NovelToon NovelToon
Putri Titipan Mantan

Putri Titipan Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Anak Genius / Duda
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Karita Ta

"Empat tahun menikah, kau tak kunjung memberikanku keturunan! Sekarang lihatlah, aku memiliki anak dari wanita lain!" sentak sang suami sembari menunjuk wanita yang menghancurkan rumah tangganya.

Perpisahan keduanya, membuat Dinda benar-benar terpuruk. Terutama saat mengetahui suaminya selingkuh, hingga memiliki anak dari hubungan gelapnya.

"Titip putriku, Din. Tiga tahun lagi, aku bakal jemput dia," tutur mantan kekasihnya ditengah badai yang menandaskan rumah tangganya.

Kehidupan Dinda terfokus pada Glenka—bayi 18 bulan yang dititipkan padanya, dan melupakan pengkhianatan sang suami. Hingga pada akhirnya, ia telah menganggap bayi manis itu, selayaknya anak kandung.

Bagaimana kehidupan Dinda dan bayi mungil titipan mantannya? Akankah semua berakhir bahagia? Atau justru sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karita Ta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PTM | BAB 4

"Mbak, siang ini bisa datang ke rumah sakit kota? Saya akan melahirkan anak suamimu," ulang si wanita saat membaca sebuah pesan yang ia terima. Dibacanya berulang kali, dengan jantung yang berdegup kencang.

"Anak suamimu? Mas Ervin maksudnya?" gumamnya dengan perasaan yang mulai campur aduk. Saat dirinya hendak menghubungi wanita tadi, nomornya sudah tidak aktif. Sontak, hal tersebut membuat tubuhnya lemas seketika.

Akalnya masih berusaha untuk berpikiran jernih. Dinda berpikir, bahwasannya itu adalah orang asing yang berniat menciptakan salah paham di keluarganya. Namun, hatinya berkata lain.

"Aku takut ini semua kenyataan," lirih si wanita dengan memijit pelipisnya. Ponsel yang semula berada di genggamannya, kini terhempas begitu saja di atas ranjang.

Pikirannya kembali terputar, begitu mengingat sikap sang suami tadi pagi. Apalagi semua perubahan drastis yang terjadi dalam hubungan mereka berdua, semakin membuatnya takut. Hal itulah yang kini terus berputar di benak Dinda.

"Aku akan membuktikannya sendiri," putus sang wanita lantaran merasa frustasi. Setelahnya, Dinda terduduk di tepi ranjang dengan tatapan kosongnya.

Semua lamunannya terhenti, begitu mendengar ponselnya kembali berdering. Melihat nama sang atasan yang terpampang jelas di layar ponselnya, dengan cepat ia langsung mengangkatnya.

"Pagi juga, Bu. Ada yang bisa saya bantu?" papar si wanita begitu sambungan telepon dengan sang atasan mulai terhubung.

"Dinda, seperti yang ibu bilang kemarin, weekend ini ada pekerjaan tambahan untukmu. Ibu tunggu di butik sampai jam sepuluh nanti, ya?" ungkap wanita berusia 48 tahun di seberang sana.

Sontak, mata Dinda terbelalak kaget. Sembari menepuk jidatnya, ia menatap ke arah jam yang terpasang di dinding. Ia semakin panik, begitu menyadari bahwa jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi.

"Baik, Bu. Saya datang sebelum jam sepuluh," sahutnya sembari mengambil tas kerjanya yang berada di meja pojok. Benar saja, dalam iPad nya terdapat note yang sudah ia buat beberapa hari lalu.

Setelah sambungan teleponnya terputus, Dinda mulai mempersiapkan pakaian dan segera berlalu menuju kamar mandi. Tanpa menunggu lama, ia langsung membersihkan tubuhnya.

"Untung aja, Bu Indri ngingetin langsung. coba kalo engga, entah gimana nasib kerjaannku itu." Ocehan demi ocehan, keluar dari bibirnya sendiri. Dirinya hampir melupakan jadwal penting, yang telah ia sepakati sejak awal pekan lalu.

Mendapati waktu yang tersisa setengah jam, membuat si wanita memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu. Tangannya sesekali mengotak-atik layar iPad yang berada di sebelahnya. Sedangkan yang satunya, ia gunakan untuk menyuapkan makanan.

"Nggak jadi libur deh ..." keluhnya sembari menatap sekitarnya yang sudah nampak rapi. Beruntungnya, sejak pagi tadi ia telah membereskan seluruh pekerjaan rumah.

Tatapannya tertuju pada jam tangan yang melingkar di pergelangannya. Begitu mendapati taksi yang ia pesan telah tiba, sang wanita langsung beranjak setelah meletakkan bekas makannya ke washtafel.

Jalanan yang sedikit lebih macet dari hari-hari sebelumnya, membuat Dinda menghela napas panjang. Setidaknya, ia membutuhkan waktu 10 menit untuk tiba di butik tempatnya bekerja.

"Terima kasih, Pak. Ini ada lebihan sedikit untuk Bapak," tuturnya sembari mengulas senyum singkat. Setelah dirinya turun dari taksi tersebut, ia melihat mobil pribadi milik sang atasan sudah terparkir di halaman butik.

Begitu dirinya membuka pintu, nuansa berwarna putih dan krem sangat memanjakan netranya. Melihat ruangan sang atasan yang terbuka, membuat Dinda langsung menuju ke arah tersebut.

"Jalanan macet, Din?" tanya seorang wanita berambut putih dengan pakaian fashionable nya. Seperti biasa, setelah dipersilakan masuk oleh Bu Indri, ia mendudukkan tubuhnya tepat di depan sang atasan.

"Iya, Bu. Apalagi kalau weekend gini," sahutnya sembari mengeluarkan iPad miliknya. Sedangkan Bu Indri hanya menganggukkan kepala, dan kembali menatap ke arah layar ponselnya.

Seolah melupakan hal yang terjadi tadi pagi, Dinda nampak disibukkan oleh beberapa pekerjaan yang tengah ia bahas bersama sang atasan. Jemarinya dengan lihai, menggambar sebuah pola gaun di layar iPad miliknya.

"Kliennya sudah konfirmasi ke Ibu?" tanya si wanita sembari menolehkan pandangannya ke arah depan. Begitu mendapati anggukkan kepala dari Bu Indri, Dinda langsung menghentikan gerakan pena yang ia pegang.

"Dia minta revisi dibagian bahu. Katanya, lebih suka desain kamu yang asimetris itu. Gimana, masih bisa diubah?" jelas sang atasan yang membuat Dinda tersenyum menang.

Sedangkan Bu Indri, dibuat terkekeh oleh reaksi asistennya yang selalu nampak menggelikan. Sejauh ini, setiap kali ada klien yang datang padanya, pasti selalu terpikat oleh hasil rancangan Dinda.

15 bulan mengangkat wanita muda itu menjadi asistennya, cukup membuat Bu Indri terkesan. Kinerja dan sikap Dinda yang sangat baik, membuatnya tak menyesal telah menyudahi kontrak dengan asisten lamanya.

"Tentunya bisa, Bu. Nanti biar saya aja yang lanjutkan," sanggupnya dengan mata yang masih berbinar senang. Pasalnya, beberapa hari lalu dirinya dan sang atasan tengah berdebat saat menyelesaikan desain gaun tersebut.

"Hebat kamu, Din. Paling ngerti gimana kepuasan pelanggan," kagumnya yang membuat Dinda terkekeh geli. Keduanya kembali fokus, dengan kegiatan masing-masing.

Tak berselang lama, sepasang calon pengantin mulai memasuki butik pakaian milik Bu Indri. Dengan senyum ramahnya, Dinda menyambut kedatangan mereka berdua, dan mempersilakan untuk duduk di ruang tunggu.

"Kamu cari dulu, kain yang dibutuhkan untuk revisi gaunnya. Ibu ngobrol sama kliennya dulu, ya?" titah si wanita yang tingginya hampir setara dengan Dinda.

Tanpa ba-bi-bu, Dinda langsung menganggukkan kepala dengan kedua jempol yang teracung ke atas. Melihat tingkah wanita itu, membuat Bu Indri menepuk pundak sang asisten dengan tawa gelinya.

Dengan bibir yang bersenandung kecil, Dinda mulai menyusuri setiap lorong yang berisikan gulungan kain berharga fantastis. Netranya dengan teliti, menatap setiap detil bahan dan sesekali menyentuhnya.

"Nah, ini yang paling pas!" serunya dengan senang. Tanpa menunggu lama, ia langsung membicarakannya dengan sang atasan dan kliennya. Tak ingin membuang waktu lebih lama, Dinda segera menyelesaikan tanggung jawabnya.

Netranya menatap sebuah patung manekin yang terpajang di tengah ruangan, dan membuka kembali sketsa yang telah ia buat. Dikarenakan gaunnya segera digunakan, membuat Dinda harus merombak lebih dulu sesuai kemauan sang klien.

"Its oke, Dinda. Masih ada waktu empat hari lagi," tuturnya menyemangati diri sendiri.

Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul satu siang. Setelah membicarakan banyak hal yang berurusan dengan pekerjaan, Dinda akhirnya dapat beristirahat. Bersama dengan atasannya, ia mulai berjalan keluar dari butik.

"Hari ini mau kemana lagi, Din?" tanya Bu Indri sembari mengeluarkan kunci mobilnya. Sontak, wanita muda itu pun menghentikan langkahnya.

"Mungkin saya langsung pulang. Memangnya ada apa, Bu?" sahut si wanita dengan menatap ke arah atasannya. Mendengar hal itupun membuat Bu Indri langsung membuka pintu sebelah kemudi.

"Bareng Ibu aja, biar sekalian." Setelah melakukan sedikit pemaksaan, pada akhirnya Dinda menerima tawaran wanita setengah baya itu. Ingin menolak pun, Dinda merasa tak enak.

Tiba-tiba, di tengah perjalanan Bu Indri menepikan mobilnya di pinggiran jalan. Untuk sejenak, wanita itu mengangkat telepon yang masuk ke ponselnya. Dinda pun mengetahui, jika putri sang atasan yang tengah menghubungi.

"Apa?! Kamu melahirkan?!"

1
vita
jd penasaran apa yg d lakukan raka, apa berobat ya.
Happy Kids
pertanyaan macam apa ini
Happy Kids
inget bukkk.. yg bikin dinda gini ya anakmuuu.. gila ibuknya bener bener
Happy Kids
pret
Happy Kids
asli ni perempuan muna bgt. gatau malu.
Happy Kids
krn dirimu dah nemu yg baru wkwkkw jenita ups
Happy Kids
caper. aslinya bersorak soraii. orang kl emng nyesel nyakitin rumah tangga org lain hrs nya sadar diri. bukan malah living together 🤣 inimah nikmati aja dia alurnya 😅
Happy Kids
kasih tau tu anaknya. jgn kumpul kebo mulu
Happy Kids
apasiiii kepoo. bukan istri tp kaya nuntut laporan mulu. sbnernya dah niat bgt tu jenita ngerebut. tp sok sok an aku gamau nyakitin orang. hilih
Happy Kids
kan uda ada jenita yg masih kinyis kinyis trs kasih anak ke dia..
Happy Kids
kalau kaya gtu, dirimu yg semena mena dong wkwk slalu anggap bakal dimaafin mulu
Happy Kids
mreka tinggal bareng? kumpul kebo?
Happy Kids
munak aja ni anak org 🤣
Happy Kids
pulang? wajib bgt gtu? lagian ibu nya jenita katanya kecewa, tp dianya sendiri ngebiarin anaknya sering2 interaksi sama bojo orang 😅 pada ga punya pendirian dan prinsip. hrsnya dg gt dia ajak anaknya pulang dan awasi biar gausa aneh aneh. kl ngebiarin gini ya sama aja dia ga didik. pake sok sok an bilang gagal didik anak.
Happy Kids
anak org caper bgt
Happy Kids
nah mulai dia ga bisa lepas dr jenita. itulah. dahlah sama jenita aja
Happy Kids
katanya lelah nyakitin org. tp dianya nempelin ervin mulu dan berharap dicintai ervin. muna bgt dah
Happy Kids
punya otak? menurutmu?
vita
hanya bs kasih secangkir kopi n seiket bunga buat nemenin nulis ceritanya 💪💪💪💪
Karita Ta: Hai kaak vitaa, salam kenal dari karitaa yaa. Terimakasih sudah menyempatkan mampir dan tinggalkan jejaknya. Semoga hari-harimu menyenangkan yaa 😍🫰
total 1 replies
vita
sll suka sama ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!