Sìang itu pesawat Bomber Martin B-10 Belanda terbang rendah di langit RANCAGAOK
BOOOOM!!!
Cahaya putih menyilaukan membelah malam. Tanah terlempar ke udara. Atap rumah Pak Lurah terangkat lalu hancur berkeping-keping.
"Turun!" teriak Bayu.
Semua menjatuhkan diri ke tanah. Debu dan pecahan bambu menghujani punggung mereka. Bau mesiu dan kayu terbakar memenuhi udara.
*TAT... TAT... TAT...*
Suara tembakan dari udara menyisir tanah. Peluru menancap ke batang pisang dan pematang sawah. Bayu menarik Astri ke bawah parit.
Bayu, Karta, Ningsih, Astri bertekad untuk merebut kampung halaman mereka dari tangan belanda hanya bermodal tekad berjuang dan senjata seadanya.
Kisah perjuangan anak muda melawan penjajah, semoga jadi pengibar semangat anak muda Indonesia" MERDEKA"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 : TANPA RUMAH, TANPA SANDARAN
"Lihatlah orang di sebelah kananmu, lihatlah di sebelah kirimu. Yang berdiri di sampingmu itulah rumah barumu sekarang."
Bayu melangkah selangkah ke depan, suaranya tenang namun terdengar jelas sampai ke barisan paling belakang. Angin sore makin menusuk tulang, membawa sisa debu dan bau hangus yang tak mau hilang.
Di depannya berkumpul tiga puluh tujuh jiwa yang tersisa—tua muda, laki perempuan, sebagian memeluk erat apa saja yang sempat diambil saat lari, sebagian lagi hanya memeluk diri sendiri menahan dingin dan sepi.
Warga saling menoleh perlahan, mata yang tadinya kosong perlahan berbinar kembali menyadari kebenaran itu. Tak ada lagi dinding bambu, tak ada lagi atap ijuk. Tapi selama mereka saling berpegangan, tempat ini tetaplah kampung mereka.
"Bayu, apakah kita benar-benar tidak akan kembali lagi ke sana?" tanya Bu Ratna pelan, suaranya gemetar menahan tangis.
"Di sanalah seluruh kenangan kami tertanam."
"Kita akan kembali, Bu. Hanya sebentar berpamitan dulu, mencari tempat berlindung sampai keadaan aman," jawab Bayu lembut namun tegas.
"Jangan pernah berpikir kita meninggalkannya selamanya."
"Mari berjalan pelan saja, jangan dipaksa," kata Astri lembut sambil merapatkan selembar kain di bahu Aci Cemong yang menggigil kedinginan. Ia dan Ningsih membagi kain yang ditemukan di semak belukar, dipakaikan pada yang bajunya robek dan berdarah.
"Kalau berlari, tenaganya habis di tengah jalan."
"Kak Astri, apakah nanti kita bisa main lagi di pinggir sungai?" tanya Aci Cemong menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Tentu saja bisa sayang, nanti kita akan mandi dan main air bersama seperti biasa, janji," jawab Astri sambil mengecup ubun-ubunnya pelan.
"Kaki Bapak lecet parah, Pak Somad. Maafkan ya, bajunya kurobek sedikit untuk perban," ujar Karta sambil melilitkan ujung bajunya sendiri di telapak kaki yang terluka. Ia sudah memeriksa alas kaki semua orang, sebagian besar hanya berbalut kain bekas bahkan telanjang kaki.
"Terima kasih Nak, ini tak seberapa dibanding kebaikan kalian semua," kata Pak Somad sambil menepuk lengan Karta.
"Tapi bajumu nanti kamu kedinginan."
"Tak apa Pak, saya badannya besar dan hangat, cukup saja ini buat Bapak," balas Karta sambil tersenyum tipis.
"Jalur ini pernah kulewati waktu muda dulu," ucap Mbah Kartareja sambil mengetukkan tongkatnya perlahan memberi isyarat aman. Ia berjalan paling depan menuntun jalan.
"Ada jalur tersembunyi yang tak diketahui pendatang. Lewat situ kita takkan ketemu patroli mereka."
"Jauh ke sana, Mbah?" tanya Wadana Raksapati yang memanggul dua anak kecil di punggungnya, keringat dingin mengalir di pelipis.
"Anak-anak ini mulai rewel lapar dan haus."
"Jalan pelan kira-kira setengah hari. Di sana ada mata air tak pernah kering dan gua yang tak terlihat dari atas," jawab Mbah Kartareja mantap.
"Kuatkan hati sebentar lagi kita sampai."
"Apakah di sana aman dari pandangan pesawat, Mbah?" tanya Dul Kalong ikut menyahut.
"Saya takut kalau terlihat dari atas, tempat persembunyian kita ketahuan."
"Terletak jauh di bawah tebing, tertutup rimbunan pohon besar, tak ada siapa pun yang bisa melihatnya dari langit sekalipun," jelas Mbah Kartareja tenang.
Bayu berjalan paling belakang, sesekali menoleh ke belakang memastikan tak ada yang tertinggal atau tertatih sendirian. Tiba-tiba ia berhenti saat melihat jejak ban besar membelah pematang sawah. Ia jongkok menyentuh tanah yang masih agak tertekan.
"Itu jejak mereka ya, Yu?" tanya Karta segera mendekat sambil menatap sekeliling waspada.
"Iya, tank Renault FT-17 seperti yang pernah diceritakan Mbah. Artinya mereka tak cuma lewat udara, tapi sudah masuk sampai ke darat," Bayu berdiri kembali menatap semua orang.
"Karena itu kita harus makin hati-hati, jangan bersuara keras sedikit pun."
"Berarti mereka makin dekat ke sini?" tanya Bu Siti dengan cemas.
"Jangan khawatir Bu, selama kita lewat jalur rahasia Mbah, kita tak akan berpapasan dengan mereka," sela Karta menenangkan.
Perjalanan berlanjut hening. Hanya terdengar langkah di atas daun kering, napas berat, dan rintihan yang ditahan sekuat tenaga. Matahari perlahan hilang sepenuhnya, diganti remang bulan yang sering tertutup awan gelap.
Tiba-tiba Embek Gombloh terhuyung, menopangkan badan pada batang pohon sambil napasnya tersengal hebat. Bayu segera berlari mendekat menyentuh dahinya. Panas sekali.
"Kamu sakit, Bek?"
"Tak apa... cuma lelah saja. Kalian lanjut duluan, saya bisa menyusul," jawabnya berusaha tersenyum meski wajah pucat pasi.
"Tak ada kata menyusul di sini. Semuanya jalan bersama, atau berhenti bersama," potong Bayu tegas, lalu memberi isyarat pada Karta dan Dul Kalong.
"Bantu pikul beban Embek, kita istirahat sebentar di balik rumpun bambu itu."
"Terima kasih ya teman-teman, sungguh saya memberatkan kalian," ujar Embek Gombloh merasa tak enak hati.
"Jangan bicara begitu Bek, kita ini satu kampung, satu saudara. Masa mau tinggalkan saudara sendiri?" kata Dul Kalong sambil merangkul bahunya.
Mereka duduk melingkar rapat, saling merapatkan badan agar hangat. Bu Siti membagi sisa segenggam beras yang sempat diselipkan, dipotong kecil-kecil untuk diselipkan di mulut anak-anak.
"Maafkan ya Nak, ini sisa sedikit saja. Seandainya sempat ambil lebih banyak..." Bu Siti menahan isak tangisnya.
"Cukup kok Bu, ini sudah sangat membantu biar tenaga tak habis sama sekali," jawab seorang anak sambil menelan pelan dengan penuh syukur.
Demang Maulana Surya berdiri perlahan, menatap wajah satu per satu warga. Suaranya lantang namun lembut menembus dingin malam.
"Dulu leluhur kita membangun kampung bukan sekadar pakai batu dan kayu, melainkan persaudaraan yang tak terpisahkan. Hari ini dindingnya runtuh, tapi persaudaraan itu masih berdiri tegak di antara kalian. Jangan sampai putus asa merobohkan apa yang masih utuh."
"Benar kata Ki Demang, selama kita bersatu tak ada yang tak bisa kita hadapi," timpal Pak Somad mantap.
Tak ada yang menyahut lagi, tapi tatapan mata mereka perlahan terlihat makin kuat. Bayu mengangguk dalam hati, teringat pesan Bapaknya: ujian terbesar bukan saat musuh datang, tapi saat kehilangan segalanya namun masih mau saling menjaga.
"Siap melanjutkan perjalanan?" tanya Bayu bangkit berdiri.
"Siap!" jawab mereka berbarengan.
Semua ikut berdiri meski kaki terasa berat seolah ditahan batu karang. Mereka kembali beriringan masuk ke semak yang makin lebat, mengikuti langkah Mbah Kartareja yang tak pernah salah arah.
Sesampainya di tepian tebing, terlihat ke bawah aliran Sungai Citanduy yang memantulkan cahaya bulan. Di sela akar pohon besar yang menggantung, mulut gua terbuka tampak kering dan terlindungi.
"Saya duluan masuk periksa aman dari binatang buas," kata Karta mendahului langkah. Tak lama suaranya terdengar pelan dari dalam.
"Aman di sini. Luas, kering, pas sekali untuk berlindung malam ini."
Satu demi satu turun hati-hati masuk ke tempat itu. Mereka duduk berjejer rapat, saling bersandar bahu. Tak ada kasur empuk, tak ada selimut tebal. Hanya kebersamaan yang menjadi sandaran.
Bayu berdiri di mulut gua menatap arah kampung yang kini tinggal gumpalan asap samar. Tangannya memegang erat kendi tanah liat pemberian Ibunya. Karta datang berdiri di sebelahnya.
"Kita tak punya rumah lagi sekarang, Karta," bisik Bayu pelan.
"Benar. Tapi sekarang kita baru sadar, rumah itu bukan tempat kita tinggal, melainkan orang-orang yang berdiri di samping kita," jawab Karta menepuk pundaknya pelan.
Bayu mengangguk memejamkan mata sejenak memohon kekuatan. Di luar sana gelap dan berbahaya. Tapi di sini, di balik akar pohon tua ini, harapan masih menyala di dada setiap orang. Dan itulah yang paling penting untuk tetap hidup.