Naya dan Brama terjebak dalam perjodohan, mau menikahi Naya hanya karena sebuah perjanjian.
Brama : "Aku tidak mengijinkanmu untuk menyukaiku, karena itulah aku menikahimu."
Naya : "Tapi aku sudah menyukaimu."
Brama : " Hapuslah!"
AKU TIDAK MUNGKIN MENYUKAI BOCAH SMA SEPERTIMU, SUNGGUH BUKAN TIPEKU. - Brama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imelda Agustine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih Peduli
Naya kembali ke kamarnya sambil terisak, ia kecewa karena baru kali ini dia mencoba berterus terang pada seorang pria.
Tapi apa yang didapatkannya, ia malah ditolak begitu gamblangnya.
Ia menangis sejadi-jadinya hingga ia merasa lelah dan tertidur dengan pulasnya.
Kini sudah pagi hari tiba, dan Brama bangun terlebih dahulu. Cepat-cepat dia langsung keluar kamar dan duduk di meja makan.
"Naya kemana, Bik?" tanya Brama ketika tidak melihat perempuan itu seperti biasanya.
"Non Naya dari tadi belum keluar kamar Tuan." sahutnya.
"Astaga! Bukannya sekarang dia harus mengikuti ujian Nasional."
Segera Brama berbalik badan dan langsung melangkah ke kamar Naya untuk membangunkan gadis itu yang masih tertidur lelap disana.
"Hei Bocah! Bangun!" ucapnya sembari mengguncang pundak Naya.
Naya hanya menggeliat, tak menghiraukannya.
"Astaga Bocah! Bangun gak? Kamu ada ujian hari ini." dengus Brama mulai kesal.
Mendengar kata ujian meski samar, seketika Naya langsung beranjak dari tempat tidur.
"Oh ya Tuhan." Naya langsung meloncat dari tempat tidur dan segera memasuki kamar mandi tanpa menoleh sekalipun pada Brama yang sudah susah payah membangunkannya.
Brama hanya menggelengkan kepala, berdecak pada gadis itu dan juga ia merasa bersalah ketika melihat mata Naya yang bengkak tadi.
Brama bisa menyimpulkan bahwa gadis itu telah menangis semalaman.
"Aku tunggu didepan ya!" teriak Brama pada Naya yang di kamar mandi.
Tanpa menunggu jawaban, segera Brama bersiap diri dan menunggu Naya untuk segera berangkat bersamanya.
****
"Ini Tuan kotak makanannya, didalam sudah berisi roti panggang isi telur, daging dan sayuran sesuai permintaan Tuan."
"Ah, iya baiklah. Terimakasih." ucapnya ketika menerima kotak makanan itu.
Brama sengaja meminta salah satu pelayannya supaya menyiapkan bekal untuk Naya, karena ia tahu bahwa Naya tidak akan sempat mengikuti sarapan bersamanya karena ia buru-buru harus datang ke sekolahnya tepat waktu.
Ketika Naya sudah siap dan menuruni tangga, segera Brama berbalik badan dan langsung melangkah cepat memasuki mobil. Tentu Naya juga ikut masuk bersamanya.
"Nih!" menyodorkan kotak makanan sambil memalingkan muka.
Naya mengernyitkan dahi. "Ini apa?"
"Ambillah! Jangan banyak tanya!" desaknya, dan segera Naya mengambilnya. "Itu bekal untukmu, kamu kan tadi tidak sempat sarapan."
"Ah, terimakasih mas." ucap Naya, bersyukur bahwa Brama masih peduli padanya.
Tidak! Tidak! Dia tidak peduli padaku.
Naya menggelengkan kepalanya, beepikir keras lagi agar tidak masuk lebih dalam pada perasaannya.
Sesampainya didepan gedung sekolah, Naya langsung turun serta tak lupa mengucapkan Terima kasih.
Lagi-lagi Brama masih mendapati Dimas berada didepan gerbang sekolah, menunggu Naya seperti biasanya.
"Bocah itu benar-benar, ya! Apa Naya belum mengatakan kalau dirinya sudah menikah?" gumam Brama bertanya - tanya, dan ia masih mengawasi mereka.
"Hai Nay." sapa Dimas.
Naya sebenarnya ingin langsung masuk karena malas untuk menjawab sapaan pemuda yang selalu mengganggunya.
Tapi ia urungkan karena tahu suaminya masih mengawasi langkahnya.
Naya pun berhenti, menoleh pada Dimas. "Hai juga kakak." sahutnya dengan ramah.
Dimas jadi salah tingkah. "Kita ke kelas bareng, yuk!" ajak Dimas.
Naya mengangguk. "Yuk!" langsung memeluk lengan Dimas dan berjalan masuk bersama.
Brama yang melihat Naya bergandengan lantas membelalakkan matanya. "Sialan Bocah itu! Benar-benar ingin mati rupanya." ucapnya mengeram ingin turun dari mobilnya.
Tapi lagi-lagi Ilham menahannya agar tidak keluar. "Jangan tuan! Ini area sekolah, Nona juga akan menghadapi ujian."
"Argh! Awas saja kedua Bocah itu!" ancamnya.
Sesampainya dikantor, Bramapun jadi tak tenang. Ia hanya bisa mondar mandir seharian, lebih lagi dia jadi marah-marah tidak jelas.
"Bukankah sudah ku bilang, kau harus mengirim laporannya segera, hari ini." ucap Brama penuh emosi.
"Maaf Tuan, saya akan segera menyelesaikannya hari ini."
"Ah, tidak perlu! Kau memang tidak becus." menoleh pada Ilham. "Turunkan dia sekarang juga dari posisinya!"
Ilham mengangguk. "Baik Tuan."
"Jangan Tuan, saya mohon kali ini saja! Saya mengakui bahwa saya telah lalai."
Brama tak menghiraukan bawahannya, memalingkan muka. "Sudah untung tidak ku pecat." sahutnya.
Bawahannya itu pun pasrah. "Terimakasih Tuan." ucapnya seakan penuh syukur meskipun ia terisak.
Ilham kemudian membentangkan sebelah tangannya, menyuruhnya untuk segera keluar ruangan.
"Tuan, apa itu tidak keterlaluan?" tanya Ilham.
"Entahlah, aku tidak peduli." sahutnya memejamkan mata, menyandarkan kepalanya dikursi kerajaannya.
"Nona Naya akan pulang lebih awal setelah mengikuti ujian. Apa kita pergi untuk menjemputnya saja?"
"Apa hubungannya dengan Naya?"
"Ah, baiklah kalau begtiu. Saya akan meminta pak Umang untuk segera menjemputnya."
Mendengar itu, seketika Brama langsung beranjak dan memakai kembali jasnya. "Mari kita pergi!" ucapnya sembari melangkah pergi.
Ilham bingung, karena mendadak. "Kemana Tuan?"
"Katanya akan menjemput Naya." sahutnya ketus.
Ilham jadi terkikik geli sendiri. "Oh, siap."
Segera mereka masuk mobil kembali untuk menjemput Naya pulang bersama.
****
Kamsamida :*