Bagi Aira, bekerja di kafe itu hal biasa. Sampai ada Arjun-cowok keturunan India yang selalu datang jam sama, pesan minum sama, dan punya senyum yang bikin hati salah tingkah. Di lehernya selalu ada benang merah, katanya itu tanda ikatan. Dan suatu hari, dia mau ikat tali itu juga di tangan Aira, bilang kalau dia udah nggak mau cari ke mana-mana lagi. Cukup Aira aja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Hari itu, untuk pertama kalinya sejak kami berjanji untuk membuktikan kesungguhan hati, aku tak datang ke kafe tempat Aira bekerja. Ada urusan mendadak di toko milik keluargaku yang harus aku tangani sendiri, mulai dari pengecekan barang, pembukuan, hingga melayani pelanggan yang berdatangan silih berganti.
Seharian penuh aku sibuk di sana, tangan dan pikiranku tak sempat beristirahat barang sedetik pun. Meski begitu, di sela-sela kesibukan itu, bayangan wajah Aira tak pernah lepas dari ingatanku. Aku bertanya-tanya, apakah ia makan dengan baik hari ini? Apakah ia kelelahan? Apakah ia mencariku?
Sementara itu, di tempat lain, Aira ternyata juga merasa ada yang hilang dari rutinitas hariannya. Sepanjang hari ia bekerja dengan perasaan yang tak menentu. Biasanya, ada aku yang selalu ada di sudut pandangannya, ada aku yang diam-diam membantunya, ada aku yang selalu siap sedia.
Namun hari ini, sudut itu kosong. Kehadiran yang dulu sering ia acuhkan dan tolak, kini justru menjadi hal yang paling ia nanti-nantikan.
Perlahan namun pasti, pertahanan hatinya yang kokoh itu benar-benar runtuh. Selama berminggu-minggu merasakan ketulusan, kesabaran, dan perhatianku yang tak pernah berubah, rasa curiga dan takut itu perlahan berganti menjadi rasa nyaman, rasa aman, dan rasa cinta yang tumbuh diam-diam. Ia sadar betul, bahwa ia tak lagi bisa membayangkan harinya tanpa kehadiranku. Ia sadar, bahwa luka masa lalunya sudah mulai sembuh, dan aku lah obatnya.
Sore itu, saat jam kerjanya selesai, Aira berniat melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Ia ingin memberi kejutan kecil. Ia ingin membalas sedikit dari ribuan kebaikan yang telah aku berikan padanya. Ia membeli dua gelas teh tarik hangat, minuman kesukaanku yang sering sekali ia dengar aku sebutkan, lalu berjalan menuju ke toko keluargaku.
Hatinya berdebar kencang, campuran antara rasa gugup dan rasa bahagia yang baru pertama kali ia rasakan setelah sekian lama menutup diri. Ia membayangkan wajahku yang akan terkejut dan senang saat melihat kedatangannya. Ia membayangkan, mungkin hari ini ia akan memberiku sedikit kepastian yang selama ini aku tunggu.
Namun takdir berkata lain. Saat ia sampai di depan toko dan mengintip sedikit dari balik kaca jendela, senyum yang sedang ia gantungkan di bibirnya seketika lenyap begitu saja. Jantungnya serasa berhenti berdetak, napasnya tertahan di kerongkongan, dan rasa sakit yang dulu pernah ia rasakan kembali menghantam dadanya dengan keras.
Di sana, di dalam toko, ia melihatku. Aku sedang berdiri di balik meja, sedang berbicara dengan seorang wanita. Wanita itu adalah Diya, sosok yang dulu sempat menjadi alasan kecemburuan dan kebingungan kami. Dan yang paling menyakiti hatinya... cara kami berdiri terlihat begitu dekat.
Bahuku dan bahu Diya hampir bersentuhan. Aku terlihat sedang menjelaskan sesuatu dengan serius, sementara Diya menatapku lekat-lekat sambil tersenyum akrab, sesekali mengangguk atau tertawa kecil mendengar ucapanku.
Bagi Aira, pemandangan itu adalah pukulan telak. Di matanya, semua perjuangan, semua kata-kata manis, semua janji kesungguhan yang aku ucapkan selama ini... rasanya seolah hanyalah kebohongan belaka.
Rasa takut yang dulu sempat ia kubur dalam-dalam, rasa takut dikhianati dan dikecewakan, kini bangkit kembali dengan kekuatan yang berlipat ganda. Ia merasa dunianya runtuh. Ia merasa aku sama saja seperti orang lain. Ia merasa bodoh karena akhirnya ia percaya, ia merasa bodoh karena akhirnya ia mulai mencintaiku.
Gelas teh tarik di tangannya terasa berat dan dingin. Ia tak sanggup melihat lebih lama lagi. Dengan hati yang hancur dan mata yang mulai memanas menahan air mata, Aira berbalik cepat, berniat pergi dari sana, berniat menjauh secepat mungkin sebelum ia benar-benar menangis di tempat itu.
Namun langkah kakinya baru saja melangkah beberapa langkah, saat aku tanpa sengaja mengangkat wajah dan menoleh ke arah jendela. Sekilas aku melihat sosok yang sangat kukenal, sosok yang sedang berjalan menjauh dengan langkah yang terburu-buru dan punggung yang terlihat begitu rapuh dan sedih.
"Aira?!"
Tanpa berpikir dua kali, aku segera berlari keluar toko, meninggalkan Diya yang masih ada di dalam sana. Aku berteriak memanggil namanya, berlari secepat mungkin mengejar langkah kakinya yang makin cepat dan tak terarah.
"Ra! Aira, tunggu!"
Akhirnya aku berhasil meraih lengan lengannya pelan namun tegas, menahannya agar tak pergi lebih jauh lagi. Aira berhenti, namun ia tak berani menoleh. Ia memunggungiku, bahunya bergetar hebat menahan tangis yang hampir meledak.
"Ra... kamu dari tadi ada di situ? Kamu lihat aku?" tanyaku cepat, napasku sedikit memburu karena berlari, hatiku mulai gelisah melihat kondisinya yang seperti ini.
Aira perlahan berbalik. Wajahnya basah, matanya merah, tatapannya penuh rasa sakit, kekecewaan, dan cemburu yang mendalam. Ia menatapku dengan pandangan yang seolah aku telah melakukan dosa besar padanya.
"Kenapa kamu panggil aku, Arjun?" suaranya terdengar parau dan pecah.
"Pergi sana sama dia. Teruslah ngobrol, teruslah senyum-senyum kayak tadi. Buat apa kamu ngejar aku?"
Hatiku langsung tersayat mendengar nada bicaranya itu. Aku sadar seketika. Ia salah paham. Ia melihatku bersama Diya, ia melihat kedekatan itu, dan dalam pikirannya yang masih menyimpan trauma masa lalu, ia langsung menyimpulkan hal yang salah.
"Ra, dengerin aku dulu..." ucapku lembut, berusaha mendekat, namun ia mundur selangkah, menjaga jarak yang menyakitkan.
"Apaan lagi yang mau dijelasin? Aku udah lihat semuanya, Arjun!" potongnya cepat, air matanya mulai mengalir bebas di pipinya.
"Aku pikir kamu beda. Aku pikir kamu sungguh-sungguh. Aku pikir... aku pikir aku akhirnya nemu orang yang beneran tulus. Tapi ternyata sama aja kan? Semua omongan kamu, semua bukti yang kamu kasih selama ini... ternyata cuma buat bikin aku percaya aja ya? Ternyata kamu juga bisa deket sama cewek lain, ketawa sama cewek lain, kayak gitu di belakang aku."
Ia terisak pelan, menundukkan wajahnya, tak sanggup lagi menatapku.
"Arjun... aku udah mulai percaya. Aku udah mulai buang rasa takut aku. Aku udah mulai cinta sama kamu..."
Kalimat itu meluncur keluar, jujur, menyakitkan, namun begitu indah. Aku tertegun, jantungku berdegup kencang tak terkendali mendengar pengakuan itu. Ia cinta sama aku. Ia akhirnya mengakuinya. Tapi keadaan sekarang justru membuat pengakuan itu keluar lewat rasa sakit.
"Aku cinta sama kamu, Arjun," ulangnya lagi dengan suara yang makin pelan namun tegas, penuh kepedihan.
"Dan itulah kenapa aku sakit banget lihat kamu sama dia. Itulah kenapa aku cemburu setengah mati. Itulah kenapa rasanya aku mau hancur sekarang. Aku takut banget... takut kamu berubah, takut kamu nyakitin aku, takut aku salah milih orang lagi. Dan tadi... pas aku lihat kamu sama Diya... rasanya semua ketakutan itu jadi kenyataan."
Aku tak bisa diam lagi. Aku melangkah cepat mendekat, kali ini aku tak membiarkannya mundur lagi. Aku berdiri tepat di hadapannya, tanganku perlahan namun lembut menggenggam kedua bahunya, memaksanya menatap mataku.
Mataku juga mulai berkaca-kaca, campuran rasa haru mendengar ia cinta padaku dan rasa sakit melihatnya bersedih begini.
"Ra, dengerin aku baik-baik, tolong..." suaraku bergetar namun penuh ketegasan dan ketulusan.
"Kamu salah paham. Kamu salah baca semuanya."
Aku menghela napas panjang, berusaha menenangkan diri agar bisa menjelaskan dengan benar.
"Diya datang tadi cuma mau nitip pesanan barang buat ibunya. Dia nanya soal barang yang dia mau beli, aku jelasin detailnya karena dia nggak ngerti. Kami berdiri deket karena di belakang meja itu sempit, Ra. Dia senyum karena aku bantuin dia itung harga. Itu aja. Nggak ada obrolan lain, nggak ada rasa lain, nggak ada apa-apa. Percuma aku berjuang setahun kalau aku malah ngelakuin hal bodoh kayak gitu, Ra. Percuma aku nunggu, percuma aku sabar, percuma aku sakit hati tiap kali liat kamu sama cowok lain... kalau akhirnya aku malah nyakitin kamu gini."
Aku menatap matanya lekat-lekat, menembus kabur air mata yang ada di sana.
"Kamu tadi bilang kamu cinta sama aku?" tanyaku pelan, suaraku melembut.
Aira diam, ia mengangguk pelan sambil terisak, wajahnya memerah karena malu dan sedih.
"Dan kamu bilang kamu cemburu?" lanjutku lagi dengan senyum yang mulai merekah meski ada air mata di mataku.
Lagi-lagi ia mengangguk, kali ini lebih kuat.
"Iya... aku cemburu. Aku nggak suka kamu deket sama cewek lain. Aku pengen kamu cuma buat aku. Aku pengen kamu ngomong manis cuma sama aku. Aku pengen kamu jagain cuma aku..."
Kalimat-kalimat itu terdengar manis dan lucu sekaligus, namun begitu jujur dari lubuk hatinya yang paling dalam.
Aku tersenyum lebar, senyum paling bahagia yang pernah aku punya seumur hidupku. Aku perlahan mengusap air mata di pipinya dengan jemariku, gerakan yang lembut dan penuh kasih sayang.
"Ra, dengerin ya..." bisikku pelan, mendekatkan wajahku ke hadapannya, membuatnya hanya fokus padaku.
"Itu semua yang kamu pengen... udah jadi milik kamu dari dulu. Hatiku, waktuku, perhatianku, seluruh hidupku... udah jadi milik kamu sejak hari pertama aku sadar aku cinta sama kamu. Di mata aku, nggak ada cewek lain selain kamu. Di hati aku, nggak ada ruang buat orang lain selain kamu. Diya, atau siapa pun cewek di dunia ini... nggak ada artinya buat aku. Cuma kamu. Cuma kamu satu-satunya."
Aku menggenggam kedua tangannya yang dingin dan gemetar, menempelkannya di dadaku, tepat di tempat jantungku berdegup kencang.
"Rasain ini. Ini detak jantung aku. Ini semua berdetak buat kamu aja. Aku udah buktiin selama ini kan? Aku udah sabar nunggu, udah tulus jagain kamu, udah buang semua rasa curiga kamu pelan-pelan. Dan hari ini... kamu sendiri yang bilang kamu cinta sama aku. Kamu sendiri yang bilang kamu cemburu. Itu artinya kan? Kamu udah percaya sama aku, Ra. Kamu udah nerima aku."
Aira menatapku lekat-lekat. Rasa sakit dan curiga di matanya perlahan berganti menjadi rasa lega, rasa bahagia, dan rasa cinta yang mendalam. Ia menyadari kebenaran di balik penjelasanku. Ia menyadari bahwa ketakutannya itu hanya akibat masa lalu yang menghantuinya, bukan karena aku salah.
Ia mengangguk pelan, bibirnya gemetar membentuk senyum yang paling indah yang pernah aku lihat.
"Iya..." jawabnya pelan namun jelas.
"Aku percaya sama kamu, Arjun. Aku udah percaya sepenuhnya. Aku... aku mau kamu. Aku mau kita sama-sama. Aku mau kamu jadi milik aku, dan aku jadi milik kamu."
Hati aku rasanya meledak penuh kebahagiaan. Segala lelah, segala sabar, segala perjuangan selama ini terbayar lunas seketika. Aku tersenyum bahagia, lalu perlahan menarik tubuhnya ke dalam pelukanku, memeluknya erat namun lembut, seolah takut ia hilang lagi. Ia membalas pelukan itu, membenamkan wajahnya di dadaku, menangis lagi kali ini, tapi bukan karena sedih, melainkan karena bahagia.
"Terima kasih, Ra..." bisikku di dekat telinganya, penuh haru.
"Terima kasih akhirnya percaya. Terima kasih udah mau jadi milik aku. Aku janji, mulai hari ini sampai kapan pun... aku bakal bikin kamu lupa sama rasa sakit apa pun. Aku bakal jagain kamu lebih dari sebelumnya. Aku bakal bikin kamu jadi wanita paling bahagia."
Di bawah langit sore yang mulai berwarna jingga, di pinggir jalan itu, segala kebingungan, segala jarak, segala rahasia yang ada di antara kami selama ini akhirnya lenyap. Kami akhirnya resmi menjadi satu.
Aira, wanita yang dulu menutup hati rapat-rapat karena luka masa lalu, kini akhirnya terbuka dan jatuh cinta padaku sepenuhnya. Dan aku, laki-laki yang berjuang sabar dan tulus selama berbulan-bulan lamanya... akhirnya mendapatkan hadiah terindah yang selalu aku doakan.
Kisah perjuangan pembuktian kesungguhan hati ini berakhir bahagia, dan kini dimulailah bab baru: kisah cinta kami yang tulus, aman, dan penuh kebahagiaan abadi.