“Di balik senyum indahnya, tersimpan luka yang tak pernah terlihat.”
mas aku bukan orang baik pergih saja:"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Marisa putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
wanita malam: perjodohan tak akan ku jalani
Tiga bulan berlalu begitu cepat, namun rasanya seperti sudah saling mengenal seumur hidup. Di setiap hari yang kulalui bersamanya, Kevin tak pernah sekalipun membuatku ragu—ia selalu ada, menjaga, dan mencintai dengan tulus tanpa syarat.
Sore itu, saat kami duduk berdampingan menikmati senja dari balkon apartemennya, Kevin tiba-tiba menggenggam tanganku erat, menatap lekat ke dalam mataku dengan kesungguhan yang tak pernah goyah.
"Alya... sudah tiga bulan kita berjalan bersama. Dan setiap harinya, aku makin yakin bahwa kamulah rumah yang selama ini kucari. Aku tak ingin lagi hubungan kita hanya sebatas ini. Aku ingin kita sah, diakui dunia, dan hidup bersama selamanya. Maukah kamu menikah denganku? Agar semuanya menjadi resmi, dan aku bisa menjagamu sepenuhnya sebagai istriku?"
Air mata bahagia mengalir perlahan. Segala rasa takut, minder, dan luka masa lalu seketika sirna digantikan harapan cerah di masa depan. Tanpa ragu sedikitpun, aku mengangguk mantap.
"Iya, Kevin... aku mau. Aku mau menjadi istrimu seumur hidup."
Kevin langsung menarikku masuk ke dalam pelukan paling hangat, mencium kening, pelipis, hingga bibirku berulang kali dengan penuh rasa syukur yang meluap-luap. Matanya berbinar bahagia tak bisa disembunyikan.
"Baiklah! Nanti malam kita langsung ke rumah orang tuaku. Akan kukatakan terus terang pada Mama dan Papa—aku ingin menikahimu, menjadikanmu bagian sah dari keluarga Mahendra, dan tak ada satu pun yang bisa menghalangi niatku ini."
Ia mengecup punggung tanganku lama seolah mengukir janji di sana. "Mulai sekarang, tak ada lagi ragu, tak ada lagi sembunyi-sembunyi. Kamu adalah masa depanku."
Aku mondar-mandir di depan lemari, menatap tumpukan baju sambil mengerutkan kening bingung. "Wah, mana ya yang pas? Takutnya kurang sopan atau terlalu mencolok..."
Kevin datang dari belakang, melingkarkan lengannya di pinggangku sambil mencium sisi pipiku. "Kenapa pusing begitu? Pakai apa saja yang kamu rasa nyaman, yang pasti—kamu sudah cantik sejak bangun tidur tadi. Tak ada baju paling indah selain senyum tulusmu."
Aku tersenyum malu, lalu memilih gaun warna krem polos yang anggun dan sederhana—sesuai dengan diriku.
Kevin memutar pelan tubuhku agar menghadapnya, lalu menatap mataku lembut sambil tersenyum sabar.
"Sini aku yang pilihkan ya... Kamu pakai gaun krem selutut yang jatuhnya anggun itu aja, bahannya adem dan nggak berlebihan. Pasangkan sama sepatu hak rendah warna senada, sama kalung manik mutiara kecil yang simpel itu."
Ia mengusap pipiku pelan. "Yang paling penting kamu merasa nyaman dan jadi diri sendiri. Kamu cantik apa adanya, sayang. Pakaian itu cuma pelengkap aja. Mama dan Papa nanti melihat ketulusan hatimu, bukan harga bajumu."
Aku meremas ujung gaun pelan, jantung berpacu tak karuan. Di sampingku Kevin tampak gagah dengan setelan rapi, namun tangannya tak lepas menggenggam erat jemari yang dingin.
"Ya ampun... deg-degan banget rasanya. Takut salah bicara, takut kurang sopan, takut Mama Papa belum bisa menerima aku..." bisikku pelan.
Kevin menepuk punggung tanganku lembut, lalu mengecup punggung tangan itu lama. "Dengar ya, sayang. Di sana nanti kamu bukan karyawan, bukan orang asing. Kamu wanita yang kupilih seumur hidup. Cukup jadi dirimu sendiri—sopan, tulus, dan apa adanya. Aku ada di sebelahmu terus, tak akan melepaskan sedetik pun."
Mobil melaju perlahan menuju kediaman megah itu, setiap detik terasa begitu panjang namun penuh harapan.
Suara gesekan alat makan terdengar nyaring di antara keheningan. Hanya ada kami berlima: aku, Kevin, Raka, serta Mama dan Papa Kevin. Udara terasa kaku, penuh kecanggungan yang tak terucap. Tatapan mata mereka bergantian menatapku—menyelidiki, mengukur, seolah ingin tahu segala isi hatiku lewat raut wajahku saja. Raka pun hanya diam menunduk, sesekali melirik sekilas namun segera membuang muka.
Aku menunduk menatap piring, berusaha menelan makanan dengan tenang walau tenggorokan terasa sesak. Kevin seolah merasakan kegugupanku, perlahan menyandarkan tangannya di punggungku, memberi isyarat tenang. Namun suasana masih sepi berat, menunggu siapa yang pertama kali memecah kebisuan itu.
Kevin meletakkan sendoknya pelan, menatap lurus ke arah kedua orang tuanya dengan tatapan tak tergoyahkan.
"Mama, Papa... Kevin ingin bicara sesuatu. Kevin berniat menikah dengan Alya."
Suasana seketika benar-benar hening total. Mata Mama membelalak tak percaya, sendok di tangan Papa terhenti di udara. Keduanya saling berpandangan seolah tak percaya mendengar nama gadis sederhana itu keluar dari mulut putra sulung mereka.
Raka yang duduk di seberangku pun tersentak kaget, napasnya tercekat. Ya ampun... Kakak nekat sekali. Dia benar-benar memilih Alya, gadis yang hidupnya jauh berbeda dari lingkungan kita? batinnya terkejut setengah mati.
Kevin meremas tanganku di bawah meja sebagai penguat, tak membiarkan keraguan sedikit pun terlihat.
Papa meletakkan alat makannya perlahan, suaranya berat dan penuh keraguan.
"Kevin... apa maksud semua ini? Rasanya terlalu mendadak. Kami saja belum mengenal siapa sebenarnya Alya, belum tahu latar belakang keluarganya dengan jelas. Dia juga masih sangat muda... apakah kau yakin dia tulus menyukaimu, bukan melihat harta dan nama besar keluarga kita?"
Mama mengangguk pelan, matanya menatapku tajam namun menyelidik. "Benar kata Papa. Kau putra sulung Mahendra, pasanganmu haruslah seseorang yang setara, yang siap menanggung nama baik keluarga ini. Apa kau tak berpikir panjang?"
Raka hanya diam, menatap lurus ke depan—tak bisa menyalahkan keraguan orang tuanya, namun di sisi lain ia tahu betapa tulusnya perasaan kakaknya.
Jemariku dingin, tapi genggaman Kevin di bawah meja justru makin kuat. Ia mendongak mantap. "Mama, Papa... Latar belakang bukan patokan seberapa besar cinta seseorang. Alya tulus bersamaku saat aku bukan siapa-siapa di matanya, bukan saat aku membawa nama Mahendra. Dia yang merawat hatiku yang retak, dia yang menerima segala lukaku. Umur dan status tak akan pernah lebih penting dari ketulusan."
Suara Papa menggelegar di ruangan itu, wajahnya merah padam menahan amarah.
"Tidak! Papa sama sekali tidak setuju! Kamu mau menikah dengan perempuan dari kampung, bahkan latar belakangnya jauh di bawah kita? Papa tak akan pernah mengizinkan!"
Ia menunjuk lantang. "Papa sudah persiapkan calon yang tepat dan setara buat kamu! Sudah ada perjanjian dengan Tuan Rico Hermawan, rekan bisnis lama Papa. Kamu akan menikah dengan putrinya—sama derajat, sama kedudukan, dan menguntungkan bagi nama besar keluarga kita. Jangan pernah bikin malu nama Mahendra hanya karena perasaan sesaat!"
Tubuhku gemetar hebat mendengar kata-kata itu, rasanya ingin luruh di tempat. Namun Kevin berdiri tegak, menatap ayahnya tak kalah tegas.
"Papa... harta dan nama baik bisa dicari lagi. Tapi hati yang tulus seperti Alya tak akan pernah tergantikan oleh apa pun. Jika menikah berarti menjual perasaanku demi keuntungan, lebih baik Kevin tidak menikah sama sekali. Kevin mencintai Alya apa adanya, bukan karena apa yang dia punya."
"Kevin sudah mendirikan dan memimpin perusahaannya sendiri, Pa. Kevin mampu berdiri di kaki sendiri, mampu bekerja keras dan mencukupi segala kebutuhan serta membahagiakan Alya tanpa harus bergantung pada harta atau perjodohan yang Papa atur!"
Suaranya mantap, tak tergoyahkan sedikitpun.
"Alya memang bukan berasal dari keluarga kaya raya, tapi dia wanita paling mulia hatinya yang pernah Kevin temui. Dia tulus, setia, dan berani berkorban demi orang yang dicintainya. Justru karena itulah Kevin mencintainya—bukan karena nama besar atau kekayaan. Kevin memilih dia sepenuh hati, dan Kevin akan bertanggung jawab atas pilihanku sendiri."
Kuku menancap pelan ke telapak tangan, air mata tertahan nyaris tumpah mendengar setiap kata hinaan yang dilontarkan padaku. Rasanya kecil sekali, tak berharga di hadapan kemewahan dan aturan kaku keluarga ini. Namun di setiap detik hati yang remuk, Kevin tak pernah sekalipun melepaskan tanganku—ia berdiri tegak bagai benteng yang tak tergoyahkan, membela mati-matian agar aku tak semakin terinjak.
Matanya tajam penuh ketegasan, suaranya lantang namun tetap berusaha sopan demi restu yang ia harapkan:
"Pa, Ma! Tolong hargai perasaanku sekalipun kalian belum bisa menerima Alya. Jangan nilai seseorang hanya dari asal-usulnya! Selama ini kalian tak tahu seberapa besar hati gadis ini, seberapa kuat ia berjuang demi orang yang ia sayangi. Kalau kalian menghinanya, sama saja kalian menghina keputusanku dan perasaanku sendiri. Kevin akan berusaha sekuat tenaga sampai hati kalian luluh, tapi Kevin tak akan pernah mundur meninggalkannya!"
Ia merangkul bahuku erat, seolah memberi kekuatan bahwa aku tak sendirian meski dunia seakan menentang.
Wajah Kevin memerah menahan amarah yang memuncak. Tanpa banyak bicara ia langsung menggenggam tanganku erat, menarikku berdiri, dan melangkah menjauh dari meja makan itu.
"Cukup! Kalian tak mau melihat siapa sebenarnya Alya, kalian hanya buta pada harta dan gelar. Kalau begitu, Kevin pamit!"
Punggungnya tegap melindungiku di belakangnya saat kami berjalan cepat keluar ruangan. Papa menggebrak meja sekuat tenaga, suaranya menggelegar penuh kemurkaan:
"KEVIN! Dasar anak keras kepala! Kalau kau tetap pada pendirianmu itu, jangan harap kau masih menganggapku ayahmu! Dengar itu kau!!!"
Teriakan itu menggema di seluruh ruangan, namun Kevin tak menoleh sedikit pun. Ia terus berjalan menuju mobil sambil merangkul bahuku yang gemetar, berjanji dalam hati bahwa cinta kami tak akan pernah tunduk pada aturan yang tidak adil.