terjadi kesalahan cerita, cerita akan di mulai dengan cerita baru. cerita ini tiba-tiba terjadi kesalahan yang tidak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"Cinta untuk Nona Muda" 8
Acara ulang tahun sekolah berlangsung meriah sepanjang siang. Stand makanan, permainan, dan pertunjukan klub-klub lain mengisi panggung utama bergantian. Tapi semua orang tahu—puncak acaranya adalah pertunjukan klub musik.
Dan tahun ini, ada sesuatu yang berbeda.
Di balik panggung, Lucy berdiri di depan cermin kecil yang disediakan panitia. Tapi cermin ini bukan cermin apartemennya yang retak. Ini cermin biasa, dan yang terpantul di dalamnya bukan lagi Lucy si kutu buku.
Tangannya yang terampil—terlatih selama ribuan tahun—mengaplikasikan sentuhan akhir pada riasannya. Bedak tipis yang membuat kulitnya bercahaya. Lip balm pink yang memberi kesan segar. Dan yang paling penting: tidak ada kacamata.
Softlens hitam masih menutupi mata birunya, tapi tanpa kacamata tebal, bentuk wajahnya yang sebenarnya mulai terlihat. Tulang pipi yang halus. Rahang yang lembut. Mata yang besar dan ekspresif.
"Kau terlihat... seperti dirimu sendiri," komentar Lili yang duduk di atas meja rias, ekornya bergerak-gerak.
"Hampir." Lucy tersenyum. "Tapi belum sepenuhnya."
Dia meraih gaun yang tergantung di sudut ruangan. Bukan gaun biru muda yang dia pakai tadi—itu sudah diganti. Ini adalah gaun biru panjang, berkilau dengan manik-manik kristal yang dijahit tangan. Bukan dari toko manusia. Ini dari lemarinya di kastil.
Gaun itu meluncur ke tubuhnya seperti air. Potongannya sederhana—leher bulat, lengan pendek, rok yang jatuh anggun hingga mata kaki. Tapi cara manik-manik kristal itu menangkap cahaya... setiap gerakan kecil menciptakan kilauan seperti bintang.
Dia melangkah ke cermin, lalu mengambil pita biru dan mengikatkannya di rambut sebahu. Sebagai sentuhan akhir, dia menyelipkan jepitan kecil berbentuk ekor rubah—perak dengan mata safir biru—di samping kepalanya.
"Jepitan ekor rubah," gumam Lili. "Subtle."
"Aku tetap harus memberi penghormatan pada diriku sendiri."
Dari luar, suara pembawa acara terdengar. Pertunjukan grup sudah selesai—Nao, Rina, dan Mika baru saja tampil dengan meriah, menyanyikan lagu ceria yang membuat penonton bertepuk tangan. Sekarang, giliran solo.
"Penampilan solo pertama: Lucy, dari klub musik sesi B!"
Lucy mengambil gitarnya—gitar kayu mahoni yang dipernis halus—dan melangkah ke arah panggung.
"Saatnya," bisiknya.
Panggung utama SMA Seiran dihiasi lampu-lampu kuning yang hangat. Di atasnya, sebuah kursi kayu sederhana dan satu mikrofon berdiri. Latar belakangnya adalah layar hitam polos—tidak ada hiasan berlebihan, karena pertunjukan solo memang dimaksudkan untuk menonjolkan penampilnya.
Tirai terbuka.
Dan dunia seakan berhenti.
Sesosok gadis melangkah keluar. Gaun biru panjangnya berkilau diterpa lampu panggung, setiap langkahnya menciptakan percikan cahaya dari manik-manik kristal. Rambut hitam sebahu dengan pita biru dan jepitan ekor rubah. Wajah tanpa kacamata, dengan kulit putih bersih yang nyaris bercahaya. Dia berjalan dengan anggun—bukan anggun seorang model yang terlatih, tapi anggun alami yang tidak bisa dipelajari.
Seluruh aula terdiam.
Di barisan depan, Ren Arisugawa duduk dengan tangan terlipat. Awalnya, dia hanya datang karena sebagai ketua OSIS, dia harus hadir di semua acara. Tapi begitu gadis itu melangkah keluar, tangannya perlahan-lahan terlepas dari lipatan.
Itu... Lucy?
Gadis yang sama yang dia gendong beberapa hari lalu? Gadis yang memberinya kotak bekal berisi mochi? Gadis yang selalu menunduk malu setiap kali mereka bertemu?
Ren berkedip. Sekali. Dua kali. Tapi pemandangan di depannya tidak berubah.
Dia... selama ini dia...
Di sisi lain barisan depan, dipisahkan oleh beberapa kursi, Kaito Fujiwara duduk menyandar dengan kaki disilangkan. Dia baru saja selesai bertanding, masih mengenakan jaket tim basket di balik kemeja kasualnya. Dia datang ke aula karena teman-temannya memaksa—"Nonton klub musik, siapa tahu ada yang cantik."
Tapi ini bukan sekadar cantik.
Ini... berbeda.
Kaito menegakkan tubuhnya. Gadis di panggung itu—dia mengenalnya. Dia gadis yang sama yang duduk sendirian di tribune saat latihan basket. Gadis yang sama yang tidak peduli padanya. Gadis yang sama yang baru saja dia lihat di ruang basket tadi, dalam gaun biru muda.
Tapi sekarang... sekarang dia terlihat seperti seseorang yang sama sekali berbeda. Seseorang yang tidak bisa diabaikan.
Lucy duduk di kursi. Gitar di pangkuannya. Dia mendekatkan mulutnya ke mikrofon, dan untuk pertama kalinya malam itu, dia tersenyum—bukan senyum pemalu, bukan senyum gugup. Tapi senyum tenang, damai, seolah dia adalah pemilik panggung ini. Pemilik malam ini.
"Selamat malam," suaranya lembut, mengalun seperti air. "Aku akan membawakan sebuah lagu. Judulnya... 'Kesenanganku adalah Milikku Sendiri'."
Jemarinya mulai memetik gitar.
Dan musik mengalir.
♪ Di tepian senja yang sunyi... ♪
♪ Tempat ombak berbisik pada pasir... ♪
♪ Aku berdiri, sendiri, tanpa takut... ♪
♪ Karena langit ini milikku sepenuhnya... ♪
Suaranya bukan sekadar merdu. Ada sesuatu di dalamnya—sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Setiap nada yang keluar dari bibirnya membawa perasaan yang sulit digenggam. Sedih. Senang. Rindu. Damai. Semua bercampur menjadi satu, menciptakan gelombang emosi yang menyapu seluruh aula.
♪ Mereka bilang, jadilah seperti ini... ♪
♪ Mereka bilang, ikuti jalan itu... ♪
♪ Tapi siapa yang bisa menentukan... ♪
♪ Kebahagiaanku selain diriku sendiri? ♪
Ren tidak berkedip. Matanya terpaku pada sosok di panggung. Setiap kata yang Lucy nyanyikan terasa seperti... berbicara padanya. Langsung padanya.
Jadilah seperti ini. Ikuti jalan itu.
Berapa kali dia mendengar kata-kata itu dari ayahnya? Berapa kali dia mengikuti, tanpa pernah bertanya apakah itu yang dia inginkan?
Kebahagiaanku adalah milikku sendiri.
Jari-jarinya mencengkeram lututnya. Sesuatu di dalam dadanya bergetar—sesuatu yang sudah lama dia kubur. Mimpi-mimpinya. Musik. Gitar yang dihancurkan ayahnya. Semua hal yang dia sukai tapi tidak pernah diizinkan untuk dia kejar.
Dan di atas panggung, gadis ini—gadis yang dia kira hanya kutu buku pemalu—sedang menyanyikan kebebasan.
♪ Jangan takut pada bayanganmu sendiri... ♪
♪ Jangan lari dari cermin di hadapanmu... ♪
♪ Kau adalah satu-satunya dirimu... ♪
♪ Dan itu cukup. Itu lebih dari cukup... ♪
Kaito menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering.
Kau adalah satu-satunya dirimu.
Sejak kecil, dia selalu merasa tidak cukup. Tidak cukup pintar. Tidak cukup penurut. Tidak cukup sempurna untuk membuat ibunya bahagia. Dia membangun dinding di sekelilingnya, menolak semua perempuan yang mendekat, karena dia tidak percaya ada yang bisa menerima dirinya apa adanya.
Tapi gadis di panggung itu... dia bernyanyi seperti seseorang yang tahu. Seperti seseorang yang mengerti apa artinya dikurung dalam ekspektasi orang lain. Seperti seseorang yang sudah menemukan jalannya sendiri dan kini menawarkan tangannya pada siapa pun yang mau mendengarkan.
Dan Kaito mendengarkan. Dia benar-benar mendengarkan.
♪ Kesenanganku adalah milikku sendiri... ♪
♪ Tak perlu kau mengerti atau menyetujui... ♪
♪ Karena di ujung malam yang paling gelap... ♪
♪ Akulah cahaya untuk diriku sendiri... ♪
Lucy memetik senar terakhir. Nadanya menggantung di udara, melayang pelan sebelum menghilang ke dalam keheningan.
Lalu tepuk tangan.
Bukan tepuk tangan biasa. Tepuk tangan yang meledak, bergemuruh, memenuhi seluruh aula. Beberapa penonton berdiri. Beberapa menyeka mata mereka. Nao, Rina, dan Mika di sisi panggung berpelukan sambil menangis, tidak percaya teman mereka yang pemalu bisa bernyanyi seperti itu.
Lucy berdiri dari kursinya. Dia membungkuk sopan—sekali, dua kali—lalu berjalan keluar panggung dengan langkah yang sama anggunnya seperti saat dia masuk.
Tapi sebelum dia benar-benar menghilang di balik tirai, matanya sekilas menatap ke arah barisan depan. Ke arah Ren. Ke arah Kaito.
Dan dia tersenyum—senyum kecil yang hanya berlangsung sepersekian detik, tapi cukup untuk membuat dua pasang mata di barisan depan itu tidak bisa berpaling.
Satu jam kemudian, aula sudah mulai sepi. Pengunjung berangsur pulang, stand-stand mulai dibongkar, dan lampu-lampu panggung dimatikan satu per satu.
Lucy berdiri di dekat gerbang sekolah bersama Nao, Rina, dan Mika. Dia sudah berganti kembali ke gaun biru mudanya yang lebih sederhana, tapi pita biru dan jepitan ekor rubah masih bertengger di rambutnya. Kacamatanya belum dipasang lagi—biarkan saja untuk malam ini.
"Kamu tadi LUAR BIASA!" Rina masih belum berhenti memuji. "Aku nggak nyangka kamu bisa sebagus itu!"
"Suara kamu tuh... kayak bidadari!" tambah Mika.
"Kenapa kamu nggak pernah tunjukkin sebelumnya sih?" Nao mencubit pipi Lucy pelan. "Kita tadi nangis, tahu!"
Lucy tertawa kecil. "Aku... gugup kalau banyak orang..."
"Gugup?! Kamu di panggung tadi kayak putri! Anggun banget!"
Saat itulah, ketiga temannya tiba-tiba membeku. Mata mereka menatap ke sesuatu di belakang Lucy.
"Eh... itu..." Mika menelan ludah.
Lucy berbalik.
Ren Arisugawa berdiri di sana. Seragam OSIS-nya masih rapi, tapi ada sesuatu yang berbeda dari sikapnya malam ini. Tangannya tidak di saku—mereka tergantung di samping tubuhnya, sedikit mengepal. Matanya, yang biasanya datar dan dingin, menatap Lucy dengan intensitas yang tidak biasa.
"Ketua OSIS?!" Nao hampir melompat mundur.
"A-ada apa, Ketua?" Rina ikut gugup.
Ren tidak menjawab mereka. Matanya tetap pada Lucy. "Bisa bicara sebentar?"
Ketiga teman Lucy saling pandang dengan ekspresi panik. Lalu, tanpa sepatah kata pun, mereka kompak melambaikan tangan.
"K-kita duluan ya, Lucy!"
"Besok kita cerita-cerita!"
"Hati-hati pulang!"
Dan dalam hitungan detik, mereka sudah setengah berlari menjauh, meninggalkan Lucy sendirian bersama ketua OSIS yang paling ditakuti di sekolah.
Lucy menatap Ren dengan ekspresi bingung yang dibuat-buat—kepala sedikit dimiringkan, alis terangkat. Tanpa kacamata, gerakan itu terlihat jauh lebih menggemaskan. "Ada apa, Ketua OSIS?"
"Ren."
"Eh?"
"Ren." Dia menegaskan lagi, kali ini dengan nada yang sedikit lebih pelan. "Panggil Ren."
"O-oh... Ren..." Lucy memainkan ujung pitanya dengan jari, pura-pura malu. "Ada apa?"
Ren membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Di dalam hatinya, ada perang yang sedang berkecamuk. Tanya saja. Tanya apakah dia mau pulang bareng. Itu pertanyaan normal. Teman juga bisa pulang bareng.
Tapi dia tidak pernah melakukan ini sebelumnya. Dia tidak pernah menawarkan pulang bareng pada siapa pun.
"Pertunjukanmu tadi," katanya akhirnya. "Bagus."
"Ah... terima kasih..."
Keheningan. Canggung.
"Aku..." Ren mengepalkan tangannya di saku. "Aku mau pulang. Apa kau... mau bareng?"
Mata Lucy membulat—akting yang hampir sempurna, meskipun di dalam hatinya dia tersenyum puas. "Ba-bareng? Pulang bareng?"
"Rumahmu satu jalan."
"I-iya... tapi..."
"Kalau tidak mau, tidak apa-apa." Ren sudah setengah berbalik.
"Tunggu!" Lucy melangkah setengah berlari, tangannya nyaris menyentuh lengan Ren sebelum dia menariknya lagi. "A-aku... aku mau. Pulang bareng."
Ren menatapnya. Di bawah cahaya lampu gerbang, dengan pita biru di rambutnya dan pipi yang sedikit memerah, Lucy terlihat... lucu. Sangat lucu. Terlalu lucu.
Ada apa denganku?
"Baiklah," katanya, suaranya tetap datar meskipun jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. "Ayo."
Jalanan malam itu sepi. Acara ulang tahun sekolah sudah usai, dan sebagian besar murid sudah sampai rumah. Hanya ada suara jangkrik dan langkah kaki mereka berdua di trotoar—seperti malam-malam sebelumnya, tapi entah kenapa terasa berbeda.
Mungkin karena kali ini Lucy tidak digendong. Mereka berjalan berdampingan, dengan jarak yang cukup dekat.
"Lagu tadi," kata Ren tiba-tiba. "Siapa yang menulisnya?"
Lucy terdiam sejenak. Dia tidak bisa bilang bahwa dia menulisnya sendiri—itu akan terlalu mencurigakan. Tapi dia juga tidak bisa bilang itu lagu terkenal, karena Lili sudah memastikan lagu itu tidak ada di dunia ini.
"Aku... menemukannya di buku lama," jawabnya. "Di perpustakaan. Liriknya... berbicara padaku."
"Begitu." Ren mengangguk. "Liriknya bagus."
Berbicara padaku juga, tambahnya dalam hati.
Mereka berjalan lagi dalam keheningan. Tapi kali ini, keheningannya tidak canggung. Lebih seperti... nyaman.
Sementara itu, di gerbang sekolah yang mulai gelap, Kaito Fujiwara berdiri dengan tangan di saku. Dia baru saja keluar dari aula, berniat mencari udara segar setelah penampilan yang... mengganggu pikirannya.
Lalu dia melihat mereka.
Ren Arisugawa dan gadis itu—Lucy—berjalan berdampingan di ujung jalan. Siluet mereka diterangi lampu jalan, menciptakan bayangan panjang di trotoar. Mereka tidak berpegangan tangan. Mereka tidak melakukan apa pun yang romantis. Tapi cara mereka berjalan—bersama—cukup untuk membuat rahang Kaito mengeras.
Ren Arisugawa.
Dan gadis itu.
Dia tidak tahu kenapa pemandangan itu mengganggunya. Dia bahkan tidak mengenal gadis itu—hanya tahu namanya, hanya tahu dia sekelas, hanya tahu dia bernyanyi seperti malaikat malam ini. Tapi ada sesuatu di dadanya yang terasa... tidak enak.
Kaito berbalik dan berjalan ke arah yang berlawanan. Tapi di kepalanya, suara itu masih terngiang.
Kesenanganku adalah milikku sendiri...
Siapa dia sebenarnya?
Di apartemen Lucy, malam semakin larut. Lucy baru saja selesai melepas gaun biru mudanya dan sekarang berbaring di kasur, menatap langit-langit dengan senyum kecil di bibirnya. Lili meringkuk di atas bantal seperti biasa.
"Aku punya kabar," kata Lili.
"Presentase?"
"Ren Arisugawa: ♡♡♡ | 30%."
"Hanya 30%?" Lucy mengerucutkan bibirnya. "Aku sudah bernyanyi seindah itu, dan dia hanya naik 10%? Pria itu benar-benar pelit dengan perasaannya."
"Itu lebih dari cukup untuk seseorang yang tidak pernah tertarik pada siapa pun."
"Ya, ya..." Lucy melambaikan tangannya. "Ada lagi?"
Lili terdiam sejenak. "Kaito Fujiwara: ♡ | 10%."
Lucy berhenti menggerakkan tangannya. "Kaito?"
"Dia melihatmu dan Ren pulang bersama. Dan entah kenapa, presentasenya muncul."
Lucy terkekeh. "Jadi antagonis pria kita mulai tertarik?" Dia berguling ke samping, menopang kepalanya dengan tangan. "Padahal aku bahkan belum memulai apa pun untuknya."
"Kau sudah memulai. Saat kau duduk sendirian di tribune. Saat kau bernyanyi di panggung. Dan saat kau pergi tanpa menoleh padanya."
"Manusia memang aneh. Semakin kau mengabaikan mereka, semakin mereka penasaran."
"Itu bukan filosofi dewi. Itu psikologi dasar."
Lucy tertawa kecil, lalu merebahkan dirinya kembali. Matanya menatap langit-langit yang retak.
"30% dari Ren. 10% dari Kaito." Dia menyeringai. "Rencana berjalan lancar."
"Terlalu lancar?"
"Tidak ada yang namanya terlalu lancar, Lili. Ini baru permulaan."
Dia menutup matanya. Di kepalanya, rencana untuk minggu-minggu berikutnya sudah mulai terbentuk. Hana Himura akan segera masuk sekolah. Akane akan kembali dari luar negeri. Dan di tengah semua kekacauan yang akan terjadi, dia—Lucy, Dewi Rubah—akan berdiri di pusatnya, menarik semua benang, menari di antara dua pria yang tidak sadar bahwa mereka sedang dimainkan.
"Ini akan menyenangkan," bisiknya pada malam.
Dan Lili, yang sudah setengah tertidur, hanya mendengkur setuju.