NovelToon NovelToon
MENDADAK JADI TRILIUNER MUDA

MENDADAK JADI TRILIUNER MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Arrofy

SINOPSIS

Arkan Pradipta tidak pernah merasa dirinya gagal.

Ia hanya terlalu sering dipaksa mengalah oleh keadaan.

Di usia dua puluh dua tahun, hidupnya nyaris berhenti di tengah jalan. Kuliah Manajemen Bisnisnya tertunda, motor tuanya lebih sering batuk daripada melaju, dan setiap hari ia harus berpikir bagaimana cara membantu ibunya serta memastikan adiknya, Naya, tetap bisa mengejar masa depan.

Bagi orang lain, Arkan hanyalah pemuda miskin dari Pontianak yang tidak punya apa-apa.

Sampai suatu hari, saat ia dipermalukan karena tidak mampu menyelesaikan urusan biaya adiknya, sebuah suara asing muncul di kepalanya.

[Sistem Triliuner Absolut sedang melakukan pemindaian.]

[Saldo rekening: memprihatinkan.]

[Aset pribadi: tidak terdeteksi.]

[Kesimpulan: Tuan Rumah bukan miskin biasa.]

[Tuan Rumah adalah bencana finansial berjalan.]

Arkan mengira dirinya sedang berhalusinasi.

Namun beberapa detik kemudian, hidupnya berubah.

Rp3.000.000.000.000 masuk ke rekeningnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4 - BERKAS NAYA KELUAR

Untuk beberapa saat, tidak ada suara di ruangan itu.

Arkan menatap layar ponsel tanpa berkedip. Jantungnya seperti berhenti, lalu berdetak lagi dengan sangat keras.

Berhasil.

Uang itu bisa dipakai.

Uang itu benar-benar keluar.

Dan saldo rekeningnya...

masih tiga triliun lebih sedikit berkurang, seolah transaksi barusan tidak lebih dari setitik debu yang jatuh ke lautan.

[Transaksi berhasil.]

[Sisa saldo masih tidak masuk akal untuk standar hidup Tuan Rumah saat ini.]

[Rekomendasi: mulai biasakan diri.]

Arkan menelan ludah, lalu memutar layar ponselnya ke arah Pak Hendra.

“Sudah saya transfer.”

Pak Hendra tampak tidak langsung mengerti. Matanya turun ke layar ponsel Arkan, lalu dahinya berkerut. Pegawai perempuan di sampingnya ikut menoleh, mungkin karena refleks, mungkin karena nada Arkan yang terlalu tenang untuk seseorang yang sejak tadi dianggap tidak mampu membayar.

“Cek rekening yayasan,” kata Arkan.

Pak Hendra masih menatapnya seolah baru saja mendengar candaan buruk. Namun ia tetap memberi isyarat kepada pegawai perempuan itu.

“Rina, cek.”

Pegawai bernama Rina itu segera membuka komputer. Jemarinya bergerak di atas keyboard. Suara ketikan terdengar lebih jelas daripada sebelumnya karena ruangan mendadak kehilangan percakapan.

Naya berdiri di samping Arkan, matanya berpindah dari wajah abangnya ke layar komputer di meja.

Arkan sendiri masih memegang ponsel erat-erat.

Ia tahu transfer itu berhasil.

Tapi bagian kecil dalam dirinya masih menunggu dunia membantahnya.

Menunggu komputer mengatakan tidak ada transaksi.

Menunggu sistem bank error.

Menunggu Pak Hendra tertawa lagi dan berkata bahwa semua ini palsu.

Namun Rina tiba-tiba berhenti mengetik.

Wajah pegawai perempuan itu berubah.

Bukan terkejut besar, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa sesuatu yang tidak ia duga baru saja muncul di layar.

“Pak...” suara Rina pelan.

Pak Hendra menoleh. “Apa?”

“Dana masuk.”

Pak Hendra memandangnya tajam. “Berapa?”

Rina menyebutkan nominal yang sama persis dengan tunggakan Naya.

Kali ini, keheningan yang jatuh di ruangan itu terasa berbeda.

Tidak lagi menindas Arkan.

Melainkan menekan Pak Hendra.

Naya menutup mulutnya dengan tangan. Matanya membesar, bukan karena jumlahnya besar bagi dunia, tetapi karena bagi hidupnya, transfer itu berarti pintu yang hampir tertutup tiba-tiba terbuka kembali.

“Bang...” bisiknya.

Arkan tidak menoleh. Ia masih menatap Pak Hendra.

Wajah pria itu berubah sedikit. Tidak banyak. Orang seperti Pak Hendra terbiasa menjaga ekspresi. Tetapi Arkan bisa melihatnya—retakan kecil di sudut mata, jeda pendek sebelum pria itu bicara, perubahan samar pada cara ia duduk.

Ia tidak menyangka Arkan benar-benar membayar.

Pak Hendra mengambil kertas di meja, melihat data, lalu melihat layar komputer Rina. Bibirnya bergerak tipis.

“Baik,” katanya akhirnya. “Kalau pembayaran sudah masuk, berkas bisa diproses.”

Nada suaranya berubah.

Tidak ramah.

Tapi tidak setajam tadi.

Arkan menyadarinya, dan untuk pertama kalinya hari itu, ia paham sesuatu.

Uang tidak selalu membuat orang menghormatimu.

Tapi uang bisa membuat orang berhenti sembarangan menginjakmu.

[Sistem mencatat perubahan sikap dari subjek Hendra.]

[Kesimpulan: dana kecil berhasil mengurangi volume kesombongan sebesar 17%.]

[Rekomendasi: untuk efek maksimal, beli yayasan.]

Arkan hampir tersedak napasnya sendiri.

“Jangan,” batinnya cepat.

[Sistem hanya memberi opsi efisien.]

“Aku baru saja transfer tunggakan. Jangan langsung bicara beli yayasan.”

[Catatan: standar ambisi Tuan Rumah masih rendah.]

Arkan memijat pangkal hidungnya sekilas.

Pak Hendra memperhatikan gerakan itu dengan curiga. “Ada masalah?”

Arkan menurunkan tangan. “Tidak. Saya hanya ingin berkas adik saya selesai hari ini.”

“Bisa,” jawab Pak Hendra, sedikit lebih cepat dari sebelumnya. “Rina, siapkan berkas Naya.”

Rina mengangguk dan segera berdiri menuju lemari arsip.

Naya masih seperti belum percaya. Ia menatap Arkan dengan mata basah. Gadis itu membuka mulut, ingin bertanya, tetapi menahannya. Ruangan ini bukan tempat yang tepat untuk bertanya dari mana abangnya tiba-tiba bisa membayar tunggakan.

Arkan tahu pertanyaan itu akan datang.

Dari Naya.

Dari ibu.

Dari dirinya sendiri.

Namun untuk sekarang, ia hanya ingin memastikan satu hal dulu.

Berkas Naya harus keluar dari ruangan ini.

Beberapa menit berikutnya berjalan lambat. Rina mengambil map dari lemari, memeriksa dokumen, lalu menaruhnya di atas meja. Ada ijazah, transkrip nilai, surat keterangan, dan beberapa berkas lain yang selama ini tertahan seperti barang sanderaan.

Naya menatap map itu dengan napas tertahan.

Pak Hendra membubuhkan tanda tangan di beberapa lembar kertas, lalu menyodorkannya.

“Ini berkasnya,” katanya. “Jaga baik-baik. Untuk pendaftaran kampus, jangan sampai terlambat.”

Kalimat itu terdengar seperti nasihat biasa.

Namun Arkan mengingat semua yang diucapkan pria itu beberapa menit sebelumnya.

Jangan memaksakan diri.

Keinginan harus disesuaikan dengan kemampuan keluarga.

Tidak semua mimpi bisa dikejar.

Arkan menerima berkas itu, lalu menyerahkannya kepada Naya. Gadis itu memeluk map tersebut ke dada seolah sedang memeluk sesuatu yang hampir hilang.

“Terima kasih, Pak,” ucap Naya lirih.

Arkan tidak ikut mengucapkan terima kasih.

Ia hanya menatap Pak Hendra dengan tenang.

“Lain kali,” katanya pelan, “kalau ada siswa yang keluarganya terlambat bayar, cukup jelaskan aturan. Tidak perlu menghina mimpinya.”

Rina yang berdiri di samping lemari langsung menunduk.

Naya menatap Arkan dengan kaget.

Pak Hendra membeku sesaat. Wajahnya mengeras, tetapi ia tidak langsung membentak seperti sebelumnya. Mungkin karena uang sudah masuk. Mungkin karena Arkan tidak lagi terdengar seperti pemohon. Mungkin karena ada sesuatu dalam tatapan pemuda itu yang membuatnya sulit membalas dengan nada lama.

“Arkan,” kata Pak Hendra perlahan, “saya hanya menjalankan tugas.”

“Kalau begitu jalankan tugasnya saja.”

Ucapan Arkan tidak keras.

Namun ruangan terasa lebih sunyi setelahnya.

Di dalam kepalanya, sistem memberi komentar dengan nada datar.

[Respons cukup baik.]

[Level intimidasi: rendah, tetapi meningkat.]

[Catatan: Tuan Rumah belum sepenuhnya memalukan.]

Arkan tidak tahu apakah harus merasa tersinggung atau lega.

Ia menggandeng Naya keluar dari ruang administrasi. Langkah mereka melewati lorong yang sama, tetapi suasananya berbeda. Naya memeluk map itu erat, sementara Arkan berjalan dengan dada yang masih penuh pertanyaan.

Di luar, udara Pontianak menyambut mereka dengan panas lembap yang sama seperti tadi.

Motor tua Arkan masih terparkir di halaman. Catnya kusam. Spionnya sedikit miring. Joknya mulai retak di bagian depan.

Semua terlihat sama.

Padahal hidup Arkan baru saja tidak sama lagi.

Naya berhenti di samping motor, lalu menatap abangnya dengan mata yang tidak bisa menyembunyikan kebingungan.

“Bang,” suaranya pelan, “uang tadi dari mana?”

Arkan diam.

Ia tahu pertanyaan itu akan datang.

Tapi ia belum punya jawaban.

Bukan jawaban yang masuk akal.

Bukan jawaban yang bisa membuat Naya tenang.

Ia menatap ponsel di tangannya. Layar sudah kembali normal, tetapi di sudut atas muncul ikon kecil berwarna emas yang tidak pernah ada sebelumnya. Ikon itu berbentuk huruf T di dalam lingkaran, berdenyut pelan seperti mata yang sedang terbuka.

[Sistem menyarankan Tuan Rumah tidak mengatakan: aku mendapat tiga triliun dari suara di kepala.]

[Potensi membuat adik panik: tinggi.]

Arkan menahan napas.

Untuk sekali ini, ia setuju dengan sistem.

Ia menoleh kepada Naya. Gadis itu menatapnya dengan penuh harap, cemas, dan sedikit takut.

Arkan memaksa dirinya tersenyum tipis.

“Abang jelaskan nanti di rumah.”

Naya tidak terlihat puas, tetapi ia mengangguk pelan.

Mungkin karena ia juga masih terlalu lelah untuk bertanya lebih jauh.

Arkan mengambil helm dari motor dan menyerahkannya kepada Naya. Tangannya masih sedikit gemetar. Ia berharap Naya tidak menyadarinya.

Namun sistem menyadarinya.

[Tangan Tuan Rumah masih gemetar.]

[Catatan: setelah menerima tiga triliun rupiah, Tuan Rumah masih akan pulang menggunakan motor tua.]

[Kesimpulan: kekayaan telah aktif, tetapi gaya hidup belum mendapatkan pembaruan.]

Arkan memasang helmnya sendiri dengan gerakan pelan.

“Motor ini masih bisa jalan.”

[Benar.]

[Secara teknis, benda itu masih kendaraan.]

[Secara estetika, benda itu adalah penghinaan terhadap status triliuner muda.]

Arkan menahan diri agar tidak berbicara keras di halaman sekolah.

Naya naik ke jok belakang sambil memeluk mapnya. Arkan menyalakan motor. Mesin tua itu meraung kasar, batuk dua kali sebelum akhirnya hidup.

Sistem langsung berbunyi.

[Peringatan.]

[Suara mesin kendaraan Tuan Rumah menyerupai alat pertanian yang kehilangan tujuan hidup.]

Arkan memejamkan mata sejenak.

Hari ini ia baru saja menjadi triliuner muda.

Tapi entah kenapa, hal pertama yang ingin ia lakukan bukan membeli mobil mewah.

Bukan membeli rumah besar.

Bukan membalas semua orang yang pernah menghinanya.

Ia hanya ingin pulang.

Memastikan ibu baik-baik saja.

Memastikan Naya bisa bernapas lega.

Lalu duduk sebentar di tempat yang tenang untuk mencari tahu apakah hidupnya benar-benar baru saja berubah, atau ia sedang berjalan terlalu jauh ke dalam mimpi yang belum ia pahami.

Motor tua itu bergerak keluar dari halaman sekolah.

Di belakangnya, bangunan administrasi perlahan menjauh.

Namun sebelum Arkan benar-benar meninggalkan gerbang, ponselnya kembali bergetar di saku jaket.

Satu notifikasi baru muncul.

Bukan dari bank.

Bukan dari aplikasi biasa.

Melainkan dari Sistem Triliuner Absolut.

[Analisis situasi selesai.]

[Masalah pertama berhasil diselesaikan.]

[Hadiah adaptasi awal telah dibuka.]

[Otoritas Aset Level 1 aktif.]

[Aset lokal terdekat sedang dipindai.]

[Target potensial ditemukan.]

[Nama aset: Yayasan Pendidikan Bintang Khatulistiwa.]

[Status: dapat diakuisisi.]

Arkan hampir mengerem mendadak.

Naya yang duduk di belakang langsung memegang bahunya. “Bang?”

Arkan menatap jalan di depan dengan mata melebar.

Di kepalanya, suara sistem terdengar sangat tenang.

[Rekomendasi ulang.]

[Beli yayasan itu.]

1
irena
arkan harus lanjut kuliah.. klo perlu tambah pintar dianya thor.. supaya ga dibegoin dan dimanfaatkan sama orang orang jahat
AntoniusSadi
teruskan, gas pol bang
irena
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!