Di saat teman sekelasnya dipanggil ke dunia lain sebagai Pahlawan dan memperoleh kemampuan legendaris, Haruto Mirakawa hanyalah korban yang ikut terseret.
Karena bukan bagian dari ritual pemanggilan, semua skill hebat sudah habis saat gilirannya tiba.
Yang tersisa hanya satu kemampuan biasa:
Shadow Tool.
Kemampuan untuk menciptakan satu alat dari bayangannya.
Bukan pedang suci.
Bukan sihir penghancur.
Hanya... alat.
Merasa bersalah, sang dewa memberinya berkah kecil untuk bertani dan sebuah tombak tua yang kemudian menyatu dengan skillnya.
Lalu Haruto dikirim ke tempat yang katanya tenang dan jauh dari perang.
Tempat itu ternyata adalah...
Hutan Kematian.
Di hutan yang ditakuti seluruh dunia, Haruto hanya ingin menjalani hidup santai, menanam sayur, membangun rumah, dan menikmati hari-harinya.
Namun sedikit demi sedikit, para monster cerdas, buronan, dan orang-orang yang kehilangan tempat pulang mulai berdatangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kūkyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Besi Pertama
Sejak langit timur bahkan belum sepenuhnya menampakkan semburat fajar, Brom sudah berada di area bengkel. Udara pagi yang masih dingin dan diselimuti embun pekat di Hutan Kematian tidak menyurutkan langkah sang pandai besi. Ia berjongkok di depan tungku batu yang mereka bangun kemarin, memeriksa kembali setiap inci sudut bangunannya dengan teliti. Tangannya yang kasar meraba sambungan tanah liat, mengetuk permukaan batu satu per satu untuk memastikan tidak ada celah yang bergeser akibat perubahan suhu malam hari, dan mengikis sedikit bagian yang dirasanya kurang sempurna.
Haruto datang menghampiri sambil membawa sekeranjang besar arang di bahunya. Langkahnya terhenti sejenak melihat keseriusan sang Dwarf. "Masih belum mulai?" tanya Haruto santai, meletakkan keranjang arang di dekat tungku.
Brom mendesah pelan, menggelengkan kepalanya. "Kalau tungkunya salah sedikit saja, atau kalau panasnya tidak merata, seluruh bijih yang kita masukkan akan terbuang sia-sia menjadi kotoran tak berguna. Peleburan pertama adalah penentu, Haruto."
Mendengar itu, Haruto tidak banyak protes. Ia membantu menyusun arang di dekat tungku agar mudah dijangkau. Sementara itu, di luar area bengkel, kehidupan di desa kecil tersebut tetap berjalan seperti biasa dengan ritme yang sudah tertata rapi. Mira dan Fira sudah bersiap dengan busur dan tombak mereka untuk berburu di radius aman hutan. Kaelin dan Hana terlihat membawa keranjang kosong, bersiap mencari tanaman obat dan jamur langka. Luna membantu Elara menyortir sisa biji-bijian di lumbung. Namun, sesekali, mereka semua mencuri pandang ke arah bengkel. Hari ini adalah hari yang dinantikan; rasa penasaran meliputi seluruh warga desa.
Setelah semua persiapan dirasa matang, proses dimulai. Api kecil dinyalakan di dalam tungku, dan arang mulai ditambahkan secara bertahap untuk membangun suhu dasar. Haruto mengambil posisi di samping bellow—alat peniup udara dari kulit binatang yang mereka buat seadanya—dan mulai menggerakkannya naik turun dengan ritme yang stabil. Brom dengan hati-hati memasukkan beberapa bongkah bijih besi kemerahan ke dalam perut tungku yang mulai membara.
Panas langsung mendominasi area bengkel. Satu jam berlalu dalam keheningan yang dipecahkan hanya oleh suara deru api dan embusan angin dari bellow. Dua jam berlalu, peluh mulai membasahi dahi Haruto dan Brom, membuat pakaian mereka melekat di tubuh. Tiga jam kemudian, dengan napas yang memburu, Brom menggunakan penjepit kayu panjang untuk membuka bagian dalam tungku dan mengeluarkan isinya.
Semua orang yang sejak tadi mengamati dari kejauhan menahan napas. Namun, saat bijih itu ditarik keluar dan mendingin di atas tanah, tidak ada kilau logam yang terlihat. Yang ada hanyalah batu merah yang kini berubah warna menjadi sedikit menghitam, rapuh, dan hancur berkeping-keping saat Brom menekannya dengan jari.
Haruto menggaruk kepalanya yang tidak gatal, menatap sisa-sisa batu tersebut. "...Gagal?"
Brom menarik napas panjang, menutup matanya sejenak untuk meredam rasa kecewa yang sempat tebersit di dadanya. Ia membuka matanya kembali dan mengangguk pelan. "Gagal."
Tidak ada yang berbicara. Suasana di sekitar bengkel mendadak menjadi hening, diwarnai rasa canggung dan kekecewaan yang tertahan.
Namun, Brom sama sekali tidak terlihat marah atau putus asa. Sebagai seorang pengrajin berpengalaman, kegagalan adalah bagian dari proses. Ia langsung mengambil sisa arang yang belum terbakar sempurna, memecahkannya menjadi bagian-bagian kecil untuk melihat tekstur bagian dalamnya, lalu memeriksa dinding tungku. Ia mengetuk dinding batu itu kembali dan mendengarkan pantulan suaranya.
"Ketemu?" tanya Haruto, memperhatikan setiap gerak-gerik sang Dwarf.
"Belum pasti, butuh pemeriksaan lebih teliti," jawab Brom. Ia kemudian mengambil palu kecil dan mulai membongkar sebagian kecil bagian bawah tungku.
Luna, yang menonton dari jarak dekat, langsung panik dan menutup mulutnya. "Rusak? Tunggunya rusak?"
"Tidak, Luna," jawab Brom dengan tenang, menenangkan gadis Ras Kelinci itu. "Kalau ada yang salah di fondasinya, lebih baik kita bongkar sekarang daripada terus memaksakan proses yang salah." Ia menunjuk bagian dalam tungku yang baru saja ia buka. "Lihat ini. Lubang saluran udaranya terlalu sempit. Akibatnya, aliran udara terpusat di satu titik kecil, membuat api hanya berkumpul di tengah dan gagal menyebarkan panas secara merata ke seluruh bongkahan bijih. Selain itu..." Brom mengambil sepotong arang gagal di dekatnya. "...arang yang kita pakai masih terlalu muda. Kayunya belum sepenuhnya matang menjadi arang berkualitas tinggi, sehingga kalor yang dihasilkan tidak cukup kuat."
Mendengar penjelasan itu, Haruto langsung mengambil keputusan. Hari itu, tidak ada aktivitas di ladang atau sawah. Seluruh warga desa memutuskan untuk mendedikasikan waktu mereka demi membantu perbaikan bengkel.
Dinamika kerja sama kembali terlihat dengan indah. Mira dan Fira masuk sedikit lebih dalam ke batas hutan untuk mencari kayu keras yang lebih tua—khususnya kayu yang sudah terpendam di dalam tanah selama bertahun-tahun, yang dikenal memiliki kepadatan tinggi. Fina dan Luna mengumpulkan batu-batu sungai dengan ukuran yang lebih presisi. Kaelin dan Hana pergi mengambil tanah liat yang lebih lengket dan liat dari dasar sungai terdalam. Elara, dengan sigap, mulai mencatat setiap detail perubahan dan perbaikan yang dilakukan Brom ke dalam buku catatannya, menjadikannya sebuah panduan tertulis pertama bagi desa mereka.
Haruto sendiri bekerja berdampingan dengan Brom, memahat ulang saluran udara pada tungku batu agar ukurannya lebih lebar dan proporsional. Di sela-sela pekerjaan fisik yang menguras tenaga itu, Brom mulai berbicara dengan nada santai.
"Kau tahu, Haruto," kata Brom sambil menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju. "Seorang pandai besi sejati bukan hanya dinilai dari seberapa bagus ia menempa pedang. Separuh dari seluruh pekerjaan kami sebenarnya adalah bagaimana kami menyiapkan tungku dan mengontrol apinya."
Haruto tertawa kecil, menghentikan sejenak pekerjaannya untuk mengatur napas. "Petani juga begitu. Separuh pekerjaan kami justru selesai sebelum benih itu benar-benar ditanam—mulai dari membajak, meratakan tanah, hingga mengatur irigasi."
Keduanya saling melempar senyuman penuh pemahaman. Di dunia yang keras ini, dua orang dari latar belakang yang sangat berbeda menemukan kesamaan esensial dalam dedikasi mereka pada sebuah proses.
Menjelang siang, Brom mengumpulkan semua orang untuk mengajari mereka cara membuat arang yang benar. Ia menyusun potongan kayu keras pilihan dengan rapi, menutupinya rapat-rapat dengan lapisan tanah agar tidak ada udara bebas yang masuk secara berlebihan, dan menyisakan lubang kecil di bagian bawah agar kayu tersebut terbakar secara perlahan tanpa menjadi abu.
Luna memperhatikan proses itu dengan mata yang berbinar-binar penuh kekaguman. "Kayunya dibakar... tapi kenapa tidak jadi abu?" tanyanya penasaran.
Brom tersenyum kecil melihat antusiasme gadis itu. "Kalau sampai habis menjadi abu, itu artinya kita gagal, Luna. Kita hanya ingin mengeringkan getah dan kandungan air di dalamnya hingga yang tersisa adalah karbon murni yang bisa membakar dengan suhu ekstrem." Haruto ikut memperhatikan penjelasan itu; ia menyadari bahwa bahkan untuk urusan membuat arang sederhana saja, ada ilmu pengetahuan mendalam yang harus dipelajari.
Menjelang sore hari, setelah seluruh perbaikan tungku selesai dan pasokan arang baru yang berkualitas telah siap, tungku itu kembali dinyalakan.
Kali ini, perbedaannya langsung terasa. Api berkobar jauh lebih besar, melahap arang dengan suara deru yang menggelegar. Haruto dan Brom bergantian memompa bellow dengan tenaga penuh, menjaga pasokan oksigen tetap stabil. Panas yang dipancarkan oleh tungku kali ini begitu menyengat, memaksa seluruh warga desa untuk mundur beberapa langkah ke belakang demi keselamatan mereka.
Beberapa jam berlalu dalam ketegangan. Ketika warna api di dalam tungku mencapai titik pijar putih kekuningan yang sempurna, Brom memberikan aba-aba untuk menghentikan pompaan. Dengan hati-hati, ia membuka pintu kecil di bagian bawah tungku. Menggunakan penjepit besi buatannya yang masih sederhana, ia menarik keluar sisa batu dan abu, lalu memecahkan gumpalan besar di bagian dasarnya menggunakan palu.
Di antara serpihan batu yang pecah, sebuah gumpalan benda berwarna hitam keabu-abuan dengan kilau logam yang kusam jatuh menggelinding ke atas tanah. Ukurannya tidak besar—hanya sebesar kepalan tangan orang dewasa. Namun, bentuknya padat, berat, dan yang paling penting: benda itu bukan lagi batu.
Haruto membungkuk perlahan, merentangkan tangannya untuk menyentuh benda tersebut. "...Ini?" tanyanya ragu-ragu.
Brom mengangguk pelan, napasnya masih terengah-engah, namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman lebar yang tulus. "Besi."
Untuk beberapa detik, keheningan total melingkupi area bengkel. Semua orang terpaku menatap gumpalan kecil di tanah itu. Lalu, keheningan itu pecah ketika Luna melompat kegirangan dan bersorak paling keras, "Berhasil! Kita berhasil membuat besi!"
Seketika itu juga, sorak-sorai gembira meledak dari seluruh anggota Ras Kelinci. Hana dan Kaelin saling berpelukan karena senang, Mira dan Fira mengepalkan tangan ke udara, dan bahkan Elara—yang biasanya selalu tenang dan menjaga wibawanya—menampakkan senyuman lega yang sangat dalam di wajahnya.
Namun, pekerjaan belum selesai. Logam yang baru saja mereka keluarkan masih terlihat kasar, dipenuhi kotoran dan kerak sisa pembakaran. Brom tidak membuang waktu. Ia kembali memasukkan gumpalan besi itu ke dalam tungku yang masih menyala hingga suhunya kembali membara.
Begitu logam itu mencapai suhu yang tepat, ia menariknya keluar dan meletakkannya di atas landasan batu datar yang kokoh.
Brom mengangkat palu warisan ayahnya tinggi-tinggi.
Tang.
Tang.
Tang.
Suara pukulan palu pertama akhirnya menggema di seluruh penjuru Hutan Kematian. Suara itu nyaring, tegas, dan berirama, memantul di antara pepohonan raksasa. Semua orang di sekitar desa spontan menghentikan aktivitas mereka, menoleh ke arah bengkel, dan mendengarkan suara tersebut. Itu adalah suara peradaban, suara yang belum pernah terdengar sebelumnya di tempat yang liar ini.
Haruto berdiri di samping landasan, memperhatikan setiap gerakan tangan Brom dengan kekaguman yang mendalam. Setiap pukulan yang dilepaskan sang Dwarf terasa memiliki tujuan yang pasti—tidak terlalu keras hingga menghancurkan logam, tidak pula terlalu pelan hingga tidak mengubah bentuk. Sedikit demi sedikit, di bawah tangan seorang ahli, gumpalan kasar itu mulai memanjang dan merata, bertransformasi menjadi bilah yang sesungguhnya.
Malam mulai turun, menyelimuti desa dengan tirai kegelapan, sementara api di tungku bengkel masih menyala terang. Besi yang mereka hasilkan pada hari itu belum cukup banyak untuk membuat alat-alat besar. Haruto menghampiri Brom yang sedang mengistirahatkan lengannya sejenak.
"Kalau besi kita hanya cukup untuk membuat satu benda saja untuk saat ini," tanya Haruto, "menurutmu, lebih baik benda itu dibuat apa?"
Semua orang yang berkumpul di sekitar bengkel mulai berpikir keras.
Membuat kapak besar? Jumlah besinya tidak akan cukup.
Membuat cangkul baru? Persediaan baja yang ada masih terlalu sedikit untuk menutupi seluruh mata cangkul.
Membuat pedang? Tidak ada seorang pun di desa itu yang berniat pergi berperang melawan monster dengan cara barbar.
Kaelin mengangkat tangannya pelan, menarik perhatian semua orang. "Kalau boleh usul... bagaimana kalau pisau?"
Semua mata menoleh ke arah gadis Ras Kelinci itu. Kaelin melanjutkan dengan suara yang lebih mantap, "Aku dan Hana sering pergi ke hutan untuk mengumpulkan tanaman obat. Selama ini kami hanya mengandalkan pisau batu, tapi pisau batu itu sangat cepat tumpul dan mudah patah kalau terkena akar keras."
Hana langsung mengangguk setuju. "Iya! Aku juga merasakannya. Kalau kita punya pisau yang lebih kuat, pekerjaan meracik obat jadi jauh lebih cepat."
Mira menambahkan dari sudut ruangan, "Kalau untuk menguliti hasil buruan juga akan jauh lebih mudah dan bersih. Tidak perlu merusak dagingnya." Fina dan Luna mengangguk kompak menyetujui usul tersebut.
Brom tersenyum lebar. "Usul yang sangat bagus. Itu adalah pilihan yang paling masuk akal untuk penggunaan besi pertama kita."
Haruto menyetujui tanpa ragu. "Kalau begitu, mari kita buat pisau."
Brom kembali memanaskan bilah besi yang sedang ia bentuk. Kali ini, ukurannya disesuaikan agar tidak terlalu besar namun sangat fungsional. Bilahnya dibuat lurus, sederhana, tanpa hiasan yang tidak perlu. Di bagian pangkalnya, Brom memasangkan gagang dari kayu keras hutan yang dipahat pas dengan genggaman tangan, dikunci dengan pasak kayu kecil yang sangat rapi.
Ketika proses pendinginan selesai, Brom menyerahkan pisau besi pertama itu kepada Kaelin.
Kaelin menerimanya dengan kedua tangan, seolah-olah ia sedang memegang benda paling suci di muka bumi. Ia melangkah mendekati seikat batang tanaman obat yang agak tegar di dekat meja kerja. Tanpa tenaga berlebih, ia mencoba menggoreskan bilah pisau itu.
Slat.
Batang tanaman obat itu langsung terpotong bersih dengan tepi yang sangat rapi, tanpa ada serat yang hancur. Mata Kaelin membesar seketika, napasnya tertahan. "...Ringan sekali," bisiknya. "...Dan tajam sekali."
Hana, Mira, dan Fira bergiliran mencoba memegang dan merasakan ketajamannya. Bahkan Haruto sendiri penasaran; ia mengambil sebuah tomat dari keranjang di dapur, meletakkannya di atas talenan kayu, dan mengirisnya dengan pisau baru tersebut. Bilah besi itu meluncur menembus kulit tomat tanpa perlu ditekan sama sekali—bersih, sempurna, dan tanpa sisa jus yang berantakan di talenan.
Malam itu, setelah semua orang kembali ke rumah masing-masing untuk beristirahat, Brom berdiri sendirian di dalam bengkelnya. Ia memandang pisau besi pertama yang kini digantungkan secara khusus di dinding kayu bengkel, tepat di sebelah palu warisan ayahnya.
Haruto berjalan mendekat, berdiri di samping sang pandai besi dalam keheningan malam yang damai.
"Mulai sekarang..." ucap Haruto pelan, menatap lurus ke arah bilah pisau yang memantulkan cahaya temaram dari sisa bara api. "...Desa ini resmi memiliki seorang pandai besi."
Brom menoleh, menatap Haruto, lalu menggelengkan kepalanya perlahan sambil tersenyum tipis. "Bukan, Haruto."
Haruto menaikkan sebelah alisnya. "Bukan?"
Brom mengangkat tangannya, menyentuh tiang kayu bengkel yang mereka bangun bersama-sama. "Bengkel ini... bukan milikku seorang. Ini adalah milik seluruh desa."
Di luar sana, suara aliran sungai Hutan Kematian tetap mengalir dengan tenang di bawah naungan bintang-bintang. Api di dalam tungku perlahan meredup menjadi bara yang hangat, menyimpan energi untuk hari esok. Dan untuk pertama kalinya sejak desa kecil itu berdiri di tengah wilayah yang mematikan, sebuah alat dari logam lahir—bukan karena sihir, bukan karena titah raja, melainkan dari keringat kerja sama, kesabaran yang diuji, dan tangan seorang pengrajin yang akhirnya menemukan kembali rumahnya.