Nasib Celina yang yatim piatu bertambah malang karena suatu malam ia diculik dan diperkosa oleh 3 orang pria..
"Aku tidak pantas untuk mu.. Aku sudah kotor! Bahkan sangat kotor. Kau bisa mendapatkan yang lebih baik lagi dari diriku!."
Bagaimana nasib Celina setelah kejadian itu?
Akankah dia membalaskan dendam nya pada ketiga pria keji tersebut?
Cerita ini hanyalah fiksi belaka dan mengandung unsur kekerasan, pembaca diharap bijak dalam menyikapinya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanda Anastasia Adam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30
"Aku bukan Celina Morales, Darcia. Kau harus ingat nama aku baik-baik, sekarang namaku adalah Ruby Domin. Adik perempuan dari kakak terhebat ku Mario Domin, pemilik perusahaan besar Domin, Corp yang menjalin kerja sama dengan perusahaan kecil mu itu!."
Darcia terbelalak mendengar ucapan Celina. Bagaimana mungkin wanita di depan nya itu kini menjadi adik dari Mario Domin?.
Darcia sudah menyelidiki latar belakang Celina waktu lalu. Dan dia hanyalah seorang wanita yatim piatu, yang pindah ke negara mereka dan tidak memiliki keluarga siapa pun disini.
"Tidak perlu terkejut begitu Mr Darcia. Aku tahu kau pasti bingung saat ini, karena yang kau tahu aku adalah anak yatim piatu, hingga kau berpikir bisa memperkosa dan meninggalkan aku sekarat di hutan waktu itu. Karena pasti tidak akan ada yang melaporkan berita kehilangan aku bukan?."
Celina tersenyum sinis.
"Sayang nya pikiran jahat mu itu salah Darcia! Tuhan masih memberikan aku kesempatan untuk membalaskan semua perbuatan keji kalian padaku 4 tahun lalu. Dan sekarang, nikmatilah pembalasan dendam ku sampai kau mati mengikuti kekasih g*ay mu itu! Hahaha..."
Suara tawa Celina menggema di penjuru ruangan pengap itu. Manik mata cokelat mudanya memancarkan aura pembunuh.
Selama ini dia terus menantikan datang nya hari ini, dan sekarang dia akan memulai kan permainan balas dendam nya kepada 3 pria bejat yang sudah menghancurkan masa depan dan kehidupan Celina.
"So.. Let's play the game!."
Celina lagi tertawa sarkas menikmati hari yang telah lama dia tunggu-tunggu.
Wanita cantik itu bangkit dari kursi nya dan berjalan mendekat dimana Darcia berada. Tampak aura kebencian dan dendam yang mendalam terpancar dari 2 manik mata cokelat mudanya.
"Jangan bertindak gila Celina. Kau akan di tuntut dalam kasus pembunuhan jika kau sampai membunuh ku!."
Darcia menatap lekat wajah Celina di depan nya. Tubuh lelaki berotot itu sedikit bergetar saat melihat Celina membawa sebilah pisau di tangannya.
"Hahaha... tidak akan ada yang berani menuntut ku ke penjara bodoh! Kau akan mati seakan bodyguard g*ay mu itu yang membunuh dan menyiksa dirimu!."
Celina tertawa jahat dan semakin mendekati tubuh Darcia yang terikat telentang di dinding.
Seorang anak buah mereka menyumpal mulut lelaki berotot itu, sebelum pisau yang dipegang Celina bermain-main di dadanya.
Celina memakai hand gloves di kedua tangan nya, sementara sebilah pisau yang ada berada di genggaman tangan kanan nya.
Celina mulai memelintir ujung buah kecil di dada lelaki itu, hingga membuat Darcia menegang merasakan sentuhan tangan wanita yang pernah menjadi korban kebiadaban nya.
"Kau menikmati permainan ku Darcia?."
Celina tersenyum penuh arti dan melirik sekilas ke arah adik kecil Darcia yang terlihat sedikit berubah wujud di bawah sana.
Ingin sekali Celina menampar wajah Darcia yang begitu mudah jatuh terlena dengan jemari lentik nya. Dia merasa jijik dan ingin muntah saat kedua mata Darcia ikut terpejam merasakan sensasi di tubuhnya.
Belum sempat Darcia membuka mata karena sentuhan itu, Celina langsung menarik kuat ujung buah kecil Darcia dan memotong nya.
"Mmmm.....!."
Suara teriakan tertahan terdengar di indera pendengaran semua manusia yang berada di dalam ruangan tersebut. Darah mengucur deras dari dada Darcia bak air mancur.
Celina kembali tertawa jahat melihat wajah kesakitan lelaki bejat di depan nya, yang memerah menahan rasa perih dan sakit di tubuh berototnya.
Dalam hati Darcia terus mengumpati wanita cantik di depannya.
"Bagaimana rasanya Mr Darcia? Apa kau menikmati permainan panas ku?."
Celina sengaja mendekat ke wajah Darcia, melihat lebih dekat wajah kesakitan lelaki itu.
"Kita baru saja mulai bermain Mr Darcia. Jadi, jangan buru-buru merasa puas!."
Kilat amarah terlihat di manik mata indah Celina.
Tangan kirinya kembali menarik ujung buah kecil Darcia yang kini hanya tersisa satu. Lalu dengan cepat memotong nya menggunakan pisau tajam di tangan kanannya.
Teriakan kesakitan tertahan terdengar lagi di malam menuju tengah malam itu.
Celina tertawa puas melihat darah yang semakin banyak mengucur keluar dari buah kecil di dada Darcia, yang kini tidak memiliki ujung lagi.
Mario Domin sang kakak masih duduk di kursi dengan tenang, sambil terus memperhatikan adik perempuan yang sangat dicintai nya itu.
Darcia pingsan seketika saat rasa sakit dan perih yang menjalar di seluruh bagian tubuhnya, tidak mampu lagi dia tahan.
"You are really sucks Darcia! Baru segitu saja dan kau sudah pingsan? Membosankan! Tidak seru!."
Celina melempar pisau yang dia pegang ke lantai, dan berlalu kembali ke tempat duduk bersama Mario.
Mario tersenyum tipis melihat kesenangan adiknya terganggu karena si target permainan sudah lebih dulu pingsan, sebelum Celina bermain lebih jauh.
"Jangan cemberut begitu nona manis. Kita akan membangunkan nya untuk mu sayang."
Mario mengusap lembut kepala Celina penuh cinta.
"Ambilkan air dingin lalu siram ke wajah dan tubuh lelaki bejat itu! Hurry up!."
Mario memberi perintah pada Andrew yang juga sedang berada disana, memantau dan menjaga dua orang kakak beradik yang sedang asyik bermain di ruangan gedung tua tersebut.
"Wait a minute my Lil sister. Kita akan kembali bermain lagi sebentar!."
Celina tersenyum dan mengangguk.
"Yes brother."
5 menit kemudian, seorang anak buah bertubuh besar masuk membawa seember air dingin yang berukuran cukup besar, dan pangsung menyiram tubuh Darcia yang masih pingsan.
"Uhuuk.. uhuukk...."
Darcia terkejut dan terbatuk saat merasakan air dingin yang membasahi tubuh telanjang nya. Air dingin itu sempat masuk ke dalam saluran pernafasan nya, hingga dia terbatuk-batuk karena nya.
"Welcome back Darcia."
Celina berujar kesenangan saat melihat Darcia yang kembali sadar setelah disiram air oleh anak buah mereka.
Dengan cepat dia bangkit berdiri dan mengambil tang di meja dekat tubuh Darcia yang masih terikat di dinding.
Darcia melebarkan kedua matanya melihat Celina yang tengah memutar-mutar tang di tangan kanannya.
"Jangan takut begitu Darcia. Ini tidak akan sesakit tadi! Trust me baby."
Celina tersenyum penuh arti lalu jongkok di depan tubuh telanjang Darcia. Dia tampak memperhatikan dengan seksama, adik kecil sang maniak.
Lelaki berotot itu meronta ingin melepaskan diri dengan tangan satunya yang masih bisa di gerakkan. Dia yakin kalau Celina akan melakukan sesuatu pada benda kebanggaan miliknya.
Dengan masih memakai hand gloves, Celina mulai memegang dan mengoc*ok adik kecil Darcia sampau benda tak bertulang itu menegang, dan terlihat menantang.
Semua pria termasuk Mario dan Andrew serta anak buah mereka, langsung memalingkan wajah melihat tindakan sang wanita satu-satunya di tempat itu bertingkah sedikit liar.
Permainan tangan kecil dan jemari lentik Celina mampu membuat Darcia melayang di sela-sela menahan rasa sakit di dadanya, sebelum akhirnya dia jatuh secara kasar ke dasar tanah. Saat Celina menancapkan tang berukuran cukup besar itu, ke benda pusaka sang manik.
"Mmmmm......!."
Lagi, teriakan kesakitan tertahan terdengar di seluruh penjuru ruangan itu.
Sudah lama wanita cantik ini, ingin membalaskan semua rasa sakit dan tak berdaya nya dia pada ketiga pria bejat yang telah memperkosa dirinya secara membabi buta, 4 tahun silam yang lalu.
Celina ingin menikmati bagaimana wajah mereka memohon dan menahan sakit, sampai dia puas menyiksa nya.
"Apa itu terasa nyaman untuk mu Darcia?."
Celina tertawa sarkas.
"Bukankah itu sangat sempit?."
Celina terlihat sangat menikmati wajah kesakitan Darcia.
Sumpah demi apa, tapi adik kecilnya itu terasa berdenyut. Semakin lama darahnya seakan tertahan di bawah sana.
"Kau sangat menyukai sesuatu yang sempit bukan? Sebentar lagi benda kebanggan mu itu akan mengecil, layu sebelum berkembang! Hahaha...."
Celina berjingkat seperti anak kecil menikmati pemandangan di depannya.
...**∆∆∆∆∆∆∆∆∆...
Hari ini Up 2 Chapter
Stay tuned guys 🤗
Like and Vote 🌹**
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu wajib searchnya pakek tanda kurung dan satu novel lagi judulnya Caraku Menemukanmu
tdk setimpal...