Bagaimana jadinya, hidup kembali sebagai wanita ahli pedang di zaman kuno?
Sudah pastinya begitu tidak menyenangkan, Anya seorang dokter Bedah yang meninggal karena di khianati oleh seorang sahabat nya.
Ia bereinkarnasi menjadi wanita ahli pedang di zaman Kerajaan China kuno. Bagaimana kisah nya?
Baca kisahnya... Di
— Cinta Wanita Pedang —
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Dua Dimensi?
Sinar itu mengecil begitu kecil hingga hilang dari — seluruh tubuh Anya gadis itu membuka matanya, perlahan-lahan ia mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya masuk ke retina nya.
Tetiba matanya membola melihat, tempat apa yang sekarang ia injakkan kakinya. Ia bangkit dari duduknya lalu keliling ruangan tersebut dengan perasaan bahagia,
" Apartemen guee?!, yes gue kembali! " Pekik Anya kala berada kembali di apartemen nya yang begitu luas dan di huni ke sunyian Anya bergegas menuju dapur lalu. Membuka pintu kulkas empat pintu lalu mengambil minuman kaleng ia meneguk— seluruh nya,
" Aish!, enak sekali gue benar-benar bisa kembali akhirnya! " Seru Anya sembari mengambil sebuah apel yang ada di meja makan Ia mengunyahnya menikmati setiap gigitan.
Tetiba ia mengaruk-ngaruk, kepalanya yang tidak gatal " Kenapa aku bisa kembali ke rumah ini lagi? " Tanya Anya dengan suara penuh kebingungan
" Ah, apa aku kemarin hanya halusinasi aja kali ya?. Udahlah mending bobo ca- kalimat itu terpotong begitu saja saat sebuah sinar, menarik tubuh Anya ke sebuah cahaya yang begitu besar sekali.
Rasa dingin membekukan tulang-tulang Anya, ia mengigit bibir dalam nya kala melihat ia berada di kediaman kembali. Anya menghela napas dengan kasar
" Shitt!, kenapa sih harus kembali lagi ke sini?. Gedek! " Anya menghentakkan kakinya baru saja ia menikmati kehidupan nya, di apartemen nya namun sekarang dirinya harus — kembali ke zaman kuno kembali.
𝘒𝘳𝘦𝘬!
Pintu terbuka lebar, menampilkan dua orang dayang ia melangkah mendekati ranjang Anya ia langsung menekuk lutut kedua tangan nya menangkup di dada hormat.
" Sembah Yang Mulia Puteri Agung " Salam Mereka hormat
" Bangun ada apa kenapa kalian kesini? " Tanya Anya dengan dongkol menatap kedua dayang
" Begini Yang Mulia Puteri Agung, Panglima Barata Zhou ingin bertemu dengan anda Panglima menunggu Yang Mulia Puteri Agung di depan " Jelas Salah satu Dayang
" Panglima Barata?, ada apa dia kenapa mau bertemu ku? " Tanya Anya pada dirinya sendiri ia bergegas berjalan ke arah pintu diiringi kedua dayang tersebut.
Suara decitan pintu terdengar nyaring, membuat seorang lelaki tampan yang sejak tadi menunggu di depan kamar Puteri Agung mengangkat pandangannya ke arah pintu. Ia langsung melakukan sembah nya kepada Puteri kaisar nya tersebut,
" Aku Terima sembah mu!, ada apa kenapa kamu kesini? " Tanya Anya cuek menatap lelaki berbadan tinggi setinggi tiang listrik, badannya juga sangat kekar sekali membuat nya berdecak kagum
" Yang Mulia maaf menganggu Yang Mulia, namun ini begitu serius sekali " Kata Lelaki tersebut dengan nada serius membuat Anya berkerut dahi " Cepetan ngomong! "
" Begini Puteri, Kerajaan Bulan Emas di serang oleh Kerajaan Naga Hitam " Jelas Barata Zhou membuat Anya berkerut dahi lalu bertanya dengan nada santai, " Lalu apa hubungan denganku?, harusnya kamu dong yang lawan mereka situkan Panglima! "
" Tuan Puteri Agung, Hamba di perintah Kaisar Tianqi Lii untuk menyertakan Puteri Agung di Perang kali ini seperti sebelumnya. Apakah Puteri Agung bersedia? " Ujar Barata Zhou membuat Anya membola matanya
" Whatt!!, gila aja ya gue ngga bisa perang! Gue bisanya operasi orang! " Anya menguyar rambut panjangnya tersebut prustasi.
" Puteri Agung, ini adalah perintah dan mungkin prajurit dan pasukan yang lainnya sedang menunggu kita bersiaplah seperti biasanya " Ujar Barata Zhou dingin
" Tapi, " Anya mengigit bibir nya, raut nya begitu gelisah sekali — seolah perang adalah kematian baginya. Ia biasa menyelamatkan nyawa orang di meja operasi, tidak pernah terlintas di pikirannya untuk pergi ke medan perang ia tidak mau membahayakan dirinya!
" Puteri? " Panggil Barata
Anya menundukkan kepalanya, " 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶, 𝘢𝘬𝘶 𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢-𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢𝘪𝘯 𝘥𝘪 𝘮𝘦𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢. 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘰𝘣𝘢𝘵𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢!, 𝘴𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘈𝘯𝘺𝘢!.. 𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘢𝘯𝘫𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘥𝘰𝘬𝘵𝘦𝘳 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘮𝘣𝘶𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘳𝘢𝘬𝘺𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢! " Batin Anya maniknya bersinar terang
" Kita pergi! " Seru Anya dengan suara penuh semangat membuat Barata menarik bibirnya, hingga berbentuk bulan sabit.
" Mari yang Mulia menangkan perang ini! " Barata mengikuti langkah kaki wanita tersebut keluar dari kediaman dimana, prajurit langsung memberi sembah sementara Dayang-dayang berlarian memakaikan baju perang untuk wanita tersebut yang sudah lebih dari 20 tahun ikut berperangan.
" Yang Mulia ini pedang anda " Barata menyerahkan sebuah pedang begitu tajam dan panjang sekali, mata Anya berkilat penuh kebingungan seperti nya ia pernah melihat benda tersebut.
" Pedang ini adalah pedang darah milik anda Puteri Agung, silakan diambil! " Barata mendekati pedang tersebut ke Anya dengan cepat tangan-Nya mengambil pedang tersebut
Tetiba tangannya bergetar hebat, Hawa dingin menusuk nusuk setiap inci tubuhnya. Selarik sinar putih menelusup masuk ke dalam tubuhnya — lalu cahaya itu memudar membuat tubuh Anya terlihat begitu berenergi sekali. " Pedang ini sakti! " Gumamnya