Dikhianati oleh keluarga yang seharusnya menjadi tempat pulang, Arunika kehilangan segalanya dalam satu malam. Difitnah sebagai anak pembawa sial, diusir dari rumah, dan dirampas hak warisnya demi ambisi mereka. Tak ada yang percaya pada tangisnya, bahkan pria yang pernah ia cintai pun memilih berpaling.
Saat hidupnya berada di titik terendah, takdir mempertemukannya dengan Kael Adrian, seorang CEO muda yang dingin, berkuasa, dan ditakuti banyak orang. Di balik sikapnya yang sulit ditebak, Kael justru menjadi satu-satunya orang yang berdiri di sisi Arunika ketika seluruh dunia meninggalkannya.
Namun, cinta mereka tidak datang tanpa harga.
Rahasia besar tentang kelahiran Arunika mulai terungkap. Pengkhianatan keluarganya ternyata hanyalah awal dari konspirasi yang telah disusun selama puluhan tahun. Orang-orang yang dulu membuangnya kini ingin merebutnya kembali, bukan karena penyesalan, melainkan karena sebuah warisan yang mampu mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Winna Yun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab - 20 Tempat untuk Pulang
Arunika ikut mengambil makanan. Namun baru beberapa suapan, ia menyadari Adrian masih memperhatikannya.
"Apa lagi?"
Adrian menggeleng.
"Tidak ada."
"Kalau tidak ada, jangan lihat aku terus."
"Aku cuma sedang berpikir."
"Berpikir apa?"
Adrian menyandarkan punggungnya pada kursi.
"Sudah lama rumah ini tidak terasa seperti rumah."
Tangan Arunika yang memegang sendok berhenti Ia menatap Adrian.
"Maksudmu?"
Adrian tidak langsung menjawab. Tatapannya beralih ke meja makan, kemudian ke dapur yang beberapa menit lalu begitu sunyi dan kini masih menyisakan suara kecil peralatan yang belum dirapikan.
"Biasanya aku pulang, masuk, menyalakan lampu, lalu duduk sendirian."
Arunika terdiam.
"Tidak ada yang bertanya apakah aku sudah makan. Tidak ada yang memarahiku karena terluka. Tidak ada yang tiba-tiba memenuhi dapur hanya karena bilang lapar."
Arunika mengerutkan hidung.
"Aku tidak memenuhi dapur."
Adrian menatapnya.
"Setengah dapur."
"Adrian."
Pria itu tersenyum Arunika akhirnya ikut tersenyum kecil, Namun senyum itu perlahan menghilang ketika Adrian melanjutkan.
"Tapi malam ini berbeda."
Arunika menunduk.
"Karena ada aku?"
"Karena ada kamu."
Jawaban Adrian begitu cepat hingga Arunika tidak sempat bersiap, Dadanya terasa sesak oleh sesuatu yang sulit dijelaskan. Adrian melanjutkan dengan suara tenang.
"Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ketika aku pulang, ada seseorang yang bersama ku di malam hari."
Arunika menggenggam sendoknya sedikit lebih erat.
"Aku tidak berencana pulang ke sini"
Adrian mengangkat alis.
"Kamu duduk di rumahku."
"Aku cuma... kebetulan ada di sini."
"Dan memasakkan makanan."
"Kebetulan lapar."
"Dan membalut lukaku."
Arunika terdiam.
"Itu karena kamu ceroboh."
Adrian tersenyum tipis.
"Kalau begitu, semoga aku sering ceroboh."
Arunika langsung mendongak.
"Jangan!"
Adrian tertawa kecil, Arunika ingin memarahinya, tetapi entah kenapa justru tidak mampu. Tatapannya turun kembali pada makanan.
Beberapa detik berlalu Kemudian Adrian berkata pelan,
"Terima kasih sudah tetap di sini."
Arunika membeku.
"Adrian..."
"Aku tahu kamu takut tadi."
Arunika menelan ludah.
"Aku tahu kamu ingin terlihat kuat."
Ia menatap Adrian perlahan.
"Tapi kamu tidak harus selalu begitu di depanku."
Mata Arunika mulai terasa panas Adrian tidak mengalihkan pandangan.
"Kalau kamu takut, bilang takut."
Arunika diam.
"Kalau kamu sedih, tidak apa-apa."
Bibir Arunika bergetar tipis.
"Kalau kamu lelah, istirahat."
Ia buru-buru menundukkan wajah Adrian melihatnya, tetapi tidak memaksa Kemudian suara pria itu terdengar lebih lembut.
"Dan kalau suatu hari kamu merasa tidak punya tempat untuk pulang..."
Arunika menggigit bibirnya Adrian berhenti sebentar sebelum menyelesaikan kalimatnya.
"Datang saja ke sini."
Air mata yang sejak tadi ditahan Arunika akhirnya jatuh. Satu tetes, Arunika buru-buru mengusapnya. Adrian langsung mengerutkan kening.
"Kamu menangis?"
"Enggak."
"Arunika."
"Aku tidak menangis."
Adrian bangkit dari kursinya, tetapi tidak langsung mendekat. Ia hanya berdiri di sisi meja, memberikan ruang kepadanya. Arunika kembali mengusap pipinya.
"Aku cuma..."
Suaranya terdengar kecil.
"Aku cuma tidak terbiasa ada orang yang mengatakan hal seperti itu kepadaku."
Adrian terdiam Arunika tertawa kecil di antara napas yang tidak teratur.
"Jadi jangan bilang hal-hal seperti itu sembarangan."
"Kenapa?"
"Karena..."
Arunika menatapnya.
"Karena aku bisa percaya."
Adrian terdiam cukup lama Tatapannya berubah lembut.
"Kalau begitu percayalah."
Arunika membeku Adrian menarik kursinya sedikit dan kembali duduk.
"Aku tidak mengatakan itu karena kasihan."
Arunika menatapnya dengan mata yang masih basah.
"Aku mengatakan itu karena aku memang ingin kamu datang."
Hening, Kali ini Arunika benar-benar tidak tahu harus menjawab apa.
Adrian mengambil gelas di hadapannya, lalu berkata santai seolah baru saja tidak mengatakan sesuatu yang mampu membuat dada Arunika sesak.
"Dan satu lagi."
"Apa?"
"Kalau kamu datang lagi..."
Arunika mengerjap.
"Jangan bawa makanan."
Arunika langsung mengernyit.
"Kenapa?"
Adrian menunjuk piring di hadapannya.
"Aku ingin kamu memasak lagi."
Arunika menatapnya tidak percaya.
"Jadi kamu sengaja menyuruhku datang hanya supaya aku memasak?"
Adrian tersenyum.
"Mungkin."
"Adrian!"
Tawa kecil Adrian kembali terdengar Untuk beberapa saat, Arunika hanya memandanginya.
Pria yang beberapa jam lalu berdiri di tengah bahaya, terlihat begitu tenang seolah tidak terjadi apa-apa.
Pria yang selalu terlihat mampu menghadapi semuanya sendiri. Namun malam ini, Adrian justru mengatakan bahwa rumahnya terasa berbeda karena kehadirannya.
Arunika kembali menunduk Senyum kecil muncul di wajahnya.
"Kalau begitu..."
Adrian menatapnya.
"Aku akan datang lagi."
Senyum Adrian perlahan muncul.
"Benarkah?"
"Jangan senang dulu."
"Kenapa?"
"Aku akan datang untuk memastikan bahumu benar-benar sembuh."
Adrian mengangguk.
"Baik."
"Dan kalau kamu terluka lagi..."
Arunika menunjuknya dengan sendok.
"Aku akan marah."
Adrian menahan senyum.
"Baik."
"Jangan menjawab 'baik' terus."
"Baik."
Arunika memelototinya Adrian akhirnya tertawa, Arunika pun tidak mampu menahan senyumnya. Malam itu, tidak ada pengakuan besar Tidak ada janji yang dibuat.
Hanya dua orang yang duduk berhadapan di meja makan sederhana, berbagi makanan dan percakapan kecil setelah melewati malam yang panjang.
Namun bagi Arunika, satu kalimat Adrian terus terngiang di kepalanya, Kalau kamu merasa tidak punya tempat untuk pulang, datang saja ke sini.
Untuk seseorang yang selama ini terbiasa menahan semuanya sendirian, kalimat sederhana itu terasa seperti sesuatu yang sangat besar.
Untuk pertama kalinya, Arunika merasa...mungkin ada seseorang yang benar-benar akan menunggunya pulang.
kurang penekanan emosi yang mendalam
konflik dan kelanjutan bagus tapi kurang di bedakan
ada beberapa kata yang kurang baku
tidak ada poin unik yang langsung menonjol di awal
Dikhianati oleh orang yang seharusnya melindunginya, Arunika kehilangan segalanya dalam satu malam. Difitnah pembawa sial, diusir ke jalanan, dirampas hak warisnya demi ambisi keluarga—bahkan orang yang dicintainya pun berpaling tanpa belas kasih.
Di titik terendah hidupnya, ia bertemu Kael Adrian: CEO muda yang dingin, berkuasa, ditakuti semua orang, namun satu-satunya yang berdiri teguh di sisinya saat dunia meninggalkannya.
Namun cinta mereka tak mudah. Rahasia kelahiran Arunika yang terungkap perlahan membongkar konspirasi puluhan tahun tersembunyi. Orang yang dulu membuangnya kini kembali mengejarnya—bukan karena menyesal, melainkan demi warisan luar biasa yang tersembunyi dalam darahnya.
Akankah ia bangkit dan membalas setiap tetes air mata serta pengkhianatan itu?