NovelToon NovelToon
Istri Polos Untuk Sang Mafia Dingin

Istri Polos Untuk Sang Mafia Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Xavier Volkov, adalah seorang pemuda tampan yang dikenal dingin dan sangat sulit didekati. Namun ia memiliki sisi gelap sebagai seorang mafia yang ditakuti banyak orang. Meski banyak wanita yang mendekatinya, Xavier sama sekali tidak tertarik pada cinta ataupun hubungan serius. Namun hidupnya berubah saat sang ibu memaksanya untuk segera menikah. Karena tidak ingin dijodohkan dengan wanita hasil pilihan keluarganya, Xavier akhirnya memilih menikahi seorang mahasiswi polos yang bernama Lyko. Bagi Lyko, pernikahan itu bukan tentang cinta. Ia membutuhkan uang untuk bayar hutang dan pengobatan ibunya. Dengan terpaksa gadis itu menerima tawaran Xavier dan masuk ke dalam kehidupan pria yang sama sekali berbeda dari dunianya. Awalnya hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan. Xavier tetap bersikap dingin dan cuek pada Lyko. Tetapi semakin lama tinggal bersama, Xavier mulai merasa ada sesuatu yang tumbuh dihati. Di saat perasaan itu mulai tumbuh, berbagai macam bahaya mulai datang menganggu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 04 : Kebohongan

Xavier melangkah keluar ruang rapat tanpa menoleh lagi. Lorong markas terasa lebih sunyi dibanding biasanya. Lampu-lampu putih menyala dingin di sepanjang dinding, memantulkan bayangannya yang tegak dan gagah.

Baru beberapa langkah, terdengar getaran pendek dari ponsel di saku mantel Xavier.

Xavier berhenti. Ia mengambil ponselnya, alisnya mengernyit tipis saat nama yang muncul membuat dadanya seketika terasa panas dan sesak.

Terlihat jelas, diponsel itu “Mama.”

Tanpa banyak pikir, Xavier mengangkatnya. “Hm?” ucapnya singkat.

Suara di seberang terdengar hangat menyapa, “Xavier, kamu sedang dimana, sayang?”

Xavier menatap lurus ke depan, rahangnya mengeras. “Aku sedang ada di markas.”

“Oh, begitu... apa Mama mengganggu? Kamu sedang sibuk, tidak?” nada ibunya terdengar ragu, seolah takut mengganggu.

Xavier sudah mengenal pola itu sejak lama. Ibunya tidak pernah menelepon hanya untuk bertanya kabar, pasti ada sesuatu yang ingin ia ditanyakan.

“Ma,” ucapnya datar, namun jelas ia tidak suka yang namanya basa-basi. “Jangan basa-basi. Katakan saja apa yang ingin Mama omongi.”

Suara sang Ibu terdengar pelan, seperti menahan diri agar tidak terdengar menuntut, namun sang anak terlalu sulit untuk dibohongi.

“Em... baiklah, kamu ini memang pandai menebak ya. Jadi begini... Mama hanya ingin bertanya, apa kau sudah menemukan pasanganmu?” suara itu terdengar ragu, seolah takut Xavier kembali marah.

Perlahan Xavier memejamkan mata. Lagi dan lagi pertanyaan itu yang terlontar. Pertanyaan yang selalu sama. Jujur saja, ia sudah terlalu muak dengan pertanyaan itu.

Namun, ia mengingat janjinya kembali, mereka sudah sepakat agar Xavier harus menemukan pasangannya hanya dalam waktu 3 hari saja.

Janji bodoh yang keluar dari mulutnya sendiri saat ia sedang muak dan ingin menghentikan tekanan keluarga.

Dan bagi Xavier, janji adalah janji. Dan janji tidak boleh dilanggar, serta harus ditepati. Tapi disisi lain ia baru saja selesai membuat strategi untuk perang yang akan datang.

Besok ia mungkin akan sangat sibuk, dan tidak ada waktu untuk mencari seseorang dalam waktu singkat.

Dan sekarang, ibunya bicara soal pasangan. Ia merasa bingung mau menjawab apa, sedangkan hatinya saja tidak pernah terukir yang namanya cinta.

Xavier menghela napas pelan, menahan umpatan yang sudah di ujung lidah, namun ia tidak bisa lagi mengelak. Itulah janjinya, itulah akibat jika ia salah langkah.

Xavier menekan pelipisnya, lalu mendongakkan kepala, “aku tidak mau memikirkan itu dulu, Mah.”

Suara ibunya terdengar lebih lembut, namun jelas seperti menahan diri agar sang anak tidak kembali marah, “Xavier... Mama hanya khawatir. Kamu sudah janji. Kamu mengiyakan saat Papa mengatakan itu, bukan?…”

Xavier menelan rasa kesalnya. Kepalanya kembali berpikir, mana ada perempuan yang datang secara tiba-tiba ke dalam hidup Xavier dengan jangka secepat itu? Dan kalaupun ada, apa ia akan datang dengan ketulusan? Atau malah hanya memanfaatkan Xavier karena kekayaannya?

Karena bagi Xavier, pernikahan bukanlah permainan. Dan ia tahu, pernikahan itu akan terjadi apabila kedua belah pihak saling mencintai satu sama lain dengan ketulusan. Bukan karena perjanjian.

Namun disisi lain, ia juga tidak suka mengingkari kata-kata yang ia sendiri ucapkan dalam keadaan sadar.

Xavier diam terlalu lama, membuat ibunya merasa aneh, “Xavier? Apa kamu masih disana? Hallo?” ucap sang ibu karena tidak mendengar anaknya mengeluarkan kata sedikitpun.

Xavier tidak menjawab itu, melainkan ia menjawab hal lain, “aku... sudah ada.”

Suara ibunya seketika berubah, “sudah? Maksudmu?” ibunya masih belum menyadari itu.

Xavier menjawab kecil, “maksudku... aku sudah mendapatkan pasangan yang sesuai,” Xavier kembali mengulangi perkataannya, namun kali ini sedikit lebih santai agar tidak terlihat ia berbohong.

Tawa kecil serta bahagia dari sang ibu mulai terdengar, “ha?! Benarkah? Akhirnya!!” ucap ibunya yang tampak seperti seorang pemenang dalam perang kecilnya sendiri.

“Baiklah! Kalau begitu, siapa namanya? Apa gadis itu cantik? Baik tidak?” pertanyaan itu keluar begitu cepat tanpa jeda.

“Na-nama?,” Xavier kembali tercengang. Ia berusaha berpikir lagi.

Ibunya tampak mengangguk dari ujung sana, “ya, nama, masa gadis itu memiliki nama?”

‘Astaga, bagaimana ini? Bagaimana caranya mengukir nama seorang gadis? Astaga, berpikir Xavier, berpikir!’ batin Xavier terlihat bingung.

“Xavier? Ada apa, sayang?” tanya sang ibu yang semakin penasaran.

“Senja,” ucapnya spontan. ‘Sudahlah, apa boleh buat, lagipula nama Senja juga masuk kedalam katagori perempuan,’ batinnya yang sudah tidak bisa berpikir lebih jauh.

Namun, diluar dugaan, Mamanya percaya dengan semua perkataan Xavier, “Senja? Wah... nama yang indah, pasti gadis yang cantik,” puji sang ibu dengan polosnya.

“Ya begitulah...” Xavier kembali menutup mata. Kepalanya mulai berdenyut, ia berusaha berpikir bagaimana kedepannya nanti jika semua ini diawali dengan kebohongan.

Ibunya tertawa kecil, lalu menurunkan nada suaranya seperti sedang berbisik, “baiklah kalau begitu kapan kita bisa bertemu?”

Xavier mengernyit, “be-bertemu?! Untuk apa?”

“Kamu ini, tentu saja untuk dikenalkan kepada kami,” jawab ibunya seolah itu hal paling wajar di dunia. “Lagipula Mama berhak bertemu dong. Bagaimana kalau lusa? Di rumah. Mama akan siapkan makan malam untuk menyambutnya.”

Xavier menatap ujung lorong. Namun ia tetap menjawab seperti biasa, agar sang ibu tidak mengetahui gerak geriknya yang berbeda, “baiklah.”

Ibunya terdengar semakin bahagia karena Xavier setuju dengan keputusannya, “baiklah, kalau begitu Mama tunggu ya, berikan salam Mama kepada Senja. Sampai jumpa lusa nanti Xavier, mama tutup ya.”

“Ya,” jawab Xavier singkat.

Panggilan kini berakhir, Xavier menurunkan ponselnya pelan. Tangannya masih menggenggamnya kuat benda itu. Ia kembali menekan pelipisnya, rasa pusing itu datang lagi.

Namun bukan karena sakit, melainkan karena kebohongan yang ia buat sendiri.

Dimana ia harus mencari seorang gadis yang namanya Senja. Akankah ada gadis dengan ciri-ciri yang tadi ia sebutkan? Kalaupun ada, dimana gadis itu?

Belum lagi, lusa sang ibu ingin bertemu dengannya. Dan disisi lain, besok ia harus memulai pertarungan. Kapan ia dapat mencari gadis itu dalam jangka 1 hari? Oh Tuhan, kepalanya seperti ingin meledak.

Dan yang sudah ia baca dari gerak-gerik sang ibu, tampaknya setelah bertemu mereka akan menikah. Xavier tahu, ia tidak bisa terlalu banyak diam dan main-main. Ia harus segera mencari gadis itu.

Xavier menghembuskan napas berat, matanya tajam, wajahnya dingin, tapi ada lelah yang tidak bisa ia sembunyikan.

Ia kembali membuka ponselnya, kemudian menelpon Felix, setelah panggilan itu tersambung ia langsung berkata, “aku ingin ke bar malam ini,” singkat, namun Felix sudah tahu.

“Baik, tuan,” jawab Felix.

Xavier kembali memasukkan ponselnya kedalam saku, lalu melanjutkan langkahnya.

Di dalam kepalanya hanya terpikir dua hal saat ini. Peperangan dan perjodohan. Dan ia tahu semua itu tidak bisa dipendam terlalu lama, ia butuh menyegarkan otak sebentar.

Mungkin dengan segelas alkohol ia bisa lebih tenang, dan dalam waktu sebentar ia bisa melupakan beberapa hal yang membuatnya lelah dan pusing.

1
Raicy Starmoonix
bnr lgi/Facepalm/
It's me Sky: efek trlalu kaya bgtu tuh/Proud/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
bohongnya nyambung lagi/Facepalm/
It's me Sky: bkn skrip dlu mrka/Slight/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
gmna g terpesona Lykonya aja cantik gituu/Sly//Rose/
It's me Sky: //Chuckle//Chuckle/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
tegang tor, aura mafianya ada bgt/Shame/
It's me Sky: bulu kudup aman?/Blush/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
bagusss bgt ceritanyaa/Kiss//Kiss/
Raicy Starmoonix
si mc ganteng bgt tor/Drool/
It's me Sky: kiww🤭
total 1 replies
Raicy Starmoonix
Xavier tanggung jwb anak orng salting/Facepalm/
It's me Sky: xavier aja salting sendiri/Proud/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
salting.... saltingg/Smirk/
It's me Sky: gengsi... gengsi/CoolGuy/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
omak, terbakar cemburu dan posesif/Doubt/
It's me Sky: shhtt/Shhh/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
astaga diksih black card.../Doubt/
It's me Sky: iya dong/Casual/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
lyko nya polos bgt pilss/Proud/
It's me Sky: hu um, soalnya dya bukan batik/Tongue/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
pingin punya cowok spek Xavier ihh, royal bgt😍/Rose/
It's me Sky: heii aku jg mau lohh/Proud/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
wahh alurnya keren/Joyful/
Arditya
luar biasa mantap thor
It's me Sky: makasihh/Hey/
total 1 replies
Arditya
Mampir baca thor😍
It's me Sky: yuk¹ mampir/Proud/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!