ARC 1 - Reruntuhan Kuno Dimensi ~ END
Sekte Qingyun adalah salah satu dari sekte-sekte besar di benua itu. Murid-muridnya berbakat, dengan kekuatan mereka masing-masing mereka berlomba-lomba untuk menjadi lebih kuat mencapai puncak di sekte itu.
Namun, ada seseorang yang tak bisa melakukan semua itu... Yun Zhi namanya, dia memiliki tubuh yang begitu lemah, membuatnya tak bisa berkultivasi seperti yang lain. Sampai pada akhirnya ia ditemukan dengan wanita cantik yang akan membuatnya lebih kuat.
Ini akan menjadi perjalanan panjangnya, yang terlemah menjadi yang terkuat.
BUAT YG MAU NANYA "KAPAN MC-NYA OP?" MCNYA OP DI BAB 20AN!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Ling Yue Mencoba Teknik Baru
Ling Yue tengah berada di dalam perpustakaan teknik milik Sekte Qingyun. Suasana ruangan itu sunyi dan sakral, hanya dihuni oleh tumpukan kitab-kitab tebal dan gulungan teknik kuno yang berjajar rapi di rak-rak kayu berukir. Hanya murid-murid elit yang diizinkan memasuki tempat ini, sehingga keberadaan manusia di sini sangat jarang. Ini menjadikan setiap langkah kaki terasa bergema dan agung.
Tujuannya jelasnya, mencari teknik yang sesuai dengan elemen utamanya—es. Elemen yang telah menyatu dalam darah dan napasnya. Tatapan matanya menyisir baris demi baris judul buku, namun semakin ia menelusuri, semakin berat pilihan yang harus dibuat. Banyak teknik tingkat tinggi tersimpan di sini, namun sebagian besar membutuhkan waktu panjang dan penguasaan luar biasa. Ia tak bisa sembarangan memilih. Satu keputusan keliru dapat menghentikan kemajuannya selama bertahun-tahun.
Beberapa saat kemudian, sesuatu menarik perhatiannya. Sebuah buku yang disimpan di rak atas, terpencil namun seolah bersinar sendiri dalam kesunyian. Ia menjulurkan tangan dan mengambilnya.
"Teknik Hujan Es?"
Suara pelannya memecah kesunyian. Ia lalu berjalan ke kursi kayu sederhana di pojok ruangan dan duduk dengan tenang. Sinar lentera batu giok menerangi halaman-halaman yang dibukanya. Teknik itu tampak selaras dengan elemen yang ia miliki. Pertanyaannya hanyalah apakah aku mampu menguasainya?
Ia membaca setiap halaman dengan saksama. Pandangannya tak lelah menelusuri baris demi baris kalimat yang penuh makna dan prinsip-prinsip teknik kuno. Setelah membaca hingga halaman terakhir, ia menutup buku itu dan mengembalikannya dengan hati-hati ke tempatnya.
Ling Yue saat ini berada di Ranah Foundation Establishment Tahap Kokoh. Di tingkat ini, seharusnya ia sudah cukup kuat untuk menguasai teknik tersebut. Maka tanpa ragu lagi, ia meninggalkan perpustakaan dan melangkah menuju tempat latihan.
Lorong panjang yang menghubungkan gedung utama dan lapangan latihan terasa hening. Dinding-dinding batu disinari cahaya lembut yang turun dari lentera di langit-langit. Setelah berjalan beberapa saat, akhirnya ia tiba di tempat tujuan.
Di tengah lapangan latihan, seorang pria duduk dalam posisi meditasi. Rambutnya hitam pekat, dan sepasang matanya yang berwarna biru terpejam dengan tenang. Itu dia—Yun Zhi. Murid yang beberapa waktu lalu dianggap sebagai murid sampah, namun kini menggemparkan seluruh sekte setelah mengalahkan Feng Li.
Yun Zhi tetap tak bergeming meski beberapa murid memperhatikannya dari kejauhan. Ia tampak tenang, seolah dunia di sekitarnya tak pernah ada.
Ling Yue melangkah mendekat, dan ketika ia sudah cukup dekat, Yun Zhi membuka matanya, menyadari kehadiran seseorang.
"Kau memiliki aura yang cukup bagus," ujar Ling Yue sambil duduk di hadapannya.
Wajah Yun Zhi tetap tenang, nyaris tanpa ekspresi.
"Di mana wanita berambut hitam itu? Hari ini dia tidak bersamamu?" tanya Ling Yue sambil mengamati sekeliling.
"Dia sedang tidur," jawab Yun Zhi singkat. "Dan kenapa kau kemari?"
"Ada teknik yang ingin kulatih."
"Kebetulan sekali, aku juga ingin mencoba teknik baru. Mau latihan tanding?" Nada suaranya berubah sedikit lebih hidup.
"Hoo, bolehh."
Keduanya kemudian berdiri, saling mengambil jarak. Yun Zhi memasang kuda-kuda, tubuhnya sedikit menunduk, bersiap untuk menyerang kapan saja. Ling Yue tersenyum kecil melihatnya.
"Baiklah, ayo mulai!"
Tanpa aba-aba lain, Yun Zhi melesat ke depan dan melancarkan tinju lurus ke arahnya. Ling Yue menyambut serangan itu dengan tinju yang dilapisi Qi dingin.
Boom—!
Suara ledakan Qi menggema saat pukulan mereka saling bertubrukan. Yun Zhi terpental mundur, namun tubuhnya dengan cepat menstabilkan diri. Meskipun hanya berada di Ranah Qi Refining, kekuatannya tak bisa dianggap remeh. Kini Ling Yue mengerti bagaimana murid seperti Feng Li bisa dikalahkan olehnya.
Namun benaknya mulai dipenuhi pertanyaan. Kenapa Yun Zhi dulu dianggap sebagai murid sampah? Bukankah dia seharusnya tak bisa berkultivasi?
Pertanyaan itu hanya sempat bertahan sekejap, karena Yun Zhi kembali melesat ke arah samping dan melancarkan tendangan horizontal. Ling Yue segera menahannya dengan satu tangan yang telah diperkuat dengan Qi. Ia tak bergeser sedikit pun, lalu dengan cepat memutar tubuh dan membanting lawannya ke belakang. Dalam satu gerakan, ia melangkah maju dan meluncurkan pukulan ke arah perut Yun Zhi.
Tubuh pria itu terpental, terhempas ke tanah. Ia memegangi perutnya dengan wajah meringis. Mungkin Ling Yue terlalu kuat. Ia lupa, bahwa tujuan awalnya hanya untuk menguji teknik baru, bukan untuk menyakiti.
Namun Yun Zhi kembali bangkit. Ia menepuk debu di bajunya, lalu melesat lagi ke depan. Serangan demi serangan dilancarkan. Kakinya menghantam tangan Ling Yue dengan keras.
Brak—!
Benturan terdengar nyaring. Meski berbeda tingkat ranah, Yun Zhi mampu memberi perlawanan yang tidak main-main. Ini cukup untuk membuat Ling Yue semakin penasaran.
Tangannya terangkat tinggi. Rune berwarna biru muda mulai terbentuk di udara, berputar seperti roda nasib yang membangkitkan kekuatan es.
"Teknik Hujan Es!"
Langit di atas mereka berubah. Sebuah lingkaran besar bersinar, dan dari dalamnya turun serpihan es dalam jumlah banyak, menciptakan hujan dingin yang menghantam tanah.
Namun Yun Zhi… tersenyum.
Ia merendahkan tubuhnya dan menyentuh permukaan tanah.
"Lingkaran Api..." gumamnya.
Dari tempat ia berdiri, terbentuk sebuah lingkaran yang menyala, lalu berubah menjadi kubah api yang mengelilingi tubuhnya. Setiap butiran es yang jatuh langsung meleleh saat menyentuh permukaan kubah itu. Api itu membakar tanpa henti, melindungi Yun Zhi dari dinginnya teknik milik Ling Yue.
Ia menyaksikan semua itu tanpa mengalihkan pandangan. Teknik api Yun Zhi tak biasa. Bukan hanya kuat, tapi juga terasa… bebas. Seolah-olah bukan Yun Zhi yang mengendalikan api, melainkan keduanya saling menyatu dan bekerja sama.
Hujan es pun berhenti. Kubah api meredup, dan dari baliknya, Yun Zhi melangkah keluar. Tubuhnya berkeringat, jelas bahwa berada dalam api membakar energinya. Ia berjalan mendekati Ling Yue.
"Yeah... Kurasa teknik baruku ini berhasil."
"Teknikku juga berhasil, walau tidak seperti yang kuharapkan. Aku tidak menyangka kau akan mengcounter Teknik Es milikku," jawab Ling Yue dengan nada sedikit kecewa.
Yun Zhi meregangkan tubuhnya lalu berkata, "Teknikmu itu sangat kuat sebenarnya, kau menahan diri, kan? Seorang kultivator Ranah Qi Refining sepertiku berhasil menahan teknikmu dengan sangat mudah begitu. Itu jelas sekali bahwa kau tidak menggunakan kekuatanmu sepenuhnya."
Ling Yue mengangguk kecil. Ia memang menahan diri.
"Aku agak terkejut kau tahu soal itu."
"Itu memang agak sedikit mengecewakan, aku tidak bisa mencoba seluruh kemampuanku. Tapi, aku juga harus berterima kasih karena kau telah menahan diri melawan murid lemah sepertiku."
Ling Yue tersenyum samar. Pandangannya terhadap Yun Zhi mulai berubah. Murid yang dulunya dijuluki sampah, kini menunjukkan kekuatan dan sikap yang tak bisa dianggap enteng.
Tiba-tiba terdengar suara menguap yang lembut.
"Hoaaa... Yun Zhi~"
Seorang wanita berambut hitam muncul dari kejauhan. Ia melambai ke arah Yun Zhi dengan santai, seolah mereka sudah sangat dekat.
Ling Yue meliriknya sejenak.
"Pergilah, dia sepertinya ingin membicarakan sesuatu denganmu," ucapnya.
Yun Zhi menoleh dan membalas dengan senyum tipis, hampir tak terlihat. Ia lalu berjalan ke arah wanita itu.
Namun sesuatu dalam hati Ling Yue terusik.
Eh...? Tunggu... Sejak kapan wanita itu ada di sekte?
Matanya menyipit, memperhatikan sosok wanita itu lebih saksama.
Aku belum pernah melihat wanita itu, apakah dia juga murid di sini? Atau orang dari tempat lain?
Pertanyaan itu menggantung di udara, belum menemukan jawaban. Namun satu hal pasti—Yun Zhi bukanlah murid biasa. Dan dunia di sekitarnya mulai bergerak menuju sesuatu yang lebih besar.