Ara, harus menelan pil pahit setelah perjuangannya selama 2 tahun terbuang sia-sia,
"Aku kira pengabdianku selama 2 tahun ini akan membuahkan hasil yang indah, Mas,"ujar wanita cantik berambut panjang itu,
"tapi ternyata aku salah, .... "
"Aku menyerah Mas Arya"ujar Ara menatap langit malam, dengan air mata yang meleleh membasahi pipinya, tapi bibirnya mengembangkan senyum yang penuh luka....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamak Ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4, Dua Tahun Yang Sia Sia.
Arya melangkah masuk ke dalam lift, menuju ruang pribadinya.
"Huff," ia menghela napas kasar sebelum membuka pintu ruangannya.
Pintu terbuka namun Arya cukup kaget dengan kehadiran Maminya,
"Mi," panggil Arya saat melihat maminya duduk di sofa.
"Dari mana kamu?" tanya Mami Ella sambil menatap Arya.
Arya tersenyum, menyalami maminya, lalu duduk di depannya.
"Dari luar, Mi. Mau Arya pesanin teh tawar, Mi?" tanya Arya.
Mami Ella menggeleng.
"Kemana Ara, Bang?" tanya Mami Ella dengan sorot mata kecewa, Arya terdiam mendengar pertanyaan maminya itu.
"Bang, Mami sama Papi hanya punya dua anak. Suka atau tidak, kalian tahu bahwa Mami dan Papi masih memantau kalian. Mami tahu kamu sudah berumah tangga, sudah punya istri, dan tinggal di rumah lain. Tapi Mami masih memantau kamu Bang, sampai kamu benar-benar melupakan masa lalu kamu itu," ujar Mami Ella tegas.
“Mi...”
"Abang, nggak semua yang kamu lihat itu benar. Nggak semua juga yang kamu lihat adalah kenyataannya. Ada baiknya kamu dengarkan suara hati kamu, bukan cuma perkataan orang lain,” ujar Mami Ella, menyela ucapan Arya.
“Mami tahu semuanya, Bang. Mami tahu tentang kembalinya wanita itu,” ujar Mami Ella dengan suara bergetar menahan tangisnya, Arya mendekat, duduk di samping maminya,
menggenggam tangan Mami Ella erat.
“Dia membawa benih Arya keturunan Mami pergi, Mi. Bagaimana mungkin Arya bisa melepaskannya, sementara di antara kita ada seorang anak kecil yang sangat membutuhkan Arya, Mi?” Arya mencoba menjelaskan keadaannya saat ini.
“Lalu bagaimana dengan Ara? Pertama kali Mami bertanya sama kamu, Bang, sebelum Mami meminta Ara jadi pengantin pengganti kamu, kamu bilang iya. Kamu bilang siapa kalau kamu menikahi wanita pilihan Mami?”
Mami dan Papi tak pernah memaksamu menikah dengan Ara. Tapi sekarang, kamu malah memilih wanita itu wanita yang kamu bilang membawa anakmu.
“Apa kamu yakin, Bang?” tanya Mami Ella sambil menatap mata Putra pertamanya.
“Aku sangat yakin, Mi. Malam itu, aku benar-benar yakin melakukannya, tapi aku melakukannya dalam keadaan tidak sadar, Mi. Aku tidak pernah melewati batas saat dekat dengan wanita, seperti yang sering Mami peringatkan,” jawab Arya.
Mami Ella mengangguk pelan.
“Kalau itu yang kamu yakini, Mami tak bisa membantah. Mami hanya bisa membantu sedikit, selebihnya itu jalan takdirmu, Bang. Ingatlah, sekali-kali ikuti kata hatimu, bukan hanya apa yang kamu lihat,” kata Mami Ella, lalu berdiri berjalan Pelan pergi meninggalkan Arya yang terdiam.
Mami Ella berhenti tepat di depan pintu ruangan Arya tanpa menoleh.
"ingat, Bang, jangan pernah memulai hubungan dengan wanita kalau kamu belum bisa melupakan masa lalu. Jujur, Mami kecewa dengan sikap kamu ini, Bang," ucapnya tegas.
Arya berdiri, ingin menyusul Mami, tapi baru melangkah dua kali, dia terhenti.
"Mi..." gumam Arya pelan, menundukkan kepala penuh rasa bersalah karena telah mengecewakan Maminya,
"Maafkan Arya, Mi, sudah membuat Mami kecewa. Tapi Arya janji, Arya tidak akan menyakiti wanita lagi. Arya akan berusaha mencari jalan tengah agar keputusan yang Arya ambil tidak menyakiti siapa pun," bisik Arya, dilema berat menghantui pikirannya.
****
"Ini tempat tinggalku,?" tanya Ara kepada Eren saat dia diantarkan ke sebuah rumah yang cukup besar.
"Iya, Bos Arhan biasanya memfasilitasi semua karyawannya, termasuk Anda Chef baru di bengkel kami, Nona Ara," jawab Eren sambil mengarahkan Ara masuk ke dalam rumah minimalis yang terlihat rapi.
"Wah, cantik, bagus, dan rapi. Aku suka," sahut Ara saat baru melangkah ke dalam.
"Sambil saya tunjukkan rumah ini, saya juga akan menjelaskan kontrak yang sudah tertera di sini. Tapi kontrak ini baru akan Anda terima setelah menjalani pelatihan selama satu minggu," jelas Eren. Ara mengangguk, meski matanya fokus mengamati rumah barunya, dia masih bisa mendengar perkataan Eren.
"Di bengkel Mechanic, Mbak Ara akan memasak tiga kali sehari, kecuali hari Minggu. Jadi, Anda akan mendapat libur 4 hari dalam sebulan," tambah Eren sambil menatap Ara yang terlihat menyimak dengan serius.
"Di dalam dapur, Mbak Ara akan dibantu oleh lima asisten yang masing-masing memiliki tugasnya sendiri."
"Besok pagi saya akan perkenalkan lima asisten Anda," jelas Eren.
"Biasanya, pagi hari anggota bengkel tidak makan makanan berat. Mereka hanya mengonsumsi makanan ringan seperti roti, jus, salad buah, atau salad sayur. Saat siang, para karyawan ada yang request makan siang, jadi terkadang menu ditentukan oleh mereka. Atau bos Arhan yang akan menentukan makan siang, Sedangkan di malam hari, biasanya karyawan ingin makanan berat seperti nasi, dan tentu saja, setiap kali makan harus ada makanan penutup." jelas Eren
"Oke, aku mengerti, Eren. Selama seminggu masa training ini, aku akan banyak bertanya. Semoga aku diterima di bengkel mekanik ini," jawab Ara dengan ekspresi paham.
Eren tersenyum melihat sisi positif Ara, wanita ceria dan rendah hati itu.
"Semoga saja, Mbak Ara."jawab Eren ,
"Panggil saja Ara, Mbak" sahut Ara sambil tersenyum manis. Eren menganggukkan kepala setuju.
***
Ara duduk di ruang tamu dengan air mata yang terus mengalir tanpa henti. Seharian ini dia tersenyum, tapi semua itu hanyalah topeng palsu yang menutupi luka di hatinya.
“Sia-sia, Mas. Senyum dan tawaku hari ini benar-benar sia-sia. Aku masih mengingatmu, Mas. Hatiku masih sakit,” gumam Ara sambil memukul dadanya yang terasa sesak.
“Mas, apa sekarang kamu sedang menikmati makanan terakhir yang aku buat untukmu, bersama wanita itu?” lanjutnya dengan suara bergetar.
“Huaaaa... hiks, hiks... sakit sekali hatiku, Mas, sakit...” Ara menangis dan berteriak keras, membayangkan Arya sedang menyantap masakannya bersama wanita dari masa lalunya.
“Aku yang sudah berjuang merebut hatimu selama dua tahun, ternyata kalah oleh bayang-bayang masa lalumu, Mas,” gumam Ara sambil merebahkan tubuhnya yang penuh luka di sofa tempat tinggal barunya.
“Wanita kalau sudah sakit hati begini memang paling bisa hanya menangis,” suara seseorang tiba-tiba terdengar, membuat Ara terkejut bukan main.
“Akhhhh!” Ara berteriak histeris sambil bangkit dari duduknya.
"Kamu... dasar... eh, maksudku bos, kok bisa sampai di sini dan masuk ke rumah saya?" ujar Ara, terkejut sampai hampir berteriak. Untung saja dia ingat siapa Arhan.
"Ini, Eren lupa ngasih kamu kunci rumah ini. Soalnya rumah mami aku lewat depan rumah kamu, jadi sekalian saja. Lagi ngapain malam-malam begini nangis? Bikin ngeri, aja, Ambil, ini kuncinya," kata Arhan sambil menyerahkan kunci rumah itu kepada Ara.
"Iya, terima kasih, bos. Tapi masuknya jangan tiba-tiba kayak gitu, bikin kaget," gumam Ara di akhir kalimatnya.
"Apa, mau melawan aku? Ingat siapa aku," jawab Arhan dengan gaya sombongnya. Ara tersenyum, tapi senyum itu tampak tidak tulus.
"Gak, bos. Saya ingat siapa Anda. Bos Arhan, si pemilik Medichal Bengkel," jawab Ara.
"Bagus kalau kamu ingat," sahut Arhan lalu langsung pergi meninggalkan Ara.
Ara yang awalnya sedih kini berubah menjadi kesal karena sikap Arhan.
"Arghhh, kesel banget! kan gak bisa jadi sedih lagi, Kenapa setiap kali ketemu selalu bikin emosi, sih?" gumam Ara setelah Arahan pergi.
Sekarang, Ara sudah tak berani lagi mendebat Arhan karena mereka sekarang bekerja sama<, apalagi Ara sekarang sangat membutuhkan sebuah pekerjaan.
~
jadi betul"anaknya si Arya toh panggil Daddy ke Paman nya bagus bagus
CLBK kah ini no good
sekarang dah balik lagi jadi begundal
hemmmm aku stop baca Thor ma"af ya 🙏