NovelToon NovelToon
Melody

Melody

Status: sedang berlangsung
Genre:Contest / Konflik Rumah Tangga- Terpaksa Nikah
Popularitas:16.7k
Nilai: 5
Nama Author: MA84

Masalalu,
Semuanya berasal dari masalalu.
Masalalu yang mengubah hidupku.
Mengobrak abrik hati yang telah lama tersakiti.

Sebuah rahasia yang berawal dariku, membuat berbagai macam pertikaian dan perebutan terjadi. Mencari titik celah untuk mendapatkan rahasia yang tersimpan rapat dalam memori.

Aku...
Adalah titik pemicu peperangan terjadi.
Barang berharga yang mereka incar yang telah lama hilang kini mulai terkuak kembali.
Memaksaku untuk melindungi diri dari para musuh yang berniat ingin mencelakai.

Dia...
Suamiku.
Pria yang dengan tulus mencintaiku, meski harus melalui masa panjang untuk akhirnya bersama.
Pun tak luput melindungiku hanya untuk harta berharga.

Apa aku...
Hanya barang yang diperebutkan?
Atau hanya manusia yang perlu dimusnahkan?

follow akun ig author : @maulidamaulida84

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MA84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertukar rumah

Aku terbangun dari tidurku saat merasakan tenggorokanku kering. Dengan langkah gontai aku memasang kerudung lalu keluar dari kamar menuju dapur untuk mengambil minum.

" Hoaamm " aku menutup mulutku yang menguap sambil menunggu gelas terisi penuh. Setelah terisi, akupun menegaknya dan membiarkan air itu mengalir membasahi tenggorokanku yang kering.

Tap tap tap

Aku menghentikan aksi minumku sejenak saat mendengar suara derap langkah kaki memasuki rumah. Siapa yang datang tengah malam begini?

Karna penasaran, akupun meletakkan gelas dan berjalan mengikuti suara langkah kaki itu hingga tibalah di depan sebuah kamar di lantai tiga.

Ku tatap pintu kayu dengan corak ornamen klasik yang indah. Kamar siapa ini? Setahuku kamar Arkan dan Bunda ada dilantai dua. Trus ini kamar siapa?

" Apa mungkin ini kamarnya Erlang? " gumamku mencoba menebak nebak pemilik kamar ini.

" Kayaknya emang iya deh, soalnyakan yang tinggal dirumah ini cuma Bunda, Arkan sama Erlang. Kalo pembantu juga gak mungkin, karna ini letaknya di lantai tiga. Mungkin yang tadi emang Erlang, soalnya dia pengusaha, jadi rasanya wajar saja kalau pulang selarut ini. " gumamku lagi memutar balik tubuh untuk kembali kekamar.

Satu langkah

Kok aku penasaran ya?

Dua langkah

Gimana mukanya si calon imam.

Tiga langkah

Tapi...

Aku memutar balik badan kembali menuju pintu kayu itu. Aku suka hal menantang, kalo ketahuan, tinggal bilang kesasar. Fiks! Jalankan rencana!

Kreett

Aku memutar gagang pintu secara perlahan takut orang yang didalam dengar. " Assalamu'alaikum numpang lewat.. " salamku lalu perlahan masuk kedalam. Untung pintunya gak dikunci, jadi bisa masuk.

Saat menutup kembali pintu, aku dibuat kagum dengan desain interior kamar ini. Nampak elegan, klasik, hanya saja terasa hampa. Disudut dekat jendela, pandanganku terpaku pada sebuah piano yang ada disana.

Tanpa sadar kakiku melangkah mendekati piano itu. Aku duduk didepannya dan mulai memainkan jari diatas tuts membentuk alunan merdu dari suara yang dihasilkan jari jemariku yang menari lincah diatas tuts tuts itu.

Musik masih pelan, tapi semakin lama semakin cepat dan mencekam, sesuai dengan irama hatiku yang berubah menjadi amarah yang tertahankan dan terlampiaskan pada musik.

Tranggg

" Hosh hosh hosh " nafasku memburu setelah menghentikannya. Tanpa sadar air mataku menetes merasakan emosi yang keluar dari suasa hatiku yang tiba tiba buruk.

" Luar biasa! " puji seseorang. Dengan cepat aku menghapus jejak air mataku lalu berdiri menghadap kearah orang itu.

" Tak 'ku sangka, jari jari kecilmu itu bisa menciptakan sebuah lagu yang begitu menyayat hati. " ujarnya membuatku terdiam ditempat.

" Ka-kau! Kenapa kau ada disini?! " kakiku mundur beberapa langkah tak percaya.

" Kenapa aku ada disini? Seharusnya aku yang bertanya! Kenapa kau bisa ada dirumahku dan masuk kekamarku? " tanyanya balik membuatku gelagapan.

" I-ini rumah calon mertuaku. Dan ini kamar calon suamiku! Kenapa kau bisa ada didalam kamar calon suamiku?! " ucapku menatap pria bayangan yang entah mengapa bisa ada dikamar calon suamiku. Dan... ah!! Mataku ternodai. Kenapa dia hanya memakai handuk yang melilit di pinggangnya sih?!

" Kan aku sudah bilang, ini kamarku dan ini rumahku! " jawabnya malas dan berjalan menuju ruang ganti untuk mengambil pakaiannya.

" Tapi ini juga rumah calon suamiku. Apa kau ada hubungan keluarga dengannya? Mengapa kau mengatakan bahwa ini kamar dan rumahmu? " ekor mataku terus mengikuti setiap langkah kakinya, hingga aku langsung memalingkan wajah saat dia tiba tiba melepaskan handuknya dan memakai pakaiannya. Apa dia tidak menganggapku ada disini? Bisa bisanya berganti baju di hadapan seorang wanita. Apa dia tidak punya malu?!

" Tidak ada hubungan keluarga. Aku hanya sedang bertukar rumah dengan sahabatku. " jawabnya berjalan santay lalu duduk didepan meja rias sambil mengusap rambutnya dengan handuk kering.

" Sahabat? Apa itu berarti sahabatmu itu adalah calon suamiku? " tanyaku menatapnya tak percaya.

" Iya "

" Kau gila ya! Bagaimana bisa selama ini kau ingin menikung sahabatmu sendiri?! Kau sungguh seorang pengkhianat! " makiku merasa kesal. Bagaimana bisa calon suamiku memiliki sahabat picik sepertinya.

" Aku tidak pernah menikung "

" Lalu selama ini apa?! Kamu selalu memaksaku untuk menikah denganmu, sedangkan kau tau kalau aku adalah calon istri sahabatmu! Bukankah itu sama saja ingin menikungnya?! " bentakku merasa muak dengannya.

" Dengar! Aku tidak pernah memaksamu untuk menikahiku, karna kamu sendiri yang menyetujui untuk menikah denganku. " ujarnya memutar balik kursi itu menghadapku.

" Kapan aku menyetujuinya?! "

" Baru saja "

" Kau!! Dasar cabul! Apa kamu kekurangan wanita sampai sampai calon istri sahabatmu sendiri ingin kamu rebut! " omelku sudah meletakkan tangan dipinggang.

" Kekurangan wanita? Aku tidak pernah yang namanya kekurangan seorang wanita, karna selama ini wanitalah yang datang sendiri padaku. Hanya saja, menikah denganmu adalah tuntutan bagiku. " jawabnya.

Aku menghela nafas lelah. Bertengkar dengannya tidak ada habis habisnya. Yang harus aku pikirkan saat ini adalah bagaimana caranya terlepas dari jeratan kata nikah darinya.

" Bagaimana kalau kita negosiasi? "

Mengangkat alis sebelah. " Kau mengajakku negosiasi? " ulangnya dan aku menjawab dengan anggukan kepala.

" Coba katakan! Apa keuntunganku jika menyetujuinya? " sinisnya dengan angkuh menyilang kaki dihadapanku.

Aku tersenyum senang. " Aku bisa melacak keberadaan orang yang kamu cintai itu! " ucapku entah mengapa bisa tersenyum selebar ini saat mengatakannya. Membayangkan bisa terlepas dari pria bayangan ini membuatku benar benar merasa senang.

" Sudahlah, kamu tidak akan bisa! " ujarnya melangkahkan kaki berbaring diatas kasur king size miliknya. Oh salah, milik calon suamiku.

" Memang tidak akan bisa jika kita tidak mencobanya. Coba kamu katakan, siapa nama wanita itu? Apa kamu mempunyai fotonya? " tanyaku menatapnya yang berbaring miring menghadapku.

" Tidak tahu dan tidak ada "

Mengeryit bingung. " Kalau wajahnya pasti ingat bukan? Kamu bisa deskripsikan bagaimana wajahnya, nanti aku akan membuat sketsanya. " jawabku penuh harap.

" Pun tidak tahu bagaimana rupanya "

Aku duduk diatas kasur menatapnya tak percaya. " Yang benar saja! Lalu bagaimana kamu bisa menyukainya jika wajah dan rupanya saja kamu tidak tahu! "

" Aku menyukainya karna kami tak sengaja berciuman. Saat itu dia kabur meninggalkanku tiba tiba, dan sampai sekarang aku tidak bisa menemukannya. " jawabnya ikut duduk bersila menghadapku.

" Menyedihkan. Dimana kalian pernah bertemu sebelumnya? " tanyaku ikut duduk bersila menghadapnya.

" Dark hotel "

Aku terdiam sejenak saat mendengar nama hotel itu disebut. " Dikota mana? " tanyaku lagi.

" Malang "

Aku mengerutkan keningku mencoba mengingat ingat Dark hotel yang ada dikota Malang tempat kelahiranku. Oh, iya. Itu hotel kelas menengah yang ada di kota Malang, aku ingat hotel itupun juga letaknya masih satu daerah dengan rumahku. Jika memang benar itu hotelnya, karna bisa saja bukan cabang yang lain? Secara Malang kota yang besar.

" Sungguh kau tidak ingat rupanya sama sekali? " tanyaku mencoba mencari celah agar bisa menemukan wanita yang dicintai pria ini.

" Tidak. Saat itu dia menggunakan masker untuk menutupi wajahnya. Yang aku ingat, hanya sepasang bola mata hitam indah miliknya yang dapat kutatap pada malam itu. " Dia tersenyum membayangkan kejadian itu, membuatku bergidik ngeri melihatnya.

" Sungguh, apakah kau memiliki negosiasi lain agar tidak terus terusan memaksaku untuk menikah denganmu? " pintaku menatapnya memelas.

" Tidak ada. Jadi rencana pernikahan kita akan tetap berlanjut. " jawabnya gamblang. Aku mendengus kesal dan menendang kakinya pelan lalu keluar dari dalam kamar itu dengan perasaan kesal.

Bam

Suara benturan kuat saat aku menutup pintu tak kuhiraukan. Aku terus melanjutkan langkahku menuju lantai dua dan masuk kedalam kamar tamu lalu membaringkan tubuh disamping Nana.

Aku menatap langit langit kamar dengan perasaan aneh. " Dark hotel? Kenapa aku seperti merasa telah melupakan sesuatu? " gumamku lalu perlahan memejamkan mata saat rasa kantuk mulai menyerang.

1
Mada
semoga jangan lupa ingatan
Mada
makasih kaka uda bikin novel ini
Mada
banyak banget yg suka sama aril
Kang Haluuuuu
😍😍😍
Gcheol/Gyoo
Aduh nyosor aja ril😌
Gcheol/Gyoo
bener-bener yah kamu Er,
bikin aku gemes.
jadi pengen masukin ke kantong,
buat dibawa pulang.
Gcheol/Gyoo
Arkan, pemikiran kita sama deh😂
'yes lampu ijo'
Darah Biru (Bangsawan)
👍🏻👍🏻
Darah Biru (Bangsawan)
👍🏻
Maulida84
sebenarnya udah mau pengen chat pihak mt/nt buat promosi,,, cuman mereka masih off jd gak sempat minta dijadikan remondasi di beranda
Gcheol/Gyoo
aduh Er kok kamu bikin teriak-teriak sendiri sih😫,
Thor novelnya gak dipromosikan?
padahal bagus loh
Gcheol/Gyoo
April: Dingin Dingin kok bikin malu sih?
Me : Dingin Dingin bikin meleleh ya, ril?😆
Gcheol/Gyoo
berapa cowok tuh ril?😆
Gcheol/Gyoo
Thanks author😊
tetap semangat nulisnya.
Aku suka dengan gaya bahasanya
Gcheol/Gyoo
up lagi dong kak😦,
ku udah ngirim kopi untuk kakak
Kirana
lanjut kak
Kirana
lanjut,,
Kirana
lanjut kak
Kirana
lanjut kak,,
Kirana
lanjut lg kak,, udh penasaran nih...
semangat.....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!