Sinta harus membayar hutang keluarganya dengan cara dia menikah dengan kepala desa dan menjadi istri keduanya.
Pernikahan ini diatur oleh mama sangat kepala desa dengan harapan agar Sinta bisa membuat sang kepala desa berpisah dengan istri pertamanya.
Sebuah pernikahan yang penuh misteri sampai akhirnya Sinta tahu rahasia yang membuat nya terjebak dalam pernikahan neraka ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Henny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih Bulan Madu
Sinta sudah selesai memasak. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas siang. Perutnya sendiri sudah keroncongan. Ia bingung apakah harus membangunkan Mahendra atau langsung makan saja?
Akhirnya ia memutuskan untuk masuk ke kamar. Ranjang sudah kosong dan ada bunyi air di kamar mandi. Mahendra berarti sementara mandi. Sinta pun membereskan tempat tidur yang berantakan. Saat ia akan melipat selimut, matanya langsung tertuju pada bercak-bercak merah yang ada di seprei. Haruskah aku mengganti seprei ini? Tanya Sinta dalam hati. Ia kemudian membuka lemari dan mencoba mencari seprei pengganti. Ternyata ada di bagian paling atas lemari.
Karena merasa agak kesulitan untuk mengambil seprei itu, Sinta berjinjit sambil berpegangan di salah satu rak lemari. Hampir saja ia jatuh kalau tangan Mahendra tak cepat menahan tubuhnya.
"Hati-hati!" kata Mahendra sambil menatap mata Sinta, pandangannya kemudian turun ke bibir gadis itu. Warnanya natural, Tampa ada sentuhan lipstik sedikit pun. Wajahnya pun nampak polos tanpa make up. Ada keringat yang mengalir di leher perempuan itu yang membuat Mahendra merasakan kalau Sinta sangat seksi.
Sial! Mahendra memaki dalam hatinya. Ia segera menunduk dan menyambar bibir Sinta yang sedikit terbuka itu. Ada gairah yang tiba-tiba tak bisa ditahan oleh pak kades tampan itu.
Sinta kaget luar biasa. Ia memegang handuk yang membungkus tubuh kekar Mahendra namun tanpa sadar, ia justru melepaskan handuk itu.
Deg!
Jantung Sinta bagaikan berhenti berdetak melihat si palo yang sudah berdiri tegak dan siap untuk mencari sarangnya.
"Eh....makanannya sudah siap!" kata Sinta saat tangan Mahendra sudah menyusup di balik kaos yang dipakainya.
Mahendra tak menjawab. Ia justru melepaskan kaos itu dari tubuh istrinya. Sinta semakin panik karena kini tangan Mahendra membuka celana kain yang Sinta pakai.
"Abang.....masih sakit!" Sinta berusaha menolak ketika tubuhnya sudah terlentang di atas ranjang tanpa ada satu benang pun yang menempel di sana.
"Aku tahu.....!" hanya itu yang Mahendra katakan dan setelahnya ia tak bicara kecuali tangan dan mulutnya yang bergerak. Sentuhan, usapan dan ciuman Mahendra yang berpengalaman telah membuat Sinta melupakan rasa lapar yang tadi menyerang nya.
Mahendra tiba-tiba menjadi candu dengan tubuh istri keduanya. Ia bahkan tak peduli dengan ponselnya yang terus berbunyi. Ada nama Gizel di sana.
Penyatuan saat ini membuat Mahendra semakin yakin kalau Sinta memiliki gairah yang sama besar dengan yang ia miliki saat ini. Walaupun awalnya ia meringis, seperti menahan rasa sakit, namun akhirnya ia nampak menikmati sehingga tanpa sadar kukunya mencakar punggung Mahendra ketika ia mendapatkan pelepasannya.
Mahendra melepaskan penyatuan mereka saat ia sendiri sudah sampai pada puncak kenikmatan itu. Napasnya masih belum stabil ketika ia berbaring di samping Sinta.
Untuk beberapa menit kemudian, keduanya saling diam. Tak ada suara sampai akhirnya Sinta yang memilih bangun lebih dulu. Ia memunguti pakaiannya satu persatu lalu segera mengenakannya kembali. Ia kemudian berjalan menuju ke kamar mandi untuk untuk sekedar membersihkan inti tubuhnya. Begitu ia keluar dari kamar mandi, nampak Mahendra sudah menggunakan pakaian santai. Seprei pengganti sudah ia letakan di ujung tempat tidur.
"Ayo makan, abang. Makanannya sudah siap." kata Sinta sebelum keluar kamar.
Selanjutnya keduanya makan tanpa bersuara.
"Untuk makan malam, kamu tak perlu masak. Kita pesan saja." kata Mahendra setelah selesai makan. Ia kemudian berdiri dan menjawab panggilan telepon dari Gizel.
"Ada apa, Gizel?"
Sinta yang sedang membereskan meja menoleh sebentar ke arah Mahendra saat lelaki itu menyebutkan nama Gizel.
"Mengapa sejak tadi ponselmu tak diangkat? Lagi asyik berdua dengan istri muda ya?" terdengar suara Gizel yang sedikit kesal di seberang sana.
"Gizel..., kamu tahu kalau aku tak suka drama. Aku kan sudah bilang kedudukan mu sebagai nyonya pertama. Dan aku tak ingin kamu tak akur dengan Sinta ketika dia pulang ke rumah."
"Terus sampai kapan kalian ada di sana?"
"3 hari. Kami akan pulang lusa pagi."
Terdengar helaan napas Gizel yang kesal. "Aku tak sabar ingin jumpa dengan mu."
Mahendra langsung memutuskan sambungan telepon. Ia kemudian masuk lagi ke dalam rumah.
"Abang, sebentar sore, bolehkah aku bermain ke air terjun? Tempat itu sangat berarti bagiku."
"Pergilah!"
"Terima kasih."
Mahendra kemudian mengambil tabletnya dari dalam kamar. Nampaknya ia sedang mengerjakan sesuatu karena sesekali ia menelepon seseorang yang dipanggilnya sebagai Aldo.
Pukul setengah empat sore, Sinta sudah tiba di lokasi air terjun. Kenangan bersama kedua orang tuanya melintas lagi diingatannya.
Sinta mengambil beberapa foto. Ia bahkan meminta bantuan seorang pengunjung untuk mengambil fotonya.
Tanpa sadar, mini dress berwarna hijau lumut yang Sinta kenakan sudah basah karena kena cipratan air. Tubuhnya merasa dingin karena angin sore yang bertiup cukup kencang. Sinta segera meninggalkan kawasan air terjun itu.
Saat ia tiba di vila, nampak Mahendra masih di posisinya yang semula. Duduk di depan meja makan sambil sibuk dengan tabletnya. Ia bahkan terlihat membuat catatan.
Kepala lelaki tampan itu menoleh ke arah Sinta yang baru masuk. Mini dress nya nampak basah dan menunjukan lekuk tubuhnya. Rambut hitamnya yang panjang juga nampak basah.
Sinta menjadi salah tingkah ketika Mahendra menatapnya tanpa berkedip. Di mata Mahendra, penampilan Sinta yang nampaknya sedikit berantakan justru terlihat menggoda. Apalagi saat perempuan berusia 21 tahun itu mengigit bibir bawahnya, Mahendra merasakan ada hasrat yang ingin segera ia tuntaskan dengan memeluk tubuh mungil itu.
"Eh,....selamat sore....!" Sinta akhirnya bicara. Terbata-bata karena jantungnya yang berdetak sangat cepat.
Mahendra hanya mengangguk. Sinta akan melangkah ke kamar, namun panggilan Mahendra menghentikan langkahnya.
"Sinta, boleh buatkan kopi untukku?"
"Boleh."
"Tanpa gula."
Sinta mengangguk walaupun otaknya berpikir keras. Tadi pagi ia membuatkan kopi buat Mahendra namun menggunakan gula. Pantas saja Mahendra tak menghabiskannya.
Sinta menyalakan kompor dan meletakkan teko di atasnya. Ia kemudian mengambil gelas dan toples kopi dalam lemari.
Mahendra terus memperhatikan istri keduanya itu. Sinta yang sederhana, namun terlihat menawan dengan penampilannya yang tak spektakuler seperti Gizel.
"Ini kopinya." Sinta meletakan gelas yang sudah berisi kopi panas itu di atas meja.
Mahendra memejamkan matanya sejenak saat mencium aroma tubuh istrinya yang berbau bunga mawar bercampur dengan sedikit keringat. Tangannya dengan cepat menahan tangan Sinta saat perempuan itu akan pergi.
"Ada apa?" Sinta membalikan tubuhnya dan bertanya namun Mahendra dengan cepat mencium bibirnya. Tangannya yang besar dan kuat memeluk pinggang Sinta dengan posesif, mengusapnya dengan lembut lalu mengangkat tubuh langsing itu dan mendudukkannya di atas meja.
"Abang ...., mau apa?" tanya Sinta saat ia merasakan tangan Mahendra sudah menurunkan resleting gaunnya.
Mahendra tak menjawab. Ia menarik turun gaun itu dan mencium bibir Sinta, memberikan sentuhan yang ia tahu bisa mengubah kesadaran istrinya itu menjadi hasrat yang tak bisa dipadamkan.
"Abang, pintunya.....!" Sinta mau mengingatkan bahwa pintu depan tak dikunci. Namun Mahendra sudah membungkam mulutnya dengan ciuman yang panas.
Sinta yang polos, yang tak memiliki pengalaman apapun merasakan ketegangan sekaligus keinginan untuk menikmati sentuhan suaminya di atas meja ini. Suatu pengalaman yang bahkan tak pernah Mahendra lakukan dengan Gizel atau mantan pacarnya di Amerika.
Ketika keduanya mencapai puncak secara bersama, Mahendra yang masih dalam posisi berdiri di pinggir meja, perlahan melepaskan penyatuan mereka. Ia menaikan celananya kembali. "Mandilah!" katanya pelan namun terdengar seperti perintah.
Sinta segera turun dari atas meja, menahan gaunnya agar tak jatuh lalu sedikit berlari ke kamar dengan kaki yang masih gemetar.
Mahendra mengusap wajahnya kasar. "Mengapa aku seperti ini? Aku bukan pria maniak. Mengapa tubuhku selalu menginginkan tubuh Sinta? Apakah gadis itu memiliki susuk di tubuhnya?" Mahendra bertanya pada dirinya sendiri. Ia duduk dengan sisa kenikmatan yang masih ada di tubuhnya.
Tangannya gemetar saat meraih gelas kopi. Saat ia menyesap kopi tanpa gula itu, Mahendra merasakan ada sesuatu yang sangat lezat. Seperti ini kopi terenak yang baru ia nikmati.
Sedangkan Sinta di dalam kamar mandi sudah mengguyur tubuhnya dengan air dingin dari shower. "Aku aneh. Dia lelaki yang baru kukenal walaupun dia adalah suamiku. Mengapa aku membiarkan dia menguasai tubuhku? Atau, apakah aku seorang perempuan yang memiliki gairah yang besar? Tidak! Tidak mungkin!"
Apa yang terjadi selanjutnya?
nackal kan yg ajarin emak🤣🤣🤣🤣