Delapan tahun pernikahan membuat Naura rela mengorbankan segalanya demi keluarga. Ia melahirkan dua anak, meninggalkan kariernya, dan diam-diam membantu suaminya membangun kerajaan bisnis hingga menjadi konglomerat.
Namun setelah tubuh Naura berubah gemuk usai dua kali melahirkan, Erwin justru menganggapnya sebagai aib dan memilih wanita lain.
Diceraikan, dihina, bahkan dipisahkan dari anak-anaknya, Naura memilih bangkit daripada terus terpuruk. Ia kembali pada identitas yang selama ini disembunyikan sebagai pewaris keluarga kaya. Di saat yang sama, takdir mempertemukannya kembali dengan pria dari masa lalunya, yang membantunya mengubah hidup sekaligus mengembalikan tubuhnya menjadi sehat dan ideal.
Saat Erwin kehilangan semua yang dibanggakannya dan memohon agar Naura kembali, wanita itu hanya tersenyum dingin.
"Kau membuangku karena tubuhku gemuk setelah melahirkan kedua anakmu! Kini, kau akan kehilangan semua yang pernah kubangun untukmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab⁵
"Kalau begitu, ikut aku." Alaska melangkah lebih dulu menuju lorong rumah sakit tanpa menoleh sedikit pun.
"Ke mana?" Naura mengernyit.
"Medical check-up."
"Aku bilang aku sehat."
"Mulutmu mengatakan sehat, tapi datanya bilang sebaliknya."
"Dasar si keras kepala." Naura mendecak pelan.
"Aku mendengarnya." Alaska menimpali.
"Memang sengaja." Naura mendelik kesal.
Kakek Guntur yang berdiri di belakang mereka hanya tersenyum kecil, sudah lama ia tidak melihat Naura berdebat sepanjang ini dengan seseorang. Entah mengapa, melihat cucunya kembali berani berdiri untuk dirinya sendiri membuat hatinya jauh lebih tenang. Setidaknya, Naura tidak lagi memilih diam saat diperlakukan semena-mena.
Beberapa menit kemudian, Naura selesai menjalani serangkaian pemeriksaan.
Alaska membaca seluruh hasilnya sambil sesekali menganggukkan kepala.
"Hasilnya bagaimana?" tanya Kakek Guntur.
"Belum ada penyakit serius."
Naura langsung mengangkat dagunya dengan bangga. "Tuh, kan?"
"Tapi..." Satu kata itu langsung membuat senyum Naura menghilang, Alaska meletakkan map di atas meja. "Kalau pola hidupmu tetap seperti sekarang, beberapa tahun lagi hasilnya bisa berbeda."
"Dokter memang hobinya bikin pasien takut." Naura memutar bola matanya.
"Aku hanya menyampaikan fakta, menurut hasil laboratorium."
Naura langsung terdiam.
Alaska mengambil sebuah kertas lalu menuliskan sesuatu. "Mulai hari ini, tidak ada minuman manis. Tak ada gorengan, dan tak ada makanan cepat saji. Bahkan, tidak boleh makan tengah malam."
Setiap kalimat yang keluar dari mulut Alaska membuat wajah Naura semakin kusut. "Kau sedang menghukumku?"
"Aku sedang menyelamatkanmu."
"Bedanya sangat tipis." Naura melipat kedua tangan di dada. "Lagian kalau aku sengaja melanggar, kau nggak akan tau.“
"Aku akan tahu." Alaska menutup map pemeriksaan.
Naura tertawa kecil. "Memangnya kau mau mengikutiku dua puluh empat jam?"
"Bisa saja." Alaska menjawab santai, ia menatap Naura tanpa ekspresi. "Rumah sakit ini milik keluargaku, kakekmu ternyata adalah sahabat Kakekku. Dan mulai hari ini... aku mendapat izin penuh untuk mengawasimu."
Naura langsung menoleh kepada Kakek Guntur. "Kek!"
"Ehm... memang begitu." Kakek Guntur hanya tersenyum tipis.
Naura memijat dahinya. "Kalian pasti bersekongkol."
"Benar!" Jawaban kompak dari kedua pria itu membuat Naura semakin kesal.
Setelah keluar dari ruang pemeriksaan, mereka menuju lobi VIP. Sebuah lift terbuka tepat di depan mereka, Naura refleks melangkah masuk.
"Berhenti." Suara Alaska yang tegas membuat langkah wanita berbobot 90 kilogram itu seketika terhenti.
"Ada apa lagi?"
"Kita turun lewat tangga."
Naura menatapnya seolah baru saja mendengar lelucon paling buruk. "Ini lantai berapa?"
"Dua belas."
"Apa?!"
Alaska mengangguk tenang. "Dua belas."
"Kau gila?"
"Aku dokter."
"Itu lebih mengkhawatirkan."
Kakek Guntur langsung tertawa terbahak-bahak. "Ayo, Naura."
"Aku pilih lift." Naura menggeleng cepat.
"Tidak boleh." Alaska kembali melarang.
"Kenapa?"
"Hukuman pertama."
"Aku memang salah apa?"
"Sudah membiarkan tubuhmu bekerja terlalu keras selama bertahun-tahun." Alaska bicara dengan melirik tubuh Naura.
Naura memelototinya. "Tubuhku yang capek, kenapa aku yang dihukum?"
"Karena pemilik tubuhnya adalah kamu, kau yang tidak menyayangi tubuhmu sendiri." Alaska menipiskan bibirnya.
Naura mendesah panjang. “Oke! Tapi kalau aku pingsan di tangga, kau harus gendong aku."
Alaska mengangkat sebelah alisnya, sudut bibirnya terlihat berkedut menahan geli. "Boleh saja, tapi jangan menyesal kalau seluruh rumah sakit memotretnya. Kau akan segera terkenal di rumah sakit ini."
Naura langsung membungkam mulutnya sendiri. "Dasar licik!"
Lima menit pertama, Naura masih terlihat santai saat berjalan turun di tangga. Sepuluh menit kemudian, langkahnya mulai melambat.
"Lantai berapa sekarang?"
"Baru empat."
"Apa?!"
Alaska menahan senyum. "Masih delapan lagi."
"Sudah, aku mau mogok." Naura langsung bersandar di dinding.
Hosh... hosh...
Napas Naura memburu, dadanya naik turun berusaha mengatur ritme setelah berjalan turun cukup jauh.
Alaska mengeluarkan ponselnya. "Aku hitung sampai tiga. Kalau kau masih diam di situ, aku panggil dua perawat untuk mengantarmu turun."
"Dua perawat?" Naura langsung berdiri tegak.
"Iya, biar semua orang melihat pasien yang baru berjalan turun beberapa anak tangga saja sudah menyerah. Kau akan dianggap seperti seorang penyakitan." Sebelah alis Alaska terangkat, bibirnya tersenyum miring.
"Kau sengaja mau mempermalukanku, kan?!" Naura langsung menunjuk wajah Alaska.
"Akhirnya sadar juga." Alaska tersenyum tipis.
Naura mendengus kesal.
"Nah, lanjut jalan." Alaska kembali melangkah di sampingnya tanpa terburu-buru. “Satu... dua...“
Sebelum Alaska sempat menghitung sampai tiga, Naura akhirnya kembali melangkah menuruni tangga dengan wajah ditekuk masam.
Sesekali pria itu sengaja memperlambat langkah, ketika melihat napas Naura mulai memburu. Namun setiap kali Naura menoleh, pria itu selalu memasang wajah datar, seolah sama sekali tidak peduli. Yang tidak diketahui Naura, sejak tadi Alaska diam-diam menyesuaikan kecepatannya agar wanita itu tidak terlalu kelelahan.
...*****...
Sementara itu...
Di kantor pusat Ardynata Group.
Tania baru saja menyelesaikan rapat ketika ponselnya berdering. Nama Dokter Dilla muncul di layar. Tanpa menunggu lama, Tania segera menerima panggilan itu.
"Halo?"
"Tan, aku baru saja melihat Dokter Alaska."
"Ada apa dengannya?"
Dokter Dilla melirik ke arah koridor sebelum merendahkan suaranya. "Dia sedang menemani seorang pasien. Cara mereka berinteraksi sama sekali tidak terlihat seperti dokter dan pasien. Dokter Alaska bahkan rela mendampingi wanita itu berjalan menuruni tangga darurat sampai ke lantai dasar."
"Akrab?" Tania mengernyit.
"Iya."
"Siapa namanya?"
"Naura."
Seketika, senyum di wajah Tania menghilang.
"Naura Ardynata?"
"Iya, dan sepertinya mereka sudah saling mengenal. Cara mereka berbicara juga tidak seperti dokter dan pasien yang baru bertemu."
Setelah panggilan berakhir Tania menatap layar ponselnya cukup lama, rahangnya mengeras. Tania memiliki banyak kenalan di Lavendra Medical Center, termasuk Dokter Dilla. Selama bertahun-tahun, wanita itulah yang diam-diam menjadi mata dan telinganya, selalu memberi kabar tentang segala aktivitas Alaska.
Sejak masa kuliah, Tania tidak pernah menyembunyikan perasaannya kepada pria itu. Hampir semua orang mengenal ketertarikannya pada Alaska. Sayangnya, selama ini Alaska tidak pernah memberinya harapan. Kini, mendengar pria itu begitu dekat dengan Naura, rasa cemburu perlahan menguasai pikirannya.
Tatapan Tania berubah tajam, jemarinya mengepal kuat di atas meja.
"Aku tidak akan membiarkan siapa pun mendekati Alaska... terlebih Naura!"
😂😂😂😂😂😂😂😂😂
jgn sampe syok yx klo udh inget ,,
seharusnya kamu nyadar diri sudahlah hidup numpang
mencuri perhatian orang Tua naura
sekarang mau apalagi
sinting emang🤭
toh kamu cuman mau naura saat langsing
orang sirik tanda nak mampus ,,
🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
😁😁😁😁😁😁😁
tu bukan cahaya ilahi naura ,,
tu cahaya harapan km ,,
cuma ketutup ma dokter yg km sebut iblis🤭🤭🤭🤭😂😂😂😂