NovelToon NovelToon
Wanita Milik CEO

Wanita Milik CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Percintaan Konglomerat / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:587.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ranty Yoona

Lima tahun yang lalu, Eden Kennard Anderson menjalin hubungan dengan wanita berparas cantik yang bernama Arabella Anastasya Walker, putri dari Keluarga Walker yang merupakan salah satu keluarga kaya raya di Kota Boston - Massachusetts Amerika Serikat. Karena berbeda kasta membuat hubungan mereka di tentang keras oleh Keluarga Walker. Hingga pada akhirnya wanita itu memutuskan dirinya secara sepihak dan bertunangan dengan pria
lain yang dijodohkan dengan wanita itu.

Lima tahun kemudian, Arabella kembali dipertemukan dengan mantan kekasihnya Eden Kennard Anderson. Pria yang dahulu
di pandang rendah kini menjelma menjadi salah satu pria terkaya di Kota New York. Memiliki paras tampan dan dijuluki pria sejuta pesona. Jabatannya yang sebagai seorang CEO membuatnya begitu diinginkan kaum wanita, termasuk seorang model cantik yang kini telah menjadi kekasihnya, Catherine Wilson.

"Sampai kapanpun kau tidak akan pernah bisa lepas dariku, Bella. Kau hanya milikku! Milikku!" - Eden -

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranty Yoona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terasa Familiar

Catherine Wilson, model cantik di Kota New York yang begitu besar. Namanya sudah dikenal khalayak umum, tidak heran jika wanita itu begitu di kagumi semua pria. Tidak! Tidak semua pria, karena ada satu pria yang tidak tergila-gila padanya, yaitu kekasihnya Eden Kennard Anderson.

Kedua orang tuanya yang mengenal baik Tuan Besar Aldrick menjadikan jalan untuknya mendapatkan pria tampan yang menarik perhatian sejuta wanita. Dan tentunya dengan perjodohan yang ditawarkan kedua orang tuanya, membuat Catherine dapat mendekati Eden, pria yang membuatnya tergila-gila.

"Honey?" Catherine memanggil sekali lagi ketika tidak mendapati tanggapan dari Eden. Wanita itu berjalan mendekati meja, menatap penuh damba sosok Eden yang selalu tampan tanpa cacat.

"Kenapa datang kemari tidak memberitahu lebih dulu?" Datar. Seperti itulah cara bicara Eden kepada Catherine. Tetapi meskipun seperti itu, Eden berusaha menghargai wanita itu dengan tidak membentaknya.

"Aku merindukanmu," sahutnya dengan seulas senyum manis. Senyum yang mampu melumpuhkan organ tubuh siapa saja yang melihatnya. Akan tetapi menurut Eden senyum itu, senyum biasa. Hanya satu senyum yang mampu mengalihkan dunia Eden kala itu. Hanya saja ia sudah mengubur ingatan akan senyum wanita di masa lalunya.

Eden tidak menyahuti, membuat Catherine menoleh ke arah Kevin yang masih berada di antara mereka.

"Ekhem...." Catherine berdehem kepada Kevin. "Apa kabar Kevin? Kau terlihat sangat baik," katanya ramah. Tentu ia harus menanamkan citra yang baik di depan orang-orang terdekat Eden.

Kevin mengangguk. "Benar Nona, aku selalu baik-baik saja."

"Kau sudah bekerja keras membantu Eden. Aku harap kedepannya kau tetap selalu di sisi Eden."

Kevin mencibir di dalam hati. Tanpa disuruh pun ia akan selalu berada di sisi Eden. Lagi pula ia mengenal Eden lebih lama dari pada wanita itu.

"Aku akan selalu disisinya dan membantu di perusahaan selama dia tidak mengusirku." Kevin hanya melirik Eden melalui ekor matanya.

Mendengar perkataan Kevin, Catherine tertawa ringan. "Eden tidak mungkin mengusirmu. Dia sangat mengandalkanmu." Lalu pandangannya beralih kepada Eden. "Benar begitu, Honey?" tanyanya kemudian.

"Ehm...." Menanggapi dengan deheman, lirikan mata Eden kepada Kevin begitu tajam. Ia pun bergulir menatap Catherine. "Bukankah hari ini kau ada jadwal pemotretan? Lebih baik berangkatlah sekarang. Aku sangat sibuk hari ini." Eden meraih salah satu dokumen di atas mejanya.

Catherine mencebikkan bibirnya. Ia merasa kedatangannya hanya mengganggu kekasihnya. "Eden, kau mengusirku?" katanya manja dan ia tidak merasa tersinggung karena sudah terbiasa. Jika pria itu benar-benar sibuk, maka dirinya akan benar-benar diabaikan sepanjang waktu.

"Aku tidak mengusirmu Cath, tapi kau datang di waktu yang salah. Aku benar-benar sibuk." Eden mengalihkan sejenak perhatiannya dari dokumen dan kembali menatap Catherine, berupaya memberikan pengertian kepada kekasihnya itu.

Terdengar helaan napas pelan, Catherine tidak dapat memprotes kembali. Pekerjaan memang selalu menyita waktu Eden, tetapi ia berusaha untuk memaklumi.

"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu." Lalu ia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Lagi pula sudah jam 8, satu jam lagi aku ada pemotretan."

"Ehm, kau berhati-hatilah."

Catherine mengangguk, ia melangkah mendekati tempat duduk Eden, lalu mengecup singkat pipi kekasihnya. Eden tidak menolak, Catherine memang selalu seperti itu. Hanya sebatas cium pipi saja dan selama ini ia tidak mempermasalahkannya.

"Aku pergi dulu. Nanti aku akan mengabarimu." Wanita itu segera melenggang pergi dari ruangan CEO setelah berpamitan juga kepada Kevin yang masih berdiam diri bagaikan patung.

Pintu yang sudah tertutup rapat itu masih menjadi pusat perhatian Eden, hingga tidak pedulikan jika Kevin menatap dirinya.

"Ada apa?" tanya Eden heran melihat Kevin yang tidak mengalihkan perhatian darinya.

Kepala Kevin menggeleng. "Tidak ada. Aku hanya menilai jika kalian begitu serasi."

"Ck, aku tidak butuh penilaianmu!" seru Eden mendengkus kesal.

Kevin hanya terkekeh, tangannya meraih dokumen yang tergeletak di atas meja. "Jangan lupa nanti siang kita ada meeting di luar dengan Shony Corporation."

"Ehm...." Eden mengangguk, ia tidak lupa akan pertemuan penting nanti siang. Dan selepas Kevin meninggalkan ruangannya, Eden kembali fokus dengan beberapa dokumen.

***

Menjelang siang, HAM Restaurant (Hug A Mug Restaurant) begitu ramai karena bertepatan dengan jam makan siang. Bella sibuk kesana-kemari mencatat banyak pesanan. Bahkan beberapa pelanggan pria dengan sengaja berlama-lama memesan menu makanan hanya untuk melihat wajah cantik wanita itu.

"Ara, tolong kau antarkan pesanan nomor 45. Perutku sakit sekali, aku ingin ke toilet." Lily memegang perutnya yang terasa begitu melilit. Sejak tadi memang perutnya sedang bermasalah.

"Apa kau sudah minum obatmu?" tanyanya mencemaskan keadaan temannya itu. "Jika belum, aku akan membelinya untukmu. Setelah ini aku akan ke rumah sakit."

"Tidak perlu. Aku baru saja minum obat pereda sakit perut."

"Ah, baiklah."

Lily segera berlari ke dalam kamar mandi. Ia benar-benar tidak tahan untuk mengeluarkan seluruh isi perutnya.

Bella tercenung sesaat, memperhatikan Lily hingga lenyap dari pandangannya. Sebelum kemudian ia mengambil baki berisi beberapa pesanan untuk nomor 45.

Melangkah dengan hati-hati, Bella mendekati meja nomor tersebut. Dimana terdapat pria dan wanita yang menunggu pesanan mereka.

"Terima kasih banyak." Pelanggan wanita itu tersenyum ramah. Berbeda dengan pria di hadapannya yang menatap Bella tanpa berkedip, padahal pesanan sudah tertata rapi di atas meja. "Sayang, apa yang kau lihat? Cepat dimakan selagi hangat."

"I-iya sayang...." Pria itu gelagapan, ia tidak ingin kekasihnya mendapati dirinya menatap pelayan di hadapannya yang begitu cantik.

Bella segera berlalu. Baginya sudah terbiasa di tatap seperti itu oleh sebagian pelanggan pria selama dirinya sedang bekerja. Meski merasa tidak nyaman, akan tetapi Bella hanya menanggapi dengan senyuman selama tidak ada yang berbuat macam-macam dengannya.

Bella sudah mengantarkan banyak pesanan, ia mengusap dahinya. Siang ini pengunjung benar-benar ramai dan di penuhi oleh pekerja kantor. Bertepatan dengan Lily yang sudah keluar dari toilet.

"Sepertinya pagi tadi aku salah makan." Lily mendaratkan tubuhnya di atas kursi. Di balik meja besar, mereka dapat memantau para pengunjung Restauran. Dan saat ini beberapa pelayan lainnya masih sibuk mengantarkan pesanan.

Bella sedikit mengiris, ia merasa kasihan dengan Lily yang harus keluar masuk kamar mandi.

"Sebaiknya kau menghubungi Sam, minta izin padanya. Dia pasti mengerti jika kau sedang tidak sehat." Bella mencoba memberi usapan pada punggung Lily.

"Tidak Ara. Apa kau lupa jika dua hari yang lalu sudah mengambil izin?" Lily mengeluh. Jika saja ia belum mengambil izin dua hari yang lalu, sudah pasti hari ini ia akan izin pulang cepat.

"Sam pasti akan mengerti."

Lily menggeleng. Ia tetap tidak akan mengambil izin. "Aku baik-baik saja. Hanya perlu beristirahat sebentar dan akan cepat membaik."

"Baiklah, tapi jangan memaksakan dirimu."

"Ehm..." sahut Lily mengangguk. "Sudah sangat siang, sebaiknya kau segera pergi ke rumah sakit. Bibi Miranda dan Arsel pasti sudah menunggumu." Ia mengingatkan Bella untuk segera pergi ke rumah sakit. Memang dua minggu sekali Bella akan mengontrol keadaan Bibi Miranda.

"Ah, kau benar. Aku harus segera ke rumah sakit." Buru-buru Bella melepaskan apron yang di kenakan wanita itu. Lalu melangkah menuju loker untuk mengambil sling bag miliknya. "Aku pergi dulu, Ly." Tangannya menepuk bahu Lily.

"Ya, jangan lupa sampaikan salamku untuk Arsel," sahutnya dengan suara tertahan agar para chef dan pelayan yang lain tidak mendengar ucapannya.

Bella mengangguk, Lily memang selalu menitipkan salam untuk Arsel. Dengan langkah tergesa-gesa, ia melewati pintu belakang Restauran menuju parkiran.

Mobil mewah yang baru saja terpakir dilintasinya begitu saja. Sosok pria gagah yang berdiri menjulang segera turun dari mobil dan memperhatikan wanita yang baru saja berlalu, terasa begitu familiar.

"Ada apa?" Kevin bertanya heran, ia kemudian mengikuti pandangan atasannya itu.

"Tidak apa," sahutnya. "Apa Tuan Hendrick sudah datang?" Eden bertanya memastikan, pasalnya mereka datang 15 menit lebih cepat.

"Sepertinya belum. Sekretarisnya mengatakan jika mereka masih dalam perjalanan." Kevin baru saja membaca pesan masuk dari sekretaris Tuan Hendrick selaku CEO Shony Corporation.

Eden segera melangkah memasuki Restauran di susul Kevin di belakangnya. Untuk pertama kalinya mereka akan melakukan meeting di HAM Restauran.

To be continue

...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...

...Always be happy 🌷...

...Instagram : @rantyyoona...

1
Muslika
otor nt pada knapa dahh bikin cerita gantung semua
Santi Nuryanti
akhrny dilnjtkn lg wlpn digntung lg..semangatt thorr
cpt ditamatin aj thor. hehehee
Deni Supriadi
Luar biasa
Salim ah
k thor mau tnya ini kok gak ada kelanjutannya gimana
jangan suka nabung bab napa
ayuuk ndang up thor,, cerita seru lho
apalagi cogannya waahh
Mega Wati: mungkin udh abis akal...
total 1 replies
arsyi aurora
menurut saya...ceritanya terlalu melebar kemana²..gak.fokus ke satu cerita
maaf y thor....
Syakirah Dzaky
Thor ini nove kabar nya bagaimana ?lanjut apa sampai di sini
westi
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
beneran nunggu ya, bella. jangan lasak
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
semoga selalu bahagia ya
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
setidaknya Carlos sudah bicara jujur
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
bertahan sampai berapa lama? apa rencanamu, ed?
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
nurut ya bella. pacha itu sarang hantu. kerja di HAM aja ya, atau minta kerjaan di kantor Eden dah
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
eden sebegitunya kalau sudah menyangkut bella
Salim ah
ed ayuuk hempaskan orang yg mau mendekati arra
Salim ah
sweet banget ara Eden🤗😘
Salim ah
bahagianya dicintai begitu besar sm pasangan 🤗😘
Salim ah
cogan dan berduit semua ara
Salim ah
padahal ceritanya seru lho tp yg komen dikit
ada apakah?..
Salim ah
eden kalau kamu mencintai bella seharusnya km selesaikan dulu masalahmu dgn sih cat cat
Salim ah
yang mendekati bella semua cogan dan kaya monyet,, ehh salah ding kaya raya dan punya kedudukan lagi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!