(NOVEL INI DALAM PERBAIKAN.)
Zahra Aneska, 28 tahun, telah lama memutuskan untuk tidak menikah. Hidupnya sudah cukup rumit tanpa harus memikirkan pasangan, terlebih keluarganya selalu menentang setiap pilihan yang ia ambil.
Namun hidup sering kali berjalan di luar rencana. Suatu hari sepulang kerja, ia dikejutkan oleh kenyataan yang sulit dipercaya dengan status lajang yang selama ini ia pertahankan tiba-tiba berubah. Ia resmi menjadi istri dari atasannya sendiri.
Pernikahan itu penuh tanda tanya. Apakah pria itu juga berada dalam situasi yang sama? Ataukah ada rahasia besar yang sengaja disembunyikan?
Menjalani rumah tangga tersebut jelas bukan hal mudah. Konflik, tekanan, dan berbagai rahasia perlahan mulai terungkap. Di tengah semua itu mampukah cinta tumbuh di antara mereka, atau justru ini menjadi awal dari masalah yang lebih besar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gledekzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~ Halaman ~
...🌱🌿🌿🌿🌿🌿🌱...
Mata Zahra yang masih berat akhirnya terbuka perlahan. Ia sempat terdiam sejenak untuk mencoba mengumpulkan kesadarannya.
Sekilas ia melirik jam di pergelangan tangan kirinya. Pukul delapan malam.
Rasa panik langsung muncul. Ia teringat kebiasaan di rumah. Pagar akan ditutup pukul sembilan malam, dan keterlambatan sedikit saja bisa berujung ceramah panjang.
Dengan tergesa Zahra bangkit dari tempat tidur. Namun sebelum ia sempat melangkah lebih jauh—
“Khem,” suara seseorang tiba-tiba terdengar dari arah belakang.
Zahra refleks berdiri tegak. Ia membalikkan tubuhnya perlahan dengan perasaan waspada.
Di sana Abyan duduk santai di atas ranjang sambil memegang sebuah buku. Wajahnya yang tampan tampak tenang, namun justru membuat jantung Zahra berdetak lebih cepat dari biasanya.
Bagi Zahra menatap lelaki setampan itu dalam jarak dekat selalu menjadi masalah tersendiri.
“Selamat malam,” ucap Abyan sambil tersenyum tipis. Lesung pipinya terlihat jelas, menambah kesan hangat yang sulit diabaikan.
Zahra masih terus terdiam, seolah kehilangan respons. Abyan bahkan sempat melambaikan tangan, membuat Zahra tersadar dan merasa sedikit malu.
“Apa kamu sakit?” tanya Abyan sambil meletakkan buku di meja kecil di samping ranjang lalu berdiri.
Melihat Abyan mendekat Zahra spontan mundur satu langkah. Abyan pun berhenti menjaga jarak di hadapan Zahra.
“Nggak, Pak. Saya hanya... ah, mau ke kamar mandi sebentar,” jawab Zahra terbata.
Sekilas Zahra melirik ke arah balkon. Langit di luar sudah gelap. Ia baru menyadari bahwa dirinya tertidur cukup lama.
Ingatannya kembali pada posisi terakhir sebelum tidur, ia yakin tadi berada di sofa. Secara refleks ia menunduk memeriksa pakaiannya. Masih lengkap, ia pun menghembuskan napas lega.
“Oh, ya sudah, kamu ke toilet saja dulu. Nanti kita bicara lagi,” ujar Abyan dengan tenang.
Ucapan itu justru membuat Zahra semakin canggung. Ia merasa gerak-geriknya tadi terlalu jelas menunjukkan kecurigaan.
Zahra memaksakan senyum kecil. “Permisi, Pak,” ucapnya singkat sebelum berbalik.
Dengan langkah cepat ia masuk ke kamar mandi dan segera menutup pintu.
Begitu berada di dalam, Zahra langsung menarik napas panjang. Rasa lega bercampur malu memenuhi dadanya. Namun pikirannya kembali pada saat pernikahan mereka.
Ia sadar, ia harus segera menjelaskan semuanya. Ia tidak ingin Abyan mengambil langkah lebih jauh dalam hubungan yang bahkan belum ia pahami. Baginya pernikahan yang dipaksakan seperti ini tidak akan berjalan baik.
Zahra membuka hijabnya lalu membasuh wajah dengan air dingin. Saat air menyentuh kulitnya pikirannya perlahan menjadi lebih jernih.
Namun ia sempat terdiam sejenak menatap pantulannya di cermin. Mungkinkah Abyan memiliki alasan tertentu di balik semua ini? Pertanyaan itu membuatnya semakin penasaran.
Zahra segera mengeringkan wajahnya. Kali ini ia tahu, ia harus keluar dan mencari jawaban langsung.
...***...
Saat Zahra keluar dari kamar mandi, Abyan sudah duduk santai di kursi balkon. Sikapnya tenang, seolah tidak ada beban, seperti seseorang yang sedang menikmati waktu senggang.
Zahra berusaha menenangkan diri terlebih dahulu. Meski jantungnya masih berdebar kencang.
Abyan melihat Zahra sambil tersenyum tipis. “Duduk sini dulu," ajaknya.
Zahra mengangguk. Ia pun berjalan mendekat lalu duduk di kursi sebelah Abyan dengan sikap setenang mungkin.
Abyan meraih ponselnya dari meja kecil di samping kursi balkon, lalu membuka galeri. Setelah beberapa saat mencari, ia memutar sebuah video dan mengulurkan ponsel itu ke arah Zahra.
Zahra menatap layar itu lalu membeku.
Video ijab kabul.
Suara Abyan terdengar jelas dalam rekaman itu. Di sana juga terlihat Sani yang menjadi wali, serta beberapa wajah yang dikenali Zahra dari kampung.
Pikiran Zahra seketika kosong.
“Sekarang kamu percayakan?” ujar Abyan santai sambil memperhatikan reaksinya.
Zahra mengembalikan ponsel itu dengan perlahan. Perasaannya campur aduk, antara kaget, bingung, dan tidak percaya.
“Tapi... tapi Pak,” ucap Zahra dengan suaranya terdengar pelan. “Kenapa saya? Kita bahkan nggak saling kenal. Lagian... mustahil kan jika Anda main setuju aja dengan perkataan yang kurang lebih saya terlihat bercanda saat itu.”
Abyan bersandar di kursi dengan senyumnya semakin lebar. “Aku dari awal sudah bilang, aku nggak bercanda.”
Zahra terdiam. Kalimat itu justru membuatnya semakin tidak tenang. Ia mencoba mengumpulkan keberanian. “Saya nggak ngerti kenapa Bapak mau nikahin saya? Kita ini kayak langit dan bumi, Pak. Bahkan ya Pak, bumi aja udah kayak minta pindah planet karena malu liat saya dibandingkan sama Bapak.”
Abyan tertawa kecil. “Kamu ingat nggak, pernah nabrak saya dulu?” tanyanya santai.
Zahra mengernyit mencoba mengingat. Apalagi ini? “Kapan ya Pak?”
Abyan menarik napas panjang. “Kamu ini lupa segalanya ya? Jangan-jangan kamu ada riwayat amnesia?”
Zahra refleks memegang kepalanya. “Kalau saya amnesia, nggak mungkin saya bisa kerja di rumah sakit yang Bapak dirikan dengan keluarga Bapak.”
Abyan masih mempertahankan senyum santainya. “Seperti yang merekrut kamu itu salah nilai.”
Zahra langsung menahan diri. Rasanya ia ingin sekali memukul kepala atasannya itu, tetapi ia urungkan.
“Sudahlah, mungkin kamu termasuk orang yang langkah, makanya bisa lolos kerja di tempat saya. Mana ngajak bos sendiri menikah seperti ini,” lanjut Abyan, jelas terlihat menikmati situasi. Apalagi wajah Zahra yang mulai kesal, justru membuatnya semakin terhibur.
Zahra menarik napas panjang, berusaha mengendalikan emosi. Ia tidak ingin terlihat kalah.
“Jadi gimana pak keputusannya? Saya ini anak baik-baik, Pak. Saya yakin, seyakin-yakinnya nggak pernah menabrak Anda. Kecuali... Anda ini hantu jadi-jadian... eh maksud saya, mungkin saya cuma kesenggol waktu lagi antar pasien atau lagi nggak lihat jalan.”
Ucapan itu justru membuat Zahra sendiri panik. Ia sadar, kata-katanya bisa berujung buruk, bahkan pemecatan pun terlintas di pikirannya.
Abyan sampai menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menahan tawa yang hampir lepas. Dari ekspresinya jelas ia sangat menikmati reaksi Zahra.
“Jadi gimana, Pak. Batal ya... kita nikahnya.”
Abyan berdehem, masih berusaha menahan tawanya. “Kamu mau menjadikan aku duda secepatnya.”
Zahra langsung menimpali, “Tapi saya juga jadi janda, Pak.”
Abyan bersandar santai. “Lantas, kenapa kita nggak menjalani saja sesuai apa yang sudah terjadi?”
Zahra terkejut mendengarnya. “Bapak jangan buat saya semakin takut. Kalau Anda mau memecat saya, nggak apa-apa. Jangan sampai Anda masukkan saya ke kantor polisi gara-gara saya ngajak Anda menikah.”
Abyan mengangkat alis. “Memangnya ada yang melapor kayak begituan?”
Zahra terdiam sejenak. “Siapa tau kan, Pak. Itu jadi perkara limited edition.”
Abyan terlihat menahan tawa lagi, rahangnya bahkan sedikit menegang.
“Tapi Pak, saya juga nggak mau jadi istri Anda yang kedua, atau ketiga, atau seterusnya. Saya ini walaupun awalnya nggak mau nikah, tapi saya punya prinsip, kalau menikah, suami saya satu, dan saya satu-satunya istrinya. Bukan jadi simpanan juga, Pak.”
Abyan kembali menahan senyum.
“Bapak jangan ketawa terus, Pak. Bapak ketawa malah bikin saya takut. Apalagi ini sudah malam,” lanjut Zahra mulai merasa tidak nyaman.
Abyan akhirnya mengatur napasnya dan berdehem. “Kamu tenang saja. Istriku cuma kamu.”
Zahra terdiam. Ucapan itu membuat dadanya terasa sedang tumpengan.
“Tapi Pak, saya dengar katanya Anda sudah menikah. Bahkan punya dua anak, laki-laki dan perempuan,” ucap Zahra ragu.
Abyan mengernyit. “Dari mana kamu dengar itu?”
Zahra tampak canggung. “Intinya gosip, Pak. Soalnya banyak perempuan yang mau sama Bapak.”
Abyan menghela napas pelan, seolah mulai memahami sumbernya. “Kamu nggak perlu percaya itu. Saya bisa buktikan. Besok kita ke rumah orang tua saya. Saya akan memperkenalkan kamu langsung. Sekalian bukti kalau saya cuma punya satu istri, yaitu kamu.”
Zahra kembali terdiam. Jantungnya berdebar kencang. Ia sendiri tidak tahu harus merasa senang atau justru semakin takut.
“Saya percaya kok, Pak. Tapi saya juga nggak mau pernikahan paksa kayak begini. Itu nggak baik,” ucapnya pelan.
Abyan menatap Zahra tenang. “Kamu yang merasa terpaksa. Aku tidak.”
Zahra kehilangan kata-kata.
“Kalau kamu masih keberatan, kita bisa jalani pelan-pelan. Anggap saja kita mulai dari awal,” lanjut Abyan.
Zahra terdiam mencoba memahami maksudnya.
“Kalau begitu… kita pacaran dulu,” tambah Abyan santai.
Kalimat itu membuat Zahra membeku. Dadanya seperti ada anak pana yang menebus tak kasat mata.
Zahra berusaha mengendalikan dirinya secepat mungkin. Dalam benaknya, ia seperti sedang mencabut anak panah imajiner yang menancap di hatinya, lalu membuangnya jauh-jauh agar tidak semakin terpengaruh.
Abyan sempat memperhatikan tingkah aneh itu dengan bingung, tetapi kemudian ia hanya tersenyum kecil.
“Saya nggak setuju, Pak. Lebih baik Anda mencari perempuan lain. Saya sudah bilang, kita ini bagaikan langit dan bumi, orangtua Anda saja belum tentu menerima saya.”
Abyan mengangguk pelan. “Sepertinya kamu susah diajak pacaran ya?”
Wajah Zahra langsung memerah. Bukan karena marah, melainkan karena malu dan sedikit tersentil karena itu memang benar.
“Tapi saya tetap memilih kamu menjadi istri saya.”
Kalimat itu justru membuat Zahra semakin tertekan. “Tapi Pak... Kita nggak saling kenal, apalagi cinta.”
“Makanya,” jawab Abyan santai, “Kita pacaran dulu.”
Zahra menahan ekspresinya, berusaha tetap terlihat tenang walau dalam hati sudah seperti kompor meledak. “Ehm, mungkin lebih baik kita berteman dulu Pak. Jika Anda memaksa. Kita bisa lihat dulu kecocokan kita bagaimana. Apakah kita bisa serasi atau malah sebaliknya. Hitung-hitung PDKT gitu.”
Abyan tertawa kecil. “Baiklah kalau begitu. Saya jamin, kamu juga nggak bakalan bisa bertahan selama itu, untuk tidak menyukai saya.”
Zahra langsung terdiam, didalam hatinya ia bahkan tanpa sadar mengakui sebelum Abyan berkata seperti itu, ia sudah lebih dulu terpikat. Dan itu justru yang paling berbahaya.
Ia menarik napas pelan, mencoba memasang kembali pertahanan yang baru saja runtuh setengah.
Senyum Abyan kembali muncul. “Soal ibu saya seperti kamu, Nenek saya juga seperti kamu. Status bukan masalah di keluarga kami. Mereka malah mendukung pernikahan kita.”
Zahra terdiam lagi. Kali ini benar-benar kehabisan argumen.
Abyan menatap Zahra dengan tenang. “Kamu nggak perlu khawatir. Kita jalani ini pelan-pelan. Nggak perlu terburu-buru.”
Zahra menarik napas dalam-dalam mencoba menenangkan diri yang sejak tadi seperti naik roller coaster tanpa sabuk pengaman. “Baiklah Pak. Kalau memang begitu, kita jalani aja dulu.”
Abyan tersenyum. “Itu keputusan yang bijak.”
Zahra mengangguk pelan. Namun di dalam hatinya pikirannya mulai berisik lagi.
Bijak dari mana coba?
Ini lebih mirip masuk jebakan dengan sadar.
Tapi ya sudahlah… untuk sementara Zahra hanya bisa bertahan sambil berharap semesta tiba-tiba berubah pikiran dan mengembalikan hidupnya ke mode normal.
...🌱🌿🌿🌿🌿🌿🌱...