"I am cursed with an undying soul... forced to return, again and again. And in every life, in every death, it is always you my heart remembers."
"Aku dikutuk dengan jiwa yang tak bisa mati... dipaksa untuk kembali, lagi dan lagi. Dan di setiap kehidupan, di setiap kematian, hanya kamu yang selalu diingat hatiku."
"I cannot follow you beyond death, I cannot chase you through eternity... so I will stay here, loving you with an undying heart in every lifetime I'm given-until time finally takes me away from you."
"Aku tak bisa mengikutimu melewati kematian, tak bisa mengejarmu dalam keabadian... jadi aku akan tetap di sini, mencintaimu dengan hati yang tak pernah mati di setiap kehidupan yang diberikan padaku-sampai waktu akhirnya merenggutku darimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yersya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
“Ingin pulang!”
Setelah berkeliling kesana kemari, aku akhirnya menyerah. Sejak aku keluar dari rumah, yang aku temukan hanya gedung-gedung tinggi, kendaraan yang ramai disertai klakson dan teriakan akibat macet, dan orang-orang yang berlalu lalang sambil melirik ke arahku yang berjalan sambil celingak-celinguk dengan wajah bingung. Ada kalanya seseorang bertanya, kakak-kakak cantik memakai seragam sma.
“Apa kamu tersesat, dek? Di mana orang tuamu?”
“Aku dari rumah, mencari kantor orang tuaku. Tapi aku tidak tahu di mana.”
Sebenarnya aku ingin mencari paman. Tapi karena aku tidak punya petunjuk sama sekali, lebih baik aku mencari orang tuaku dulu.
“Apa kamu tahu nama kantor orang tuamu?”
Kakak itu bertanya dengan sedikit heran.
“Kantor X”
“Ah, kalau itu…” kakak itu berbalik, lalu menunjuk sebuah gedung tinggi yang ada di kejauhan. “… lihat, ada di sana.”
Aku memicingkan. Samar-samar aku dapat melihat nama kantor ayah dan ibu. Wajahku langsung berbinar.
“Terima kasih, kak!”
“Selow”
Aku memiringkan wajahku dengan heran ketika kakak itu mengatakan sesuatu yang aneh dengan senyuman cerah.
“Se… low?”
“Haha. Nisa, lu ngomong apa sih di depan anak-anak?”
Kakak satu lagi menepuk kakak yang membantuku ini.
“Hehe. Sorry, sorry.”
Kakak ini juga menggunakan kata yang tidak aku mengerti. Dan entah kenapa, kakak ini dan teman-temannya malah tertawa.
Setelah kakak-kakak itu pamit pergi dan menyuruhku agar berhati-hati, aku kembali berterima kasih, lalu melanjutkan perjalananku. Tapi pada akhirnya, aku menyerah karena terus berputar-putar dan tidak kunjung sampai. Aku bahkan tidak tahu di mana dan ke mana arah rumahku sekarang. Benar-benar tersesat.
Rasa panik menggelegar. Dadaku terasa sangat sesak, seolah-olah udara di tempat ini habis. Napas gundahku keluar pendek-pendek. Kakiku yang terbalut sepatu sandal kecil ini sudah mati rasa karena terlalu lama berjalan. Aku terduduk di atas paving block trotoar yang berdebu, memeluk lutut di bawah bayang-bayang tiang lampu jalan yang dingin.
Langit kota berubah warna menjadi jingga keemasan. Matahari perlahan mulai turun, membuat bayangan gedung-gedung memanjang dan menakutkan—terutama bagi anak perempuan berumur lima tahun yang tersesat sendirian di tengah kota yang sangat besar ini.
Pertahananku runtuh. Tangis yang sejak tadi kutahan di tenggorokan akhirnya pecah. Air mata meleleh deras, membuat pipiku terasa gatal dan lengket oleh debu jalanan. Aku menangis sesegukan, menyembunyikan wajah di lipatan gaun kecilku yang kini kotor.
Dalam ketakutan ini, aku sangat merindukan paman. Biasaya, jam segini paman akan membelikanku es krim vanilla. Ketika aku menangis seperti sekarang pun, paman akan menggendongku, mengusap rambutku, dan berkata dengan suara ngebassnya yang menenangkan, “Tuan putri paman jangan nangis lagi, sakitnya biar paman yang ambil.” Tapi sekarang, tidak ada paman. Aku sendirian di tempat asing yang bising ini.
Paman… paman di mana?
Aku memeluk kakiku lebih erat, mencoba menguatkan diriku sendiri meskipun tubuhku gemetaran sedari tadi.
“Apa yang kau lakukan?”
Suara cempreng terdengar. Aku menahan napas, buru-buru mendongak dengan mata yang basah dan pandangan yang masih buram. Sesosok anak laki-laki yang terlihat seumuran denganku berdiri tepat di hadapanku. Pakaiannya terlihat lusuh. Rambut hitamnya berantakan. Matanya menatapku dengan tajam. Meskipun begitu, di tengah-tengah kehancuran yang aku rasakan, aku dapat merasakan kehangatan darinya. Perasaan yang sama persis seperti saat paman memelukku ketika aku ketakutan karena suara petir yang menggelegar di kala badai.
Dengan gugup aku menceritakan masalahku kepada anak itu, kecuali bagian aneh seperti mimpi atau pengulangan yang aku alami sebelumnya. Setelah mendengarnya, anak itu bilang akan menuntunku ke kantor ayah dan ibu. Dia bilang sih, dia tahu jalannya, karena dia sering lewat sana katanya.
Akupun berdiri. Namun ketika hendak pergi, anak itu mengangkat tangan kanannya, lalu menampar angina disebelah kepalaku, lalu menatap permukaan paving block trotoar yang tidak ada apa-apa di sana.
“A-ada apa?”
Aku bertanya dengan gugup. Tatapan matanya masih tajam menatap ke bawah meskipun tidak ada apa-apa di sana.
Anak itu tidak menjawab pertanyaanku, lalu berjalan sambil menyuruhku untuk mengikutinya. Aku terdiam sejenak dengan penuh keheranan sebelum mengikutinya dari belakang. Anak itu terus berjalan tanpa berkata sepatah katapun. Pandangannya lurus ke depan, tidak sekalipun dia melirik ke arahku, seolah dia tidak peduli—atau mungkin dia tahu kalau aku terus mengikutinya? Tidak hanya pakaiannya yang lusuh, tapi juga ada beberapa memar di tubuhnya. Apa dia habis berkelahi?
Meskipun aku ingin mengajaknya bicara, tapi tatapan tajamnya membuatku takut, dan kalimatku terhenti di tenggorokan. Karena itu perjalanan singkat ini hanya diisi dengan keheningan, sehingga pada akhirnya kami sampai di depan kantor orang tua ku, lalu dia pergi begitu saja tanpa berkata sepatah katapun—bahkan dia tidak memberikanku kesempatan untuk berterima kasih.
“Benar-benar orang yang aneh.” Itulah yang kupikirkan ketika melihat punggungnya yang semakin menjauh.
Aku masuk kedalam, bertanya ke petugas di sana. Ayah dan ibu dengan cepat menghampiriku setelah tahu aku disini. Ada ketenangan dan rasa syukur yang aku rasakan ketika melihat mereka. Dan tanpa sadar air mataku mengalir. Tentu saja ayah dan ibu semakin bingung. Mereka memelukku, bertanya dengan cemas. Seperti kenapa aku menangis. Sama siapa aku kesini. Dan dimana paman.
Aku menjelaskan semua hal yang aku alami. Ketika paman tidak datang. Kejadian aneh—mimpi atau penglihatan masa depan, atau bahkan pengulangan. Aku yang mencari kantor ayah dan ibu. Serta tentang anak itu yang menolongku.
Ibu menenangkanku yang masih menangis setelah menceritakan semuanya. Dia berkata kalau kejadian itu hanyalah mimpi buruk. Sedangkan ayah menelpon paman. Katanya, paman jatuh dari tangga, dan sekarang ada di rumah sakit. Dia juga minta maaf karena tidak menghubungi sebelumnya.
Aku sangat lega mendengar kalau paman tidak meninggalkanku, namun sekarang aku malah khawatir dengan kondisi paman.
“Nanti kita jenguk paman. Sekarang kita makan dulu. Putri ayah belum makan dari tadi, kan?”
“Hore!”
Aku berteriak kegirangan. Isi perutku hanya ada air mentah. Sekarang akhirnya aku mendapatkan makanan yang lezat.
Setelah makan yang memuaskan. Ayah dan ibu menyuruhku untuk menunggu dengan tenang di ruangan mereka sampai mereka selesai bekerja. Aku hanya bisa menurut meskipun aku sangat ingin bertemu dengan paman sekarang, karena bagaimanapun, aku tidak tahu kemana arahnya rumah sakit, dan aku pasti akan tersesat. Ayah dan ibu pasti juga melarang. Jadi aku hanya diam sambil menonton acara TV di ponselnya ayah.
Pukul delapan malam. Ayah dan ibu memilih untuk menunda pekerjaan karena mempertimbangkan diriku juga. Ayah bilang kalau paman juga sudah ke luar dari rumah sakit, dan sekarang ada di rumah kami.
Pukul 20.45. ketika mobil berhenti di depan rumah, aku mengembalikan ponsel ibu. Aku sangat kegirangan dan tidak sabar lagi melihat wajah paman. Membayangkan hari-hari bahagia yang akan kembali seperti semula, membuatku tidak lagi dapat menahan senyuman. Aku sangat tidak sabar dengan semua kebahagiaan yang akan aku rasakan kedepannya.
Tapi, berkebalikan dari semua itu… yang menantiku bukanlah kebahagiaan tiada tara, melainkan keputusasaan bagaikan neraka.
Ketika kami masuk kedalam rumah, dan ayah yang terlebih dahulu memasuki ruang tamu. Suara benturan benda tumpul yang keras terdengar jelas, diikuti dengan tubuh ayah yang jatuh menghantam lantai. Ibu menjerit sejadi-jadinya. Air matanya menangis keras. Ibu terus memanggil ayah berulang kali. Namun ayah tidak merespon sedikitpun
Aku terpaku. wajahku pucat. Mataku membelalak melihat pemandangan itu. Ibu putus asa. Ayah tidak bergerak. Darah terus keluar dari belakang kepala ayah.
“Kenapa kau melakukan ini?!” Ibu berteriak keras sambil menoleh ke seorang pria yang berdiri didekat pintu sambil memegang tongkat bisbol besi.
Aku mengikuti pandangan ibu. Seorang pria paruh baya dengan rambut acak-acakan. Napasnya memburu cepat. Wajahnya berkeringat hebat. Dia terlihat mengerikan, sangat jauh berbeda dengan sosok yang seharusnya memberikan senyuman kepadaku—sosok yang seharusnya menjadi paman terhebat bagiku.
“Diam! Ini semua salahmu! Kenapa kau lebih memilih pria tidak berguna itu! Kau seharusnya menikah denganku!” Paman berteriak keras seperti orang kesurupan. Ibu menggeram kesal dan penuh amarah.
“Bukankah kau sudah mengalah demi adikmu, dan mengikhlaskan ku dengannya? Lalu kenapa?” teriakan ibu tidak kalah kerasnya.
“DIAM! DIAM! DIAAAAMM!”
Paman melayangkan pemukul di tangannya, lalu menghantam keras kepala ibu. Darah segar merembes ke luar. Napas paman semakin memburu. Bahunya naik turun dengan cepat. Aku masih terpaku tidak percaya dengan apa yang aku lihat.
Aku tidak mengerti. Aku benar-benar tidak mengerti. Apa yang sebenarnya sedang terjadi. Apa yang sebenarnya sedang aku saksikan ini. Ayah tidak bergerak. Ibu pun juga. Apa paman membunuh mereka? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Itu tidak mungkin.
Tubuhku bergetar hebat. Aku mundur satu langkah, lalu terjatuh karena kehilangan keseimbangan. Paman menoleh ke arahku.
Menakutkan. Dia benar-benar menakutkan. Darah ayah dan ibu terlukis diwajah dan pakaiannya.
“Kenapa… paman… melakukan… ini…”
Aku menggeser tubuhku dengan tangan kebelakang. Aku menatap paman dengan ngeri. Air mataku mengalir deras. Tubuhku masih gemetaran. Keringat dingin mengalir di sekujur tubuhku.
Paman maju beberapa langkah, lalu jongkok di hadapanku.
“Ini semua salah ibumu. Kau harusnya menjadi anakku, bukan keponakanku.”
Wajah paman terlihat semakin menakutkan. Kedua tangannya terangkat, mencengkram leherku dengan erat.
“Ugh…”
“Aku sudah berusaha melupakannya, tapi cintaku pada ibumu tidak pernah padam.”
“Sakit. Paman. Sakit…. Argghh..”
Aku mencengkram tangan paman, berusaha melepaskan cekikannya. Namun sia-sia, tenagaku tidak cukup.
“PAMAN. PAMAN. PAMAN. BERISIK! KAU SEHARUSNYA MEMANGGILKU AYAH! CEPAT! PANGGIL AKU AYAH. SEKARANG JUGA!”
Paman terus berteriak, sedangkan pandanganku semakin memudar. Bahkan suara paman tidak lagi terdengar. Rasa sakit ini sangat menyiksaku. Aku selalu bertanya-tanya kenapa semuanya jadi seperti ini. Dimana letak salahnya. Aku tidak tahu. Aku sama sekali tidak tahu.
Ketika aku terus memikirkan semuanya, tanganku yang mencengkram tangan paman, akhirnya lepas kehilangan tenaga. Pendengaranku sudah hilang sepenuhnya. Dan kegelapan menyelimuti dari ujung pandangku, merambat pelan, sampai tak ada lagi yang tersisa. Bahkan bayangan pun tidak.
Di detik terakhir sebelum semuanya benar-benar hilang…
aku hanya sempat berpikir satu hal—
Maaf…
Entah untuk siapa. Lalu… tidak ada apa-apa lagi.
7 April 2010… di pengulangan yang ketiga. Di umurku yang masih lima tahun. Aku merasakan langsung konsep dari kematian.