, dan pandangan matanya penuh kesedihan. Seakan berkali-kali mengucapkan kata ‘maaf, maaf’ ke mereka.

Arumi, Rian dan Aryo berjalan melewati Rangga menuju pintu di ujung sana. Saat pintu ganda itu dibuka, mereka melewati lorong dengan dinding keramik, dan sampailah di ruang otopsi. Mata mereka tertuju pada seonggok brankar besi di tengah ruangan yang ditutupi kain putih. Petugas membuka kain putih yang menutupi wajah jasad untuk diperlihatkan kepada keluarga korban. Proses identifikasi sedang berjalan.

Di sana, wajah Ary Prambudi nampak terpejam begitu damai, sangat kontras dengan kondisi tubuhnya di balik kain yang sudah tak berbentuk lagi.

"Mas Ary..." Suara Arumi lolos begitu lirih, nyaris seperti bisikan angin.

Ia melangkah mendekat, namun lututnya langsung mati rasa. Arumi ambruk ke lantai yang dingin, merangkak perlahan mendekati brankar suaminya. "Mas... bangun, Mas. Ini Arumi. Mas katanya mau pulang cepat hari ini..."

Tangis Arumi pecah menjadi raungan yang begitu menyayat hati hingga membuat siapa saja yang melihatnya harus memalingkan wajah karena tak kuasa melihatnya. Ary memang pulang lebih cepat, tapi bukan ke rumah Arumi, melainkan ke rumah ‘yang sebenarnya’.

"Ayah...!" Rian langsung histeris. Ia mencoba menerjang maju untuk menarik kain penutup itu, namun seorang petugas bermasker dengan sigap menahan pundak remajanya.

"Dek, jangan disentuh dulu ya. Mohon maaf sangat, jangan dibuka kainnya," cegah petugas itu dengan suara tertahan.

"Lepasin! Aku mau lihat Ayah!" raung Aryo, ikut merangsek maju membantu kakaknya. Tapi dia pun terhenti karena menyadari ada keanehan di jenazah Ary. “Kok... bawahnya turun? Mana kaki Ayah? Kenapa kainnya rata begitu di bawah? Mana, Pak?! Ya Allah... itu darahnya tembus ke kain... kenapa itu Pak? Jawab!"

Jeritan Aryo memecah kesunyian ruang jenazah. Remaja 15 tahun itu mencengkeram lengan baju petugas rumah sakit dengan beringas, menuntut kepastian atas kondisi tragis ayahnya yang tampaknya hanya setengah bagian. Rian di sampingnya sudah menangis meraung-raung, mencoba mengintip ke balik tirai pembatas di mana beberapa organ dan pakaian almarhum yang hancur sedang dipisahkan untuk dibersihkan.

Itu baju ayahnya... celana ayahnya, jaket bomber ayahnya. Rian hapal betul karena sering pinjam.

Seorang pria paruh baya dengan jas putih dan papan dada bertuliskan dr. Hermawan, Sp.FM (Spesialis Forensik & Medikolegal) melangkah mendekat. Ia memegang kedua pundak Aryo dan Rian, memberikan tekanan yang tegas namun penuh empati agar kedua remaja itu mundur satu langkah.

“Aryo, Rian, dengarkan Pak Dokter ya Nak," suara dr. Hermawan terdengar sangat tenang, mencoba menjadi penenang di tengah histeria anak-anak itu.

"Ayah kalian mengalami polytrauma, cedera luar yang sangat berat di bagian paruh bawah tubuhnya akibat benturan dan tekanan mekanis dari kendaraan besar. Saat ini, kondisi fisik almarhum belum kami atasi. Pembuluh darah besarnya mengalami robekan masif, sehingga jika kain ini dibuka atau disentuh langsung, akan memicu pendarahan luar yang lebih hebat dan berisiko bagi kesehatan kalian."

Aryo menggeleng kencang, air matanya menetes ke lantai. "Tapi Ayah hancur, Dok... Ayah nggak utuh..."

"Ayah kalian akan tetap utuh," potong dr. Hermawan dengan tatapan mata yang sangat meyakinkan. "Tim saya di dalam sedang bekerja. Tugas kami di kedokteran forensik bukan hanya memeriksa, tapi juga mengembalikan kehormatan jenazah. Kami akan melakukan tindakan rekonstruksi. Kami akan menjahit, merapikan, dan menyatukan kembali semua bagian tubuh Ayah kamu dengan sebaik-baiknya."

Dokter itu melirik ke arah Arumi yang masih terduduk lemas seperti raga tanpa jiwa.

"Pak dokter mohon kerja samanya ya? Biarkan tim kami menyelesaikan tugasnya selama beberapa jam ke depan tanpa gangguan. Saya berjanji, saat kain ini dibuka nanti untuk dimandikan dan dikafani, Ayah kalian akan dalam kondisi yang paling rapi dan bersih untuk kalian peluk terakhir kalinya. Sekarang, mari tunggu di koridor luar demi kebaikan almarhum."

Mendengar penjelasan rasional namun penuh ketegasan dari dokter forensik tersebut, pertahanan Aryo runtuh. Ia tidak lagi memberontak. Tubuh remajanya merosot, berlutut di samping kakaknya sambil menangis tersedu-sedu, menerima kenyataan pahit bahwa ayah mereka yang tadi pagi masih mencubit pipi bundanya, kini sedang dijahit potongan demi potongan di atas meja bedah dingin.

Di tengah jeritan dan histeria yang memenuhi ruangan itu, kepala Arumi mendadak berputar. Rasa bersalah yang teramat besar menghujam dadanya seperti belati panas. Memori percakapan mereka tadi pagi—sebelum Ary menyalakan mesin motornya—mendadak berputar begitu jernih di kepalanya, seolah baru terjadi sedetik yang lalu.

“Nggak naik mobil aja mas?”

“Biar lebih cepat. Kalau naik mobil kapan sampainya? Hari ini ada kelas pagi. Kan malu kalau malaikatku datang lebih dulu.”

“Eh? Malaikat?”

Arumi teringat wajah Ary tampak kosong sesaat dan terdiam, lalu bagai tersentil akan sesuatu. “Eh? Mahasiswa.” kemudian Ary terkekeh ke arahnya. “Ini gara-gara efek 3 hari dicemberutin malaikat di rumah.” Dan mencubit pipi Arumi.

"Aaaah..." Arumi menarik napasnya dengan susah payah, dadanya terasa begitu sesak hingga ia mencengkeram dadanya sendiri.

Kata 'Malaikat' yang diucapkan Ary pagi itu bukan karena lidahnya terpeleset soal mahasiswa. Ary benar-benar dijemput oleh Malaikat Maut di tengah jalan. Arumi memukul-mukul dadanya sendiri, meratapi kebodohannya yang telah mendiamkan suaminya selama tiga hari berturut-turut hanya karena rasa cemburu yang tak berdasar.

"Maafin aku, Mas... Maafkan aku udah egois... Harusnya tadi pagi aku nggak lepas Mas berangkat..." raung Arumi sebelum pandangannya mendadak menggelap. Tubuhnya yang lemas akhirnya tumbang, pingsan di atas dada Aryo yang langsung mendekapnya panik.

"Mama! Mama bangun!" teriak Aryo histeris melihat ibunya kehilangan kesadaran untuk kesekian kalinya.

Rangga, yang menyaksikan seluruh drama kehancuran keluarga itu dari jarak beberapa meter, jatuh berlutut di lantai koridor. Air matanya mengalir deras, membasahi lantai rumah sakit. Raungan histeris Arumi dan tangisan kedua anak laki-laki itu seperti mencabik-cabik sisa kewarasannya.

"Aku yang melakukan ini..." bisik Rangga pada dirinya sendiri dengan suara bergetar. "Aku yang menghancurkan mereka..."

Janji yang ia ucapkan di bawah kolong truk kepada Ary Prambudi kini terasa seribu kali lebih berat. Rangga menatap Arumi yang pingsan dengan perasaan campur aduk—rasa bersalah, ngeri, dan tanggung jawab yang teramat besar kini resmi berpindah ke pundaknya.

1
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
aku jadi Arumi mending cuma tau duit nya ajalah🤣🤣🤣
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
kok bisa ya bintang kayak gitu, trauma apa yg membentuk dia seperti itu
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
bintang gak selamanya jadi bintang kan..
Lempongsari Samsung
makasih upnya maddam❤❤❤❤❤❤
HilVi Tanurahardja💋
tonyyyy, no no no no ya☝🏻
HilVi Tanurahardja💋
😆😆😆😆
HilVi Tanurahardja💋
betul, guru jg begitu
HilVi Tanurahardja💋
semoga GK ketemu 2 lagi ya rum, ngeri banget ih
mamaqe
mamaq mumet tau duit ajalah😅🤣🤣
Atala Putri
hadir madam💪 tak tunggu up mu
Naftali Hanania
26thn dah melesat kayak komet 😍👍
Hai Madam....Alhamdulillah nongol lg....hbs liburan ya Madam 💖
Miss F
Rangga pelukable loh rum,,MW rasain g??🤣🤣
Leni Pur indah sari
sudah tergoda belum mba arumi??🤭🤭
𝕭𝖚𝖊 𝕭𝖎𝖒𝖆 💱
weew ... selalu emejing tulisan madam 🤩🤩🤩🤩
Reni
Gimana Rum, Rangga emang se mempesona itu, gk heran banyak demit ganjen berkeliaran di kantor kan? tuh, biang demitnya si Bintang baru aja di amankan🤭
Siti Rohmah
mantap
Eni Istiarsi
kalo mau cari bacaan yang all in ya disini. ini udah kayak ruang publik yang one stop service.dapet hiburan, dapet ilmu, dapet realita hidup
Eni Istiarsi
mulai bergeser penilaian Arumi ke Rangga🤭
Dede Maesaroh
lanjut madam😍
virdarizki / ig vindy yuliana1
recomend banget semua novel kamu ka beda dari yg lain, ga bosen² baca nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!