Di balik pesta megah dan sorotan lampu kristal, ada rahasia yang tak pernah terungkap.
Aga, pewaris muda perusahaan ternama, tampak memiliki segalanya, karier cemerlang, masa depan gemilang, dan keluarga yang berkuasa. Namun satu malam penuh gemerlap mengubah segalanya—malam ketika ia dan Nadia, sahabat masa kecil sekaligus rekan kerja, melakukan kesalahan yang tak bisa dihapus.
Nadia menyimpan rahasia besar, seorang anak yang lahir dari cinta tak direstui. Dipaksa oleh ibu Aga untuk pergi, ia memilih mengorbankan dirinya demi masa depan pria yang dicintainya. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di desa, ketika Aga melihat seorang bocah dengan wajah yang begitu mirip dirinya.
Di antara ambisi keluarga, perjodohan dengan putri konglomerat, dan bisikan masyarakat desa, Aga harus memilih: reputasi atau cinta, bisnis atau keluarga. Sementara Nadia harus berani membuka luka lama, mengakui kebenaran yang selama ini ia sembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tianse Prln, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebohongan Tentang Malam Panas
Mobil mewah itu berhenti tepat di depan pintu utama rumah besar bergaya klasik modern tersebut. Aga turun dengan langkah tenang, namun setiap otot di tubuhnya terasa tegang. Ia tahu, kedatangannya pagi ini bukan sekadar untuk sarapan, melainkan sebuah interogasi yang sudah ditunggu-tunggu.
Pintu terbuka lebar, dan sosok wanita anggun dengan busana elegan langsung menyambutnya dengan wajah ceria. Itu Nyonya Ardila, ibunya.
“Nah, ini dia anak mama sudah datang!” seru Nyonya Ardila dengan nada gembira, segera melangkah mendekat dan merapikan sedikit kerah jas Aga yang sudah rapi. “Ayo masuk, Nak. Makanan sudah siap di meja makan. Mama masak semua yang kamu suka lho.”
Aga tersenyum tipis, senyum yang dipaksakan agar ibunya tidak curiga. “Iya, Ma. Makasih.”
Namun, kehangatan itu seketika lenyap saat mereka melangkah masuk ke ruang makan. Di sana, Tuan Haris—Papanya, sudah duduk di kursi utama dengan wajah datar namun tatapannya tajam menusuk. Suasana ruangan yang luas itu seketika menjadi hening dan mencekam.
Tanpa menunggu Aga duduk, Pak Haris langsung membuka suara dengan nada yang berat dan dingin.
“Kemana saja kamu semalam, Aga?” tanya Pak Haris, matanya tak lepas dari wajah putranya. “Pesta ulang tahun perusahaan itu acara besar. Semua petinggi, klien, dan keluarga ada di sana. Tapi kamu? Kamu menghilang begitu saja di tengah acara. Papa cari ke mana-mana tidak ketemu. Dan yang paling parah… kamu tidak pulang ke rumah semalam. Bahkan tidak memberi kabar sama sekali.”
Aga berdiri tegap di hadapan ayahnya, berusaha menjaga ekspresinya tetap netral meski jantungnya berdegup kencang.
“Ada urusan mendadak, Pa,” jawab Aga pelan namun tegas. “Setelah memberikan sambutan, ada beberapa hal penting yang harus aku selesaikan. Jadi aku tidak bisa tinggal sampai acara selesai.”
“Urusan apa yang begitu penting sampai kamu harus menghilang seperti pencuri?” desis Pak Haris, suaranya mulai meninggi. “Dan kenapa kamu tidak pulang? Kamu tidur di mana semalam?”
“Aku menginap di hotel, Pa,” jawab Aga jujur pada sebagian fakta, namun menyembunyikan alasannya. “Karena setelah urusan itu selesai, hari sudah sangat larut, dan pagi ini aku harus segera mengecek lokasi proyek di daerah sekitar sana. Jadi aku memutuskan untuk istirahat sebentar di hotel agar lebih praktis dan tidak membuang waktu di perjalanan.”
Pak Haris mendengus kasar, tampak tidak terlalu percaya namun belum menemukan bukti untuk membantah. “Hotel? Sendirian?”
“Ya, sendirian.” Aga menjawab pertanyaan dengan tenang.
Nyonya Ardila yang berdiri di samping suaminya terlihat sedikit bingung dan khawatir. Ia menatap Aga, lalu matanya perlahan beralih menatap Mario yang berdiri diam di belakang Aga, menjaga jarak dengan sopan. Tatapan itu adalah tatapan meminta konfirmasi.
Mario, benarkah apa yang dikatakan anakku?
Kira-kira seperti itulah arti tatapan Nyonya Ardila saat ini.
Mario yang paham dengan maksud tatapan majikannya, segera menganggukkan kepalanya dengan cepat dan mantap. Wajahnya menunjukkan keseriusan penuh, seolah ia adalah saksi hidup yang paling dapat dipercaya.
“Benar apa yang dikatakan Pak Aga. Saya yang menemani Pak Aga di hotel itu,” ucap Mario dengan suara lantang dan meyakinkan, meski ia tahu betul kebohongan ini. “Semalam saya juga mendampingi Pak Aga berdiskusi mengenai masalah yang cukup pelik dan memakan waktu. Karena sudah sangat larut dan padatnya jadwal pagi ini, kami memutuskan untuk menginap di hotel terdekat. Saya juga ada di sana.”
Mendengar jawaban tegas dari Mario, orang kepercayaan keluarga yang paling setia, keraguan di hati Mama pun hilang seketika. Ia tersenyum lega dan menepuk pelan lengan suaminya.
“Nah, kan Pa. Sudah dengar sendiri dari Mario. Anak mama ini memang kerja kerasnya bukan main, sampai lupa waktu begitu,” ucap Nyonya Ardila dengan nada bangga namun penuh kasih sayang. Ia lalu menarik tangan Aga. “Sudah ah, jangan ditanya-tanya lagi kasihan Aga pasti capek. Ayo duduk, Ga. Nanti makanannya keburu dingin.”
Pak Haris masih menatap Aga tajam selama beberapa detik, seolah berusaha menembus pikiran putranya. Namun akhirnya ia hanya mendengus kasar dan memberi isyarat tangan.
“Duduk!” perintahnya singkat.
Aga menarik napas panjang dalam hati, lalu berjalan mendekati kursi makannya dan duduk dengan sikap tenang. Ia berhasil melewati pertanyaan demi pertanyaan itu dengan kebohongan yang dibungkus rapi. Tentu dengan bantuan Mario.
Saat Aga baru saja akan mengambil sendok dan garpu, suara Pak Haris kembali terdengar, kali ini lebih pelan namun sangat menekan.
“Jangan sampai aku tahu kamu berbohong, Aga. Jangan sampai aku tahu kegiatanmu semalam itu bukan soal pekerjaan,” ucap Pak Haris tanpa menatapnya. “Ingat posisi kamu. Kamu pewaris tunggal keluarga Santoso. Jangan rusak nama baik kita cuma karena hal-hal konyol.”
Aga menghentikan gerakannya sesaat, lalu menatap wajah ayahnya datar.
“Aku tahu apa yang aku lakukan, Pa. Aku tidak akan merusak apa pun,” jawab Aga dingin.
Nyonya Ardila segera mencairkan suasana dengan meletakkan potongan daging ke piring Aga. “Sudah makan dulu, yaa. Nanti baru dibicarakan soal rencana pertunangan kamu dengan Jenna. Keluarga Wijaya sudah konfirmasi soal jadwal makan malam minggu depan lho.”
Dada Aga sesak mendengar nama itu. Ia menunduk, menyembunyikan kemarahan dan kepedihan di matanya. Di meja makan mewah ini, ia merasa seperti tahanan. Dan satu hal yang pasti, perjuangannya untuk tetap bersama Nadia akan semakin berat, bahkan melawan keluarganya sendiri.
demi hrga dirimu...