NovelToon NovelToon
Takdirku Bersama Suami Mafiaku

Takdirku Bersama Suami Mafiaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: PUTRI

Zara, gadis sederhana dan polos, dipersatukan dengan Adrian Romanov — pria dingin berkuasa yang membuat hidupnya benar-benar menderita. Dituduh, disakiti, dikucilkan, ia terbelenggu takdir kematian yang mengikatnya erat, selalu membayangi setiap langkahnya.

Namun sebutir nyawa kecil yang tumbuh di dalam dirinya yang memberi alasan untuk bertahan. Namun di balik semuanya tersembunyi rahasia besar. Nanti saat kebenaran terkuak, akankah ia lepas dari belenggu itu… atau justru terjerat makin dalam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

langkah pertama menuju harapan baru

Setelah selesai merapikan ruang tamu, aku berjalan menuju halaman untuk melihat keadaan kolam renang. Setelah itu aku naik ke lantai dua, sekadar berjalan pelan melihat ruangan-ruangan yang belum pernah kumasuki sebelumnya. Di sana ada banyak ruangan yang terlihat sangat mewah: ada tempat bermain biliar, ruang menonton film sendiri, ruang keluarga yang sangat luas, sampai ruang kerja milik Kak Adrian. Namun aku tidak berani melangkah masuk ke ruang kerja atau kamar tidur utamanya, aku masih ingat pesan tegasnya bahwa aku tidak boleh mendekati tempat itu tanpa izin darinya.

Aku sempat melihat ke arah halaman depan dan belakang, tapi melihat para tukang kebun sudah bekerja dengan sangat rapi dan baik, aku hanya memandanginya dari kejauhan sambil merasa kagum melihat betapa teraturnya semuanya di sini. Setelah merasa semua yang bisa kulakukan sudah selesai, aku kembali turun ke dapur, membungkus sedikit makanan ke dalam kotak bekal, lalu segera masuk ke kamar untuk mandi dan membersihkan diri dari sisa keringat.

Tak lama kemudian aku turun kembali dengan penampilan yang jauh lebih rapi. Aku mengenakan blus berwarna hitam yang bahannya terasa lembut di kulit, dipadukan dengan rok panjang berwarna putih gading yang jatuh anggun, dengan corak titik-titik halus yang samar. Tampilanku sederhana, sopan, namun terasa pantas berada di tempat ini tanpa berlebihan. Mengambil kotak bekal yang sudah kusiapkan tadi, aku pun berangkat menuju rumah sakit untuk menjenguk keadaan adik dan keluargaku.

Menjelang pukul tujuh malam, saat aku melangkah masuk kembali ke pintu utama rumah, Yamal sudah berdiri menunggu dengan tenang di sana. Ia segera menghampiriku lalu menyampaikan pesan dengan sopan: “Nyonya Zara, Tuan Adrian berpesan bahwa ia harus berangkat ke luar negeri untuk urusan yang sangat penting. Kemungkinan ia tidak akan pulang dalam beberapa hari ke depan. Selain itu, dokumen serta segala perlengkapan sekolah Nyonya sudah disiapkan semuanya, dan sekarang diletakkan di atas sofa ruang tamu. Jika Nyonya membutuhkan apa saja selama Tuan Adrian tidak ada, cukup sampaikan saja kepada saya.”

“Terima kasih banyak, ini sudah lebih dari cukup bagiku,” jawabku dengan hati yang terasa tenang dan lega. Begitu Yamal pergi meninggalkanku, aku berjalan mendekati sofa lalu membuka berkas-berkas itu satu per satu. Ternyata hampir semua data diriku tetap sama seperti aslinya, hanya tanggal lahir yang disesuaikan sedikit agar sesuai dengan syarat usia sekolah, dan di sana tertulis jelas bahwa aku adalah gadis biasa yang belum menikah. Aku menyentuh permukaan buku-buku dan perlengkapan baruku itu sambil tersenyum bahagia, lalu bergumam pelan pada diriku sendiri: “Besok adalah hari pertamaku bersekolah kembali… semoga semuanya berjalan lancar ya. Aku harus tidur lebih awal malam ini, supaya besok tidak terlihat lelah saat berangkat.”

Sementara itu di tempat lain yang jauh, suasana terasa jauh lebih gelap, sepi, dan dingin. Adrian berdiri tegak mengenakan kemeja hitam yang pas di tubuhnya, kerahnya sedikit terbuka sehingga membuatnya terlihat semakin gagah dan berwibawa. Di sudut bibir serta punggung tangannya masih terlihat sisa noda merah yang belum kering sepenuhnya, sementara di hadapannya terbaring seorang pria yang sudah tak sadarkan diri akibat pukulan keras yang diterimanya. Adrian hanya memberi isyarat singkat dengan tangannya, dan anak buahnya segera bergerak cepat untuk membersihkan segala jejak yang ada di tempat itu. Tak lama kemudian Yamal datang menghadap dan melapor dengan nada tenang: “Semua sudah selesai dan aman sepenuhnya, Tuan.” Tanpa menambah satu kalimat pun, Adrian pun berbalik badan dan pergi meninggalkan tempat itu.

Tepat pukul enam pagi aku sudah terbangun dari tidurku, jauh lebih pagi dibandingkan hari-hari biasanya. Begitu teringat bahwa hari ini adalah hari pertamaku pergi ke sekolah kembali, hatiku langsung berdebar kencang — rasanya senang sekali, tapi ada juga rasa gugup yang tak bisa kusembunyikan. Tanpa berlama-lama aku segera bangkit dari tempat tidur, lalu merapikan seprai dan seluruh isi kamarku sampai terlihat rapi kembali.

Setelah itu aku mengumpulkan pakaian kotor, membawanya ke ruang cuci, lalu menyiapkan bahan-bahan untuk memasak sarapan, sekaligus menyapu dan membersihkan bagian rumah yang terlihat. Semua ini aku kerjakan seorang diri. Aku tahu Fara biasanya baru bangun agak siang, jadi aku tidak ingin menunggunya atau membebaninya dengan pekerjaan ini.

Sambil tanganku sibuk bergerak mengerjakan semuanya, aku terus tersenyum sendiri membayangkan seperti apa nanti suasana di sekolah itu. Kadang ada rasa takut yang sedikit menyelinap ke dalam hati, namun keinginanku untuk belajar kembali jauh lebih besar daripada rasa takut apa pun.

Setelah semua selesai, aku segera mandi dan mengenakan seragam sekolah baruku: kemeja putih yang bersih dan rapi, dasi berwarna biru keabu-abuan yang kaitannya sudah pas, rok lipit panjang berwarna kelabu yang jatuh rapi hingga betis, serta sepatu putih yang masih terasa baru dan nyaman dipakai. Tampilanku sederhana saja, tapi terasa sopan dan pas sekali di tubuhku.

Saat hendak melangkah keluar pintu kamar, Fara yang baru saja bangun terlihat sedang menuruni anak tangga. Ia tersenyum ramah padaku lalu berkata dengan nada mendukung: “Semoga harimu menyenangkan dan lancar ya di sekolah baru.” Aku mengucapkan terima kasih padanya, lalu segera berjalan menuju mobil yang sudah menunggu. Aku meminta sopir untuk berhenti sebentar di rumah sakit, hanya untuk melihat keadaan Aslan dari jauh sebentar saja, sebelum akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju sekolah.

Begitu mobil berhenti di depan gerbang sekolah yang besar itu, aku hanya bisa diam terpaku memandang ke depan. Tempat ini terlihat sungguh megah, jauh lebih besar dan lebih indah dari apa yang pernah kubayangkan dalam mimpiku sekalipun.

Seluruh bangunannya tampak bersih dan terawat dengan sangat baik, berwarna putih bersih dengan garis-garis bangunan yang rapi dan tegap. Lantai di lorong-lorongnya mengkilap seolah seperti cermin, dan langit-langit di bagian tengah sekolah itu tingginya menjulang dengan susunan papan yang rapi berjejer, sehingga cahaya matahari pagi bisa masuk dengan lembut tanpa menyilaukan mata. Di halaman yang luas itu tertata rapi hamparan bunga berwarna merah muda dan ungu, serta pohon-pohon kecil yang bentuknya indah berdiri kokoh di sudut-sudut tempat terbuka.

Tangga-tangga yang lebar menghubungkan satu bangunan dengan bangunan yang lain, dilengkapi pagar besi halus yang terlihat kokoh namun tetap terasa anggun dipandang. Setiap ruangan dipenuhi jendela kaca yang luas, sehingga setiap sudut sekolah ini terasa terang dan segar setiap saat. Udara di sini terasa bersih dan sejuk, dan langit biru yang cerah terlihat jelas di sela-sela bangunan yang menjulang tinggi itu.

Banyak sekali siswa yang berjalan beriringan dengan tenang ke arah kelas masing-masing, seragam mereka terlihat rapi dan serasi. Segalanya terasa begitu tertib, damai, dan penuh keteraturan yang membuat hatiku makin berdebar — rasanya aku masih belum percaya sepenuhnya, bahwa hari ini aku benar-benar bisa melangkahkan kakiku masuk ke tempat yang begitu baik seperti ini.

Saat aku melangkah turun dari mobil, rambut panjangku yang berwarna cokelat kehitaman terurai jatuh bebas di punggungku, berkilau lembut seperti benang sutra saat terkena sinar matahari pagi, yang membuat kulitku yang putih bersih terlihat semakin bersinar alami.

“Sungguh besar dan indah sekolah ini… katanya hanya anak-anak dari keluarga terpandang yang bisa belajar di sini,” gumamku pelan dalam hati. Aku sadar beberapa pasang mata siswa lain mulai menoleh ke arahku, membuat jantungku berdegup sedikit lebih kencang karena gugup. Namun aku menarik napas panjang untuk menenangkan diri, menguatkan hati dalam sekejap, lalu melangkah maju dengan kepala yang terangkat tenang.

Begitu sampai di lorong utama yang luas, aku sempat berhenti sebentar karena merasa bingung — aku sama sekali tidak tahu harus berjalan ke arah mana untuk menemukan kelasku. Mungkin ada papan petunjuk di ujung lorong sana ya? pikirku sambil menoleh ke kiri dan kanan. Namun sebelum aku sempat melangkah lebih jauh, sekelompok gadis yang sedang berjalan melihat kebingunganku dan segera menghampiri. Salah satu di antaranya tersenyum sangat ramah padaku lalu bertanya: “Hai, apakah kau murid baru di sini?”

1
Nur Tang
💪
Nur Cha
fantasi kha ?
Putry Chan: sebenarnya bukan sih
total 1 replies
Intan Tan
👍
helena
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!