NovelToon NovelToon
Setelah cerai, CEO mengejar kembali mantan istri pengganti

Setelah cerai, CEO mengejar kembali mantan istri pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Berbaikan / Anak Genius / Pengganti / Penyesalan Suami / Pelakor jahat
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Prabowo

Alya Putri menjalani pernikahan kontrak empat tahun dengan miliarder Rizky Aditya, hanya karena wajahnya yang mirip dengan Kezia Angelica, cahaya bulan putih yang dicintai Rizky. Ketika Kezia kembali, Rizky segera menyiapkan perjanjian perceraian dan menawarkan kompensasi besar, menganggap hubungan mereka hanya transaksi uang dan tubuh.
Namun, Alya yang awalnya hanya mengejar uang telah jatuh cinta mendalam pada suaminya. Lebih buruk lagi, dia menemukan dirinya hamil, tetapi Rizky dengan kejam memerintahkannya untuk menggugurkan anak itu. Di tengah tekanan ipar yang membenci dan skandal wanita lain, Alya harus memilih antara menyerahkan segalanya atau berjuang untuk cinta dan anaknya, sementara Rizky mulai menyadari bahwa dia tidak bisa hidup tanpa Alya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prabowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Rizky menatapnya selama dua detik—dua detik yang terasa lebih panjang dari seharusnya karena tidak ada yang bergerak di antara mereka, hanya jarak tiga langkah dan udara yang diam. Lalu ia menutup jarak itu.

Ciumannya tidak pelan. Tidak seperti tadi pagi di kamar tidur yang masih menyimpan sisa kantuk, atau kemarin di depan jendela yang lebih menyerupai pernyataan daripada keinginan. Ini berbeda—lebih keras, lebih langsung, seperti seseorang yang sudah memutuskan sesuatu dan mengeksekusi keputusan itu tanpa basa-basi.

Alya merespons selama beberapa detik sebelum kedua tangannya bergerak ke dadanya dan mendorongnya mundur—tidak keras, tapi cukup tegas untuk menciptakan jarak. Rizky membiarkan dirinya didorong. Ia berdiri satu langkah lebih jauh dengan napas yang sedikit berubah ritmenya, memandang Alya dengan tatapan yang tidak bisa disebut biasa.

Alya menyentuh sudut bibirnya dengan ujung jari, memeriksa lipstiknya, lalu mengangkat pandangan dengan ekspresi yang jernih. "Jadi kamu bilang kamu mencintai Kezia." Nada suaranya ringan, seperti orang yang membuka percakapan tentang cuaca. "Tapi di sini sama saya. Dan sepertinya menikmatinya." Ia memiringkan kepalanya sedikit. "Dua wanita sekaligus—kamu merasa istimewa?"

Rahang Rizky bergerak sedikit. "Setelah perceraian selesai, tidak akan ada urusan apa pun di antara kita."

Kata-kata itu jatuh ke lantai dengan berat yang tidak sebanding dengan cara mengucapkannya—datar, efisien, seperti fakta yang tidak memerlukan penjelasan tambahan.

Di dalam dada Alya, sesuatu bergerak dengan cara yang tidak ia izinkan terlihat di wajahnya. Ia tersenyum—senyum yang sempurna, terlatih, tidak meninggalkan celah. "Oh." Ia mengangguk pelan. "Jadi kamu mengingatkan saya soal itu sekarang." Tangannya bergerak ke dadanya sendiri, jari-jarinya menggambar lingkaran kecil di kain gaun hitamnya dengan gerakan yang disengaja. "Berarti malam ini kamu tidak boleh menyentuh saya, ya? Karena kita hampir tidak punya hubungan apa-apa."

Rizky melangkah maju. Satu langkah, dua, sampai jarak yang baru saja diciptakan Alya tidak ada lagi. Ia tidak menyentuhnya—hanya berdiri cukup dekat sehingga Alya bisa merasakan kehangatan badannya dan melihat detail di matanya yang tidak terlihat dari jauh.

"Kamu masih Nyonya Aditya." Suaranya turun satu nada. "Sampai tanda tangan itu kering, kamu masih punya kewajiban."

"Kewajiban." Alya mengulang kata itu seperti mencicipi sesuatu yang rasanya tidak sepenuhnya asing tapi tidak sepenuhnya enak juga.

"Kebutuhan biologis." Rizky menambahkan, dan ada sesuatu di nada itu—bukan kejam, tapi juga tidak bermaksud lembut—yang membuat kata-kata itu terasa lebih jujur dari kata-kata romantis mana pun yang pernah Alya dengar dari siapa pun.

Alya menunduk sejenak. Satu momen pendek di mana sudut bibirnya turun sedikit dan ekspresinya menjadi sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan sepenuhnya—sesuatu yang pahit, kecil, seperti biji kopi yang tertelan tidak sengaja di antara sedotan. Tapi itu hanya satu momen. Ketika ia mengangkat kepala lagi, matanya sudah penuh dengan ekspresi lain—gairah yang dipilih secara sadar, bukan yang datang tanpa izin.

Rizky menatapnya. Dan untuk sepersekian detik, sesuatu di ekspresinya bergeser—ia terdiam dengan cara yang berbeda dari biasanya, pandangannya menelusuri wajah Alya dari dahi ke dagu seperti sedang memeriksa sesuatu yang ia pikir sudah ia hafal tapi tiba-tiba menemukan detail yang tidak ia catat sebelumnya.

"Kamu benar-benar—" ia berhenti.

"Benar-benar apa?"

"Mirip." Kata itu keluar pelan, hampir bergumam, seperti bicara ke diri sendiri.

Alya merasakannya sebelum sempat mencegahnya—otot-otot di bahunya mengencang, sesuatu di dadanya menarik ke dalam seperti karet yang diregangkan. Satu detik. Dua. Ia mengendurkannya sebelum Rizky bisa memperhatikan.

"Rizky." Ia mendekatkan dirinya, satu tangan naik ke kerah kemejanya. "Kalau kamu menyebut nama wanita lain di depan saya, saya akan merasa kehilangan daya tarik." Matanya bertemu matanya dari jarak yang sangat dekat. "Dan itu rugi untuk kamu."

Sebelum Rizky bisa menjawab, Alya menarik kerahnya ke bawah dan mencium duluan.

Ia merasakan Rizky diam selama setengah detik—kaget mungkin, atau sekadar mengkalibrasi ulang—sebelum tangannya bergerak ke pinggang Alya dan mengambil alih. Ciuman yang dimulai Alya selesai menjadi sesuatu yang lain di bawah kendali Rizky, lebih dalam, lebih lama, sampai Alya harus meletakkan satu tangan di dadanya untuk menjaga keseimbangannya.

Ketika Rizky mulai bergerak ke arah yang Alya sudah antisipasi, ia menekankan tangannya di dadanya dan mendorong—kali ini dengan ekspresi orang yang baru saja melakukan lelucon berhasil.

"Tunggu." Ia melangkah mundur dengan senyum yang bebas, rambut sedikit berantakan di sisi kiri. "Anggur dulu."

Rizky menatapnya. Pandangan itu—pandangan yang Alya sudah pernah lihat sebelumnya, yang mengandung sesuatu antara frustrasi dan minat yang tidak bisa dipadamkan dengan mudah—berlangsung selama beberapa detik sebelum ia berpaling ke arah bar kecil di sudut ruangan.

Alya duduk di sofa dan memperbaiki rambutnya. Di luar jendela suite, Jakarta malam terbentang—ribuan titik cahaya yang tidak peduli dengan apa yang terjadi di dalam kamar ini, tiga puluh sekian lantai di atas mereka.

Botol itu sudah ada di rak bar sejak entah kapan—Alya tidak tahu apakah itu standar kamar suite ini atau sesuatu yang Rizky minta disiapkan, tapi itu bukan botol biasa. Label krem yang sudah kecokelatan di bagian tepinya, tulisan yang dicetak dengan tipografi lama, angka tahun di bagian bawah.

Bordeaux, 1982.

Rizky membawa botol itu ke meja kopi di depan sofa bersama dua gelas tinggi yang bertangkai panjang. Ia membuka botolnya dengan gerakan yang sudah sangat terlatih—korknya keluar tanpa suara, tanpa drama. Ia menuangkan anggur ke gelas Alya terlebih dahulu—setengah gelas, tidak lebih—sebelum mengisi gelasnya sendiri.

Alya mengambil gelasnya. Warna anggur di bawah lampu suite itu seperti garnet tua—merah yang dalam, hampir cokelat di bagian tepinya. Ia memiringkan gelas perlahan, membiarkan cairan bergerak mengikuti kemiringan, lalu mengembalikannya ke posisi tegak dengan gerakan yang lambat.

"Kamu tahu cara swirl yang benar." Rizky duduk di sebelahnya, tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh—jarak yang mereka gunakan ketika tidak sedang di tengah sesuatu tapi juga tidak sedang di awal.

"Saya belajar." Alya mengangkat gelasnya, mendekatkan ke hidungnya sebentar sebelum mengangkat pandangan ke Rizky. "Seseorang yang saya kenal punya kebiasaan memesan wine mahal dan saya tidak mau terlihat tidak tahu cara meminumnya."

Rizky mengangkat gelasnya.

"Buat apa?" tanya Alya.

"Bersulang."

"Untuk apa?"

Rizky tidak langsung menjawab. Matanya memandang ke arah gelasnya sendiri sebentar. "Untuk hal-hal yang sudah selesai."

Alya mengangguk pelan. Ia mengangkat gelasnya dan menyentuhkannya ke gelas Rizky—bunyi kristal yang bersih, singkat.

Mereka minum.

Alya mengocok gelasnya perlahan setelah itu—gerakan pergelangan tangan yang kecil, memutar, membiarkan anggur bersentuhan dengan udara di dalam gelas. Oksigenasi, begitu yang ia baca, mengubah karakternya—membuka lapis-lapis rasa yang tidak terasa jika diminum langsung dari botol yang baru dibuka.

"Empat puluh tahun," katanya, memandang gelasnya. "Anggur ini disimpan lebih lama dari umur saya."

"Tiga tahun lebih tua dari kamu."

Alya melirik ke samping. "Kamu tahu umur saya."

"Kamu istri saya."

"Hampir mantan." Alya tersenyum ke arah gelasnya. "Tapi ya, hampir mantan yang kamu masih tahu umurnya."

Rizky tidak merespons itu. Ia minum lagi, satu tegukan panjang, matanya ke arah jendela. Profil wajahnya dalam cahaya lamp suite itu—rahang yang tegas, garis hidung yang lurus, mata yang selalu tampak seperti sedang memikirkan lebih dari satu hal sekaligus. Alya sudah hafal wajah ini. Empat tahun adalah waktu yang cukup untuk menghafal seseorang bahkan ketika seseorang itu tidak pernah benar-benar membuka dirinya untuk dikenal.

"Kezia tahu kita ketemu malam ini?" tanya Alya.

"Tidak relevan."

"Buat saya relevan." Alya memiringkan tubuhnya sedikit ke sandaran sofa, menghadap ke arahnya. "Dia kirim pesan kemarin minta saya mundur. Empat ratus lima puluh miliar. Itu bukan angka kecil untuk orang yang serius."

"Urusan saya dengan Kezia bukan urusan kamu."

"Rizky." Nada suara Alya tidak berubah—masih ringan, masih datar, tapi mengandung sesuatu yang jarang ia keluarkan secara langsung. "Kamu yang membawa saya masuk ke situasi ini empat tahun lalu. Jadi sampai tanda tangan itu kering—kata kamu sendiri—ini masih sedikit urusan saya."

Rizky memutar gelasnya sekali, menatap gerakan cairan di dalamnya. Ia tidak menjawab langsung, dan Alya tidak mendorong. Mereka berdua sudah cukup lama untuk tahu bahwa ada pertanyaan yang dijawab Rizky dengan diam bukan karena tidak ada jawabannya, tapi karena jawabannya adalah sesuatu yang tidak ingin ia artikulasikan.

Alya mengambil satu tegukan lagi. Anggur itu lebih kompleks sekarang dari ketika pertama kali menyentuh lidahnya—lebih hangat, lebih bulat, dengan rasa yang berlapis-lapis seperti sesuatu yang membutuhkan waktu untuk dipahami sepenuhnya.

Empat puluh tahun di dalam botol, pikirnya, dan rasanya baru keluar sekarang.

"Ibu Siti tadi malam masak opor sendiri," kata Alya setelah beberapa saat. Pergantian topik yang disengaja, bukan karena ia menyerah, tapi karena ia sudah mendapatkan apa yang ingin ia ketahui dari diam Rizky. "Habis semua. Pak Budi sampai kelihatan terharu."

Sesuatu di bahu Rizky yang tegang sedikit mengendur. "Ibu tidak masak sendiri kalau tidak ada yang dikuatirkan."

"Atau kalau ada yang dirindukan." Alya menatap gelasnya. "Ibu bilang kamu waktu kecil pernah pelihara kelinci."

Rizky melirik ke arahnya dengan ekspresi seseorang yang tidak mengantisipasi topik itu muncul malam ini.

"Gagal total katanya." Alya tersenyum ke arah gelasnya. "Tidak sabar."

"Itu urusan lama."

"Saya tidak bilang itu buruk." Alya mengangkat bahu. "Saya juga tidak pernah berhasil pelihara tanaman. Satu minggu pasti mati."

Rizky memandangnya sebentar dengan ekspresi yang sulit dieja—bukan lembut, bukan dingin, tapi sesuatu yang ada di antara keduanya dan tidak punya nama yang tepat. "Kamu tidak pernah cerita itu."

"Kamu tidak pernah tanya."

Keheningan kecil itu jatuh di antara mereka—bukan yang canggung, tapi yang terasa seperti sesuatu yang baru saja diucapkan oleh keduanya tanpa kata-kata.

Di luar, kota terus berdenyut. Di dalam, dua gelas anggur tahun 1982 perlahan-lahan berkurang isinya, dan malam bergerak maju dengan cara yang tidak peduli apakah orang-orang di dalamnya sudah siap atau belum.

1
lyani
yg ada situ nggak tau malu
lyani
penulisan yg bagus dengan mempermainkan perasaan tiap pemilihan kata.
lyani
syedihhhhh
Anonim
Kapan episode baru?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!