"
Lima tahun Naira menyusun kerajaan bisnis suaminya dari balik bayang, tapi lelaki itu malah memberikan undangan kongres penting kepada cinta lamanya. Lalu Dimas membatalkan janji menjemput ayahnya sendiri demi perempuan itu. Naira tidak berteriak. Ia hanya melepas cincinnya, mengajukan cerai, dan mengambil kembali seluruh aset yang ia bangun.
Keluarga Mahendra panik. Mereka tidak tahu bahwa Naira adalah putri tunggal Atmadja yang kekayaannya bisa membeli seluruh perusahaan mereka. Tepat saat segalanya kacau, Raka Wiratama muncul. Penguasa bisnis paling ditakuti itu bersumpah melindungi Naira dengan satu alasan: lima tahun lalu, perempuan itu menyelamatkan nyawanya. Dan Raka tidak pernah main-main soal utang nyawa."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Bab 04
Pukul sepuluh kurang lima, Naira tiba di rumah keluarga Mahendra.
Ia tidak datang dengan mobil yang biasa dipakai pembantu untuk belanja. Tidak juga dengan sedan lama yang dulu ia pakai diam-diam ke rumah sakit. Hari itu ia turun dari Alphard hitam dengan kaca gelap, ditemani Bagas dan seorang pengacara perempuan bernama Maya.
Satpam rumah Mahendra sampai lupa membuka gerbang.
"Bu Naira?" katanya gugup.
Naira mengangguk. "Buka."
Satpam cepat-cepat menekan tombol.
Di halaman, mobil Dimas sudah terparkir. Itu berarti ia ada di rumah. Bagus. Naira tidak ingin datang dua kali untuk urusan yang sama.
Begitu masuk, suara Bu Ratna langsung menyambar dari ruang keluarga.
"Akhirnya pulang juga."
Naira melepas sepatu dengan tenang.
Bu Ratna duduk di sofa besar, memakai daster mahal dan kalung emas tipis. Vina ada di sebelahnya, sedang menggulir layar ponsel. Dimas berdiri di dekat jendela, wajahnya tampak kurang tidur.
Ketika melihat Bagas dan Maya masuk di belakang Naira, Bu Ratna mengerutkan kening.
"Ini siapa? Kamu bawa orang luar ke rumah keluarga?"
"Pengacara saya," jawab Naira.
Vina mendengus. "Pengacara? Wah, sekarang gaya sekali."
Dimas melangkah mendekat. Matanya langsung turun ke jari Naira. Cincin itu tidak ada.
Wajahnya berubah.
"Naira, kita bicara berdua."
"Tidak perlu."
"Aku suamimu."
"Sebentar lagi bukan."
Kalimat itu membuat Bu Ratna berdiri. "Apa maksudmu?"
Maya membuka map. "Ibu Naira akan mengajukan gugatan cerai. Hari ini kami menyampaikan pemberitahuan awal dan daftar aset yang perlu diklarifikasi."
"Cerai?" Vina tertawa keras. "Kak Naira, kamu pikir Mas Dimas takut?"
Bu Ratna menunjuk wajah Naira. "Perempuan tidak tahu diri. Lima tahun kamu hidup di rumah ini, makan dari uang anak saya, sekarang mau menggugat cerai?"
Dimas menegang. "Ma, cukup."
"Tidak, Dimas. Mama harus bicara. Perempuan seperti dia kalau tidak diajari akan semakin kurang ajar." Bu Ratna maju dua langkah. "Kamu itu datang ke keluarga ini tanpa apa-apa. Kalau bukan Dimas, kamu sudah jadi siapa?"
Naira menatapnya. "Saya juga sering bertanya begitu."
Bu Ratna terpaku.
"Kalau bukan karena saya, keluarga ini sekarang jadi apa?"
Vina langsung berdiri. "Mulai lagi. Kamu mau mengaku-ngaku berjasa?"
Naira menerima map dari Maya, lalu meletakkannya di meja.
"Rumah ini," katanya pelan, "bukan milik Dimas."
Ruangan hening.
Dimas menutup mata sebentar. "Naira."
"Bukan juga milik keluarga Mahendra."
Bu Ratna tertawa sinis. "Kamu sudah gila? Sertifikat rumah ini atas nama perusahaan keluarga."
Maya mengeluarkan salinan dokumen. "Perusahaan pemegang aset adalah PT Langit Pusaka. Pemilik manfaat akhirnya Ibu Naira Salsabila Atmadja."
Vina merampas kertas itu, membaca setengah halaman, lalu wajahnya berubah.
"Ini palsu."
"Silakan verifikasi ke notaris yang tercantum," kata Maya datar.
Bu Ratna menatap Dimas. "Dimas, bilang sesuatu."
Dimas tidak langsung menjawab.
Ia tahu rumah ini bukan miliknya. Dulu Naira mengatakan rumah itu milik kerabat jauh yang meminjamkan sementara. Ia tidak pernah bertanya lebih jauh karena saat itu ia terlalu malu mengaku tidak mampu membeli rumah layak untuk ibunya.
Lalu tahun-tahun berlalu.
Rumah itu menjadi "rumah Mahendra".
Ia membiarkan ibunya percaya begitu.
Ia membiarkan Naira menjadi pembantu di rumah yang bahkan bukan milik mereka.
"Dimas!" bentak Bu Ratna.
Dimas membuka mata. "Rumah ini memang bukan milikku."
Vina seperti ditampar. "Mas?"
Bu Ratna meraih dada. "Jadi kamu tahu? Kamu biarkan Mama dipermalukan?"
Naira hampir tersenyum.
Bahkan sekarang, yang dipikirkan Bu Ratna tetap rasa malunya sendiri.
"Saya belum selesai," kata Naira.
Maya mengeluarkan dokumen lain. "Lisensi paten formula antiinflamasi neurovaskular yang menjadi dasar produk utama Mahendra Health Group juga berakhir bulan depan. Ibu Naira sebagai pemegang hak tidak akan memperpanjang lisensi."
Dimas menatap Naira tajam. "Kamu tidak bisa begitu."
"Bisa."
"Perusahaan itu mempekerjakan ratusan orang."
"Lima tahun lalu, perusahaan itu hampir mati sebelum lahir." Naira menatap Dimas. "Siapa yang mengenalkan kamu ke investor pertama?"
Dimas diam.
"Siapa yang mengirim formula awal itu lewat surel anonim?"
Wajah Dimas memucat sedikit.
Vina berbisik, "Formula apa?"
"Siapa yang membantu ibumu ketika maag kronisnya membuat dokter menyarankan tindakan? Siapa yang merawat migrainmu sampai kamu bisa tetap berdiri di depan dewan direksi?"
Bu Ratna langsung marah. "Jangan mengungkit-ungkit kebaikan! Itu memang tugas istri."
"Tugas istri bukan diinjak."
Kalimat itu membuat seluruh ruangan berhenti.
Dimas memandang Naira seolah baru melihatnya.
Perempuan di depannya memakai blouse putih sederhana dan celana panjang hitam. Tidak ada perhiasan mencolok. Tidak ada riasan tebal. Tapi punggungnya tegak, suaranya tidak bergetar, dan orang-orang yang ia bawa berdiri seperti tembok di belakangnya.
Di mana perempuan yang selalu menunduk ketika ibunya marah?
"Naira," kata Dimas lebih pelan. "Aku akui aku salah kemarin. Aku seharusnya datang. Tapi jangan ambil keputusan saat emosi."
"Aku mengambil keputusan setelah lima tahun."
"Lima tahun itu tidak semuanya buruk."
"Tidak." Naira mengangguk. "Itu sebabnya aku bertahan selama ini."
Dimas tampak ingin mendekat, tetapi Bagas melangkah setengah inci. Gerakan kecil itu cukup membuat Dimas berhenti.
Bu Ratna melihatnya, lalu meledak. "Berani sekali kamu membawa orang untuk mengancam anak saya! Dasar perempuan tidak tahu asal. Ibumu juga begitu, kan? Katanya dokter hebat, ternyata hilang karena skandal. Jangan-jangan memang lari dengan laki-laki lain!"
Naira diam.
Dimas langsung menoleh. "Ma!"
Terlambat.
Vina yang merasa mendapat dukungan ibunya ikut berkata, "Iya, Kak. Jangan sok suci. Kalau ibumu benar, kenapa namanya hilang dari kampus dan jurnal? Orang baik tidak kabur."
Maya menutup map perlahan.
Bagas mengangkat wajah. Matanya dingin.
Naira justru tersenyum tipis.
"Dimas."
Dimas menatapnya dengan cemas yang terlambat.
"Selama lima tahun, setiap kali ibumu menghina saya, kamu diam. Setiap kali adikmu merendahkan saya, kamu bilang saya harus mengerti. Hari ini mereka menghina ibu saya."
"Naira, aku..."
"Jawab satu kali saja." Naira menatap langsung ke matanya. "Apa kamu juga berpikir Dr. Sari Anggraini perempuan kotor yang kabur karena skandal?"
Dimas membuka mulut.
Tidak ada suara.
Matanya bergerak ke Bu Ratna, lalu ke Vina.
Naira melihat semuanya.
Diamnya.
Takutnya.
Kebiasaannya memilih jalan paling nyaman.
Jawaban itu sudah cukup.
"Baik."
Naira mengambil satu amplop dari Maya dan meletakkannya di meja.
"Gugatan cerai akan masuk minggu ini. Untuk sementara, saya beri waktu tujuh hari agar keluarga Mahendra mengosongkan rumah ini atau mengajukan sewa resmi lewat pengacara saya."
Bu Ratna menjerit, "Kamu mengusir kami?"
"Saya mengambil kembali milik saya."
"Dimas, lakukan sesuatu!"
Dimas melangkah maju. "Naira, jangan seperti ini. Kita bisa bicara."
"Kita sudah bicara lima tahun. Kamu hanya tidak pernah mendengar."
Naira berbalik.
Dimas menyambar pergelangan tangannya, tetapi sebelum menyentuh, Bagas sudah berdiri di antara mereka.
"Tuan Dimas," kata Bagas rendah. "Jangan menyentuh Non Naira tanpa izin."
Dimas menatap pria itu. "Dia istri saya."
Naira menoleh sedikit.
"Itu juga akan selesai."
Ia berjalan keluar tanpa menunggu jawaban.
Di halaman, udara Jakarta panas dan lembap. Namun dada Naira terasa lebih lapang daripada semalam.
Sebelum masuk mobil, ia melihat ponselnya.
Ada pesan dari nomor tidak dikenal.
Kamu akhirnya keluar dari rumah itu.
Naira mengerutkan kening.
Pesan kedua masuk.
Bagus. Aku benci melihat penyelamatku hidup seperti tahanan.
Di sebuah gedung tinggi di kawasan Sudirman, Raka Wiratama berdiri di depan jendela, menatap foto Naira di layar tablet.
Lima tahun ia mencari perempuan itu.
Dan sekarang, perempuan itu baru saja melepaskan cincin dari pria yang salah.
Di rumah Mahendra, Dimas baru sadar ruang keluarga masih berantakan sejak kedatangan Naira. Bu Ratna mengomel di kamar, Vina menelepon teman-temannya untuk mencari pembelaan, sementara Rendi mengirim pesan soal investor yang mulai bertanya tentang isu perceraian.
Dimas berdiri di depan pintu dapur.
Biasanya dari sana terdengar bunyi pisau, air mendidih, atau langkah Naira mengambil obat ibunya. Hari itu tidak ada apa-apa. Hanya piring kotor yang belum dibereskan karena semua orang terbiasa percaya Naira akan melakukannya.
Ponselnya bergetar.
Clara: Mas, aku dengar Kak Naira membawa pengacara. Kamu baik-baik saja?
Dimas menatap pesan itu lama.
Dulu ia akan langsung membalas.
Kali ini, jarinya diam.
Otak berputar terus ini
Good job author🤏
ada yg diulang2, ada dimas yg ikut nimbrung.
naira yg cucunya dilarang masuk, tp stlh bisa masuk, tau2 dimas jg ada disitu. aneh & membungungkan.