Di kehidupan yang hanya sekali ini, tentu menikahi orang yang dicintai dan mencintai diri kita juga adalah impian semua orang. Laila pun begitu, gadis manja dan ceria itu selalu menyematkan do'a terbaik untuk kehidupan cintanya. Namun, wasiat Ibunya dan permintaan Ayah yang tak bisa ia tolak memaksa Laila untuk menikah dengan laki-laki yang bahkan jauh dari tipenya.
Siapakah sosok lelaki yang dijodohkan dengan Laila?
Apakah bisa Laila melewati perjodohan dan menjalani kehidupan pernikahan tanpa cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Realita Baru
"Dek, kita sudah sampai," celetuk Arjuna sambil memutar kemudi, membawa mobil masuk ke sebuah pekarangan rumah yang dikelilingi pagar besi minimalis berwarna hitam.
Laila menoleh, dan matanya langsung melebar sempurna. Bibirnya sedikit terbuka, menatap pemandangan di depannya dengan rasa tidak percaya.
Rumah di hadapannya sama sekali tidak menyerupai visualisasi yang ia bayangkan. Bangunan dua lantai itu berdiri megah dengan arsitektur modern-tropical house yang sangat kekinian. Fasad rumahnya didominasi oleh perpaduan dinding beton ekspos, aksen kayu jati matte, dan jendela kaca berukuran besar yang menjulang dari lantai bawah hingga atas, tipe hunian impian anak muda zaman sekarang. Pekarangan depannya ditata rapi dengan rumput jepang hijau dan sebatang pohon ketapang kencana yang memberikan peneduh alami.
"Juna ini rumah siapa?" tanya Laila spontan, menoleh ke arah Arjuna dengan tatapan menyelidik.
"Lo gak salah alamat, kan? Jangan bilang lo mau ngerjain gue," sindir Laila.
Arjuna terkekeh renyah, mematikan mesin mobil lalu melepas kacamata hitamnya dengan gerakan lambat yang sengaja dibuat keren. "Wah, Dek Laila meremehkan aset suamimu sendiri, ya. Kenapa bagus toh selera suamimu ini," ujar Arjuna.
Arjuna turun dari mobil, diikuti Laila yang masih memandang sekeliling dengan takjub. Begitu pintu utama yang terbuat dari kayu solid dibuka, Laila kembali dibuat terpukau. Bagian dalam rumah menganut konsep open space. Ruang duduk, ruang makan, dan dapur bersih menyatu tanpa sekat pembatas, membuat ruangan terasa luar biasa luas dan terang benderang berkat cahaya alami yang masuk dari jendela kaca besar. Lantainya menggunakan parket kayu yang memberikan kesan hangat dan bersih.
"Gimana, Dek? Gak kalah keren sama setelah Papi toh," goda Arjuna, menyenggol lengan Laila yang masih terpaku di tengah ruangan.
Laila buru-buru menguasai ekspresi wajahnya, kembali memasang wajah datar andalannya agar tidak terlihat terlalu senang di depan Arjuna. "Ya lumayanlah, bersih. Gak sekuno yang gue bayangkan."
Di dalam otaknya mode pertahanan Laila langsung bekerja dengan cepat. Matanya mulai memindai tata ruang rumah ini untuk mencari celah keamanan privasinya. Dari tempatnya berdiri, ia melihat sebuah lorong kecil di lantai satu yang menuju ke sebuah kamar tidur. Dan ketika ia mendongak ke atas, terdapat sebuah tangga melingkar dengan railing hitam yang elegan, menuju ke lantai dua di mana terdapat satu pintu kamar lagi.
Dua kamar tidur, batin Laila bersorak lega. Ini adalah anugerah terbesar baginya.
Tanpa membuang waktu, Laila langsung melangkah menuju tangga kayu tersebut. "Arjuna barang-barang gue yang di mobil boks biar diturunkan di ruang tengah dulu aja sama petugasnya. Gue mau cek lantai atas."
"Siap Dek," jawab Arjuna santai, berjalan keluar untuk menemui petugas mobil boks yang mulai menurunkan koper-koper besar milik Laila.
Laila menaiki anak tangga satu per satu dengan jantung yang berdebar ringan. Begitu sampai di lantai dua, ia menemukan sebuah area mezanin kecil yang difungsikan sebagai ruang kerja minimalis, lengkap dengan meja kayu dan pemandangan langsung ke pekarangan depan dari jendela kaca besar. Di sebelah ruang kerja itu, terdapat pintu kamar utama lantai dua.
Laila membuka pintu tersebut dan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Kamar di lantai dua ini berukuran sangat luas, dilengkapi dengan kamar mandi dalam berdesain modern minimalis, dan yang paling penting, kamar ini memiliki balkon pribadi yang menghadap ke arah barisan pohon di luar kompleks. Suasananya sangat tenang dan privat.
Ini dia. Wilayah kedaulatan mutlak gue, pikir Laila mantap. Di kamar atas ini, ia bisa mengunci pintu dari dalam, menyimpan kado dari Devan dengan aman, dan terbebas dari jangkauan ketengilan Arjuna yang suka datang tiba-tiba.
Laila berjalan cepat kembali ke balkon pembatas lantai dua, menatap ke arah bawah di mana Arjuna baru saja masuk membawa dua koper besarnya.
"Arjuna!" panggil Laila setengah berteriak dari atas.
Arjuna mendongak, menaruh kedua kopernya di lantai dekat tangga. "Ya, Dek? Ada apa di atas?"
"Mulai hari ini, kamar di lantai dua ini resmi jadi kamar gue. Dan lo pakai kamar yang di lantai satu aja," titip Laila dengan nada tegas yang tidak menerima bantahan, tangannya bersedekap di pembatas balkon, memberikan tatapan kemenangan.
"Alasannya jelas, gue butuh ruang privat yang terjaga demi kenyamanan kerjaan paruh waktu gue yang butuh ketenangan buat membaca dan menerjemahkan dokumen," sambung Laila.
Arjuna terdiam sesaat, menatap istrinya yang berdiri tegak di lantai atas bagaikan seorang ratu yang baru saja memproklamasikan wilayah jajahan barunya. Alih-alih marah atau protes karena didepak ke lantai bawah, seringai tengil andalan Arjuna perlahan-lahan kembali terukir di wajah tampannya. Ia melipat tangannya di dada, menatap Laila dengan binar kejenakaan yang menantang.
"Waduh, Dek Laila. Mas sih gak masalah tidur di lantai bawah, Dek. Kamar bawah juga kasurnya empuk kok. Tapi kamu yakin mau tidur di atas sendirian? Jendela kaca di atas itu besar banget lho. Kalau malam-malam ada petir menggelegar atau ada suara angin yang mirip suara tangisan, Mas gak tanggung jawab ya kalau kamu ketakutan nanti," ujar Arjuna mencoba menakut-nakuti Laila.
Wajah Laila sedikit berubah mendengar cerita horor dadakan dari Arjuna, namun ia tetap menegakkan kepalanya, menolak untuk terlihat lemah. "Gak usah nakut-nakutin ya, gue gak takut sama hal-hal begituan. Pokoknya kamar atas punya gue titik!" tegas Laila.
"Oke, siap. Kedaulatan kamar lantai dua resmi diambil alih oleh Ibu Kapten," sahut Arjuna sambil memberikan hormat dua jari yang sangat kocak.
"Gak usah lebay deh," pekik Laila jengkel, langsung berbalik masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu dengan bunyi yang cukup keras, menguncinya dari dalam sebagai penanda akhir dari negosiasi wilayah hari itu.
Di lantai bawah, Arjuna hanya bisa tertawa renyah menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia melihat ke arah pintu kamar atas yang tertutup rapat, lalu tatapannya beralih ke arah tangga.
Arjuna tahu betul, Laila memilih kamar atas bukan hanya karena masalah privasi membaca buku, melainkan karena gadis itu masih mencoba membangun tembok pertahanan yang kokoh untuk melindungi hatinya yang terluka dan janjinya pada Devan.
Arjuna menghela napas pendek, menepuk pundaknya sendiri dengan pelan. "Gak apa-apa, Juna. Belum itu bukan berarti tidak, akan ada waktunya Dek Laila berbalik melihat kamu," batin Arjuna optimis, lalu mulai mengangkat barang-barang ringan untuk ditata di rumah baru mereka dengan semangat yang membara.
Sore harinya, setelah seluruh proses pindahan selesai dan barang-barang Laila sebagian besar sudah tertata rapi di kamar atas berkat bantuan Mbak Sri yang sempat datang siang tadi sebelum pulang kembali ke rumah Papi, suasana rumah itu mulai terasa sunyi.
"Nasi goreng... nasi goreng spesial. Yang mau cepat turun sebelum kehabisan." Nyanyian Arjuna dengan lirik yang dibuat-buat itu bergaung keras melalui celah bawah pintu kamar. Laila tersentak, rasa sedihnya seketika buyar berganti dengan rasa gemas yang luar biasa.
"Arjuna! Bisa gak sih masaknya tenang sedikit. Berisik tahu, suara lo itu merusak suasana," teriak Laila dari atas.
Di dapur bawah, Arjuna tampak sedang berdiri di depan kompor dengan apron dapur bergambar karakter kartun lucu, entah dari mana ia mendapatkan apron itu. Sambil memegang spatula kayu seperti seorang dirigen orkestra. Ia mendongak, menatap Laila dengan cengiran paling lebar dan tengil sedunia.
"Waduh, Dek Laila baru keluar dari semedi ya? Ini namanya metode pemberitahuan Dek. Mas lagi masak nasi goreng spesial dengan bumbu cinta buat istri tercinta. Kalau kamu gak turun dalam waktu lima menit, nasi goreng spesial ini bakal ludes duluan. Gimana? Mau turun mandiri atau harus Mas gendong turun?" tantang Arjuna sambil mengedipkan sebelah matanya.
Laila menggeram kesal, menutup wajahnya dengan kedua tangan menahan malu sekaligus gemas melihat tingkah Arjuna yang tidak pernah kehabisan energi untuk menjahilinya. Namun, bau harum nasi goreng yang gurih dari arah dapur bawah mendadak membuat perutnya berbunyi dengan sangat nyaring.
"Tunggu di sana, jangan dihabisin!" ketus Laila, akhirnya melangkah menuruni tangga satu per satu dengan wajah judesnya.
Pintu kamar lantai dua sudah terkunci rapat. Setelah menghabiskan sepiring nasi goreng buatan Arjuna di lantai bawah yang dengan terpaksa harus Laila akui rasanya sangat enak, ia segera pamit naik ke atas dengan alasan ingin segera istirahat.
Kini, di dalam keheningan kamarnya sendiri, Laila duduk bersila di atas karpet bulu dekat jendela kaca besar. Detak jantungnya berirama konstan namun ada rasa sesak yang perlahan naik ke dadanya.
Dengan perlahan, Laila membuka laci meja nakas. Ia mengeluarkan kado cokelat yang sejak kemarin ia sembunyikan seperti barang selundupan berharga. Jemarinya merobek pelan bungkus kado itu. Ketika kado dibuka, selembar kertas kecil pembatas tersingkap, memunculkan benda di dalamnya.
Bukan perhiasan mewah, bukan pula barang rapuh yang mudah pecah. Di dalam kotak itu terbaring sebuah pembatas buku perak (bookmark) minimalis yang diukir dengan sangat halus, lengkap dengan gantungan tali kulit rajut berwarna cokelat tua. Sebuah benda yang kecil, kokoh, dan bisa diselipkan di dalam buku apa pun yang ia baca, dibawa ke mana pun ia pergi tanpa pernah menarik perhatian orang lain.
Di permukaan perak itu, terukir sebuah kutipan dalam bahasa Inggris dengan guratan tangan yang sangat Laila kenali,
"Distance means so little, when someone means so much. -1 Year."
Laila mengambil pembatas buku itu, meraba ukiran perak yang terasa dingin di permukaan kulit jarinya. Di bawah benda itu, terdapat sepucuk surat kecil dari Devan.
“Laila sayang, aku tahu kamu suka membaca di mana saja. Anggap ini temanku yang akan selalu menjaga halaman bukumu, ke mana pun kamu pergi, di mana pun kamu berada. Jaga dirimu baik-baik selama satu tahun ini. Waktu akan berjalan cepat.”
Air mata Laila yang sejak kemarin ditahannya di depan Papi, Budhe Lastri, Mbak Elvira, dan Arjuna akhirnya luruh satu tetes melewati pipinya. Benda kecil di genggamannya ini adalah simbol pengikat dari masa lalunya, sebuah pengingat bahwa di luar sana ada seorang pria yang sedang menghitung hari demi dirinya.
Laila mendekap pembatas buku itu di dadanya, memejamkan mata rapat-rapat. Kamar lantai dua yang luas ini mendadak terasa begitu dingin. Di satu sisi, ia memegang janji setianya pada Devan yang tertuang dalam benda perak kecil ini.
Namun di sisi lain, dari celah bawah pintu kamarnya, samar-samar masih terdengar suara langkah kaki Arjuna di lantai bawah yang sedang bersiul kecil membereskan dapur, sebuah realita baru yang perlahan, tanpa bisa Laila cegah, mulai mengaburkan batas-batas dunianya.
...Bersambung......