Lim Mei Li bukan wanita biasa.
Di usia 7 tahun, dia menyaksikan ibunya melompat dari balkon — dipaksa oleh keluarga yang seharusnya melindunginya. Di usia 12, dia kehilangan satu-satunya keluarga yang tersisa. Di usia 16, dia sudah menguasai kerajaan bisnis yang membuat dunia gemetar.
Sekarang, di usia 23, dia kembali ke Jakarta.
Bukan sebagai anak yang dibuang. Tapi sebagai predator yang sudah terlalu lama menunggu.
Keluarga Tan — konglomerat yang menghancurkan ibunya — akan merasakan apa artinya takut. Satu per satu, mereka akan jatuh.
Tapi di tengah permainan balas dendam ini, seseorang muncul yang tidak ada dalam rencananya.
Arka Wicaksana Pradipta. Pewaris keluarga militer paling berkuasa di negeri ini. Pria yang selama 15 tahun tidak bisa disentuh oleh wanita manapun — kecuali dia.
"Aku menunggumu," katanya. "Tidak terburu-buru."
Mei Li tidak pernah berencana untuk jatuh cinta. Tapi setiap kali Arka tersenyum, benteng yang dia bangun selama 16 tahun... mulai retak.
Di bawah bibirnya, dia menemukan kegilaan yang tidak pernah dia minta.
🔥 Revenge × CEO Romance × Strong Female Lead
💎 "Jangan pernah meremehkan wanita yang kembali dengan membawa seluruh dunia di tangannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 20
Saat Ricky Koh tahu dirinya dijadikan umpan, reaksi pertamanya bukan takut.
Ia justru bersemangat.
"Jie, serius? Aku jadi umpan?"
Mei Li menatapnya dari balik meja gudang Cakung. "Kalau kamu terdengar terlalu senang, aku batalkan."
Ricky langsung menegakkan punggung. "Saya sangat takut, Jie."
Bella memutar mata. "Aktingnya buruk."
Amy menaruh rompi pelindung tipis di atas kursi. "Pakai ini di balik kemeja. Tidak terlihat dari kamera. Jalur keluar ada tiga. Jangan improvisasi."
Ricky mengambil rompi itu, kali ini wajahnya lebih serius. "Kevin benar-benar mengincar aku?"
"Dia ingin mengincar sesuatu yang menurutnya bisa membuatku kehilangan fokus," jawab Mei Li.
"Berarti aku penting."
"Berarti dia bodoh."
Ricky mengangguk. "Tetap saja, aku akan menganggapnya pujian."
Mei Li tidak tersenyum, tetapi matanya sedikit melunak. Ricky sudah mengikutinya sejak masa-masa awal Koh Group di Jakarta. Di luar ia bisa bercanda seperti adik laki-laki yang tidak tahu bahaya, tetapi ketika keadaan menuntut, ia tahu kapan harus diam dan mengikuti perintah.
Haji Mansur-lah yang mengirim kabar pertama.
Salah satu orang Baron membeli kartu SIM sekali pakai di dekat pelabuhan, lalu menyebut nama Cakung dan jadwal Ricky dengan terlalu percaya diri. Dalam dunia yang baru saja berpindah ke bawah pengawasan Pak Tujuh, kebodohan seperti itu sampai ke meja Mei Li lebih cepat daripada pesan Kevin ke Baron.
"Kevin akan menonton dari jauh?" tanya Amy.
"Dia terlalu ingin dilihat untuk tidak menonton," kata Mei Li.
Bella memeriksa pistol di balik jaketnya, lalu mengunci kembali. "Instruksi?"
"Tangkap hidup-hidup. Semua orang."
***
Baron datang pukul sembilan lewat dua belas menit malam.
Ia membawa dua mobil van, enam orang, dan keyakinan bahwa orang kaya selalu lambat belajar di lapangan. Gudang supplier di Cakung tampak sepi. Hanya ada satu mobil operasional Koh Group, dua lampu menyala, dan Ricky Koh berdiri di dekat pintu samping sambil berbicara dengan seseorang lewat ponsel.
"Target kelihatan," bisik anak buah Baron.
Baron mengunyah permen karet. "Cepat. Jangan bikin ribut."
Mereka bergerak dari dua arah.
Ricky melihat mereka terlambat, setidaknya begitulah yang tampak. Ia mundur, menjatuhkan ponsel, lalu mencoba berlari ke arah pintu gudang. Dua orang Baron mengejarnya. Satu berhasil menangkap lengan Ricky.
"Lepas!" Ricky berteriak, cukup keras untuk terdengar panik, cukup rapi untuk membuat Bella yang menonton dari atas kontainer ingin mengkritik.
"Drama sekali," bisik Bella.
Amy di sebelahnya menjawab, "Dia menikmati ini."
Baron mendekat. "Ricky Koh, ya? Tenang. Bos gue cuma mau kirim salam."
Ricky berhenti memberontak. "Bosmu Kevin?"
Baron membeku sepersekian detik.
Terlambat.
Lampu gudang menyala penuh.
Pintu besar di belakang mereka tertutup otomatis. Dari sisi kiri, orang-orang Haji Mansur muncul, tidak membawa senjata mencolok, tetapi cukup banyak untuk membuat enam orang Baron kehilangan warna wajah. Bella turun dari kontainer dengan langkah ringan. Amy berdiri di tangga besi, tablet di tangan, merekam semua sudut.
Dan di ujung lorong gudang, Lim Mei Li berjalan keluar.
Baron meludah ke lantai. "Sial."
"Kata yang tepat," ujar Mei Li.
Anak buah Baron mencoba bergerak. Dua orang Pak Tujuh menghentikan mereka tanpa banyak suara. Satu yang nekat mengeluarkan pisau langsung dijatuhkan Bella dengan kuncian pendek. Pisau itu berdering di lantai.
Ricky melepaskan tangan dari cengkeraman penyerangnya, merapikan kemeja. "Jie, aku cukup meyakinkan, kan?"
"Terlalu bersemangat."
"Saya akan belajar."
Baron menatap sekeliling. "Kalau mau lapor polisi, lapor saja. Kami tidak kenal Kevin."
Amy memutar tablet. Di layar, rekaman dari ruko Bekasi muncul. Kevin meletakkan amplop di meja. Suaranya jelas saat menyebut jadwal gudang Cakung.
Wajah Baron berubah.
"Kalian merekam?"
"Kamu bertemu di ruko yang pernah dipakai penagih utang tanpa memeriksa kamera sekitar," kata Amy datar. "Itu bukan kesalahan kami."
Mei Li berhenti di depan Baron. "Kevin membayarmu untuk mengirim pesan."
Baron menelan ludah. "Saya cuma ambil kerja."
"Sekarang kamu punya kerja baru."
"Apa?"
"Kirim pesan balik."
Baron menatapnya dengan mata penuh curiga. "Kalau saya bicara, Kevin akan cari saya."
Haji Mansur yang berdiri di dekat pintu akhirnya bersuara. "Kalau kamu tidak bicara, kamu tidak perlu menunggu Kevin."
Baron langsung menunduk.
Mei Li memberi isyarat pada Amy.
Amy meletakkan dua lembar dokumen di meja kecil depan Baron. "Pembayaran pertama masuk dari rekening perusahaan cangkang di Batam. Pembayaran kedua tunai. Tapi rekening Batam itu terhubung ke satu koperasi kredit yang pernah dipakai proyek properti Tan Group."
Baron menatap dokumen itu, lalu wajahnya makin pucat. "Saya tidak tahu sampai sana."
"Sekarang kamu tahu."
"Saya cuma dapat nomor perantara."
"Sebut."
Baron menyebut satu nama dan satu nomor. Amy langsung mengirimkannya ke Sean untuk dilacak. Dalam waktu kurang dari satu menit, layar tablet menampilkan jalur transaksi yang bercabang ke beberapa akun kecil, lalu berhenti di rekening pribadi salah satu staf keuangan Kevin.
Ricky bersiul pelan. "Dia pikir pakai lima rekening kecil sudah aman?"
"Dia ingin terlihat pintar," kata Mei Li. "Bukan benar-benar pintar."
Sean mengirim pesan baru ke tablet Amy.
Ada koneksi ke dua pejabat izin proyek.
Mei Li membaca nama-nama itu, lalu menutup layar.
"Simpan untuk besok."
Besok, permainan Kevin tidak lagi berada di gudang.
Ia sudah menyeret dirinya sendiri ke meja operasi dingin itu.
Baron menelan ludah. "Kalau saya bantu, saya bebas?"
"Kamu tetap bertanggung jawab pada polisi untuk percobaan penculikan."
"Lalu gunanya saya bicara?"
Mei Li menatapnya. "Kamu masih hidup untuk bertanya."
Baron tidak bertanya lagi.
***
Di Tan Residence, Kevin menonton layar ponselnya dengan napas cepat.
Awalnya, video dari anak buah Baron berjalan sesuai rencana. Ricky tertangkap. Ada teriakan. Ada kekacauan kecil. Kevin bahkan sudah menyiapkan kalimat untuk dikirim ke Mei Li.
Lalu lampu gudang menyala.
Wajah Mei Li muncul di layar.
Kevin berdiri begitu cepat sampai kursinya terjatuh.
"Tidak."
Di layar, Baron dipaksa duduk di kursi plastik. Wajahnya lebam sedikit, tetapi hidup. Ricky berdiri di belakang Mei Li, melambai kecil ke kamera dengan ekspresi menyebalkan.
Mei Li mengambil ponsel dari tangan Amy.
Ia tidak berteriak. Tidak mengancam panjang.
"Kevin Tan," katanya, "kalau ingin dilihat, jangan bersembunyi di balik orang murah."
Kevin menggenggam ponsel sampai buku jarinya memutih.
Mei Li melanjutkan, "Aku sudah melihatmu."
Video terputus.
Satu pesan masuk setelahnya.
Besok, giliran jalur uangmu.
Kevin membanting ponsel ke dinding.
Di luar kamar, Rachel mendengar suara itu dan menutup mata.
Kali ini, ia tahu anaknya bukan sedang memulai serangan.
Ia baru saja masuk perangkap.