Sebuah kisah pencarian jati diri seorang badan intelijen yang berbahaya.Bagaimana putusannya di dalam menghadapi permainan takdir.
Kenyataan yang ada,membuatnya hilang arah.Menjelma menjadi sosok baru yang begitu mengerikan. Kasar,emosional,dan tak pernah segan membunuh demi tugas yang diembannya.
Diantara huru hara itu,ia menemukan setangkai bunga mawar yang menarik perhatiannya,mawar yang mampu membuat hatinya berdesir.Sampai ia menyadari bahwa mawar itu terlalu suci untuk ia pandang.Aroma manis dan lembut tutur katanya selalu mengingatkannya pada hal-hal baik yang susah payah ia lupakan.
Apakah segenggam perasaan cinta yang tak pernah utuh bisa mengembalikannya pada cahaya?
Khoirul Azam melalui dirinya,ia ingin menunjukkan bahwasanya tak ada satupun manusia yang sempurna.
"Kamu bukanlah orang jahat,kamu hanya orang baik yang tersesat pada hal buruk. Dunia tidak hanya terbagi atas orang baik dan jahat.Semua manusia terlahir dalam keadaan suci,melalui proses yang akan menuntun sisi mana yang akan kita pilih"
Asha Azzaliyah Zahra pada Khoirul Azam.
Ini adalah skuel dari karyaku yang sebelumnya berjudul "KAKAK IPARKU,SUAMIKU"
Memang karya ku dulu di akun IDAH RIYAH,namun satu hal membuat akun ku rusak dan aku berganti akun ku ini yang baru.
Simak terus ceritanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Om Shi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#30
Bismillah Hirrahmaa Nirrahiim
Allahumma Shalli'alaa Sayyidina Muhammad
Wa'alaa Aalihi Sayyidina Muhammad
"Apakah kamu terluka begitu parah...? Maksudku, kamu tertembak waktu itu. Sebenarnya aku ingin sekali menemuimu, tapi...!"
Asha benar - benar dibuat kelimpungan kalau berbicara serius dengan Azam.
"Aku tau, jangan bicara lagi!"
Tetap saja judes.
"Aku ingin mengucapkan terimah kasih..."
"Aku tau..."
Potongnya keras.
Tidak, Azam tidak akan tau seberapa dalam Asha merindukannya. Setiap jawaban Azam malah semakin menyakiti hati Asha. Sebegitu tidak sukanya kah Azam padanya? Asha ingin berhenti berjalan lalu menangis saja.
Tanpa sadar mereka sudah sampai di pekarangan rumah Kiyai Lathif. Jantung Asha berdetak tak karuan, takut kalau sampai ada yang melihat mereka.
"Sebaiknya kamu cepat kembali ke rumahmu...".
Kata Asha, memandang gugup pada sekeliling padahal sudah jelas - jelas sunyi. Gadis itu menaiki satu persatu undakan yang terbuat dari bambu kuning yang berada di depan penginapan yang di tempatinya.
"Aku takut kalau ada seseorang yang melihat kita dan nantinya akan menimbulkan desas desus yang tidak enak...".
Azam membalasnya dengan senyuman miring, perubahan sikapnya bisa sangat cepat sekali.
"Apa yang perlu kamu takutkan? Mereka tidak melihat kita sedang berpelukan atau berciuman bukan?".
Sepasang mata kumbang itu memancarkan sinar yang aneh. Nampak puas menggoda Asha yang melotot lucu, pemuda itu terkekeh sambil merunduk. Salah satu yang ia rindukan adalah menunjukkan imajinasi liarnya pada gadis itu.
"Masuklah..."
Azam mengedikan dagunya menuju ke arah pintu.
"Selamat tidur kembali..."
Asha mengannguk, jawaban gadis itu begitu tulus.
"Aku tidak tidur lagi ketika terbangun karenamu, Asha...!".
Kekuatannya untuk menarik gagang pintu seolah melebur bersama detak jantungnya yang tidak konstan. Asha memunggungi Azam sekaligus mengeratkan pegangannya di sana. Asha bertanya - tanya dalam hati apa makna dari ucapan pemuda itu sembari memejamkan mata.
"Kamu adalah sebab keresahanku...."
Bisikan pemuda itu membuat desiran halus turun ke dalam perutnya, lalu ia berbalik namun membisu. Menemukan Azam yang masih berdiri seperti orang tersiksa karena sekarat.
"Dan kamu pun juga mengalami hal seperti ku, akuilah..."
Azam memandangnya tanpa berkedip sedikit pun.
"Aku melihat dengan jelas di kedua matamu, Asha..."
Asha masih berdiri di hadapannya tanpa sepatah kata.
"Kamu tidak perlu menjawabnya jika kamu tak ingin..."
Akhirnya Azam mengakhiri bembicaraannya dengan sebuah anggukan kecil yang menyedihkan. Azam pulang seperti pejuang yang kalah perang, laki - laki itu balas memunggunginya.
Gadis itu menuruni satu undakan tangga. Azam sama sekali tidak memberikannya kesemptan berbicara, atau Asha saja yang terlalu bodoh dan tak bisa main serobot untuk memberikannya penjelasan.
"Kenapa kamu tak masuk rumahmu...?"
Tanyanya penasaran, secara tidak sadar mencoba menghalangi kepergian Azam.
Asha yakin seratus persen mendengar Azam mendengus, tapi jawabannya tidak sekasar yang di yakini Asha.
"Aku tak akan tidur sementara aku mengetahui kamu berbaring tak jauh dari tempatku..."
Kata pemuda itu sambil mengurai langkah.
Selesai, Azam meninggalkannya seperti manusia bodoh yang tertiup angin malam yang berhembus tajam. Asha memandang punggungnya yang semakin menjauh lalu menghilang di balik tikungan ujung jalan, di telan gelap. Asha mendengus, mengapa begitu sulit sekali untuk saling terbuka?
...****************...
6 Bulan yang lalu.
"Kamu menyukainya...?".
"Ya".
Lelaki seperuh abad itu memandang mata Azam dengan tajam seperti burung elang yang mengintai mangsanya.
"Kamu pasti tau dia putriku satu - satunya, dan aku memintamu untuk menjauhinya mulai sekarang dan sampai kapan pun walau apa pun yang terjadi...!"
Keputusan final itu harusnya tidak di bantah oleh Azam, namun pemuda itu tak aka menyerah begitu saja dan malah menaikkan sebelah alisnya.
"Kenapa aku harus melakukannya...?"
"Kamu dan lingkunganmu sangat berbahaya. Semua hal buruk yang menimpamu di dalam hutan itu, apa kamu pikir hanya ada satu malah petaka yang menyinggahinya?!"
Azam terkekeh.
"Aku pikir dia bukan seorang penakut, bapak pasti tau kalau kami bertahan hidup dari banyak bahaya. Sudah jelas kami saling tertarik, coba lihat mata putrimu maka kamu akan menemukan jawaban disana! Lalu mengapa bapak repot - repot melarangku ini - itu?"
Azam mendengar g**emerutuk giginya dengan jelas. Laki - laki paruh baya itu mati - matian menahan emosinya.
"Sebab aku tidak mau keturunanku bergaul dengan orang yang tidak jelas hidup dan asal usulnya seperti dirimu...!"
Kalimat itu begitu pedas saat di dengarkan.
Azam mengulas senyum tipis.
"Aku bisa membuat keturunan yang jelas asal - usulnya dengan putrimu. Siapa namanya? Asha Azzaliyah Zahra? Nama yang begitu cantik...!"
Lelaki itu sudah hilang kesabarannya. Ia mencengkeram baju khas pasien yang melekat pada tubuh Azam.
"Tutup mulutmu brengsek...! Patuhi saja ucapanku dan jangan pernah bermain - main denganku. Kamu akan menerima akibatnya jika kamu masih berani menunjukkan batang hidungmu di hadapannya....!"
"Easy sir...!
Azam mulai melepas cengkeraman pada kerah lehernya.
"Bukan seperti itu cara bernegoisasi, Khoirul Azam tak akan pernah gentar dengan tekanan seberat apa pun...!"
Sosok Sam memasuki ruangan itu sambil menenteng kantong yang berisi obat - obatan. Berkat kehadiran sosok itu berhasil mengurai berdebatan di sana.
"Well...well...kamu sudah bicara banyak bukan? Anak didikku butuh waktu istirahat lebih banyak dari pada meladeni ucapanmu!".
"Camkan peringatanku, kamu tau kehidupanmu yang sesungguhnya. Jadi jangan pernah libatkan putriku dalam kehidupanmu yang kotor itu...!"
Terkhir kalinya melemparkan pandangan penuh perhitungan. Hentakan sepatu sang Kolonel memenuhi ruangan perawatan itu. Jejaknya tertinggal, sementara raganya pergi tanpa memandang Sam dengan kata terakhir yang menusuk Azam sampai lebih berdarah dari pada di tembus tiga butir peluru.
Azam berbaring diatas bantal, Iqbal Dirgantara harusnya tak perlu secemas itu. Azam hanya ingin membuat permainannya menjadi sedikit menarik saja, selebihnya ia sudah mengerti. Azam sendiri tak akan pernah menyeret gadis itu ke dalam kehidupannya yang kelam. Sebab ia hanyalah manusia nista yang tak jelas asal usulnya. Azam hanya akan menjaganya dari jarak pandang ribuan meter, atau bahkan ratus ribu meter.
Memori itu menguap begitu saja seperti air yang mendidih. Azam hanya perlu membuka penutupnya untuk menghindari ledakan pada kepalanya sebab terlalu serius memikirkannya. Sesederhana itu, jika saja Azam tidak melibatkan hati dalam kemelutnya kali ini. Sial, kenapa gadis itu dengan mudah mengetuk pintu hatinya?
Pertemuannya dengan Asha setelah 6 bulan lau yang penuh darah itu malah membuatnya makin goyah. Sekali bertemu gadis itu sukses membuatnya tersungkur. Sekuat apa pun Azam berlari menjauhi, Asha tetap menariknya. Sekuat apa pun Azah tak acuh pada Asha, gadis itu seperti punya cara untuk meluluhkan kekerasannya.
Azam harus mengakui, Asha sudah berubah menjadi poros hidupnya.
Alhamdulillah....mungkin efek puasa sulit berkonsentrasi apa lagi beimajinasi. Pleasss....kira - kira kalau author istirahat dulu buat persiapan lebaran gimana?beri krisan ya...😙