Disclaimer: No plagiat, no boom like❗
Karena permintaan terakhir ibunya, Tyasabella Almeera terpaksa menerima kenyataan yang tidak pernah ia inginkan: menikah muda.
Dan lebih parahnya lagi, menikah dengan musuhnya sendiri, Faris Abimanyu Alzavian. Cowok tukang nyolot yang selalu berhasil membuat emosinya naik setiap hari.
"Kenapa harus lo sih?" kesal Tya.
Faris langsung mendelik. "Emangnya gue mau nikah sama lo?"
"Gue juga gak mau."
"Bagus. Berarti kita sepakat."
Tya mendengus. "Sepakat kalau ini ide paling buruk yang pernah ada."
Namun, takdir seolah tidak peduli dengan pendapat mereka. Di tengah kehilangan yang masih terasa, dua remaja keras kepala itu dipaksa menjalani sebuah pernikahan yang tidak pernah mereka pilih sendiri.
Masalahnya, bagaimana jika perlahan mereka mulai menemukan sesuatu yang tidak pernah mereka duga sebelumnya?
Karena terkadang, orang yang paling sering membuat kita kesal justru menjadi orang yang paling sulit dilupakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Ruang UKS
Bel istirahat akhirnya menggema nyaring di seluruh penjuru SMA Harapan, menandakan berakhirnya pelajaran olahraga bagi kelas XII IPA B pagi itu.
Meski sempat diwarnai kekacauan akibat insiden 'efek domino' yang dipicu Faris, kegiatan olahraga tetap berlangsung hingga selesai. Setelah hukuman push-up dijalani dan barisan kembali rapi, Pak Ben melanjutkan pelajaran seperti biasa.
Kini, para murid kelas XII IPA B telah kembali mengenakan seragam sekolah hari itu. Koridor sekolah mulai kembali ramai oleh langkah kaki murid-murid yang berhamburan keluar dari kelas, sebagian menuju kantin, sebagian lagi memilih tetap berada di kelas untuk beristirahat.
Di tengah keramaian itu, Tya melangkah santai bersama Starla dan Megan menuju kantin. Obrolan di antara mereka sejak tadi mengalir, yang ternyata masih belum jauh dari kejadian di lapangan.
"Jujur aja, ya," ujar Starla sambil menahan tawa yang mulai muncul lagi. "Gue masih kebayang ekspresi anak-anak cowok pas pada jatuh beruntun."
Megan ikut terkekeh pelan. "Mana kayak domino lagi. Satu jatuh, semuanya ikut ambruk."
Starla mengangguk cepat. "Parah sih. Gue kira tadi ada yang sengaja ngerjain."
Tya yang berjalan di samping mereka hanya mendengus pelan. "Gak usah ditanya pelakunya," ujarnya datar.
Starla dan Megan langsung bertukar pandang, sebelum akhirnya tertawa lagi. "Si Faris emang," ujar Starla sembari menggeleng-geleng kepala. "Bisa-bisanya keinjek tali sepatu sendiri."
Tya memutar bola matanya malas. "Terus malah nyalahin tali sepatunya," sahutnya. "Logikanya entah nyangkut di mana."
Megan sampai menutup mulutnya, berusaha meredam tawanya. Ketiganya terus berjalan menyusuri koridor menuju kantin. Gelak tawa di antara mereka sesekali terdengar, mengiringi obrolan ringan tentang kekacauan yang terjadi di lapangan olahraga sebelumnya.
Starla yang sejak tadi masih menahan tawa tiba-tiba melirik Tya dengan senyum penuh arti. "Eh, Ty."
"Hmm?" Sahut Tya tanpa menoleh.
Starla menaikkan sebelah alis. "Gue baru sadar."
Tya langsung menoleh, alisnya saling bertaut. "Sadar apaan, Star?"
"Tadi lo ketawa," lanjut Starla. "Berarti Faris gak sepenuhnya nyebelin, dong?"
Langkah Tya mendadak terhenti. Ia menatap Starla seolah baru saja mendengar lelucon paling tidak masuk akal saat itu. "Hah? Kesimpulan dari mana, sih?"
Starla terkekeh kecil. "Buktinya lo ketawa gara-gara dia."
"Enggak!" Sangkal Tya cepat. "Gue ketawa karena kejadiannya konyol, bukan karena Faris. Logika aja, gara-gara satu orang, yang lain jadi ikutan jungkir balik." Tya segera menggigit bibir bawahnya, berusaha meredam tawa yang hampir kembali muncul. "Astaga, jahat banget gue ketawa."
Starla dan Megan saling berpandangan. Suasana hening untuk sejenak. Lalu, keduanya justru ikut terkekeh melihat ekspresi Tya yang kini tampak dilema.
Megan menggeleng pelan sambil tersenyum. "Ya, gimana enggak ketawa, Ty. Jujur aja, tadi itu memang lucu."
"Kasihan sih kasihan," timpal Starla cepat. "Tapi bayangin deh, satu orang jatuh terus semuanya ikut ambruk. Kayak adegan film komedi, tapi ini real life nya."
Tya menghela nafas panjang, tangannya mengusap pelipis pelan. "Nah, itu dia." Gumamnya. "Makanya gue ngerasa bersalah. Harusnya kasihan, malah ketawa."
"Tapi lo gak ngetawain mereka, kok," ujar Megan menenangkan. "Lo ngetawain situasinya."
Starla mengangguk setuju. "Kalau tadi yang jatuh cuma Faris, mungkin beda. Tapi ini satu barisan cowok jatuh semua, siapa yang gak geli coba?"
Membayangkan kembali kejadian itu, sudut bibir Tya kembali bergerak naik. Ia buru-buru menutup mulutnya dengan punggung tangan, berusaha menahan tawa yang nyaris lolos lagi.
"Astaga," gumam Tya lirih sambil menggeleng pelan. "Udah ih, jangan dibahas lagi. Gue laper, nih."
Starla dan Megan kembali terkekeh pelan. Di tengah rasa kasihan yang masih tersisa, mereka bertiga sepakat bahwa perut juga harus diisi setelah pelajaran olahraga yang melelahkan.
Obrolan mereka terhenti ketika tiba di sebuah persimpangan koridor. Baru saja Tya hendak berbelok menuju arah kantin, sebuah tepukan lembut mendarat di pundaknya. "Tya."
Tya spontan menoleh, "Eh, Bu Rina."
Sosok guru UKS dengan seragam batik guru itu berdiri di samping Tya dengan senyum hangat yang sudah sangat dikenalinya. Sementara di tangannya, Bu Rina tampak membawa sebuah map tipis.
"Selamat siang, Bu," sapa Tya sopan.
"Siang," balas Bu Rina ramah. Tatapannya kemudian beralih sekilas ke arah Starla dan Megan, sebelum kembali menatap siswi anggota PMR itu. "Tya, ibu boleh minta tolong sebentar?"
Tya langsung mengangguk, "Tentu, Bu. Apa yang bisa saya bantu?"
Bu Rina tersenyum tipis. "Ibu lagi butuh bantuan di ruang UKS. Kebetulan ibu baru keluar dari kantor dan lihat kamu."
Tya kembali mengangguk tanpa ragu. "Siap Bu."
"Terima kasih, ya." Nada suara guru UKS itu terdengar tulus. "Gak akan lama, kok. Setelah itu, kamu boleh lanjut istirahat."
"Iya, Bu," jawab Tya dengan seutas senyum.
Bu Rina mengangguk puas, lalu memberi isyarat agar Tya mengikutinya. Tya menoleh sejenak ke arah dua sahabatnya.
"Kalian duluan aja ke kantin," ujar Tya pelan. "Nanti gue nyusul."
Megan mengangguk kecil sambil tersenyum tipis. "Oke, Ty. Kami tunggu di kantin, ya."
Tya hanya memberi gerakan oke pada keduanya. Setelahnya, ia melangkah mengikuti Bu Rina menyusuri koridor menuju ruang UKS, sementara Starla dan Megan melanjutkan langkah mereka menuju kantin.
Sepanjang perjalanan menuju ruang UKS, langkah Tya dan Bu Rina berjalan beriringan. Koridor yang semula ramai perlahan mulai lengang karena sebagian besar murid sudah lebih dulu menuju kantin.
Bu Rina melirik Tya sekilas sambil tersenyum tipis. Berjalan berdampingan dengan siswi itu sudah menjadi hal yang sudah cukup sering terjadi.
"Bagaimana pelajaran hari ini?" Tanya Bu Rina.
Tya menghela nafas pelan. "Lumayan, Bu. Matematika sama fisika tadi lumayan bikin kepala ngebul."
Bu Rina terkekeh kecil. "Pantes aja pas tadi ibu lihat kamu lewat, mukanya seperti habis perang."
Tya ikut tersenyum tipis. "Memang habis perang, Bu. Perang sama rumus, hehe."
Jawaban itu membuat Bu Rina kembali tertawa pelan. Hubungan mereka memang cukup dekat. Sejak Tya bergabung dengan ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR) di kelas X, ia cukup sering membantu kegiatan di ruang UKS. Dari situlah keduanya mulai akrab.
Di mata Bu Rina, Tya dikenal sebagai siswi yang bertanggung jawab, telaten, dan sigap ketika diminta membantu. Sementara bagi Tya sendiri, Bu Rina bukan hanya guru UKS, tetapi juga sosok yang ramah dan nyaman diajak berbincang. Bahkan sesekali keduanya saling bercanda ketika suasana sedang santai.
"Masih betah jadi anggota PMR?" Tanya Bu Rina kemudian.
Tya mengangguk mantap. "Betah, Bu. Malah senang, jadi nambah pengalaman."
"Bagus," ujar Bu Rina. "Anggota PMR yang rajin sekarang semakin sedikit, lho. Makanya ibu sering minta bantuan kamu. Soalnya kalau sama kamu, kamu langsung paham apa yang harus dikerjakan."
Tya terkekeh kecil, "Wah, jangan dipuji terus, Bu. Nanti saya besar kepala."
"Tenang aja," ujar Bu Rina ikut tertawa. "Kalau besar kepala nanti saya suruh kamu lari keliling lapangan lima putaran."
"Yah, Bu..." Protes Tya dengan nada rendah. "Jangan ikut-ikutan Pak Ben, dong."
Candaan ringan itu membuat langkah mereka menuju ruang UKS terasa hangat. Tak lama kemudian, keduanya pun tiba di depan pintu UKS. Bu Rina meraih gagang pintu, lalu membukanya perlahan.
"Ayo, masuk."
"Iya, Bu," ujar Tya sambil mengikuti Bu Rina masuk ke dalam ruangan.
Aroma khas obat-obatan dan cairan antiseptik langsung menyambut indera penciumannya. Ruangan itu tampak rapi seperti biasa, hanya saja di salah satu sudut terdapat beberapa kardus berisi perlengkapan medis yang belum sempat disusun.
Bu Rina meletakkan map yang sedari tadi dibawanya ke atas meja. "Ibu minta tolong ya, Tya."
Tya mengikuti arah pandang gurunya. Matanya langsung tertuju pada tumpukan kardus di dekat lemari obat. "Barang baru ya, Bu?"
Bu Rina mengangguk. "Iya, tadi pagi baru dikirim. Ibu belum sempat menyusunnya karena dari tadi ada rapat."
Tanpa diminta dua kali, Tya langsung menghampiri kardus-kardus tersebut. Ia berjongkok, lalu membuka salah satu kardus dengan hati-hati. Di dalamnya, tersusun rapi berbagai perlengkapan UKS, mulai dari kotak P3K, gulungan perban, kasa steril, plester, hingga beberapa botol cairan antiseptik.
"Wah, lumayan banyak juga, ya?" Gumam Tya.
"Iya," sahut Bu Rina sambil ikut mendekat. "Bisa tolong dipisahkan sesuai jenisnya? Nanti yang obat-obatan ibu yang susun sendiri."
"Siap, Bu."
Dengan cekatan, Tya mulai mengeluarkan satu per satu isi kardus. Setiap perlengkapan ia susun sesuai tempatnya di rak penyimpanan.
Bu Rina yang sedang merapikan beberapa catatan di atas meja UKS tiba-tiba menggeleng pelan sambil terkekeh sendiri. "Ngomong-ngomong, hari ini UKS lumayan ramai juga."
Tya yang masih sibuk menyusun gulungan perban di dalam lemari menoleh sekilas. "Ramai kenapa, Bu?"
"Sejak pagi, banyak yang masuk UKS," jelas Bu Rina. "Yang sakit ada, pingsan juga ada. Tapi yang membuat ibu heran, kebanyakan luka ringan. Lutut lecet, siku memar, telapak tangan tergores."
Bu Rina memindahkan sebotol antiseptik di atas meja, lalu melanjutkan dengan nada yang sama herannya. "Yang lebih lucunya lagi, rata-rata yang datang murid laki-laki dari kelas XII IPA B. Kelas kamu, kan?"
Tya terdiam sepersekian detik, lalu sudut bibirnya perlahan terangkat. Ia menutup mulutnya sekilas, sebelum akhirnya terkekeh pelan. "Itu mah gara-gara Faris, Bu." Ujarnya. "Tadi pas lari pemanasan, tali sepatunya lepas. Faris malah keinjek tali sepatunya sendiri."
Bu Rina menyimak dengan antusias. "Terus? Jatuh?"
Tya mengangguk, lalu mengangkat kedua tangannya seolah menggambarkan sesuatu. "Iya, Bu. Yang di depannya ketabrak. Terus yang itu nabrak lagi temannya. Begitu terus sampai satu barisan cowok ambruk semua."
Bu Rina sempat terdiam beberapa saat, berusaha membayangkan kejadian yang diceritakan Tya. Tak lama kemudian, beliau justru terkekeh pelan. "Ya ampun... Pantes aja satu per satu datang ke UKS."
Mendengar itu, Tya kembali terkekeh. Setelahnya, Tya kembali fokus pada pekerjaannya. Kotak P3K ia letakkan di rak yang atas, disusul beberapa botol antiseptik dan tumpukan kasa steril.
Tangan Tya kemudian meraih satu gulungan perban yang masih terbungkus plastik bening. Baru saja perban itu terangkat beberapa senti dari dalam kardus, seekor kecoa kecil tiba-tiba merayap keluar dari sela-sela gulungan perban.
Mata Tya membulat seketika. "AAAAA!!"
Refleks, Tya langsung melempar gulungan perban itu begitu saja ke lantai sambil melompat mundur beberapa langkah. Wajahnya langsung pucat, kedua tangannya mengepal di depan dada, sementara bulu kuduknya seolah berdiri semua.
"Ya Allah... Ya Allah!" Seru Tya panik.
Suara teriakan itu membuat Bu Rina yang sedang merapikan meja UKS langsung menoleh kaget. "Tya!" Ujarnya sambil buru-buru menghampiri. "Kenapa? Ada apa?"
Dengan wajah yang sudah berubah antara takut dan jijik, Tya bahkan tidak sanggup menjawab. Jemarinya yang sedikit bergetar hanya menunjuk ke arah lantai. "I-itu, Bu," ucapnya terbata.
Bu Rina mengikuti arah telunjuk Tya. Seekor kecoa tampak berjalan santai di dekat gulungan perban yang tadi terlempar. Beliau terdiam beberapa saat, lalu menoleh ke arah Tya yang kini sudah mundur bahkan nyaris menempel pada lemari.
"I-itu kecoa, Bu," ujar Tya lirih dengan wajah merinding. "Jangan... Jangan suruh saya ngusir serangga itu, Bu."
Bu Rina tak kuasa menahan senyum geli. Ia menggeleng pelan melihat ekspresi Tya yang berubah panik hanya karena seekor kecoa. "Iya, iya," ujarnya sambil terkekeh kecil. "Biar ibu aja."
Bu Rina segera mengambil sebuah sapu yang berada di sudut ruangan, lalu dengan cekatan mengarahkan kecoa itu keluar melalui pintu UKS. Tak sampai satu menit, penyusup kecil itu pun berhasil diusir.
Bu Rina kembali masuk sambil meletakkan sapu di tempat semula. "Nah, udah aman."
Tya masih berdiri di tempatnya. Tatapannya menyapu lantai UKS beberapa kali, memastikan benar-benar tidak ada lagi makhluk berkaki enam itu yang bersembunyi di sekitar sana. "Te-terima kasih, Bu."
Melihat tingkah Tya, Bu Rina kembali menggeleng sambil tersenyum. "Berani ngurus orang pingsan, berani ngurus luka berdarah," ujarnya. "Tapi kalah sama seekor kecoa."
Tya menghela nafas panjang sambil menepuk dadanya pelan. "Itu beda, Bu," gumamnya pasrah. "Kalau kecoa, saya nyerah."
"Ada-ada aja kamu, Tya," ujar Bu Rina sembari menggeleng. "Ya sudah, sekarang lanjut lagi, ya. Masih banyak yang harus dirapikan."
"Iya, Bu."
Tya menarik nafas dalam-dalam lalu menghelanya perlahan beberapa kali. Setelah memastikan tubuhnya sudah jauh lebih tenang dan tidak ada lagi kecoa yang berkeliaran di sekitar UKS, ia akhirnya kembali melangkah kembali ke lemari penyimpanan.
Kali ini, sebelum mengambil setiap keperluan UKS, matanya terlebih dahulu mengamati isinya beberapa detik. Bu Rina yang melihat itu hanya terkekeh pelan sembari kembali membereskan meja kerjanya.
^^^Bersambung...^^^