Shen yifan adalah seorang pemuda yang terobsesi dengan pembuatan pil, namun sayangnya, ia tidak bisa menjadi alkemis di dunia ini hanya karena menjadi manuisa cacat.
Banyak sekali kultivator. Namun orang-orang untuk menjadi seorang alkemis di dunia ini sudah sangat jarang di temukan, bahkan menjadi salah satu kemunduran mutlak.
Salah satunya, hampir di seluruh dunia ini hanya 000,1% para kultivator yang mempunyai element api.
Salah satunya adalah kakek Shen yifan.
Apakah Shen yifan bisa menggapai cita-citanya untuk menjadi alkemis? Atau dia akan mengubah takdir secara tidak langsung, untuk menjadi alkemis sejati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon En zz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 : Kesepakatan di Balik penyamaran
Malam hari telah tiba, Shen Yifan kembali ke ruangan sunyi itu. Ia akan mulai membuat pil untuk di jual.
Di atas meja kayu, Shen Yifan mengeluarkan beberapa kotak persegi panjang yang berisi beberapa tanaman herbal.
"Rumput Roh Giok, akar Seribu Roh, daun Embun Bulan, buah Roh Hijau. Serta Serbuk Benang Emas sebagai penyeimbang terakhir."
Shen Yifan menghembuskan napas pelan. "Kakek... Semoga aku tidak mempermalukanmu."
Ia mulai melemparkan semua tanaman herbal kedalam tungku, sesuai dengan urutan. Sementara Flame Devouring yang sudah tenang oleh Energi Spiritual murni, mulai mengikis seluruh impuritas, sedikit demi sedikit.
Shen Yifan mulai menajamkan pandangannya kearah tungku, dengan bantuan Energi Spiritual yang di alirkan kearah mata, untuk melihat cara kerja membuat pil di dalam tungku.
Rumput Roh Giok berubah menjadi tetesan esensi hijau. Akar Seribu Roh meleleh menjadi cairan keemasan. Daun Embun Bulan memancarkan cahaya kebiruan sebelum larut sempurna. Sementara Buah Roh Hijau dan Serbuk Benang Emas menyempurnakan keseimbangan seluruh energi obat.
Tak lama kemudian, lima jenis esensi mulai berputar di pusat tungku.
Shen Yifan mengangkat telapak tangannya. Energi Spiritual Murni mengalir perlahan memasuki tungku, menenangkan gejolak yang muncul selama proses peleburan.
Dengungan halus memenuhi ruangan. Tidak ada ledakan, tidak ada getaran liar, semuanya berlangsung begitu mulus.
"Pemadatan."
Flame Devouring langsung mengecil, namun suhunya justru meningkat tajam.
Esensi yang semula sebesar kepalan tangan perlahan menyusut, memadat, lalu terbagi menjadi tiga gumpalan kecil yang berputar perlahan.
Shen Yifan menyipitkan matanya. "Tiga?"
Senyum tipis muncul di wajahnya. Beberapa saat kemudian...
Tiga butir pil berwarna hijau zamrud jatuh ke dasar tungku.
Aroma obat yang lembut segera memenuhi seluruh ruangan.
Shen Yifan membuka tungku perlahan.
"Tiga Pil Pemulih Qi Grade Dua Bawah."
Ia mengambil salah satunya, lalu mengamatinya di bawah cahaya lampu minyak.
Permukaannya bulat sempurna, tanpa retakan sedikit pun.
"Seperti dugaanku."
"Dengan Flame Devouring dan Energi Spiritual Murni... hasilnya memang jauh lebih stabil."
Shen Yifan tersenyum puas, lalu memasukkan ketiga pil itu ke dalam botol giok.
"Kalau terus seperti ini... Mengumpulkan seribu Batu Spiritual Tingkat Tinggi mungkin tidak akan selama yang kubayangkan."
Namun beberapa menit kemudian. Shen Yifan mengusap dagunya pelan. "Tapi aku harus menjualnya dimana yah?" pikirnya.
Shen Yifan Memang sudah berniat menjual pil hasilnya. Namun ia lupa, kalau langsung begitu menjualnya di kota, maka itu terlalu mencolok. Di tambah, dengan Pil Grade dua tingkat bawah, namun kualitas bagus, itu bisa menimbulkan banyak masalah di kemudian hari.
"Ah... Aku ingat."
Shen Yifan mulai mengingat kejadian tadi siang.
................
"Master Yan He... Tadi ada orang yang menemukan kelemahan Pil kita!" Pelayan itu segera menangkupkan kedua tangan dan menundukkan kepala dengan penuh hormat.
Yan He yang sedari tadi menulis dengan Kuas Giok perlahan menghentikan goresannya.
"Ceritakan dengan rinci."
"Dia mengetahui semua, orang itu mengetahui ada retakan inti di dalam pil yang kita buat... B-bahkan, ia memberitahuku bahwa Pil kita, proses peleburannya, kurang stabil... Hanya sekali lihat!"
Yan He meletakkan kuasnya perlahan di atas meja. Tatapan tenangnya perlahan berubah serius. "Menarik... Orang biasa tidak mungkin mengetahui adanya retakan inti hanya dari melihat bagian luar pil." Yan He melihat kearah pelayan itu. Ternyata Yan He adalah seorang lelaki tua. Rambut putih keperakannya terurai rapi hingga punggung, sementara jubah hijau tua yang dikenakannya berkibar ringan mengikuti langkahnya.
Wajahnya tampak tenang, tetapi sorot matanya begitu tajam seolah mampu menilai kualitas seseorang hanya dalam sekali pandang.
Ia berdiri perlahan dari kursinya. "Kalau begitu, hanya ada dua kemungkinan."
Pelayannya memiringkan kepala. "Dua Kemungkinan? Apa maksudnya, master?"
"Pertama... Dia seorang alkemis yang jauh lebih berpengalaman dariku." jawab Yan He.
"Master, aku tidak yakin." sahut Pelayan itu.
"Oh, kenapa?"
"Pada dasarnya, master adalah Alkemis tingkat tiga, mana mungkin ada orang yang lebih berpengalam dalam masalah membuat Pil di kota ini?"
"Diatas langit masih ada langit... Ingat itu!" jawab Yan He tenang. Ia tahu, bahwa di dunia ini banyak master alkemis yang lebih hebat darinya.
Pelayang itu langsung mengalihkan pandangannya kearah master Yan He.
"Baiklah... Kalau begitu, mast-"
Ketika pelayan itu hendak berbicara, tiba-tiba ada suara ketukan pintu di aula utama paviliun Awan hijau.
Di luar, langit malam telah di penuhi cahaya bulan. Jalan yang tadi siang ramai, kini hampir kosong. Hanya ada beberapa lentera yang bergoyang, tertiup angin malam.
Pelayan yang berjaga segera membuka pintu.
Begitu pintu terbuka, sosok lelaki tua berdiri dengan tenang, di ambang pintu.
Tubuhnya diselimuti jubah hitam sederhana. Sebuah caping bambu menutupi sebagian besar wajahnya, membuat hanya dagunya yang tampak di bawah bayangan. Di punggungnya tergantung sebuah bungkusan kain berwarna abu-abu.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Pelayan itu sopan.
Sosok tua itu mengangkat sedikit kepalanya.
Suaranya terdengar serak dan berat.
"Aku ingin bertemu Master paviliun ini."
Pelayan itu sedikit mengernyit.
"Maaf, Master Yan He sudah tidak menerima tamu malam ini."
Sosok berjubah hitam itu tetap tenang.
Yan He yang berada di lantai dua tiba-tiba menghentikan langkahnya. Hidungnya bergerak pelan, seolah menangkap sesuatu yang terbawa angin malam.
"Aroma itu..."
Tatapan Yan He langsung mengarah ke pintu utama.
"Undang tamu itu masuk." Suara Master Yan He di lantai dua.
Pelayan itu sedikit tertegun.
"T-Tapi Master... Bukankah Anda tadi mengatakan tidak menerima tamu malam ini?"
Yan He perlahan muncul di balkon lantai dua. Tatapan tajamnya langsung tertuju pada sosok berjubah hitam yang berdiri di depan pintu.
Meski wajah pria itu tertutup caping bambu, Yan He tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun.
"Aku memang tidak menerima tamu." Ia berhenti sejenak.
"Tetapi... Aku selalu menerima seorang alkemis."
Pelayan itu langsung menangkupkan kedua tangannya.
"Baik, Master!"
Ia segera berbalik dan membungkukkan badan ke arah sosok berjubah hitam.
Pelayan segera mempersilakan lelaki berjubah hitam itu memasuki ruangan.
Yan He telah menunggu di ruang tamu lantai dua. Di atas meja kayu giok, teko teh masih mengepulkan uap hangat. "Aku sudah lama tidak menerima tamu pada malam hari." ucap Yan He tenang.
Lelaki tua berjubah hitam itu hanya tersenyum tipis.
"Maaf telah mengganggu waktu istirahat Master Yan."
"Silakan duduk." Yan He mempersilahkan Lelaki tua itu. Keduanya kini saling berhadapan.
Tak ada yang berbicara selama beberapa saat. Yan He sengaja mengamati tamunya. Dari cara berjalan, cara duduk, hingga napasnya yang stabil. Namun semakin lama diamati, semakin sulit ia menebak identitas orang di hadapannya.
"Kalau begitu..." Yan He membuka percakapan.
"Boleh aku tahu tujuanmu datang kemari?"
Lelaki berjubah hitam itu menangkupkan kedua tangan. "Sebelum membicarakan urusan lain, izinkan aku meminta maaf terlebih dahulu."
"Oh?"
"Siang tadi... Muridku bertindak lancang."
Yan He sedikit mengangkat alis. "Muridmu?"
"Ia mengomentari pil Paviliun Awan Hijau tanpa memikirkan perasaan orang lain... Sebagai gurunya, akulah yang bertanggung jawab."
Ruangan kembali hening.
Yan He tidak langsung menjawab, ia hanya menatap tamunya dengan tenang. "Jadi—Orang yang datang siang tadi adalah muridmu?"
Lelaki tua itu menganguk. "Benar."
"Dan kau yakin apa yang dikatakannya benar?"
Lelaki berjubah hitam itu tersenyum tipis. "Master Yan sendiri pasti sudah memeriksanya."
Yan He terdiam.
Jawaban itu tidak membenarkan, tetapi juga tidak menyangkal.
"Menarik..." Yan He mengambil cangkir tehnya. "Kalau begitu, sebagai seorang guru... Apa menurutmu muridmu tidak terlalu sombong?"
Lelaki berjubah hitam menggeleng pelan. "Bukan sombong. Hanya terlalu jujur."
Yan He tersenyum tipis. "Kalau begitu, gurunya pasti lebih jujur lagi."
Suasana kembali hening. Sesaat kemudian lelaki berjubah hitam merogoh sakunya dan meletakkan bungkusan kain. "Aku datang bukan hanya untuk meminta maaf. Tolong lihat isinya."
Yan He membuka kain itu perlahan. Di dalamnya terdapat tiga botol giok sederhana.
Ia mengambil salah satunya, lalu membuka tutup botol. Seketika aroma obat yang murni memenuhi ruangan, tatapan Yan He langsung berubah.
Ia menuangkan sebutir pil ke telapak tangannya.
Permukaannya bulat sempurna.
Warnanya jernih. Hampir tidak terlihat sedikit pun noda impuritas.
Yan He tidak langsung berbicara.
Beberapa saat kemudian ia menghela napas pelan.
"...Pil Pemulih Qi Grade Dua."
"Tetapi kualitasnya... Jauh di atas pil yang beredar di Kota Istana Langit."
Yan He memutar pil itu perlahan di antara kedua jarinya.
Semakin lama ia mengamati, semakin berat napasnya.
"Tidak ada retakan."
"Tidak ada kebocoran energi."
"Kemurniannya..."
"Sembilan puluh persen?"
Lelaki berjubah hitam hanya tersenyum. "Master Yan... Apa kau tertarik berbisnis?"
Yan He masih memegang pil itu di tangannya. "hohh, bisnis?"
Lelaki tua itu menganguk.
"Sebelum melangkah lebih jauh, aku mau bertanya." sahut Yan he.
"Silahkan."
"Pil ini... kau yang membuatnya?"
Lelaki berjubah hitam tersenyum tipis. "Menurut Master?"
Yan He ikut tersenyum. "Kalau aku bisa menjawabnya sendiri, aku tidak akan bertanya."
"Kalau begitu, anggap saja aku yang membuatnya."
"Bisa juga muridmu." jawab Yan he.
"Bisa."
Ruangan kembali hening. Yan He menyadari lawan bicaranya sama sekali tidak mudah dibaca.
Yan He meletakkan pil itu. "Baiklah. Berapa harga yang kau inginkan?"
Lelaki berjubah hitam tidak langsung menjawab.
"Harga? Aku belum berniat menjual pil ini."
Yan He mengangkat alis. "Oh?"
"Aku datang menawarkan kerja sama."
"Kerja sama seperti apa?" jawab Yan He.
"Paviliun Awan Hijau menjual. Aku membuat... Itu saja."
Yan He tersenyum tipis. "Kedengarannya sederhana.Tetapi... Mengapa aku harus memilihmu? Di Kota Istana Langit ada ratusan alkemis."
Lelaki berjubah hitam mengambil satu pil lagi. "Lalu... Di antara ratusan alkemis itu. Berapa orang yang mampu membuat pil tanpa retakan inti?"
Yan He terdiam. "Kau cukup percaya diri."
"Bukan percaya diri. Hanya berbicara berdasarkan hasil."
Yan He mengetukkan jarinya di atas meja. "Kalau begitu. Paviliun hanya membeli pilmu. Tidak perlu kerja sama, kami bayar lebih mahal."
Lelaki berjubah hitam menggeleng. "Itu bukan yang kuinginkan."
"Kenapa?" jawab Yan He.
"Aku tidak menjual pil. Aku menjual keuntungan."
Yan He menyipitkan mata. "Jelaskan."
"Master tahu sendiri. Pil Paviliun Awan Hijau mulai kehilangan kepercayaan, kalau aku menjual pil ini ke Paviliun Seratus Herbal... Mungkin sebulan lagi nama mereka akan melampaui Paviliun Awan Hijau. Tapi... Aku datang ke sini lebih dulu."
"Kalau begitu... Apa jaminannya kau tidak menjual pil yang sama ke paviliun lain?" tanya Yan He.
"Aku hanya bekerja sama dengan satu paviliun."
"Selama mereka tidak mengkhianatiku."
Yan He masih belum puas. "Kalau begitu. Kenapa kau tidak membuka paviliun sendiri?"
"Karena aku seorang alkemis."
"Bukan pedagang... Aku tidak suka mengurus pelanggan, aku lebih suka mengurus tungku."
Yan He perlahan meletakkan cangkir tehnya. "Baik. Aku menerima kerja sama ini. Tapi... Paviliun Awan Hijau juga memiliki syarat."
Lelaki berjubah hitam mengangguk pelan. "Silakan."
"Pertama. Aku harus memastikan seluruh pil yang kau pasok memiliki kualitas yang sama seperti ini. Kedua... Paviliun Awan Hijau berhak menolak pilmu jika kualitasnya menurun."
"Itu memang seharusnya." jawab lelaki tua itu.
Yan He tersenyum tipis. Orang di hadapannya ternyata jauh lebih mudah diajak bicara daripada yang ia bayangkan. "Kalau begitu... Apa syaratmu?"
Lelaki berjubah hitam mengangkat tiga jari. "Hanya tiga. Pertama. Identitasku tidak boleh diketahui siapa pun."
"Kedua."
"Jangan pernah mencari tahu siapa aku."
"Ketiga."
"Seluruh pil akan dijual atas nama Paviliun Awan Hijau. Namaku tidak boleh disebut."
Yan He mengangguk pelan."Itu saja?"
"Ya."
Yan He sedikit heran. "Dengan kualitas pil seperti ini, bukankah kau bisa menjadi terkenal?"
Lelaki berjubah hitam tertawa kecil. "Yang kubutuhkan bukan ketenaran... Melainkan batu spiritual."
Ruangan kembali hening. Yan He akhirnya mengangguk. "Kalau begitu... Boleh aku mengetahui namamu? Setidaknya untuk ku seorang."
Lelaki berjubah hitam terdiam beberapa saat. Tentu saja ia tidak mungkin menyebut nama Shen Yifan. Setelah berpikir sejenak, ia membuka mulut.
"Panggil saja aku... Fan Yi."
(Fan Yi... Nama ini terdengar asing. Atau memang nama samaran?) batin Yan He.
Setelah berpikir cukup lama, Yan He mengangguk. "Baik. Mulai malam ini, Paviliun Awan Hijau resmi bekerja sama dengan Tuan Fan Yi."
Ia kemudian mengeluarkan sebuah Token Giok Hijau dari cincin spasialnya.
"Mulai sekarang, selama membawa token ini, kau dapat keluar masuk Paviliun Awan Hijau kapan pun. Tidak ada seorang pun yang akan menghalangimu."
Fan Yi menerima token itu, lalu menangkupkan kedua tangan.
"Semoga kerja sama kita saling menguntungkan, Master Yan."
Yan He tersenyum tipis.
"Itu juga harapanku."
Keduanya saling menatap selama beberapa saat. Lalu mereka tersenyum dan berjabat tangan.