NovelToon NovelToon
SEPHIA

SEPHIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Diam-Diam Cinta / Slice of Life
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Azkaqia

Sephia tidak pernah menyangka, kehadiran tetangga baru itu akan mengubah segalanya.
Berawal dari pertemuan-pertemuan tak sengaja, satu sekolah, hingga satu kelas—mereka perlahan menjadi dekat. Terlalu dekat, sampai Sephia mulai merasakan sesuatu yang seharusnya tidak ada.
Sayangnya, perasaan itu datang di waktu yang salah.
Dia sudah memiliki seseorang.
Sephia memilih diam, menyimpan semuanya sendiri.
Hingga sebuah kejadian memaksa mereka untuk saling mendekat, lebih dari yang seharusnya.
Namun, bahkan setelah jarak memisahkan, waktu tetap tidak pernah berpihak.
Dan saat mereka dipertemukan kembali…
segalanya sudah berbeda.
Kali ini, justru Sephia yang harus belajar melepaskan.
Karena tidak semua yang hampir, akan benar-benar menjadi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkaqia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Piring di Depan Pintu

​Matahari berganti malam, dan suasana kompleks perumahan sudah mulai sepi. Setelah sempat ngedumel seharian dan mandi sore, perasaan Sephia sudah agak mendingan. Kejadian memalukan sepulang sekolah tadi pelan-pelan dia lupain. Lagi pula, malam ini pas banget buat santai.

​Sephia lagi selonjoran di sofa ruang tamu sambil ngunyah keripik, ditemenin Mamanya yang fokus nonton sinetron.

​Di saat yang sama, empat rumah dari sana, wangi kue bolu yang baru matang keciuman dari dapur rumah nomor 04. Mama Alan lagi sibuk motongin kue itu dan nata di atas piring.

​"Lan, ini tolong anterin ke rumah nomor satu, ya? Tinggal rumah itu yang belum dikasih," kata Mamanya sambil naruh piring kue bolu yang masih anget di meja makan.

​Alan yang dari tadi lagi asyik main HP langsung dongak. Rumah nomor 01. Otomatis dia langsung inget cewek yang sore tadi ngambek sambil ngentakin kaki di depan matanya.

​Tanpa sadar, Alan senyum tipis. Dia naruh HP-nya, terus ngambil piring itu.

​"Iya, Ma. Alan jalan dulu," jawabnya santai.

​Kembali ke rumah nomor 01, keheningan ruang tamu tiba-tiba pecah gara-gara bunyi bel di depan rumah.

​Ting tong!

​"Pia, liat siapa yang dateng gih. Mama tanggung nih," suruh Mamanya tanpa nengok dari layar TV.

​"Iya, Ma," sahut Sephia males-malesan.

​Dia bangun dari sofa, jalan santai ke pintu depan pakai baju rumahan seadanya—kaos oblong gombrang sama celana pendek. Pikirannya nebak-nebak, paling juga tukang paket atau pak RT.

​Tapi begitu Sephia buka pintu, kalimat "Cari siapa, ya?" yang udah di ujung lidah langsung ilang gitu aja.

​Sephia matung. Jantungnya berasa copot.

​Alan berdiri di sana, persis di bawah lampu teras. Cowok itu kelihatan beda banget sama pas di sekolah. Cuma pakai kaos hitam polos, tapi entah kenapa malah kelihatan keren. Di tangannya, ada sepiring kue bolu yang wanginya langsung keciuman.

​Alan natap Sephia yang lagi melongo dengan muka geli yang sengaja dia tahan.

​"Malam," sapa Alan santai. "Ini ada kue dari nyokap gue. Salam perkenalan buat tetangga baru."

​Alan sengaja neken kalimat 'tetangga baru', bikin Sephia rasanya pengen langsung banting pintu aja malam itu juga.

Sephia benar-benar bingung harus ngerespon kayak gimana. Otaknya mendadak nge-blank. Padahal baru aja dia berusaha keras buat ngelupain semua kejadian aneh dan memalukan sepanjang hari ini, tapi cowok di depannya ini malah muncul lagi secara tiba-tiba.

​Belum sempat Sephia menata kembali kesadarannya, suara langkah kaki terdengar mendekat dari arah ruang tamu. Mama Sephia berjalan menghampiri pintu karena penasaran anaknya lama banget berdiri di sana.

​"Pia... ada tamu kok gak disuruh masuk?" tanya Mamanya sambil jalan mendekat.

​Sephia langsung panik. "Gak usah, Mah! Dia cuma mau nganterin kue kok," jawab Sephia secepat kilat, berusaha menyudahi interaksi ini sebelum keadaan makin kacau.

​Mendengar jawaban buru-buru itu, senyum jahil di wajah Alan makin mengembang. Dia langsung memanfaatkan situasi buat ngerjain Sephia.

​"Engga kok, Tante. Kalau boleh masuk dulu juga gak apa-apa," ucap Alan dengan nada sopan yang dibuat-buat, sengaja banget buat meledek Sephia.

​Sephia langsung melotot tajam ke arah Alan. Bisa-bisanya cowok ini nyari kesempatan di depan nyokap gue! batin Sephia berteriak frustrasi.

Begitu sampai di ambang pintu, mata Mama Sephia langsung berbinar melihat cowok jangkung yang berdiri di terasnya. Bukannya curiga, wajah Mamanya malah kelihatan familier banget.

​"Ohh, ini yang di rumah nomor empat ya? Anaknya Ci Oliv..." sapa Mama Sephia ramah, langsung tahu asal-usul tetangga barunya itu.

​Alan tersenyum sopan, mengangguk memberi salam. "Iya, Tante."

​"Aduh, ganteng banget ya anaknya Ci Oliv," puji Mama Sephia terang-terangan, yang langsung sukses bikin Sephia memutar bola matanya malas. "Ayok sini masuk dulu, anggap aja rumah sendiri. Sekalian kenalan dulu sama Sephia, anak Tante satu-satunya."

​Mendengar ucapan Mamanya, Sephia rasanya pengen banget narik baju Mamanya dari belakang. Mah, dia udah tahu nama Pia! Kita satu kelas! jerit Sephia dalam hati, gemas karena Mamanya malah sok jadi makcomblang dadakan.

​Sephia melirik Alan dengan tatapan awas, siap-siap kalau cowok itu bakal ngebongkar drama mereka di sekolah tadi. Sementara Alan malah menatap Sephia balik dengan senyuman yang makin lebar, kelihatan menikmati banget posisi Sephia yang lagi terpojok begini.

Mendapat lampu hijau dari tuan rumah, Alan pun melangkah masuk melewati pintu.

​"Ini, Tante, ada titipan dari Mama..." ucap Alan sopan sambil menyerahkan sepiring kue bolu yang sudah dibungkus rapi.

​"Ya ampun, repot-repot banget sih kamu. Nanti bilang makasih ya ke mamamu," sahut Mama Sephia dengan wajah sumringah sambil menerima piring itu. "Sini, sini, duduk dulu."

​Alan pun berjalan mengekor di belakang Mama Sephia dan langsung duduk di sofa ruang tamu, tempat televisi yang masih menyala menampilkan acara sinetron.

​Sephia cuma bisa berdiri kaku di dekat meja, memperhatikan gerak-gerik Alan dengan tatapan pasrah. Pengin banget rasanya dia kabur ke kamar sekarang juga. Tapi kalimat Mamanya berikutnya langsung menghancurkan harapan itu dalam sekejap.

​"Pia, temenin dulu ya. Mama mau ke dapur sebentar buat bikin minum," ujar Mamanya, lalu menoleh ke arah Alan sambil tersenyum ramah. "Tunggu sebentar ya, nak Alan."

​"Iya, Tante, santai aja," jawab Alan sopan banget, tipe-tipe cowok idaman mertua.

​Begitu Mamanya menghilang di balik sekat dapur, Sephia rasanya pengin nangis darah.

​Yaaah... Maaa... jangan ditinggal berdua gini dong! Mama kok malah kayak Hana sih ah... Bisa gila gue ngadepinnya! jerit batin Sephia meratapi nasib.

​Pikirannya langsung melayang ke kejadian di kantin tadi siang. Suasananya persis banget kayak gini, bedanya sekarang areanya ada di kekuasaan Sephia sendiri.

​Sephia menghela napas berat, perlahan mendudukkan dirinya di sofa tunggal yang letaknya agak jauh dari Alan. Dia melirik Alan dengan ogah-ogahan, bersiap menerima serangan ledekan berikutnya dari cowok itu.

Karena gak tahu harus ngomong apa, Sephia akhirnya milih buat natap layar TV di depannya dengan pandangan malas. Tangannya menopang dagu, sementara pikirannya malah melamun ke mana-mana, meratapi nasibnya yang apes seharian ini.

​Tapi lamunan Sephia langsung buyar pas dia ngerasain sofa di sebelahnya sedikit bergerak. Begitu Sephia menoleh, dia langsung tersentak. Tiba-tiba aja Alan udah duduk di dekatnya, memangkas jarak yang tadinya jauh.

​Lah... kapan nih bocah pindahnya? Kenapa dia ngeliatin gue kayak gitu, ngeri amat... batin Sephia heran sambil menaikkan satu alisnya, berusaha menutupi rasa gugupnya.

​Alan emang lagi natap Sephia, tapi pandangannya gak dingin kayak pas di sekolah tadi.

​"Lo kenapa sih?" tanya Alan akhirnya, memecah kecanggungan di antara mereka. Suaranya terdengar santai, tapi cukup buat bikin Sephia salah tingkah.

​"Hah? Gue? Perasaan gak apa-apa deh..." jawab Sephia agak gagap, berusaha bersikap biasa aja padahal jantungnya udah mulai berdegup gak karuan.

​Alan cuma menaikkan sebelah alisnya, kelihatan gak percaya sama jawaban Sephia yang kedengaran banget lagi defensif.

Bukannya mundur karena jawaban ketus Sephia, Alan malah memajukan wajahnya sedikit lebih dekat. Refleks, Sephia langsung memundurkan mukanya ke belakang, badannya sampai mepet ke sandaran sofa.

​Nih cowok kenapa dah? Sialan banget, jantung gue jadi dag-dig-dug gini... batin Sephia panik. Jarak mereka yang lumayan dekat bikin dia bisa mencium samar wangi parfum maskulin milik Alan.

​Alan menatap lekat mata Sephia, lalu melontarkan pertanyaan yang sama sekali gak diduga.

​"Lo gak inget gue?" tanya Alan pelan.

​Mata Sephia langsung mengerjap bodoh.

​Hah? Maksudnya? Gimana gimana? Gue kok gak ngerti sama yang dia tanyain ya... batin Sephia bingung total. Dia mencoba mengingat-ingat wajah cowok di depannya ini, tapi memorinya benar-benar kosong.

​Karena otaknya mendadak macet, Sephia cuma bisa menaikkan satu alisnya tinggi-tinggi, pasrah menampilkan ekspresi muka yang super bingung di depan Alan.

​Melihat reaksi Sephia yang kelihatan blank banget, Alan cuma mendengus geli, seolah sudah menebak kalau cewek di depannya ini memang gak ingat.

1
Ayunda
judulnya bikin inget lagu Sheila on seven yg viral pd jamanya
Arya Suluran
wahh adapakah ini??😄
Arya Suluran
plenger juga sih Sephia ini ya😄
Azkaqia Ratna: ya gugup soalnya doi hehe
total 1 replies
Arya Suluran
apakah jatuh cinta pandangan pertama??
Azkaqia Ratna: belum kyknya, cuma awal mengagumi 😆
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!