NovelToon NovelToon
Si Kembar Yang Mengulang Waktu

Si Kembar Yang Mengulang Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aplolyn

Seina dan Sora adalah saudari kembar yang dibuang oleh orang tua kandung mereka. Takdir membawa Seina diadopsi keluarga kaya, sementara Sora tumbuh dalam kemiskinan.

Diliputi iri hati, Sora berusaha merebut kehidupan adiknya. Namun, ambisinya berakhir tragis. Seina pun tewas setelah diracuni oleh kakaknya.

Ketika waktu berputar kembali, Seina memilih menyerahkan semua yang dulu menjadi miliknya.

"Kalau memang itu yang kau inginkan... ambillah semuanya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

"Apa salahnya seorang anak perempuan?" suara Mira Pratama terdengar tegas. "Bagi keluarga kami, Seina adalah harta yang tak ternilai."

Sebelum keluar rumah, Mira sudah mendengar keributan di depan halaman. Sejak pindah ke Desa Harapan, ia memang tak pernah terlalu akrab dengan warga sekitar. Bukan karena sombong, melainkan ia tak ingin mencari masalah.

Siapa sangka, justru masalah yang datang mencarinya.

Pintu rumah terbuka perlahan.

Di belakang Mira berdiri seorang gadis kecil berusia sekitar enam tahun. Rambutnya dikepang rapi, wajahnya bersih, dan matanya bening seperti mata rusa.

Semua orang langsung tahu bahwa gadis itulah putri keluarga Pratama yang baru.

"Harta keluarga?" Nenek Sumi mendengus sinis. "Dia cuma anak perempuan. Besar nanti juga ikut suaminya."

Mata Mira langsung berubah dingin.

"Yang merugi bukan anak perempuan, melainkan orang yang menganggap anak perempuan tidak berharga."

Pada saat yang sama, lima bersaudara keluarga Pratama baru saja pulang dari Akademi Bintang.

Belum sampai ke rumah, mereka sudah mendengar suara ribut-ribut dari kejauhan.

"Keluarga Pratama... katanya ada anak perempuan..."

"Nenek Sumi sedang bertengkar..."

Langkah Damar Pratama langsung berhenti.

"Ada yang berani membuat masalah di rumah kita?"

Raut wajahnya seketika menggelap. Tanpa menunggu siapa pun, ia langsung berlari.

Raka yang berjalan di belakang hanya menghela napas pelan.

"Dasar Damar... keras kepala sekali."

Meski berkata begitu, keempat adiknya tetap mempercepat langkah mengikuti Damar.

Begitu tiba di depan rumah, Damar melihat seorang wanita tua sedang menunjuk-nunjuk ke arah ibunya.

Amarahnya langsung meledak, dengan dua langkah lebar ia berdiri di depan wanita tua itu. Tubuhnya yang tinggi menjulang membuat Nenek Sumi tanpa sadar mundur setapak.

"Kau berani memaki keluargaku?"

Damar menggulung lengan bajunya.

"Kalau masih berani menghina adikku, jangan salahkan aku kalau aku lupa kau lebih tua."

Ia memang baru berusia lima belas tahun, tetapi tubuhnya jauh lebih besar dibanding remaja seusianya.

Berdiri di depan Nenek Sumi, ia bagaikan tembok kokoh.

Warga desa yang selama ini sering dibuat kesal oleh wanita tua itu diam-diam merasa puas.

"Benar, Damar! Dia tadi memaki keluargamu lama sekali, bahkan leluhur keluargamu juga ikut dihina."

"Kalau kalian tidak pulang, mungkin dia sudah membuat keributan lebih besar."

Namun ada juga beberapa orang yang membela.

"Bagaimanapun juga, Nenek Sumi warga asli desa ini. Masa kalian membela pendatang?"

"Kalau orang luar berani melawan warga desa sendiri, nanti desa kita jadi bahan tertawaan."

Sebelum Damar sempat bergerak, Mira lebih dulu memegang lengannya.

"Damar." Suara Mira tenang, tetapi penuh wibawa.

"Mundur."

"Ibu..." ucap Damar yang masih ingin membela.

"Mundur."

Meski masih kesal, Damar akhirnya menahan diri. Mira lalu melangkah maju menghadap Nenek Sumi.

"Bibi Sumi.. Aku masih memanggilmu bibi karena menghormatimu."

"Kau bilang kue itu milik cucumu. Kalau begitu, aku ingin bertanya dari mana asal kuenya?"

Pertanyaan sederhana itu membuat Erya langsung pucat, terlebih lagi karna nenek Sumi mendorongnya ke depan.

"Cepat jawab!"

Erya menggigit bibir. "I-Itu..."

"Kue itu dibelikan Ibu di Kota..."

Suasana langsung hening. Beberapa warga mengangguk-angguk.

"Bisa saja."

"Iya, mungkin memang dibelikan ibunya."

Tak lama kemudian, ibu Erya yang bernama Bu Rina dipanggil ke lokasi.

Di saat yang sama, Arga Pratama menarik Haya ke samping.

"Apa sebenarnya yang terjadi?"

Heya hanya bisa menunduk dan malah bertanya, "Seina... benar adikmu?"

Arga menatapnya tajam sambil menjawab, "Itu bukan urusanmu. Aku cuma ingin tahu siapa yang berbohong."

"Kau mau membela keluargamu... atau berkata jujur?"

Haya tak bisa langsung menjawab, ia tak ingin kehilangan sahabatnya. Namun ia juga tak tega mempermalukan neneknya sendiri.

Beberapa saat kemudian, ia menundukkan kepala.

"Maaf... Kue itu memang milik Seina."

Mata Arga langsung berubah dingin.

"Kalau begitu, mulai hari ini kita bukan teman lagi."

Haya membeku. Melihat Arga pergi tanpa menoleh lagi, dadanya terasa sesak. Ia menggenggam permen yang tadi diberikan Seina sambil menahan air mata.

Dalam hati ia bergumam pelan.

"Andai saja aku juga punya adik perempuan sebaik Seina..."

Bu Rina yang baru datang tampak kebingungan.

"Ada apa ini?"

Nenek Sumi langsung menunjuknya.

"Erya bilang kau membeli kue di kota!"

Bu Rina membelalak. "Kue apa?"

Belum sempat menjelaskan, Nenek Sumi sudah mengangkat tangan hendak memukulnya.

"Kau berani menyembunyikan uang dariku? Kau bahkan membeli makanan diam-diam! Dasar menantu tak tahu diri!"

Bu Rina buru-buru melindungi kepala.

"Ibu, aku benar-benar tidak..." Namun ia tak berani mengatakan yang sebenarnya.

Kalau ia membantah, bukan hanya akan dipukuli lebih keras, suaminya pun mungkin dipaksa menceraikannya.

Ia hanya bisa menahan tangis sambil terus meminta maaf.

Melihat ibunya dipukul, Haya akhirnya tak tahan lagi.

"Nenek! Erya berbohong! Kue itu bukan dibeli Ibu! Itu milik Seina!"

Semua orang langsung menoleh, beberapa warga mulai kembali ragu.

Benarkah keluarga Pratama yang salah? Ataukah mereka salah menuduh?

Di saat suasana semakin gaduh, Seina maju selangkah. Ia mengeluarkan sebuah sapu tangan kecil dari balik lengan bajunya.

Di dalamnya masih tersimpan beberapa potong kue.

"Inikah yang kalian maksud?"

Semua mata langsung tertuju padanya.

Dengan wajah polos, Seina berkata pelan, "Kue ini diberikan oleh keluarga Sia di Kota."

"Namanya Kue Ekor Phoenix. Kue ini bukan dijual bebas. Harus dipesan terlebih dahulu dari toko terkenal di ibu kota."

"Harganya juga sangat mahal, jadi..."

Seina memandang Erya tanpa sedikit pun nada mengejek. "Kalau memang ini milikmu..."

"Tolong beri tahu semua orang... kapan keluargamu membelinya?"

1
Dewi Habibah
lanjut 😍
Dewi Habibah
bagus ceritanya
Sri Rejeki rahayu
bagus .itulah arti sebuah keluarga sesungguhnya .saling membantu .oh ya aku menumpang promosi 2 cerita takdir yg direnggut da transmigrasi .mungkin awalnya jelek tp bacalah sampai setengahnya bagus apa tidaknya itu terserah kalin .dan juga aku baru pertama kali menulisnya .maaf kalau ada salah kata mohon dimaklumi ya.trims banyak🙏
Sekar
bukanya keluarga sia ya?
aku
🌹 semangat tor 💪🏻
aku
jangan ditebas dulu kepala livia ya adrian, bikin ngesot gk bisa jalan aja klo dy nurutin usulan kk sm ortunya 😁😁 sekalian anak kedua yg usul bkin cacat. jadika rakyat jelata kluarga sia 🤣🤣 seru 🤣🤣
seno
karya nya bagus
cerita nya juga seru
aku
tor 😭 typo masih 😌
aku
pratama tor 😭 kukira aq salah baca ternyata typo 😭😭
aku
gk jd putri kesayangan malah bru ktemu dh jd target permusuhan 🤣
aku
seina apa sora 😭😭 alamak bingung 😌😁
Sekar
ckckck dasar pickme
Sekar
lanjut thor💪💪
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
wajahnya mc seperti apa ya Thor! 🍯
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
kali ini aku ajkan baca perlahan perlahan 💓
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
akhirnya 🍯💓
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!