Belasan tahun terjebak di dalam sel Abyssal Trench yang gelap dan pengap, Elara Nereida—seorang Siren yang tangguh—harus membayar mahal harga dari sebuah kenaifan. Cinta tulusnya pada Helios Marine justru berakhir tragis. Sang Merman ternyata telah beristri dan dengan tega mengurung Elara demi menutupi aib, membiarkannya kelaparan dan diasingkan oleh ras Siren-nya sendiri sebagai aib.
Ketika sebuah kekacauan besar menghancurkan penjara bawah air dan memberinya celah untuk lolos, Elara bersumpah tidak akan pernah meneteskan air mata lagi untuk masa lalu. Dengan kekuatan Siren yang telah lumpuh akibat racun, ia nekat naik ke daratan Kota Luminara untuk memulai hidup baru sebagai manusia.
Sanggupkah Elara bertahan di dunia baru tanpa kekuatannya? Dan di antara kutukan takdir serta perebutan kuasa para penguasa daratan, siapakah yang akhirnya akan memenangkan melodi terakhir dari hati sang Siren?
"Lautan telah membuangku, namun daratan akan bertekuk lutut di hadapanku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. Aktivitas Kepedasan
"Iya, aku sangat yakin. Jejak aroma Kakek Jacob berhenti tepat di depan kamar ini dan baunya terasa semakin pekat. Tidak salah lagi, pasti Kakek ada di dalam," ucap Lyra penuh keyakinan.
Gadis kecil keturunan Pegasus itu baru saja hendak mengulurkan tangan untuk memutar knop pintu, namun Celine dengan cepat menepuk pundaknya dan mencegahnya.
"Tunggu dulu, Lyra," ucap Celine. Ia memajukan tubuhnya dan mendekatkan telinga kecilnya ke permukaan daun pintu. Dahi gadis kecil itu tampak berkerut dalam. "Lyra, coba kau dengarkan baik-baik. Di dalam kamar itu... sepertinya ada suara seorang perempuan yang sedang menjerit-jerit tertahan."
"Benarkah?" Lyra yang penasaran pun ikut menempelkan telinganya di dekat Celine. "Kau benar! Dan sepertinya... Kakek juga terdengar seperti sedang tersiksa. Ah, bukan, suaranya lebih seperti orang yang sedang kepedasan, Celine! Apa yang sebenarnya terjadi di dalam, ya?"
"Jangan-jangan kakekmu diam-diam sedang memakan sesuatu yang sangat pedas bersama seseorang di dalam sana?" tebak Celine dengan polosnya. "Kakekmu sepertinya sudah terlampau kelaparan karena terlalu lama menunggumu buang air kecil."
"Uh, kenapa Kakek tidak bilang-bilang padaku dulu kalau mau makan enak!" keluh Lyra sebal.
Karena didera rasa penasaran yang membuncah, ia mencoba memutar gagang pintu tersebut. Namun, benda logam itu sama sekali tidak bergerak. "Pintunya dikunci dari dalam, Celine."
"Kalian rupanya ada di sini!" sebuah suara anak laki-laki menginterupsi tiba-tiba dari arah belakang.
Kedua gadis kecil itu sontak menoleh cepat. Di sana, Caelum dan Alexius Blue tampak berjalan menghampiri mereka sembari masing-masing memegang sebuah stik besar berisi permen kapas merah muda yang manis.
"Apa yang sedang kalian lakukan di depan kamar kosong ini, sih? Kami sudah terlalu lama menunggu kalian di luar. Bahkan, kami sengaja membelikan kalian kembang gula ini," omel Caelum panjang lebar.
"Tadinya kami memang mau menyusul kalian ke pasar, tapi Kakek Jacob mendadak menghilang dari gerbang. Karena itu kami mencarinya, dan tebak apa? Kakek sepertinya ada di dalam ruangan ini!" bisik Celine misterius.
"Kakak, kemarilah..." panggil Lyra setengah berbisik, melambaikan tangannya pada Caelum.
Kedua anak laki-laki itu melangkah mendekat dengan raut wajah heran. "Sebenarnya kalian berdua sedang merencanakan apa?" tanya Caelum lagi.
"Coba saja kalian dengarkan sendiri," ucap Lyra menunjuk ke arah daun pintu dengan dagunya.
Didorong rasa penasaran, Caelum dan Alexius ikut menempelkan telinga mereka. Seketika itu juga, dahi kedua anak lelaki tersebut berkerut dalam, mengernyit bingung saat mendengar serangkaian suara lenguhan ganjil dan aneh yang samar-samar merembes keluar dari celah pintu.
"Hei! Kalian berempat sedang melakukan apa di sana?" sebuah suara feminin yang tegas mendadak menggema di koridor, memecah fokus anak-anak tersebut.
Rupanya, itu adalah Scarlett. Gadis berambut putih perak itu baru saja menempuh perjalanan kembali dari Kota Vespera setelah mengantar Edgard. Setibanya di istana Alfheim, ia langsung menerima panggilan telepon dari ibunya agar segera menyusul kedua adiknya dan bertugas membawa mereka semua pulang ke Luminara.
"Kak Scarlett!" seru mereka berempat secara serempak.
Scarlett melangkah mendekat, lalu berdiri berkacak pinggang di hadapan adik-adiknya dengan sorot mata mengadili. "Kalian tahu tidak, menguping pembicaraan atau urusan orang lain di balik pintu seperti itu sama sekali tidak sopan namanya? Cepat menjauh dari sana!"
"Tapi, Kak! Kakek Jacob ada di dalam sana! Beliau bersama seseorang, dan sepertinya orang itu adalah seorang perempuan!" adu Lyra bersemangat.
Mendengar penuturan adiknya, Scarlett mendengus tak percaya. "Hah?! Apa maksudmu? Untuk apa seorang Raja Vampir terhormat seperti Kakek Jacob berada di kamar kosong bersama seorang perempuan siang-siang begini? Kalian sedang berusaha membohongiku, ya?"
"Dengarkan saja sendiri kalau Kakak tidak percaya!" ucap Caelum gemas, langsung menarik tangan sang kakak sulung agar mendekat ke daun pintu.
Scarlett yang didera rasa penasaran sekaligus bingung akhirnya menuruti tarikan adiknya. Ia mencondongkan tubuhnya, memasang indra pendengarannya yang tajam pada permukaan pintu kayu tersebut.
Pada detik-detik awal, dahi Scarlett tampak mengernyit heran. Namun, seiring berjalannya waktu, ketika suara rona gairah dan desah napas berat di dalam sana terdengar semakin jelas, wajah cantiknya seketika memanas hebat.
Sepasang mata ungu Scarlett membelalak sempurna karena syok yang teramat sangat. Menyadari apa yang sebenarnya sedang terjadi di balik pintu terkunci itu, ia buru-buru menegakkan kembali tubuhnya. Wajahnya merona merah padam saat ia menunjuk adik-adiknya satu per satu dengan jari yang bergetar.
"Kalian... lupakan semua yang baru saja kalian dengar! Jangan sampai ada yang berani bicara aneh-aneh pada semua orang di luar sana, terutama kepada Paman Justin atau Ayah! Sekarang pergi, bubar kalian semua!" perintah Scarlett dengan nada suara yang bergetar menahan malu yang luar biasa.
"Kakak ini kenapa, sih? Bukankah benar kataku kalau Kakek sedang berada di sana dengan—"
"Jangan bicara lagi, Lyra! Cepat pergi dari sini, kalian semua!" potong Scarlett setengah berteriak, tidak ingin kepolosan adik-adiknya menodai wibawa keluarga besar mereka.
Melihat kemarahan Scarlett yang mendadak meledak, keempat anak kecil itu langsung merinding ketakutan. Mereka tidak berani membantah lagi, dan bergegas melangkah pergi membubarkan diri sembari membawa permen kapas mereka yang mulai meleleh.
Ditinggal sendirian di koridor sunyi itu, Scarlett memegangi dadanya yang berdegup kencang. Pikirannya benar-benar tidak habis pikir bagaimana bisa kakek buyutnya berada di dalam sana bersama seorang wanita asing.
Sebagai gadis dewasa yang sudah mengerti tentang esensi hubungan intim, ia paham betul dengan jenis "aktivitas kepedasan" yang sedang berlangsung di atas ranjang tersebut.
Masalahnya, kenapa bisa seorang Raja Vampir yang terkenal sangat dingin, kaku, dan kejam itu bisa kehilangan kendali dan melakukan hal segila itu di dalam Istana Alfheim ini?
Scarlett tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika para petinggi klan, atau bahkan Raja Arthur selaku penguasa tertinggi Elf Hutan, sampai mengetahui skandal besar ini. Tanpa Scarlett sadari, wanita yang berada di bawah kungkungan kakeknya saat ini adalah Elara—gadis Siren pembawa aroma lautan yang sempat dipertanyakan olehnya saat berada di dalam mobil bersama Edgard beberapa jam lalu.
Scarlett pun bergegas pergi dari koridor sunyi tersebut sembari menghentakkan kakinya ke lantai dengan gusar. Wajahnya masih terasa panas membara bagai terpanggang api.
"Sialan!" umpat Scarlett lirih di sela langkah lebarnya. "Demi apa pun, kenapa justru aku yang harus menanggung malu setengah mati seperti ini? Padahal bukan aku yang sedang melakukan hal gila di dalam kamar kosong itu!"
Sepanjang lorong istana, ia terpaksa menundukkan kepala dalam-dalam. Scarlett buru-buru menyembunyikan wajah merah padamnya menggunakan telapak tangan dari tatapan bingung beberapa pelayan istana Elf yang kebetulan lewat berpapasan dengannya. Ia tidak ingin para pelayan itu curiga atau mengendus ketegangan ganjil yang sedang melanda dirinya.
"Bagaimana ini? Aku harus bagaimana jika rahasia Kakek Jacob sampai bocor?" ucapnya berbisik pada diri sendiri, kecemasannya kian memuncak sembari kakinya terus melangkah menjauh.
Pikirannya benar-benar buntu. Sebagai cucu yang menghormati kewibawaan sang Raja Vampir, ia kini memegang sebuah rahasia besar yang bisa meledakkan skandal diplomatik di Istana Alfheim jika sampai terdengar oleh Raja Arthur.
Tanpa Scarlett ketahui, selagi ia sibuk melarikan diri dari rasa malunya di koridor istana, badai takdir lain sedang bersiap menerjang Kota Luminara. Edgard—sepupu werewolf-nya yang baru saja ia antar—kini tengah menatap langit siang dengan batin yang didera kepanikan hebat, memantapkan tekad untuk segera melacak kembali keberadaan Elara demi melenyapkan bom waktu di dalam rahim sang Siren.