"Tiga tahun Surya Prasetyo hidup sebagai menantu yang diinjak-injak. Dicaci maki mertua, dihina saudara ipar, dijadikan budak dapur oleh istrinya sendiri.
Sampai malam itu—malam ulang tahun pernikahan ketiga—dia mendengar semuanya.
Istrinya selingkuh. Istrinya mengincar asuransi jiwa lima miliar. Istrinya sudah menjadwalkan dia sebagai donor ginjal paksa. Dan istrinya... sudah merencanakan kematiannya.
*""Genggam erat-erat tanganku, Pak. Karena ini terakhir kalinya.""*
Dari seorang laki-laki yang tidur di pinggir sungai, Surya bangkit. Lulus ujian advokat. Menghancurkan perusahaan mantan istri. Membangun kerajaan bisnis. Membuat semua orang yang pernah menginjak-injaknya... berlutut.
Tapi balas dendam hanyalah permulaan. Di balik semua ini, ada kekuatan yang jauh lebih besar yang mengawasi setiap langkahnya—dan rahasia terbesarnya tersembunyi di orang yang paling dia percaya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Bab 24: Handoko Tertangkap
Handoko Wiratama tidak menunggu lama untuk membalas.
Tiga hari setelah Surya mendapat ruang kaca kecilnya, Handoko sendiri meletakkan satu map merah di mejanya. Pria itu berdiri di depan pintu, memakai senyum tenang yang selalu terasa seperti tanda tangan di atas kertas kosong.
"Kasus hak paten," katanya. "Klien lama firma. Ada sengketa teknologi kemasan ramah lingkungan dengan pemasok Surabaya. Diana sibuk. Kamu bantu analisis awal."
Surya membuka map itu.
PT Aruna Biopak.
Di halaman pertama ada klaim paten desain material kemasan, perjanjian lisensi, bukti pengembangan produk, dan somasi dari perusahaan pesaing. Nilainya besar. Jika kalah, klien bisa kehilangan kontrak nasional dengan jaringan retail.
"Kenapa saya?" tanya Surya.
"Katanya kamu murid Diana. Ini kesempatan."
Kalimatnya manis.
Terlalu manis.
Surya membawa map itu ke Diana.
Diana membaca sepuluh menit, lalu wajahnya berubah.
"Ini bukan kasus biasa."
"Saya tahu."
"Handoko ingin kamu menyentuh bagian paling kotor."
Ia menunjuk lampiran lisensi. Ada perubahan tanggal, tanda tangan digital, dan satu perjanjian tambahan yang seharusnya tidak masuk berkas klien. Jika Surya memakai dokumen itu dalam analisis resmi, pihak lawan bisa menuduh Sentana mengajukan bukti bermasalah. Jika Surya menolak, Handoko bisa bilang ia tidak mampu menangani perkara besar.
"Dia menjebak saya."
"Bukan hanya kamu." Diana menutup map. "Handoko sudah lama ingin menggeser Ferdy. Kalau perkara ini meledak, dia bisa bilang sistem supervisi gagal, lalu menawarkan dirinya sebagai orang yang membersihkan firma."
Surya menatap pintu ruang Diana.
"Apa yang kita lakukan?"
Diana tersenyum tipis. "Kita biarkan dia berpikir kamu menggigit umpan."
Selama dua hari berikutnya, Surya bekerja seperti orang yang masuk perangkap dengan sukarela. Ia meminta salinan tambahan dari Handoko, menanyakan kronologi, dan sengaja terlihat bingung di beberapa titik. Eko, yang kini sudah mulai mondar-mandir di kantor Tiara Agung milik Bambang Suryadi, bahkan mengirim pesan mengejek.
Dengar-dengar kamu dapat kasus besar. Jangan jatuh, mantan tukang cuci piring.
Surya tidak membalas.
Ia menyusun dua berkas.
Berkas pertama adalah analisis palsu yang tampak mengikuti dokumen bermasalah. Berkas itu ia simpan di komputer kantor tanpa pernah mengirimkannya keluar.
Berkas kedua adalah analisis sesungguhnya. Ia memisahkan dokumen valid, membangun garis waktu pengembangan produk dari email asli, invoice bahan baku, catatan laboratorium, dan korespondensi pemasok. Ia juga menemukan bahwa pihak lawan memakai desain serupa enam bulan setelah menerima proposal kerja sama yang tidak pernah mereka jawab.
Kuncinya bukan dokumen tambahan Handoko.
Kuncinya adalah jejak pengiriman sampel lama yang hampir dilupakan.
Di mediasi bisnis, pengacara pihak lawan datang dengan percaya diri. Handoko duduk di belakang, menunggu Surya salah langkah. Diana memimpin meja. Surya duduk di sampingnya sebagai calon advokat, membawa tabel bukti.
"Kami menolak seluruh klaim Aruna Biopak," kata pengacara lawan. "Mereka tidak memiliki dasar paten yang kuat."
Diana menoleh kepada Surya. "Tabel."
Surya meletakkan satu bundel bersih.
Tanggal pengembangan. Tanggal pengiriman sampel. Penerima email. Foto prototipe. Invoice bahan. Bukti komunikasi. Semua tersusun tanpa memakai satu pun dokumen bermasalah yang diselipkan Handoko.
Wajah Handoko berubah sedikit.
Pengacara lawan membaca, lalu kehilangan ritme.
"Dari mana kalian mendapat bukti pengiriman sampel ini?"
Surya menjawab tenang. "Dari arsip logistik klien yang belum Anda minta dalam discovery informal."
Diana menambahkan, "Dan jika perkara ini masuk pengadilan niaga, kami siap membuka seluruh jejak komunikasi tersebut."
Satu jam kemudian, pihak lawan meminta jeda.
Dua jam kemudian, mereka menawarkan penyelesaian: menghentikan produksi desain serupa, membayar kompensasi lisensi terbatas, dan menandatangani komitmen tidak memakai formula material Aruna Biopak tanpa izin.
Perkara yang disiapkan sebagai bom berubah menjadi kemenangan bersih.
Ketika mereka kembali ke Sentana, Handoko tidak lagi tersenyum.
Di ruang rapat, Diana meletakkan map merah di depan Ferdy.
"Sekarang bagian kedua," katanya.
Surya membuka laptop dan menampilkan log akses dokumen. Salinan bermasalah masuk dari akun internal Handoko. Metadata menunjukkan file dibuat di luar sistem klien. Ada juga invoice konsultasi lama antara Handoko dan perusahaan perantara Donova yang terhubung dengan pihak yang berkepentingan pada perkara Aruna Biopak.
Ferdy menatap Handoko. "Jelaskan."
Handoko tertawa pendek. "Metadata bisa salah."
"Transfer juga bisa salah?" suara Meilu terdengar dari pintu.
Semua orang menoleh.
Meilu masuk bersama dua anggota Dittipideksus dan seorang penyidik membawa surat tugas. Ia tidak memakai drama. Justru karena itu ruangan terasa lebih dingin.
"Handoko Wiratama," katanya, "kami meminta Saudara ikut ke Polda untuk klarifikasi dan pemeriksaan terkait dugaan penggelapan, penipuan, serta aliran dana mencurigakan yang nilainya mencapai puluhan miliar rupiah."
Handoko berdiri. "Ini kantor hukum. Anda tidak bisa sembarangan..."
Meilu mengangkat surat. "Kami tidak sembarangan."
Matanya bergeser ke Surya satu detik. Tidak lembut. Tidak mesra. Di depan kantor, ia hanya penyidik.
Surya menghargai itu.
Handoko dibawa keluar tanpa borgol terbuka. Namun, cukup banyak staf melihat wajahnya pucat. Eko mungkin akan mendengar kabar itu sebelum sore. Bambang Suryadi juga.
Setelah pintu lift tertutup, Ferdy duduk lama di ruang rapat.
Di luar, ruang kerja Sentana tidak langsung kembali normal. Printer berhenti. Telepon dibiarkan berdering dua kali lebih lama dari biasanya. Beberapa staf menatap meja Handoko seolah benda-benda di atasnya baru saja berubah menjadi barang bukti.
Rina menangis pelan di pantry karena beberapa dokumen yang pernah ia proses ternyata melewati jalur Handoko. Eko tidak ada di sana, bayangannya terasa seperti tawa yang mendadak kehilangan tempat berpijak. Surya melihat semua itu dan memahami satu hal: kantor hukum bukan kuil kebenaran. Ia hanya tempat orang membawa senjata bernama hukum. Di tangan yang salah, senjata itu juga bisa dipakai menusuk klien sendiri.
"Saya sudah terlalu lama membiarkan orang lain memegang urat nadi firma," katanya.
Diana tidak menjawab.
Ferdy menatapnya. "Mulai minggu depan, kamu ambil kendali operasional Sentana. Saya mundur dari manajemen harian. Nama firma akan direstrukturisasi. Bersihkan yang perlu dibersihkan."
"Ferdy..."
"Kamu lebih cocok bertarung di depan sekarang."
Hari itu, Sentana berubah.
Tidak dengan konferensi pers. Tidak dengan spanduk baru. Tetapi dengan akses sistem yang dicabut, klien yang dikonfirmasi ulang, dan rekening firma yang diaudit. Diana bergerak seperti pisau bedah. Surya berada di belakangnya, mencatat, belajar, dan menyadari bahwa dunia hukum tidak kalah kotor dari perusahaan cangkang.
Malamnya, ketika kantor hampir kosong, Surya kembali ke ruang rapat untuk mengambil map Aruna Biopak yang tertinggal.
Ferdy berdiri di dekat jendela, memegang ponsel.
Surya tidak bermaksud mengintip.
Tetapi layar menyala saat Ferdy mengetik pesan singkat.
Sudah mulai bergerak.
Penerima pesan itu hanya memakai dua huruf.
IT.