Seraphina Lim kembali ke Jakarta dengan label yang memalukan — anak haram keluarga konglomerat Lim.
Dibuang sejak kecil, dibesarkan oleh keluarga lain, dan kini dipanggil pulang hanya untuk dijadikan bidak politik. Saudari tirinya yang menggantikan posisinya selama 20 tahun menganggapnya sampah. Ayah kandungnya ingin menjodohkannya dengan putra keluarga paling korup di Jakarta.
Tapi Seraphina bukan gadis lemah yang bisa diinjak.
Di malam pertamanya di Jakarta, takdir mempertemukannya kembali dengan Reynard Hartono — pewaris tunggal Hartono Group, pria paling berkuasa dan paling berbahaya di kota ini. Dingin, posesif, dan tak pernah tersentuh oleh wanita manapun...
...kecuali dia.
"Kau adalah hartaku yang paling berharga."
Reynard sudah menunggunya selama empat tahun. Dan kali ini, dia tidak akan melepaskannya — tidak peduli berapa banyak musuh yang harus dihancurkan.
Identitas palsu. Cinta obsesif. Balas dendam yang manis.
Ketika rahasia terbesar keluarga Lim terbongkar, seluruh Jakarta akan tahu — gadis yang mereka injak-injak selama ini, justru adalah pewaris sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 012
Meja Mahjong
Datang ke rumah besok. Kita perlu bicara soal proyekmu.
Seraphina membaca pesan Hendrawan sekali, lalu meletakkan ponsel di meja tanpa membalas.
Lima menit kemudian, pesan kedua masuk.
Jangan membuat Papa menunggu.
Ia baru mengetik setelah rapat internal Astoria selesai.
Kalau terkait proyek Astoria, silakan kirim agenda resmi ke email kantor. Saya tidak membahas kontrak pemerintah di meja makan keluarga.
Balasan Hendrawan tidak langsung datang. Ketika akhirnya layar menyala, kalimatnya pendek.
Kau mulai lupa diri.
Seraphina menatap kalimat itu. Dulu ia mungkin akan merasa tertusuk. Sekarang, setelah melihat cap resmi di dokumen proyek, setelah mendengar timnya bersorak di luar gedung pemerintah, kalimat itu justru terdengar seperti pintu tua yang berderit.
Ia membalas:
Tidak. Saya mulai ingat diri saya.
Setelah itu ia mematikan notifikasi dari Hendrawan.
Malamnya, ia datang ke apartemen Natasha Wibowo di kawasan Senayan dengan sekotak kue lapis legit di tangan. Unit Natasha tidak sebesar Teluk Mutiara, tetapi setiap sudutnya memantulkan pemiliknya: sofa hijau botol, lampu lantai berbentuk aneh, lukisan abstrak yang tampak mahal sekaligus menantang orang untuk berkomentar.
Di tengah ruang tamu, meja mahjong sudah siap.
Natasha berdiri di dekat meja dengan rambut diikat tinggi. "Akhirnya datang juga. Aku hampir mengirim Jason untuk menculikmu, tapi kupikir standar hidupmu belum serendah itu."
"Aku membawa kue."
"Pintar. Kau boleh duduk."
Dua perempuan lain sudah ada di sana.
Yang pertama berwajah lembut, mengenakan kemeja satin biru muda dan celana putih. Ia berdiri sambil tersenyum hangat. "Michelle Tjong. Panggil saja Michelle, atau Ci Michelle kalau kau mau membuatku merasa tua."
Seraphina menjabat tangannya. "Seraphina. Sera juga boleh."
"Aku tahu," kata Michelle. "Tasha membicarakanmu seperti menemukan senjata baru."
Natasha menunjuk Michelle dengan ubin mahjong. "Itu pujian."
Perempuan kedua duduk di kursi dengan satu kaki terlipat, rambut panjangnya diikat asal, wajahnya cerah. "Jessica Tan. Panggil Jess. Aku sudah membaca artikel proyekmu tiga kali dan tidak paham setengahnya, tapi aku suka bagian kau membuat vendor tua malu."
Seraphina tertawa kecil. "Terima kasih, kurasa."
"Itu juga pujian," kata Jessica.
Michelle mengambil map kecil dari meja samping. "Sebelum Tasha memaksamu main, ini daftar firma PR dan konsultan tender yang bersih. Aku tidak bilang kau butuh bantuan, tapi setelah proyek pemerintah, orang akan mulai mencari celah."
Seraphina menerima map itu, sedikit terkejut. "Kau menyiapkan ini?"
"Tasha bilang kau keras kepala. Orang keras kepala biasanya baru minta bantuan setelah terlambat."
Jessica mengangkat tangan. "Aku bagian media sosial. Kalau ada akun gosip mulai menyerang, kirim ke aku. Aku punya hobi buruk: menemukan admin anonim yang merasa terlalu aman."
Natasha tersenyum puas. "Lihat? Ini bukan sekadar mahjong. Ini rapat perang dengan camilan."
Untuk sesaat Seraphina tidak tahu harus berkata apa. Bantuan yang datang tanpa syarat selalu lebih sulit diterima daripada serangan.
"Terima kasih," katanya akhirnya.
Michelle tersenyum. "Nanti kalau sudah akrab, kami akan menagihnya dalam bentuk traktiran mahal."
Malam itu dimulai dengan teh oolong, kue lapis, dan aturan mahjong yang dijelaskan Natasha dengan gaya seperti instruktur militer.
"Aturan pertama," kata Natasha, "jangan percaya wajah polos Michelle. Dia paling sering menang."
Michelle tersenyum tenang. "Aku hanya menghitung."
"Itu yang dikatakan semua penjahat elegan."
Jessica mengocok ubin. "Aturan kedua, kalau Tasha mulai memaki, berarti kartunya jelek."
"Aku tidak memaki. Aku mengkritik nasib."
Seraphina duduk di antara mereka, mendengarkan pertengkaran kecil itu dengan perasaan aneh. Tidak ada yang menatapnya seperti aib. Tidak ada yang meminta ia menjelaskan mengapa ia berada di ruangan itu. Mereka hanya memberinya teh, mengajarinya posisi ubin, lalu memarahinya ketika ia hampir membuang kartu bagus.
"Jangan itu!" Jessica hampir menjerit.
Seraphina berhenti. "Kenapa?"
Michelle menunjuk susunan ubinnya. "Kalau kau buang itu, Tasha menang."
Natasha tersenyum manis. "Buang saja, Sera sayang. Kita semua belajar dari kesalahan."
Seraphina menatapnya, lalu meletakkan ubin lain.
Natasha langsung mendesis. "Pengkhianatan."
"Kita baru kenal," kata Seraphina.
"Justru itu masa paling indah untuk mengkhianati."
Tawa pecah di ruang tamu.
Seraphina ikut tertawa, tidak terlalu keras, tetapi cukup lama untuk membuat dadanya terasa ringan. Ia lupa kapan terakhir kali duduk dengan perempuan lain tanpa harus mengukur setiap kata. Di Surabaya ia punya teman, tetapi hidupnya terlalu tertutup oleh rahasia Tjiandra dan Lim. Di Jakarta, ia mengira semua lingkaran sosial hanya punya gigi.
Ternyata ada juga yang membawa teh dan mahjong.
Setelah putaran ketiga, Natasha menaruh ubin dengan keras. "Sekarang sesi serius. Kevin Wijaya."
Jessica langsung memasang wajah jijik. "Ugh. Nama itu merusak rasa kue."
Michelle menatap Seraphina. "Dia mulai mengganggumu?"
Seraphina tidak menjawab terlalu cepat. "Dia mengirim bunga. Reynard mengirim firma hukum."
Natasha tertawa keras. "Aku semakin menyukai pria itu."
"Tasha," tegur Michelle.
"Apa? Aku mendukung tindakan anti-sampah."
Jessica mencondongkan badan. "Tapi serius, Sera. Kevin bukan hanya anak manja. Dia punya kebiasaan buruk kalau merasa ditolak."
Seraphina memutar ubin di jarinya. "Aku tahu."
"Belum tentu," kata Natasha. Suaranya kali ini lebih rendah. "Di lingkaran ini, beberapa laki-laki dibesarkan dengan keyakinan bahwa kata tidak hanyalah negosiasi awal. Kalau dia mendekat, bilang pada kami."
Michelle mengangguk. "Atau setidaknya jangan hadapi sendirian."
Seraphina menatap tiga perempuan di depannya.
Kalimat sederhana itu hampir membuatnya tidak tahu harus menjawab apa.
Jangan hadapi sendirian.
Selama bertahun-tahun, ia terbiasa menjadi orang yang membereskan semuanya sebelum orang lain tahu ada masalah. Tjiandra mengajarinya kuat, tetapi juga memberi rumah. Di Jakarta, ia lupa rasanya diberi pilihan untuk tidak selalu kuat.
"Baik," katanya akhirnya. "Kalau dia melewati batas, aku akan bilang."
Natasha menyipitkan mata. "Kalimat itu terdengar seperti orang yang akan tetap menyelesaikan sendiri."
"Aku sedang belajar."
"Bagus. Kita mulai dari belajar kalah mahjong."
"Aku kira aku hampir menang."
Michelle tersenyum lembut. "Itu ilusi yang umum pada pemula."
Putaran berikutnya berlangsung sampai hampir tengah malam. Seraphina kalah dua kali, menang sekali karena Jessica salah membuang ubin, lalu hampir tertidur saat Natasha dan Michelle berdebat tentang strategi.
Hujan turun di luar.
Ruang tamu Natasha hangat. Sofa hijau botol terlalu empuk. Seraphina hanya berniat menyandarkan punggung sebentar, tetapi tubuhnya yang lelah mengambil keputusan sendiri. Ia meringkuk di ujung sofa, satu tangan di bawah pipi, blazer terlipat di pangkuan.
Jessica yang pertama menyadari. "Dia tidur."
Michelle mengambil selimut tipis dan menutupkannya sampai bahu. "Biarkan. Dia kelihatan capek sekali."
Natasha berdiri di depan sofa, menatap Seraphina yang meringkuk kecil seperti anak kucing yang akhirnya menemukan tempat aman.
Ia mengambil ponsel, memotret dari sudut yang tidak memperlihatkan wajah terlalu jelas, lalu mengirimkannya kepada Reynard.
Ambil kucingmu sebelum dia benar-benar pindah ke sofaku.