tak peduli seberapa jauh dirinya diasingkan, tak peduli seberapa hina dirinya dikucilkan. fasalnya keyakinan tetaplah sama nasywa. aku adalah aku...
teruslah melangkah kedepan, meskipun orang yang kau anggap sebagai kekasih hayalan telah selamanya menghilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gubahan Z, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Khadijah
"Ini kamarnya." Salim membuka pintu salah satu kamar, yang mana didalamnya dipenuhi oleh berbagai buku buku tua yang tersusun rapih di lemari.
"Kok kaya gak pernah ke urus ya?" tanya bocah itu, memandang kecewa pada apa yang ada dihadapannya, bahkan tembok ruangan yang terpampang begitu luasnya pun terlihat sangat berdebu, hingga membuat bocah itu tidak merasa nyaman berada di dalam kamar. Pikirannya merasa jemu, maka terbayang-bayang lah kembali di ruang pikirannya, ketiga sahabat yang selalu menunggu ia pulang.
"Oleh karena itu, kau harus membersihkannya sendiri nak, mulailah menjadi anak yang rajin agar bisa mendapatkan istri yang cantik!"
'bacot_-'
Bocah itu meletakan tasnya diatas lemari yang berukuran sedang, lalu pria bermata sipit itu berseru kembali. Namun, kali ini ia membawakan sebuah kain pel dan sapu untuk bocah itu pergunakan membersihkan ruangan kamarnya yang terlihat sangat kotor. "Jika kamar ini masih kotor, maka terima saja nanti hukumannya!" ancam pria bermata sipit itu menatap tajam kearah bocah yang berada dihadapannya, lalu mulai berlalu pergi.
Tak dinyana, orang yang selama ini Zim anggap ia ramah, baik, serta halus akan Budi bahasa, ternyata memiliki sikap yang kurang nyaman dalam memperlakukan orang lain, termasuk dirinya sendiri, padahal baru saja ia menginjakan kaki di pondok pesantren Al Alawiyyah. Lantaran terpaksa, akan tetapi sudah mendapatkan penekanan dari orang yang baru saja ia kenal siapa dia. 'hadeuh pak Nahrawi, batin gue ke siksa nih...' rintih nya dalam hati. Ingin sekali ia kabur dari tempat ini, atas dasar kemauannya sendiri, meski pun itu harus melanggar aturan yang membuat pak kiyai tidaklah senang.
"Eh...dimana airnya?" pikir Zim setelah mendapati ember namun tidak ada isinya, sontak ia pun berjalan ke arah tempat whudu, yang mana tempat whudu itu berada dibelakang tembok bangunan pesantren serta bersebelahan sekali dengan lingkungan ponpes putri.
Setelah berada ia ditempat whudu, maka pipa keran ia putar sehingga keluarlah air untuk mengisi ember yang sengaja ia bawa. Namun setelah ember itu hampir terisi dengan penuh, tiba-tiba saja seorang santri putri yang memiliki umur sebaya dengannya, meneriakinya hingga membuat bocah itu tersentak terkaget-kaget. Lalu berkata lah perempuan itu dengan intonasi suara yang penuh dengan penekanan. "Ceu nyai, ada laki-laki kurang ajar masuk ke lingkungan ponpes putri!!!" teriak perempuan itu, yang membuat Zim tersentak sangat kaget, lantas dengan cepat dan terpaksa, Zim menarik pemilik pergelangan tangan perempuan itu hingga ke ruangan kecil, yang mana ruangan kecil itu pula, tempat dimana para santri putri mandi membersihkan diri.
"Ada apa Khadijah!!!"
"Eh khadijah kamu dimana!"
Kedua temannya berteriak memanggil salah satu sahabatnya, yang tanpa diketahui oleh mereka, Khadijah telah disekap oleh Zim, lantaran atas keterpaksaan yang telah dilakukan oleh perempuan itu terlebih dahulu padanya.
"Dasar cewek rombeng sialan. Kau, diam dan jangan berkata lagi! atau aku akan berbuat macam-macam pada mu..." Zim berbisik kepada Khadijah, seraya balik mengancam, karena merasa jera akan perlakuan perempuan itu. Sontak Khadijah yang tidak bisa berbicara apa-apa, lantaran mulutnya yang ditutup secara paksa oleh Zim, menggigit salah satu jarinya untuk dijadikan sebagai perlawanan.
"Ma, maaf kalau sikap ku tadi pada mu hanyalah sebuah ke salah pahaman saja , jadi biarkan aku pergi sekarang!" kata perempuan itu terbata-bata, Lalu di biar kan oleh Zim lepas dari genggamannya.
Izin pm thor, mampir yuk ke ceritaku judul nya
Aku Tetap Cinta
💗💗💗💗💗🌷🌷🌷🌷
Semangat
💜💜💜💜💜💜
Dirimu tak pernah nongol saat itu
dirimu kemana Thor
Bank ke 🤣🤣🤣